
Dengan pemberitahuan yang diberikan oleh Billy, berita menyebar dengan luas tentang informasi status Atha Bamantara di kalangan pebisnis serta rekan-rekan kerjanya. Hal itu pun atas perintah dari Atha sendiri. Siapa yang tak kenal dengan Atha Bamantara, bahwasannya dia adalah pewaris sah dari perusahaan mendiang kakeknya.
Bahkan pengusaha bisnis yang menjalin kerjasama dengan Atha pun sangat tahu betul dengan posisi Atha yang sebenarnya. Desas desus dirinya yang sampai saat ini masih belum menduduki kursi pimpinan di kantor pusat, karena ketidakrelaan seorang Darwish Putra Wirama selaku paman Atha.
"Tuan Atha, sekarang paman anda sudah mendarat di bandara," ucap Billy memberi informasi di sela-sela Atha menatap layar laptopnya.
Mendengar itu, Atha pun menarik nafasnya dalam kemudian dia hembuskan perlahan. Tak lama, dia menggaruk-garuk pelipisnya sembari berpikir.
"Hem, baiklah. Kalau begitu kau bereskan semua pekerjaan saya hari ini. Saya akan pulang ke rumah!" perintah Atha yang bergegas berdiri dari kursi kerjanya.
"Baik, Tuan!" patuh Billy memberi hormat saat Atha melangkah meninggalkan ruang kerjanya.
Atha masuk ke dalam mobilnya setelah itu melajukannya hingga kurang lebih satu jam sampailah tepat di kediaman rumahnya.
"Assalamu'alaikum," ucap Atha memberi salam ketika dia memasuki rumahnya.
"Wa'alaikumussalam, eh mas Atha sudah pulang, tumben cepat banget pulangnya," sahut Jasmine sedikit kaget, yang kala itu memang berada di ruang tamu memberi makan Ziva.
Atha menghampiri Jasmine dan Ziva.
"Kangen istri sama anak, makanya pulang cepat!" Atha mencium pipi Jasmine dan Ziva bergantian.
Jasmine mengerutkan keningnya seakan masih penasaran dengan jawaban sang suami.
"Hem, masa sih? Pasti ada alasan lain Mas pulang cepat, iya kan?" sangkal Jasmine mencebik.
Atha terkekeh mendengar ucapan Jasmine.
__ADS_1
"Kamu ini tahu banget, ya!" Atha mencubit hidung Jasmine dengan gemas.
"Jadi, katakanlah ada apa sebenarnya," ujar Jasmine.
Atha mengambil alih Ziva yang diletakkan ke tangan sebelah kirinya kemudian merangkul Jasmine di sebelah kanannya. Tapi sebelum itu Jasmine terlebih dahulu menaruh mangkuk berisi makanan Ziva ke atas meja.
"Paman sudah berada di Jakarta. Mungkin besok dia akan ke rumah ini, bisa jadi dia menyuruh kita ke rumah utama peninggalan kakek. Jadi persiapkan dirimu untuk pertemuan dengan beliau nanti," ujar Atha menjabarkan.
"Emm ... baiklah," Jasmine tersenyum kecil tetapi terlihat ada kekhawatiran di wajahnya.
Atha beralih menggenggam tangan Jasmine erat.
"Jangan terlalu dipikirkan, masih ada waktu untukmu berdo'a agar paman tidak menanyakan sesuatu yang aneh-aneh," Atha menerbitkan senyuman teduhnya, dan itu membuat Jasmine tenang.
"Dan harap maklum jika nada bicara paman terdengar kasar. Kau hiraukan saja, memang paman begitu orangnya," sambung Atha menjelaskan dengan lembut sampai-sampai Jasmine begitu luluh terhadap Atha.
"Baik, Tuanku!" Jasmine membalas senyuman kepada Atha sembari mengelus tangan Atha ke daerah pipinya.
"Kau ini," Atha terkekeh.
Atha mendekap Jasmine ke dadanya, lalu mengecup kepala Jasmine yang tertutup jilbab itu, bersamaan memeluk Ziva penuh kehangatan.
***********
Di Paris, Wandi sedang membujuk sahabatnya, yakni Byan yang kala itu Byan sedang uring-uringan sejak mendengar Wandi akan berangkat ke Indonesia.
"Ayolah, kita ke Jakarta. Sudah lama kita tidak ke sana. Emm ... sudah 5 tahun, benar kan?" tanya Wandi sekaligus mempertahankan bujukan dirinya untuk Byan.
__ADS_1
Byan memalingkan wajahnya saat Wandi mendekat duduk di sampingnya.
"Sudah gue katakan, loe nggak boleh pergi tanpa gue, titik!" seru Byan dengan marahnya.
"Kalau begitu loe ikut ke Jakarta bareng gue," ujar Wandi.
"Nggak mau!" seru Byan lantang.
"Ok, biar gue sendiri ke Jakarta," bantah Wandi yang berdiri hendak melangkah.
Byan langsung menahan tangan Wandi.
"Jangan pergi, gue tidak mengizinkannya!" pinta Byan memaksa.
"Terserah, pokoknya gue mau ke Jakarta. Gue rindu sama nenek gue di sana. Jika loe pecat gue jadi asisten loe, gue siap kok!" ancam Wandi dengan beraninya.
Byan menjadi panik saat Wandi mengatakan tentang pemecatan.
"Please, loe tau sendiri gimana sejarah hidup gue di sana!" ucap Atha lirih.
Bagaimana tidak ingat, bahwa Byan mempunyai kenangan buruk bersama seorang wanita, yang tidak ingin dia ingat kembali di hidupnya.
"Loe bilang udah move, mana buktinya? Sorry, gue nggak bisa turutin kemauan loe yang egois kayak gini," Wandi melepaskan tangan Byan dari tangannya, lalu melangkah pergi.
"Wandi ... loe jangan gitu, dong!" teriak Byan.
Byan mengacak-acak rambutnya frustasi.
__ADS_1
"Arghhhh, Wandi sialan loe!" teriak Byan mengumpat kesal.