The Bodyguard

The Bodyguard
Payback


__ADS_3

Carlo yang sudah diliputi emosi, segera menendang kepala Roderyk dengan keras. Padahal pria paruh baya tersebut sudah dalam kondisi tak bernyawa, tapi Carlo seakan belum puas untuk melampiaskan segala amarah dalam dirinya. Dia melakukan itu hingga beberapa kali. Selagi Carlo tengah menghajar Roderyk secara membabi-buta, alat pemanggil yang tergeletak di dekat tubuh pria paruh baya tersebut berbunyi. Carlo pun segera memungutnya.


“Ayah. Aku akan mengeksekusi istri Karl Voklov sekarang juga. Kau bisa menyaksikannya dari kemera pengawas.” Suara Vlad Ignashevich terdengar jelas. Namun, entah di mana keberadaan pria itu.


“Apa yang akan kau lakukan pada istriku, brengsek?” geram Carlo. “Katakan di mana posisimu saat ini!” sentak sang ketua Klan Serigala Merah tersebut.


“Ah, Karl Volkov? Rupanya memang benar bahwa kaulah penyusup yang mengacaukan acara besar ayah angkatku,” sahut Vlad dengan nada bicara yang terkesan mencibir. “Apa kau ingin melihat dengan cara bagaimana aku menghabisi istrimu yang cantik?” Suara tawa sinis Vlad semakin membakar emosi dalam diri Carlo. “Omong-omong, kenapa alat pemanggil ini ada padamu? Di mana ayah angkatku?” tanya pengusaha muda itu lagi dengan heran.


“Ayahmu sudah pergi ke neraka!” jawab Carlo dengan puas.


“Brengsek kau, Karl Volkov!” dengus Vlad. “Kalau begitu, aku tak akan membuang waktu lagi untuk segera menghabisi istrimu.”


Mendengar hal itu, dengan segera sang ketua Klan Serigala Merah berjalan menuju ruangan sebelah, yang sebagian dindingnya terbuat dari kaca tebal. Di ruangan dengan ukuran tak jauh berbeda dengan tempat Carlo menghabisi Roderyk tadi, terdapat beberapa layar monitor yang memperlihatkan setiap sudut dari mansion milik ayah angkat Vlad Ignashevich.


Sepasang mata biru Carlo begitu lincah memeriksa setiap layar, hingga pandangannya terpaku pada satu objek yang membuat darah dalam tubuh pria dengan postur 189 cm tersebut seketika membeku. “Kau akan menyesal karena pernah dilahirkan ke dunia ini, Vlad Ignashevich!” ucap Carlo dengan bernada ancaman. Kata-katanya pun terdengar penuh penekanan.


Sementara Vlad hanya tertawa. Sosoknya yang saat itu terlihat jelas di layar monitor, menoleh ke arah kamera pengawas. Vlad melambai dengan tangan kanan yang tengah menggenggam gagang pistol. Di hadapan pria berambut pirang tadi, tampak seorang wanita dalam posisi duduk bersimpuh. Kepala wanita bergaun merah itu tertunduk, dengan rambut panjang berwarna cokelat yang terjatuh ke depan dan menutupi wajahnya. Sementara kedua tangan si wanita terikat ke belakang.


Carlo masih terpaku memandang layar monitor. Dia seakan tengah menganalisa setiap hal yang tampak di sana. Begitu juga dengan sosok wanita bergaun merah yang Carlo ketahui memang milik Miabella. “Hadapi aku, brengsek!” geram Carlo ketika melihat Vlad mengarahkan senjata api yang dia pegang ke arah si wanita.


Tiga kali tembakan Vlad lesatkan. Tiga buah peluru menembus kepala wanita malang yang langsung tersungkur ke dekat kakinya. Darah segar pun terlihat jelas membanjiri lantai sekitar jasad wanita tersebut.


Sementara Vlad langsung menjatuhkan pistol yang dia gunakan untuk mengeksekusi tadi. Tubuh pria dengan gaya rambut man bun tersebut ambruk. Dia duduk bersimpuh di hadapan jasad yang sudah tak bergerak lagi.


Wajah pria tampan asal Rusia itu menyiratkan kepedihan yang teramat dalam. Dia bahkan tampak menyeka sudut mata, ketika tiga orang pengawal masuk sambil membawa sebuah kantong berukuran besar.

__ADS_1


Ketiga pengawal tersebut menggotong lalu memasukkan jasad wanita bergaun merah yang diyakini sebagai Miabella, ke dalam kantong berwarna hitam tadi. Setelah itu, mereka keluar dari ruangan di mana Vlad mengeksekusi istri dari sang ketua Klan Serigala Merah.


“Kita impas, Karl Volkov,” ucap Vlad setelah beberapa saat berlalu. Suara pria itu terdengar bergetar. Vlad tak percaya bahwa dia baru saja menghabisi wanita yang telah berhasil memikat hatinya. “Kau sudah membunuh ayah kandung dan juga ayah angkatku. Rasanya sepadan dengan satu nyawa dari wanita yang sangat kau cintai.” Selesai berkata demikian, Vlad kemudian berdiri. Pria tampan dengan blazer hitam tersebut tiba-tiba melemparkan alat komunikasi yang baru saja dia gunakan.


Sementara Carlo bergegas keluar dari ruangan itu. Dia berlari menyusuri lorong berpenerangan temaram. Carlo bermaksud untuk mengejar ketiga pengawal yang membawa jasad Miabella. Entah ke mana orang-orang suruhan Vlad tadi akan membuang mayat wanita malang tersebut.


Ruangan demi ruangan Carlo periksa. Namun, tak ada detail yang sama, seperti yang ada dalam rekaman kamera pengawas tadi.


“Bella!” seru Carlo dengan nyaring. Suaranya menggema, merambat ke setiap sudut lorong. “Bella!” Carlo terus berteriak, hingga dia melihat beberapa orang pria berpakaian serba hitam yang berjalan dari arah depan. Carlo mengenali orang-orang itu sebagai anggota Klan de Luca. “Di mana Tuan Marco?” tanyanya dengan nada nyaring.


“Tuan Marco sedang berkoordinasi dengan para ajudannya untuk membereskan kekacauan di mansion ini, Tuan,” jawab salah seorang pria bertubuh paling tinggi.


“Kalau begitu, bantu aku mencari Miabella. Suruh teman-temanmu menyisir setiap ruangan yang ada di mansion ini!” titah Carlo. Raut tegang bercampur gelisah, terlihat jelas pada paras tampan pria berkumis tipis tersebut. Hingga detik itu, Carlo masih belum mempercayai bahwa wanita di dalam video rekaman tadi adalah istrinya. Dia begitu yakin bahwa Vlad sedang mempermainkan serta menggertaknya saja.


“Bella, kumohon. Datanglah padaku, Sayang.” Carlo yang kalut, meracau sendiri sambil membuka satu demi satu pintu yang dia temukan. Akhirnya, langkah tegap pria itu membawa dia ke lantai paling bawah yang didominasi oleh dinding besi dan lampu pijar terang-benderang.


“Bella!” Carlo berseru kencang. Sementara pengawal dari Klan de Luca, setia berjalan di sisinya sambil mendobrak setiap pintu yang ada di sana.


“Tuan, lihat ini!” seru seorang pengawal pada Carlo yang tengah berdiri di ambang pintu paling ujung. Sorot mata pengawal itu menunjukkan kengerian yang teramat luar biasa. Satu telunjuknya mengarah lurus ke tengah-tengah ruangan.


Tanpa membuang waktu, Carlo segera menerobos masuk. Mata birunya terbelalak sempurna kala melihat genangan darah memenuhi lantai. Tubuhnya pun bergetar hebat, ketika dia menangkap sebuah benda yang tergeletak begitu saja di atas genangan darah tadi.


“Itu alat komunikasi Bella denganku,” ujar Carlo sembari berjalan mendekat. Dengan hati-hati, dia membungkuk lalu memungut benda yang ternyata adalah earpiece berwarna hitam. Tak jauh dari earpiece tersebut, terdapat gelang permata yang Carlo ketahui sebagai milik istrinya. Selain kedua benda tadi, Carlo juga menenukan sebelah dari sepatu pesta milik Miabella. Sementara yang sebelah lagi entah berada di mana.


“Apakah semua ini milik Nona Muda, Tuan?” tanya salah seorang pengawal dengan hati-hati.

__ADS_1


“Ya. Ini semua milik istriku.” Carlo yang selalu terlihat gagah dan tangguh bagaikan batu karang, kini tampak lemah seperti kertas putih yang basah. Kekuatannya menguap seiring bayangan Miabella yang samar menjauh.


“Miabella tidak mungkin mati. Tidak … itu tidak mungkin ….” Carlo meracau sambil terus menggelengkan kepala. Dia menolak keras kenyataan yang sudah yang sudah terjadi.


“Miabella masih ada di sini. Di sekitar sini ….” Carlo segera bangkit. Dilihatnya ranjang kecil yang juga terdapat bercak darah, beserta beberapa helai rambut coklat Miabella di atas bantal.


Carlo memungut rambut itu, lalu mengirup aromanya dalam-dalam. Setelah itu tubuhnya kian menegang. Carlo membeku di tempatnya sambil terus menggenggam erat helaian rambut tadi. “Ini … ini bau shampoo yang biasa dipakai oleh Miabella,” ujarnya lirih.


Separuh jiwa Carlo seakan melayang. Tulang-tulangnya pun tak mampu lagi menopang bobot tubuh. Carlo ambruk, lalu terpekur di lantai. “Tidak. Ini tidak mungkin. Bella tidak mungkin meninggalkanku. Dia sudah berjanji ….”


“Bella, kembalilah, Bella! Aku sudah di sini. Menjemputmu." Carlo semakin meracau tak karuan. “Kau jangan bermain-main denganku, Vlad!” Kali ini, sang ketua Klan Serigala Merah segera bangkit. Matanya nyalang menyapu ke setiap sudut ruangan. Membuat beberapa anggota klan de Luca yang bersamanya saat itu mundur ketakutan.


“Kembalikan Bella padaku, Vlad!” Teriakan Carlo teramat nyaring. Dia mulai kehilangan kendali. Amarah dan kesedihan mengambil alih akal sehatnya.


Carlo menggila. Dia memukul setiap benda mati yang ada di sekitarnya. Dinding, meja, kursi, dan ranjang. Semua tak luput dari sasaran pukulannya yang mematikan. Ranjang yang terbuat dari kayu itu harus patah dan terbelah dua di bagian di tengahnya.


Tak berhenti sampai di situ, Carlo menendang tepian ranjang sampai terbalik. Saat itulah dia melihat sebuah kejanggalan. Ada sobekan kain berwarna putih yang Carlo yakini sebagai milik orang lain. Dia memungut kain tersebut, lalu menghirup aromanya. “Ini bukan bau tubuh Miabella,” gumamnya.


“Mungkin saja itu adalah milik korban lain yang pernah disiksa di sini, Tuan,” ujar salah seorang anggota klan.


Carlo segera menoleh ke arah pria itu seraya menatapnya tajam. “Hanya ada satu cara untuk mencari tahu.” Pria tampan bermata biru itu berjalan mendekat ke pengawal Marco de Luca. “Ambil sampel darah yang ada di lantai, juga bercak darah yang ada di bantal. Ambil juga beberapa helai rambut yang ada di dekatnya. Kalian kirimkan semuanya ke rumah sakit untuk dites DNA. Kita akan menunggu seperti apa hasilnya. Kuharap itu bukanlah milik Miabella."


🍒🍒🍒


Hai. Satu lagi rekomendasi novel keren untuk dimasukkan ke rak.

__ADS_1



__ADS_2