
Dua buah sedan hitam telah menunggu di luar bandara. Salah satunya dikendarai langsung oleh Feliks, yang akan membawa Grigori langsung menuju perusahaan. Sedangkan mobil lainnya disiapkan untuk mengantarkan Carlo menuju Casa de Luca. Kendaraan itu pun telah dilengkapi dengan seorang sopir.
“Kami sudah berada di Italia, tapi aku akan menemani Carlo dan Miabella untuk menyelesaikan sedikit urusan di Casa de Luca. Maaf, sayang. Aku belum bisa pulang ke Roma,” ucap Coco saat mereka baru tiba di Bandara Malpensa, Kota Milan. Di sanalah, Grigori menyimpan pesawat jet pribadinya. Pria paruh baya tersebut sudah menyewa hangar khusus untuk menyimpan alat transportasi udara tersebut.
“Ah baiklah. Lalu, kapan kau akan kembali ke Roma?” Walaupun terdengar agak kecewa, tapi Francesca berusaha untuk tak menunjukkannya secara terang-terangan. Apalagi, karena yang menjadi alasan Coco saat itu adalah sang keponakan tersayang.
“Aku rasa mungkin besok atau lusa. Aku ingin sekalian mengunjungi makam Theo. Sudah lama aku tak ke sana,” sahut Coco sambil terus berjalan keluar dari area bandara.
“Ya sudah. Aku akan memberitahukan hal ini kepada anak-anak. Berhati-hatilah, Ricci. Aku mencintaimu. Ingat satu hal, jangan pernah melibatkan dirimu lagi dalam ….”
“Tenang saja, sayang. Aku adalah suami yang baik dan sangat mencintaimu,” sela Coco yang sudah mengetahui ke mana arah ucapan sang istri. “Sudah dulu. Kami akan berangkat ke Brescia.” Coco kemudian menutup sambungan teleponnya. Pria itu bergegas mendekat ke tempat di mana Carlo dan Miabella telah menunggu dia sejak tadi.
“Lama sekali,” keluh Miabella sambil masuk ke mobil.
“Jangan katakan jika kau cemburu melihat kemesraanku dengan bibimu,” balas Coco tak acuh. Dia ikut masuk. Coco duduk di jok sebelah sopir. Sementra Miabella dan Carlo di kursi belakang.
Selama dalam perjalanan menuju Casa de Luca, Carlo dan Miabella tak banyak berbincang. Coco pun sama saja. Dia justru terlihat sedang memikirkan sesuatu. Satu jam perjalanan pun terasa begitu lama. Baru kali ini, Carlo merasa malas saat akan menginjakkan kakinya di atas lantai bangunan yang penuh dengan kenangan bagi dia dan Miabella. Tanpa banyak bicara, Carlo langsung saja berlalu menuju kamar. Dia bahkan tak memedulikan Luciella yang menyambut kedatangan dirinya dan sang istri di sana.
“Suamimu sedang berlatih untuk mengendalikan rasa cemburu,” ucap Coco dengan enteng.
“Begitukah? Memangnya kau juga akan bersikap demikian saat dilanda cemburu. Paman?” Miabella melipat kedua tangan di dada. Raut wajahnya tampak sedang menantang sang paman.
Sementara Coco tampak berpikir. Angan pria itu melayang pada masa muda yang dia lalui bersama Francesca. Ada banyak hal yang terjadi. Terlalu banyak, sehingga dirinya tak bisa mengurutkan satu per satu dengan begitu terperinci. Coco terus mengingat seperti apa saat dirinya merasa cemburu terhadap kekasih yang saat ini sudah menjadi istri, dan memberinya tiga orang anak.
Seberkas kenangan indah yang tak terlupakan pun ikut hadir menghiasi benak Coco. Pria berambut ikal tersebut menyunggingkan senyuman kecil. Cukup lama, Coco termenung sambil senyum-senyum sendiri. Hal itu terus berlangsung hingga Miabella merasa bosan. Putri sulung Mia tersebut akhirnya lebih memilih berlalu meninggalkan sang paman, yang bahkan tak menyadari kepergiannya karena terlalu asyik mengenang masa lalu.
Miabella telah tiba di depan kamarnya. Dia lalu membuka pintu dengan hati-hati. Di dalam sana, kakak dari Adriana itu mendapati Carlo yang sedang berdiri termenung di dekat jendela. Sepasang mata sang ketua Klan Serigala Merah menatap ke luar, menerawang jauh pada hamparan perkebunan penuh kenangan bagi dia dan sang istri tercinta.
__ADS_1
“Carlo ….” Miabella memeluk tubuh tegap suaminya dari belakang. Wanita muda itu berjinjit, agar dapat mengecup tengkuk kepala pria yang memiliki postur beberapa senti lebih tinggi dari dirinya. “Apa yang membuatmu merasa resah, Sayang?” tanya wanita muda berambut cokelat tadi, sambil membenamkan wajah di dekat pundak sang suami.
“Aku sedang mengenang kebersamaan kita dulu,” sahut Carlo. “Apa kau masih ingat malam itu, Cara mia?” tanyanya mencoba membangkitkan memori indah yang pernah mereka ukir berdua.
“Aku tak pernah melupakan segala hal yang pernah kulakukan bersamamu. Sekecil apapun, semuanya merupakan sesuatu yang sangat berharga,” jawab Miabella. “Seandainya kau tahu. Selama tiga tahun perpisahan kita, selama itu pula aku kerap berdiri di tempat kau berada saat ini. Mungkin diriku juga memandang apa yang menjadi pusat perhatianmu," tutur wanita yang merupakan pewaris sah Casa de Luca tersebut menerangkan.
“Sungguh?” Carlo menoleh ke samping, di mana terdapat wajah Miabella yang masih menempel erat di balik pundaknya. “Apakah aku harus merasa yakin bahwa perhatianmu tak akan pernah teralihkan kepada pria mana pun?” tanya pria tampan pemilik banyak tato itu ragu.
“Astaga. Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?” Miabella tertawa renyah. “Jika aku memang menyukai Vlad, kenapa harus menunggumu kembali dan membiarkan dia begitu saja. Aku bisa menjalin hubungan dengannya sejak dulu, saat kau tak ada di dekatku. Kau pria yang cerdas, Carlo. Jangan sampai rasa cemburu membuatmu menjadi berpikir konyol dan bahkan cenderung menjadi terlihat bodoh," tegur Miabella berbicara apa adanya.
Keresahan dalam diri Carlo sedikit memudar, setelah mendengar jawaban yang diberikan Miabella barusan. Untuk tipe pria seperti dia, memang terlalu memalukan jika harus menunjukkan sebuah rasa cemburu buta. Hal itu hanya akan membuat dirinya terlihat tak berwibawa sama sekali.
Carlo pun menggumam pelan. Dia lalu membalikkan badan, sehingga jadi menghadap sepenuhnya kepada sang istri. “Kapan terakhir kali kita bercinta di atas ranjangmu?” bisiknya dengan nada yang terdengar sangat dalam dan penuh godaan.
“Aku lupa,” jawab Miabella pelan dengan setengah berbisik. “Apa kau bersedia untuk membantuku agar dapat mengingatnya lagi?” Sebuah pertanyaan bernada tantangan bagi Carlo. Sedangkan Miabella tersenyum manis dan tampak merayu.
Miabella tertawa manja, sambil menggerakkan kaki yang Carlo sentuh dengan pelan karena merasa geli. Si pemilik mata abu-abu itu ingin segera menariknya, tapi Carlo memegangi pergelangan kaki wanita muda tersebut dengan erat. “Hentikan, Carlo,” pinta Miabella yang tak kuasa menahan gelitikan lembut tadi.
“Memohonlah, Cara mia.” Carlo menatap aneh kepada wanita cantik yang membuatnya begitu tergila-gila. Dia belum juga melepaskan pergelangan kaki sang istri, yang saat itu sudah berada dalam posisi duduk dengan kedua telapak tangan sebagai penahan di sisi kiri dan kanan tubuh.
Miabella memandang penuh arti kepada Carlo yang telah melepaskan kakinya. Perlahan, putri sambung Adriano tersebut bergerak ke hadapan sang suami yang tengah memperhatikan dia dengan lekat.
Carlo pun tahu apa yang harus dilakukan. Pria tampan itu kemudian sedikit merunduk. Dia memegangi dagu Miabella yang mendongak padanya. Dengan lembut dan penuh perasaan, pria bermata biru tersebut ******* bibir wanita berambut cokelat tadi untuk beberapa saat.
Miabella pun tampak tersenyum lembut. Lihai, tangan wanita bermata abu-abu itu membuka pengait celana jeans yang Carlo kenakan, kemudian menurunkan resletingnya secara perlahan. Sementara Carlo bersiap untuk penerbangan pertama dia ke nirwana.
......................
__ADS_1
Saat yang sudah direncanakan akhirnya tiba. Setelah mempersiapkan segala hal dengan sangat matang, seseorang yang ditunggu pun muncul. Vlad Ignashevich muncul dengan membawa seikat bunga lily putih yang cantik, sebagai hadiah bagi Miabella yang telah beberapa lama tidak dia temui. "Apa kabar, Bella?" sapa pria dengan gaya rambut man bun tersebut. Dia mencium punggung tangan Miabella, kemudian menyodorkan bunga yang dibawanya.
"Kabarku sangat baik, Vlad," balas Miabella diiringi senyum manis. "Lama tidak bertemu," ucap wanita cantik itu kemudian.
"Padahal, kita berada di kota yang sama. Seberapa luas St. Petersburg? Akan tetapi, aku tak berani mengusikmu, Nyonya Volkov," ujar Vlad berbalut candaan ringan.
Miabella pun menanggapinya dengan tawa renyah. Dia lalu mempersilakan Vlad untuk duduk di sofa ruang tamu, sebelum memutuskan beranjak ke meja makan. "Kau juga terlihat sangat berseri, Vlad. Apa bisnismu sedang naik daun?" tanya Miabella basa-basi.
"Aku selalu berusaha untuk membuat semua sektor bisnis yang kupegang berada dalam kondisi stabil. Semenjak kau menikah dan tak lagi mengurusi anggur, aku lebih sering berkomunikasi dengan Dante. Kinerjanya sangat baik," terang Vlad dengan gaya bicaranya yang khas.
"Ya tentu saja. Karena itulah aku menunjuk dia untuk mewakiliku. Dante adalah anak buah kepercayaan daddy zio. Rasanya, terlalu aneh jika dia bukan merupakan seseorang yang dapat diandalkan," ujar Miabella tenang, saat menanggapi ucapan pria tampan di hadapannya.
Sementara itu, Carlo dan Coco terus mengawasi jalannya 'penjebakan halus' itu melalui sebuah layar monitor, yang terhubung lewat kamera pengintai. Alat itu sengaja dipasang, beserta sebuah penyadap suara agar mereka dapat mendengar perbincangan Miabella bersama Vlad.
"Tenangkan dirimu," ucap Coco sambil menepuk pundak Carlo yang serius menatap layar, seakan tak ingin melewatkan satu adegan pun. Namun, Carlo tak menanggapi ucapan Coco tadi. Dia bahkan tak mengalihkan perhatian sama sekali, dari setiap gerak tubuh sang istri yang tengah menjalankan tugasnya.
"Aku senang karena memiliki partner bisnis sepertimu. Kau memang andal. Pantaslah jika dirimu masuk ke dalam jajaran pengusaha muda yang sukses," sanjung Miabella.
Sedangkan Vlad hanya tersenyum kalem saat menanggapi sanjungan tadi. Tak biasanya Miabella menjadi seramah itu. Namun, tentu saja Vlad jauh lebih menyukai sikapnya yang demikian. "Aku harus membagi waktuku dengan baik. Apalagi, karena harus sering-sering pergi ke Catania."
"Untuk apa?" tanya Miabella.
"Kau masih ingat dengan ayah angkatku yang dulu? Dia mulai menjalankan bisnis batu permata saat ini," jelas Vlad.
🍒🍒🍒
Hai, mampir lagi yuk ke novel keren ini. Pasti suka.
__ADS_1