
Carlo dan Adriano terus mengedarkan pandangan. Kedua pria yang memiliki warna mata biru itu memutuskan turun dari kendaraan. Mereka hendak menyisir sekitar pertokoan dengan berjalan kaki.
“Kau ke arah kanan. Aku ke kiri. Nanti kita bertemu lagi di sini,” pesan Adriano sambil turun dari mobil dengan diikuti oleh Carlo.
Baru saja mereka menapakkan kaki di aspal jalan, keduanya disuguhi pemandangan yang teramat mengejutkan. Sekitar beberapa meter di depan, tampak seorang pria yang tak lain adalah Vlad. Pria itu terlihat sedang berselisih paham dengan beberapa pria lain.
Tanpa berpikir panjang, Adriano dan Carlo bergegas mendekati kerumunan. Carlo segera menarik lengan Vlad, kemudian menghajar pria itu dengan tiba-tiba. Membuat Vlad terbelalak melihat keberadaan Carlo di sana.
“Katakan di mana istriku, Brengsek!” Carlo yang tak kuasa menahan amarah, bermaksud kembali memukul Vlad.
Akan tetapi, dengan segera Adriano mencegahnya. “Tahan, Carlo. Jangan di sini. Sebaiknya kita bawa dia ke tempat yang jauh lebih aman,” ucap Adriano. Dia lalu mengalihkan perhatian pada orang-orang yang menyaksikan adegan tersebut. “Maaf. Ini masalah keluarga,” ucap sang ketua Tigre Nero tersebut seraya tersenyum ramah. Dia lalu mengajak Carlo kembali ke mobil.
“Masuk!” Dengan kasar, Carlo mendorong Vlad agar masuk ke mobil. Mau tak mau, pria asal Rusia berambut pirang itu menurut. Dia duduk dengan diapit oleh Carlo dan Adriano, sehingga dirinya tak bisa ke manapun. “Katakan di mana istriku, Brengsek!” Carlo mencengkeram rahang Vlad dengan keras, membuat anak angkat Roderyk Lenkov itu sedikit mendongak sambil meringis kecil. Selain itu, Vlad juga merasakan sakit pada luka tusuk yang tadi dipukul oleh Miabella.
“Dia melarikan diri lagi,” jawab Vlad.
“Apa maksudmu dengan ‘lagi’?” geram Carlo.
“Aku sudah menemukannya tadi, tapi dia menyerangku dan ….”
“Tetap lihat ke depan dan jangan hiraukan mereka berdua,” tegur Adriano, pada sopir yang diam-diam melihat ke belakang lewat spion dalam. Ayah dari dua putri tersebut masih terlihat tenang sambil mengusap-usap dagu.
“Bicaralah!” desak Carlo lagi.
“Aku sudah mengatakannya. Dia melarikan diri dari Sieseby ke Kiel. Aku menemukannya lagi tadi, tapi Miabella berhasil kabur dan ….” Vlad memegangi dada kanannya. Darah kembali merembes keluar membasahi permukaan kemeja. Vlad melihat telapak tangannya yang berwarna merah.
“Kau kenapa, Vlad?” tanya Adriano saat melihat noda darah di telapak tangan mantan rekan bisnis Miabella tersebut.
Carlo yang juga melihat hal itu, segera mengempaskan wajah Vlad dengan kasar. Terlebih, ketika Vlad terdengar mendesis pelan menahan sakit. “Miabella menusuk dada sebelah kananku dengan pisau steak. Untunglah karena tidak terlalu dalam,” tutur pria berambut pirang itu menjelaskan.
“Beruntung karena dia tidak langsung menghabisimu,” ujar Carlo menanggapi. Sementara Vlad tak menyahut. Dia tampak berpikir dengan keras. Pria itu fokus memperhatikan layar ponsel.
Suasana menjadi hening beberapa saat, hingga terdengar suara si sopir bertanya dalam Bahasa Inggris. “Kita akan ke mana lagi, Tuan-tuan?” Sopir itu terlihat sedikit takut, saat mengutarakan pertanyaan yang sebenanya sangat wajar.
__ADS_1
Carlo dan Adriano saling pandang. Semenjak kedatangan mereka di Kiel, keduanya belum memikirkan tempat untuk menginap. “Carikan kami hotel terdekat,” titah Adriano pada sopir tadi.
“Baik, Tuan,” sahut pengendara itu seraya mengangguk sopan. Dia kembali fokus pada lalu lintas di depannya.
“Di mana ini?” Tiba-tiba, Vlad bergumam sendiri.
“Apanya yang di mana? Kau mengenal negara ini dengan baik. Seharusnya kau membantu kami mencari Miabella.” Carlo berkata dengan sinis.
“Aku sedang berusaha melacak keberadaan Miabella,” balas Vlad, yang membuat Adriano dan Carlo seketika menoleh padanya. “Aku harus mencari titik koordinat ini dengan teliti,” ujar Vlad lagi. Dia lalu mengangkat wajah. Mengarahkan pandangan kepada si pengemudi. “Kita ke Sieseby.”
“Untuk apa kita ke tempat itu?” tanya Adriano mengangkat sebelah alisnya.
“Nanti saja kita bahas di sana, Tuan,” jawab Vlad menoleh sejenak kepada Adriano.
Suasana kembali hening. Tak ada lagi percakapan di antara ketiga pria tadi, hingga sedan hitam yang mereka tumpangi tiba di daerah Sieseby. Kendaraan itu berhenti di depan sebuah rumah dua lantai dengan dinding berwarna putih. Bagian depan rumah terlihat sangat asri, dengan adanya tumbuhan bunga dan rumput yang tertata rapi. Suasana di sana pun begitu tenang.
Sebelum mobil tadi pergi, Adriano sempat meminta nomor ponsel sang pengendara. Hal itu dilakukan untuk mempermudahnya dalam mendapatkan kendaraan sewaan.
“Aku tidak apa-apa,” sahut Vlad.
“Bagaimana kau bisa mengatakan ‘tidak apa-apa’? Lihatlah! Lukamu mengeluarkan darah lagi. Sudah kukatakan agar kau biarkan saja wanita itu pergi. Dia tak suka berada di sini.” Elke terlihat begitu emosional saat melihat noda darah di bagian depan kemeja Vlad.
“Aku tidak bisa membiarkan Miabella berkeliaran di luar ….” Vlad menjeda kata-katanya. Dia menoleh kepada Adriano dan Carlo secara bergantian. “Damien datang kemari,” ucapnya kemudian.
“Damien? Siapa dia?” tanya Carlo. Dia maju ke hadapan Vlad. Sorot matanya tajam seakan hendak menguliti pria asal Rusia tersebut.
“Damien adalah putra ayah angkatku, Roderyk Lenkov,” jawab Vlad dengan tatapan mengarah kepada Elke. Ada sorot kecewa dalam sepasang mata biru pria berambut pirang tersebut.
“Lalu?” tanya Adriano serius.
Namun, Vlad tak segera menjawab. Dia mengembuskan napas pelan. Bayangan pria tampan itu tertuju pada beberapa saat yang lalu, sebelum dirinya pergi ke Kiel untuk mencari Miabella.
Damien yang mendapat telepon dari Elke tentang keberadaan Miabella di Jerman, bergegas datang ke Sieseby untuk menemui Vlad. “Kau menyembunyikan wanita itu?” Nada bicara Damien terdengar begitu dingin. “Kau tahu bahwa dia harus mati!” Suara Damien meninggi.
__ADS_1
“Aku tahu itu. Namun, maaf karena aku akan tetap melindunginya,” jawab Vlad.
“Suaminya telah menghabisi ayah kita. Selain itu, jika wanita yang kau lindungi tersebut mati, maka kita akan semakin mudah menghancurkan Karl Volkov. Sumber kekuatan Karl Volkov ada pada istrinya,” tegas Damien.
“Dari mana kau tahu itu? Bagaimana kau dapat menyimpulkan demikian?” Pertanyaan Vlad terdengar seperti sebuah tantangan bagi Damien. “Kau ingin menghabisi MIabella, karena kerja sama yang kembali dirimu jalin dengan Keluarga Romanov, kan?” cibir si pemilik mata biru tersebut.
“Persetan dengan Keluarga Romanov! Mereka hanya memberiku sebuah jalan dan sedikit bantuan. Selebihnya, aku melakukan apapun demi keuntungan sendiri. Untuk apa memikirkan parasit-parasit tak berguna seperti mereka?” cibir Damien.
“Kau benar-benar putra Roderyk Lenkov, Damien.” Vlad berdecak tak percaya. “Stefan Romanov dan putrinya datang padaku untuk meminta perlindungan. Akan tetapi, aku tak sudi memberikan apapun untuk mereka. Terlebih, jika harus mengganti dengan nyawa Miabella,” tegas Vlad.
“Kau bodoh, Vlad! Kau sangat bodoh!” sergah Damien tak suka dengan sikap adik angkatnya tersebut.
“Aku memang bodoh, tapi aku tak ingin menempatkan diri dalam lingkaran setan seperti yang kau jalani saat ini.” Vlad tetap pada pendiriannya.
“Baiklah.” Damien tersenyum sinis. “Sekarang, katakan di mana wanita kesayanganmu itu berada?”
Vlad tak segera menjawab. Dia tak akan pernah mengatakan apapun tentang Miabella.
“Katakan, Dik,” seringai Damien. “Bibi Elke mengatakan jika wanitamu sudah melarikan diri. Dia juga membuatmu terluka. Katakan apa yang kau rasakan?”
Tiba-tiba saja, sebuah tendangan melesat cepat mengenai ulu hati Vlad. Dia yang dalam keadaan tak siap, terpental ke belakang menimpa pot bunga hingga pecah.
Sementara Elke yang saat itu berada di dapur, bergegas lari ke ruang tamu. Dia terkejut bukan main melihat Vlad yang sedang berusaha bangkit. Dengan segera, wanita paruh baya tersebut membantu sang anak agar kembali berdiri. “Apa yang kau lakukan, Damien? Kenapa kau bersikap seperti ini pada adikmu sendiri?” tegur Elke tak terima. Wanita paruh baya tersebut memperlihatkan sikap marah pada pria yang sudah dirinya anggap seperti anak sendiri.
Akan tetapi, Damien tak menggubris sama sekali. Pria itu masih terlihat tanpa ekspresi. Damien berdiri dengan raut tak bersalah atas apa yang telah dilakukannya terhadap Vlad. Pria tampan tersebut justru tampak puas. Damien menganggap hal tersebut sebagai peringatan untuk adik angkatnya. “Cari dan temukan wanita itu untukku. Jika kau tak bersedia, maka aku akan menemukannya dengan caraku,” ancam Damien penuh penekanan. Dia membalikkan badan. Berlalu dari hadapan Vlad dan Elke.
Sepeninggal Damien, Vlad segera meraih ponselnya. Setelah itu dia bergegas keluar.
🍒🍒🍒
Satu lagi rekomendasi novel keren.
__ADS_1