
Damien berdiri di tengah-tengah ruangan sambil menatap tajam ke arah Yelena. “Berikan pisau itu padaku!” titahnya.
“Aku bukan pelayan yang harus menuruti setiap keinginanmu, Damien!” tolak putri Stefan Romanov tersebut. Dia membalas tatapan tajam pria di depannya dengan senyuman meremehkan.
“Haruskah kuingatkan padamu, bahwa akulah satu-satunya pelindung Keluarga Romanov? Apalagi jika Klan Serigala Merah mengetahui pengkhianatan kalian. Aku tidak bisa menjamin kau dapat hidup sampai esok lusa andai hal itu terjadi.” Damien menyeringai puas melihat raut Yelena yang tiba-tiba memucat.
“Keluarga Romanov sudah tidak mempunyai sekutu sama sekali sejak Victor Drozdov tewas. Siapa lagi yang akan melindungimu selain aku, Perempuan bodoh!” sentak Damien kemudian.
Miabella yang menyaksikan perselisihan Damien dan Yelena, hanya tersenyum mencibir. Rapuh sekali hubungan kerja sama antara kedua orang itu, pikirnya. Andaikan mereka saling berkelahi, maka hal tersebut akan menjadi sebuah keuntungan bagi Miabella.
“Benar sekali yang kau katakan, Damien. Maafkan keteledoranku,” ujar Yelena setelah berpikir dengan dalam untuk beberapa saat. Wanita itu seakan berusaha sekuat tenaga menekan egonya agar Damien tak marah.
“Jika wanita itu mati, maka kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Setidaknya, bersabarlah sampai aku berhasil menggiring Karl Volkov kemari. Kau tahu, ‘kan? Pria itu akan membongkar jaringan ayahku jika tidak dihentikan,” ungkap Damien, masih dengan rautnya yang tidak bersahabat.
“Aku tak mengira bahwa Roderyk Lenkov mempunyai pengaruh sebesar itu,” ucap Yelena tertawa kecil. Menyembunyikan perasaan gugup yang sempat menderanya.
“Kau pikir siapa yang membuat gerakan untuk mempertahankan kedudukan Victor di organisasi klan? Victor ibarat pagar yang melindungi ayahku beserta semua rekan-rekannya di pemerintahan. Dia adalah tameng untuk menutupi kegiatan ilegal kami,” terang Damien.
“Kegiatan ilegal?” desis Yelena seraya menautkan alis.
“Ah, ternyata otakmu tak secepat gerakan tanganmu tadi,” ejek Damien. “Biar kujelaskan satu hal, Nona Romanov," ucap pria itu lagi semakin merasa jauh di atas Yelena.
"Ayahku berencana untuk membentuk tatanan negara yang baru. Dia ingin mewujudkan mimpi dan ideologinya sejak dulu kala, bahwa paham komunis adalah yang terbaik. Satu-satunya jalan untuk meraih hal tersebut adalah dengan jalan kudeta. Sementara, untuk melakukan kudeta akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sampai saat ini saja, mendiang ayahku sudah menghabiskan miliaran Rubel untuk menyusupi agen mata-mata pemerintah saja," lanjutnya panjang lebar.
__ADS_1
“A-ayahmu akan melakukan kudeta?” desis Yelena tak percaya.
“Itu keinginannya," balas Damien tenang. "Sebagai seorang anak, aku harus mewujudkan semua cita-cita ayahku yang belum terlaksana. Karena itulah, berhenti bermain-main dengan Miabella! Dia adalah tawananku!” tegasnya. Damien bermaksud untuk berlalu dari sana.
“Tunggu!” cegah Yelena. “Kau tidak pernah menjelaskan padaku tentang hal ini sebelumnya. Jadi, apakah itu artinya kau akan membunuh Karl Volkov?” tanya Yelena ragu.
“Tentu saja! Setelah Karl Volkov datang kemari menjemput istrinya, maka saat itulah aku akan segera menghabisi dia. Jika Karl Volkov telah mati, barulah kau boleh berbuat sesukamu pada wanita ini!” Telunjuk Damien mengarah tepat pada Miabella yang sedari tadi hanya diam menyimak perbincangan panas antara dirinya dan Yelena.
“Aku menolak! Kau tidak boleh melakukan itu!" protes Yelena dengan tegas. "Bukan seperti itu perjanjian kita sebelumnya!” Yelena berkata dengan volume cukup keras kepada Damien. “Karl Volkov harus menikah denganku! Seluruh kekayaan dan kekuasaan Klan Serigala Merah harus menjadi milikku! Dia tidak boleh mati!” teriaknya tak terkendali.
“Astaga. Kau benar-benar merepotkanku!” geram Damien. Dia memijit pelipisnya yang mulai berdenyut karena sikap menyebalkan Yelena. “Adolf! Bungkam mulutnya!” titah Damien dengan nada bicara yang terdengar begitu kesal.
Miabella menyunggingkan senyuman sinis ketika salah seorang pengawal yang sedari tadi berjaga di sudut ruangan, maju sambil mengambil sesuatu dari balik jas hitamnya.
Sementara wajah Yelena kian pucat, ketika sesuatu yang dikeluarkan pengawal tadi ternyata merupakan pistol semi otomatis. Senjata api itu terarah tepat ke kepalanya. “Jangan kurang ajar kalian!” sergahnya dengan mata nyalang.
Dengan satu anggukan kepala saja, pengawal bertubuh tinggi besar tadi langsung paham. Dia bersiap menarik pelatuk senjatanya.
“Brengsek kalian!” Satu teriakan lain yang tak kalah kencang dari Yelena, terdengar dari bagian lain ruangan. Tampaklah Stefan Romanov berlari tergopoh-gopoh sambil mengokang senapan laras panjang.
Pistol yang awalnya mengarah pada kepala Yelena, kini bergerak ke arah si pria tua tersebut. Namun, belum sempat pistol itu menyalak, Stefan lebih dulu memuntahkan pelurunya ke kepala si pengawal.
Damien sama sekali tak mengira bahwa Stefan akan berani berbuat demikian. Dia bahkan tak tahu jika Stefan merupakan penembak ulung. Nalurinya sebagai seorang pembunuh pun seketika bangkit. Dia merogoh pistolnya, lalu mengarahkan pada Stefan.
__ADS_1
Kemampuan Damien jelas di atas Stefan, sehingga dia dapat melumpuhkan ayah kandung Yelena tersebut dengan begitu mudah. Peluru yang keluar dari pistol milik Damien, berhasil melubangi punggung tangan Stefan.
Senapan laras panjang yang dipegang pria itu pun terjatuh, membuat Stefan tak memiliki benteng untuk melindungi diri. Dengan tenang, Damien menembakkan pistolnya berkali-kali ke bagian lengan, dada, lalu berakhir di kepala Stefan Romanov. Pria itu roboh bersimbah darah, tak jauh dari Yelena yang langsung histeris.
“Ayah!” pekiknya nyaring. “Kau gila, Damien! Aku akan membunuhmu!” Dengan bersenjatakan pisau tentara, Yelena berlari menerjang. Akan tetapi, belum sampai langkahnya tiba ke dekat tubuh Damien, pintu masuk di ruangan itu tiba-tiba ditendang dari arah luar hingga engselnya terlepas.
Sontak, semua perhatian mengarah ke arah pintu yang sudah ambruk ke lantai. Begitu juga dengan Damien yang sempat keheranan karena tak melihat siapa pun di sana.
“Lelucon apa lagi ini!” Nada bicara Damien meninggi. Tandanya dia sudah tidak dapat menahan kesabaran lebih lama lagi.
“Oh, mungkin malaikat penyelamatku sudah tiba,” desis Miabella sambil tertawa pelan.
Menyadari hal itu, Yelena segera mengalihkan sasarannya pada wanita muda bermata abu-abu tersebut. Dia menghambur sembari menghunus pisaunya pada Miabella yang masih berada dalam kondisi terikat. Sementara Damien dan para pengawal lain, bersikap waspada sambil berjalan pelan menuju arah pintu masuk.
Yelena tampak begitu berambisi untuk menghabisi Miabella, sehingga dia tak menyadari bahwa ikatan kaki putri Matteo de Luca itu telah terlepas. Entah bagaimana caranya Miabella melepas simpul tali berukuran besar tersebut. Satu yang pasti, kini telapak kakinya sudah bersarang di perut rata Yelena.
Yelena memekik kesakitan saat terjengkang ke belakang. Pisaunya terlepas dari genggaman. Sayang sekali, jarak antara Miabella dengan pisau itu cukup jauh.
Miabella bangkit masih dengan tubuh yang terikat pada kursi. Posisi tangan yang berada di belakang, menyulitkannya untuk meraih pisau yang tergeletak di lantai. Namun, Miabella terus berusaha menggunakan kaki yang sudah tak terikat. Tujuan wanita muda itu hanya satu. Dia ingin mengambil kesempatan dalam kekacauan yang terjadi untuk dapat melepaskan diri.
Sayangnya, Yelena bergegas bangkit. Dia mengambil pisau itu lagi. Sambil berteriak kencang, wanita cantik berambut gelap tersebut kembali menghunuskan senjata tajam itu ke arah Miabella.
🍒🍒🍒
__ADS_1
Rekomendasi novel keren untuk semua.