The Bodyguard

The Bodyguard
Victory Smile


__ADS_3

Carlo mulai berjalan dengan hati-hati menyusuri terowongan gelap nan pengap. Di sana juga keadaannya benar-benar sepi, seakan hanya dirinya saja. Namun, masih beruntung karena ukuran terowongan yang Carlo lalui saat ini jauh lebih lebar dari yang ada di markas tempo hari.


Sejenak pria bermata biru itu menghentikan langkah. Dia lalu mengeluarkan senter kecil dari saku celana bagian depan. Carlo mengarahkan cahaya dari senter tadi ke depan. Sinar dari benda tersebut cukup membuatnya mendapatkan sebuah gambaran.


Terowongan yang akan dia lalui kali ini teramat panjang. Entah di mana jalur rahasia itu berujung. Namun, Carlo yakin bahwa Viktor pun pasti belum bergerak terlalu jauh.


Dengan langkah tegap dan cepat, Carlo menyusuri sisi terowongan hingga tiba di persimpangan. Dia berhenti sejenak sambil berpikir, arah mana yang dituju oleh Viktor. Carlo lalu memejamkan mata, merasakan hembusan angin dari sisi kiri dan kanan tubuhnya.


Beberapa saat kemudian, pria itu kembali membuka mata dan dapat merasakan bahwa angin berhembus dari sebelah kanannya.


Sambil menyeringai, Carlo memilih untuk berbelok ke sana, sebab dapat dipastikan jika terowongan yang mengarah ke sebelah kiri itu pasti buntu.


Diarahkannya senter ke depan. Satu dua ekor tikus got berlari ke dekat dirinya. Pria tampan itu tersenyum. Tiba-tiba saja dia teringat pada Miabella. Gadis itu memiliki ketakutan yang berlebih pada hewan pengerat tersebut, bahkan hanya dengan melihat gambarnya di biku atau televisi saja sudah bisa membuat kekasihnya itu menjerit histeris.


Angan-angan indah tentang Miabella, membuat Carlo sedikit kehilangan fokusnya, hingga dia tak sadar jika sesosok manusia tinggi besar sudah menunggu di sisi kiri terowongan yang tak terkena cahaya. Sosok itu membawa tongkat baseball dan mengayunkannya tepat ke kepala Carlo.


Putra dari pemilik sah Klan Serigala Merah itu dapat merasakan udara di sekitarnya bergerak, sehingga dia segera menghindar pada saat tongkat baseball itu hampir mengenai belakang kepalanya. Carlo merunduk sambil menarik pelatuk pistol yang sudah dia pegang sedari tadi. Pelurunya melesat dan berhasil melubangi kening si penyerang.


Sosok yang ternyata bertubuh tinggi besar tersebut ambruk tepat di dekat kakinya, menimbulkan bunyi berdebum yang cukup nyaring. Carlo pun mengarahkan senter ke arah pria yang telah menjadi mayat tersebut. Dia sempat tertawa pelan, sebelum kembali melanjutkan langkah menyusuri terowongan tadi.


Carlo kemudian memperlambat gerak, ketika indra pendengarannya menangkap suara-suara aneh yang terdengar tak jauh dari tempat dia berdiri. Pria itu kembali mengambil sikap siaga. Apalagi ketika dirinya dapat melihat dengan jelas bahwa suara tersebut berasal dari dua anjing berjenis Doberman yang menyalak sambil berlari ke arahnya.


Dengan spontan Carlo berbalik dan berlari secepat kilat menuju ke arah mayat yang baru saja dia habisi. Pria itu bermaksud untuk menghemat peluru, dengan tidak membidik sasaran yang bergerak sangat lincah seperti anjing-anjing tadi. Otaknya berpikir cepat untuk mengambil tongkat baseball yang tergeletak tak jauh dari jasad tersebut, kemudian mengayunkan benda itu pada salah satu anjing yang berada paling dekat dengannya.


Carlo memukul kepala anjing yang sudah siap menggigit dirinya. Gigi-gigi yang begitu runcing dengan air liur menetes, siap untuk mengoyak daging segar dari tubuh mangsanya. Pukulan yang Carlo hantamkan begitu kencang, hingga anjing itu terlempar ke samping. Kepala hewan buas tersebut pun pecah seketika.

__ADS_1


Satu anjing yang masih tersisa, segera menerjang dan berhasil menggigit tangan Carlo yang tengah memegang tongkat baseball. Benda itu pun terlepas dari tangannya. Beruntung tangan kiri Carlo bebas bergerak. Di saat anjing itu fokus menancapkan taring ke pergelangan, dia menembak kepala hewan tersebut.


Sambil menahan sakit, Carlo membuka rahang anjing yang sudah tak bernyawa itu. Dia menarik keluar dua gigi yang menembus jaket kulit, lalu melempar jasad hewan yang sudah hancur kepalanya tersebut.


Belum juga bertemu Viktor, Carlo sudah mendapatkan sejumlah luka. Satu luka di bahu dan kini ditambah dengan kulit tangan yang terkoyak akibat gigitan anjing buas. Beruntung jaket kulitnya cukup tebal, sehingga luka yang dideritanya tak terlalu parah.


Carlo kembali berjalan sambil mengisi ulang peluru sampai penuh. Setelah itu, dia lalu mengokang senjatanya. Senter yang terjatuh akibat diserang oleh pria tinggi besar tadi sudah berhasil dia pungut dan kembali digunakan untuk penerang.


Namun, senter itu mulai berkedip akibat benturan keras saat melawan anak buah Viktor tadi. Beberapa saat sebelum nyalanya padam, Carlo melihat dua siluet manusia yang berjalan semakin menjauh. Salah satu dari dua orang itu membawa lentera.


Carlo begitu yakin bahwa salah satu dari mereka adalah orang yang sedang dia buru. Viktor pastilah yang tak membawa apapun di tangannya, karena terlihat dari langkah sempoyongan serta postur yang tak lagi tegap.


Dia pun memutuskan untuk berlari mengejar orang-orang tadi. Ketika jaraknya sudah semakin dekat, Carlo menembak lentera yang dipegang oleh salah satu dari kedua orang tersebut.


Begitu pula dengan yang terjadi pada lentera itu. Percikan api yang makin tersulut di dalam lentera, membuat benda bercahaya tadi meledak. Api pun tampak menyambar ke tangan orang yang memeganginya.


Energi panas itu semakin berkobar, ketika ia merambat tak hanya mengenai ujung kemeja tapi dan juga seluruh pakaiannya. Dalam waktu singkat, tubuh pria itu pun terbakar sehingga membuat keadaan di sekitarnya menjadi terang benderang. Kondisi tersebut akhirnya dapat memperlihatkan sosok seorang Viktor yang tengah berdiri terpaku.


Carlo menyeringai menatap pria tua itu. Tak dihiraukannya jerit kesakitan dari sosok yang terbakar tadi. Carlo tak harus peduli, lagi pula dia tak mengenali orang tersebut. Tujuan utamanya hanyalah satu, mengejar pria tua berambut gondrong, yang ternyata mencoba untuk melarikan diri meski dengan sempoyongan.


Carlo tertawa mengejek. Dengan segera dia mengejar Viktor, lalu menarik bagian belakang kemejanya yang tak terkancing, sehingga menampakkan dada dan perut yang penuh tato. Dia menyeret pria tua tersebut untuk kembali ke arah pintu masuk terowongan, sama seperti yang dilakukannya terhadap Czar tadi.


Sementara laki-laki tua itu terus meracau dengan menggunakan bahasa Rusia, yang kini mulai Carlo pahami meskipun hanya sedikit.


"Lepaskan aku, brengsek! Siapa kau berani-beraninya berbuat kurang ajar padaku? Kau tidak tahu betapa kejam dan garangnya aku!" umpat pria tua itu tanpa jeda. "Jika anak buahku tahu, mereka ...."

__ADS_1


Belum selesai Viktor melanjutkan kata-katanya, Carlo sudah lebih dulu menghunuskan pisau peninggalan Yuri Volkov ke leher pria itu, membuat Viktor terbelalak ketakutan. "Kau," desisnya.


Sementara di belakang sana, nyala api dari tubuh yang terbakar mulai meredup. Namun, Carlo masih dapat melihat dengan jelas raut wajah bengis yang penuh dengan keriput.


"Kau terlalu banyak mabuk dan bercinta, sehingga mukamu terlihat lebih tua," ejek Carlo seraya tertawa. Diarahkannya ujung pisau yang runcing ke pipi Viktor.


Tanpa ada rasa iba, Carlo menancapkan pisau itu ke pipi kanan Viktor hingga menembus bagian samping mulutnya. "Ini untuk semua dosa yang telah kau lakukan," geramnya.


Sedangkan Viktor tak mampu berteriak, sebab pisau itu telah berhasil mengunci mulutnya.


Sambil menyeringai, Carlo menarik pisau tersebut dan menancapkannya kembali ke bagian dada sebelah kiri, leher, dan perut secara berkali-kali.


Viktor tak sempat meminta tolong pada siapa pun, karena di tempat itu hanya ada dia dan Carlo yang membantainya tanpa ampun.


Pisau yang berlumuran darah itu kembali Carlo cabut. Dia menggerakkan tangannya tinggi-tinggi ke udara. "Ini untuk ayah dan kakak-kakakku yang telah kau renggut nyawanya! Di sini, di tempat ini, mereka harus tewas karena ketamakanmu! Sekarang, kau pun akan mendapatkan hal yang sama, Viktor!"


Suara Carlo menggelegar, seiring dengan tangannya yng bergerak cepat, menusuk dada kiri Viktor berkali-kali hingga pria tua itu tak bernyawa lagi.


Setelah merasa puas, Carlo membersihkan pisau kesayangannya menggunakan celana Viktor yang masih bersih. Dia lalu menyimpan benda itu kembali ke balik pinggang.


Carlo kemudian menyeret tubuh tak bernyawa yang bersimbah darah tersebut menuju terowongan. Jalur yang dia ambil kini mengarah ke kamar istana.


Di sana, Igor yang menunggu dengan was-was, akhirnya dapat bernapas lega. Tuan muda pemberani itu telah kembali. Dia juga muncul sambil menarik jasad Viktor, lalu meletakkannya di dekat kaki Igor.


"Kupersembahkan mayat pengkhianat ini untuk kalian pengikut setia ayahku. Segera kabarkan pada semuanya, bahwa Serigala Merah telah berhasil kuambil alih!" tegas Carlo penuh penekanan, diiringi senyum puas kemenangan.

__ADS_1


__ADS_2