
Carlo terdiam untuk beberapa saat. Ingatan pria itu tertuju pada perbincangan bersama Adriano beberapa waktu silam. Ayah sambung Miabella tersebut mengatakan bahwa pamannya mengetahui sesuatu tentang Krasnny Volk alias Serigala Merah yang dimaksud. Apakah itu artinya Adriano memang mengetahui jati diri seorang Carlo yang sebenarnya?
Makin lama, Carlo berpikir dengan semakin dalam. Pada akhirnya, semua yang ada di benak pria tampan tersebut bertumpu pada satu kesimpulan. Sesuatu yang dirinya anggap sebagai pelipur lara, atas terusirnya dia dari kehidupan Adriano dan juga Miabella. "Baiklah, tuan. Jadi ini yang kau inginkan untuk hidupku?" gumam Carlo sambil berjalan menyusuri lorong yang dipenuhi keceriaan anak-anak penghuni rumah singgah itu.
"Carlo!" panggil seseorang dari belakang.
Seketika, Carlo pun tertegun dan menoleh. Dia melihat Delana tengah berlari kecil menuju ke arahnya. Wanita muda itu tampak sangat ceria, karena dapat bertemu kembali dengan si pecinta tato tersebut. "Bagaimana kabarmu? Lama kita tidak berkirim pesan," sapanya hangat.
"Ada banyak kesibukan di perkebunan. Aku harus menemani dan membantu nona Miabella di sana," jelas Carlo memaksakan diri untuk terlihat biasa saja.
"Nona Miabella tadi kemari untuk mencarimu," ujar Delana lagi. Wanita muda itu tak mengetahui tentang permasalahan yang tengah dihadapi oleh Carlo dan juga Miabella.
"Oh ya?" Carlo memicingkan matanya. "Baiklah. Terima kasih, Delana. Aku harus pergi dulu." Carlo pamit dengan segera kepada wanita muda itu. Dia bergegas menaiki motornya untuk kembali ke kantor milik Grigori Kostya. Selama di dalam perjalanan, angan pria tampan tadi terus tertuju pada paras cantik Miabella, dengan segala kenangan manis yang mereka berdua lewati bersama.
Beberapa saat kemudian, Carlo telah tiba dan langsung memarkirkan motornya di area basement. Tanpa membuang waktu, pria itu bergegas menuju lift yang akan membawa dia ke ruangan milik pria asal Rusia tadi.
Namun, di saat Carlo baru keluar dari lift, dirinya sudah langsug disambut oleh Feliks. Asisten pribadi Grigori itu seperti selalu tahu bahwa dia akan datang ke sana.
"Tuan," sapa pria berpenampilan rapi tersebut.
__ADS_1
"Apa kau menjadi penjaga pintu lift?" celetuk Carlo seraya berjalan keluar dengan gagah. Pria tampan berambut gelap itu tersenyum kepada Feliks, kemudian segera menuju ruangan milik Grigori. Sedangkan Feliks mengikutinya dengan sikap yang terlihat hormat. "Kenapa bosmu senang sekali berada di sini? Apa dia tidak punya rumah?" tanya Carlo dengan tak acuh.
"Ini memang rumah tuan Grigori, Tuan Muda," jawab Feliks sopan. Dia lalu maju beberapa langkah untuk membukakan pintu bagi Carlo. "Anda langsung saja masuk. Tuan Grigori mengatakan bahwa tidak perlu ada izin khusus bagi Tuan Karl," ucapnya lagi.
Carlo menoleh sejenak kepada pria dengan tampilan rapi di sebelahnya. Tanpa banyak bicara, dia pun melangkah masuk. Namun, pria tiga puluh empat tahun tersebut kemudian tertegun, ketika Feliks kembali bicara. "Biasanya, pada jam seperti ini tuan Grigori sedang mengasah kemampuan di dapur rahasia."
Carlo kembali menoleh. Kali ini sorot mata mantan pengawal Miabella tersebut dipenuhi dengan rasa penasaran. Tak lama, dia pun menautkan alisnya yang hitam. "Maksudmu?" tanya si pemilik mata biru tadi.
Akan tetapi, Feliks tak menjelaskan secara langsung dan detail maksud dari ucapannya. Dia mempersilakan Carlo agar segera masuk. Lagi-lagi, calon putra mahkota dari Klan Serigala Merah itu mengikuti saja apa yang Feliks isyaratkan padanya, termasuk ketika dia dibawa pada bagian lain ruangan kantor tadi.
Carlo berdiri dan memperhatikan pria asal Rusia itu dengan saksama untuk beberapa saat. Dia merasa heran sewaktu asisten Grigori mengajaknya masuk ke kamar mandi. Awalnya, Carlo merasa ragu. Namun, Feliks mengisyaratkan agar putra dari Fabiola tersebut segera mengikutinya. Kekasih Miabella itu pun menurut saja.
Setelah berada di dalam kamar mandi dengan ukuran yang tidak terlalu luas itu, Feliks kemudian berdiri di depan meja wastafel dengan dua pintu dari kayu. Pria yang berusia beberapa tahun di bawah Grigori tersebut kemudian menurunkan tubuh. Dia lalu membuka pintu dari meja wastafel tadi.
Dengan ekspresi wajah yang masih setengah tak percaya, Carlo mengikuti pria itu. Baru saja memasukkan kaki, ternyata dia langsung menapaki sebuah undakan anak tangga. "Apa ini aman?" tanya Carlo ragu.
"Jauh lebih dari aman, Tuan," jawab Feliks dengan yakin dan penuh percaya diri.
Awalnya mereka sedikit merunduk, tapi semakin ke bawah jarak antara undakan anak tangga dengan atap semakin menjauh. Mereka pun dapat berjalan dalam keadaan tegak.
__ADS_1
Sungguh sesuatu yang sulit dipercaya. Di dalam meja wastafel dengan ukuran kecil tadi, ada sebuah ruangan yang begitu luas layaknya tempat parkir basement. Di sana terdiri atas beberapa ruangan lain, dengan penyekat terbuat kaca tebal dan kusen stainless berkualitas. Carlo mengedarkan pandangan pada setiap ruangan yang berbeda-beda fungsinya itu. “Tempat apa ini?” tanyanya pada Feliks.
“Di sini adalah tempat penyortiran batu permata yang didapatkan dari para penambang, serta pemburu harta karun di seluruh Afrika dan Eropa, Tuan,” jawab Feliks seraya mengulurkan tangan untuk menunjukkan arah berjalan kepada Carlo.
“Tidak semua batu permata yang diperoleh penambang dan pemburu harta karun, berada dalam kondisi bagus dan memiliki nilai jual yang yang layak. Banyak juga dari batu-batu yang mengandung lebih banyak mineral tanah,” jelas Feliks lagi.
“Hm, begitu ya?" Carlo mengangguk-angguk sambil terus mengikuti langkah Feliks yang membawanya menyusuri ruangan demi ruangan.
“Lihatlah itu, Tuan. Itu adalah ruang penyortiran. Anak buah kami meneliti dan menyeleksi secara saksama batu-batu permata yang akan diolah,” tunjuk Feliks pada satu ruangan khusus, kemudian beralih pada ruangan berikutnya. “Batu-batu permata yang sudah melalui proses seleksi akan masuk ke ruangan ini," tunjuk pria itu lagi. Sedangkan Carlo mendekat dan menatap ke dalam ruangan melalui jendela kaca. Dia melihat beberapa orang di sana yang mengoperasikan komputer.
“Di dalam ruangan ini akan dilanjutkan proses marking, yaitu proses untuk menentukan pola yang akan dibentuk dalam batu permata,” lanjut Feliks. “Setelah polanya ditentukan, kita akan berlanjut ke proses pemotongan batu permata itu menggunakan mesin laser.” Pria itu kembali mengarahkan Carlo ke ruangan lain.
“Nah, ruangan ini adalah ruangan terakhir bagi perjalanan batu-batu permata tadi. Tempat ini dinamakan ruang polishing, atau tempat memoles permata sebelum siap didistribusikan kepada para klien. Di sinilah tuan Grigori berada. Dia yang memeriksa hasil akhir dari permata-permata itu,” tunjuk Feliks pada seorang pria paruh baya yang tampak serius memberi arahan kepada anak buahnya yang berada di ruangan tersebut.
Merasa diawasi, Grigori segera menoleh dan menangkap sosok Carlo yang berdiri memperhatikannya dari balik dinding kaca. Pria itu pun tersenyum lembut seraya melambaikan tangan. Dengan segera, dia berjalan keluar ruangan dan menyapa sang tuan muda. “Tuan? Apakah Anda baru saja datang?” tanyanya penuh sikap hormat.
“Ya, beberapa saat yang lalu,” jawab Carlo. Dia menyambut jabat tangan Grigori dengan senyuman khasnya yang selalu tampak memesona.
“Nona muda juga kemari beberapa saat yang lalu untuk mencari Anda. Sudahkah kalian bertemu?” tanya Grigori lagi, membuat Carlo tertegun.
__ADS_1
“Di-dia juga mencariku kemari?” tanyanya gugup. Namun, ada rasa bahagia dalam hatinya.
“Ya. Sepertinya dia sangat sedih. Apakah kalian berdua ada masalah?” tanya Grigori. Akan tetapi, Carlo tak lagi terfokus pada pertanyaan pria itu. Benaknya sudah dipenuhi oleh wajah cantik Miabella yang tak lelah mencarinya. Pria tampan itu mende•sah pelan. Disugarnya rambut gelap itu ke belakang. Carlo belum bisa menemui Miabella. Tidak sebelum dia memiliki kekuasaan yang lebih besar dari Adriano, agar lebih mudah baginya untuk membawa pergi gadis itu.