The Bodyguard

The Bodyguard
Cycle of Life


__ADS_3

Ini adalah hari kedua Mia berada di Casa de Luca. Akan tetapi, hingga detik itu ternyata dia belum bisa berbincang dari hati ke hati bersama sang putri tercinta. Miabella masih menutup diri dan hanya bicara seperlunya.


"Kiriman bunga kedua selama aku berada di sini. Luar biasa sekali. Apa kau punya penggemar rahasia, Sayang?" Mia masuk ke kamar gadis cantik, yang setiap harinya hanya berdiri di dekat jendela sambil menatap nanar keluar. Seakan tak bosan sepasang mata abu-abu Miabella memperhatikan jalan setapak berumput, serta hamparan perkebunan anggur seluas mata memandang.


Namun, seperti biasa. Miabella hanya menoleh dan tak mengatakan apapun. Dia melihat sejenak pada bunga lily yang berada di dalam genggaman tangan Mia. Tanpa berkomentar sedikit pun, gadis itu kembali mengalihkan pandangan.


Sebagai seorang ibu, Mia harus memiliki kesabaran ekstra dalam menghadapi situasi seperti ini. Dia meletakkan bunga tadi di samping bunga kiriman hari kemarin. Wanita paruh baya tersebut kemudian menghampiri sang putri, lalu berdiri di dekatnya. "Apa yang sedang kau lihat, Bella?" tanya Mia. Dia menatap sejenak gadis dua puluh tiga tahun tersebut, sebelum kembali mengarahkan pandangan ke luar jendela. Mia mencoba mengikuti arah mata sang anak, meskipun dia tak tahu objek apa yang tengah menjadi fokus gadis itu.


"Apa kau tahu mengapa dulu aku bisa sampai mengalami depresi berat saat kehilangan Matteo? Aku mengabaikan banyak hal, termasuk dirimu. Semua itu karena cinta yang terlalu besar dan juga perasaan belum siap untuk kehilangan yang terus menghantuiku," tutur Mia pada awalnya. Dia tak peduli meskipun Miabella tak merespon sama sekali, karena dirinya yakin bahwa gadis itu pasti mendengarkan.


"Ayahmu pergi tepat di saat dia sedang berada dalam kondisi terbaik. Matteo menjadi sangat religius dan juga begitu tenang. Pria yang dulu berkarakter keras, tiba-tiba menjadi sangat ...." Mia tak melanjutkan kata-katanya. Ibu dua anak tersebut kemudian terdiam hingga beberapa saat.


"Jatuh cinta, mencintai, dan merasa saling memiliki. Namun, pada akhirnya harus kehilangan. Itu semua sudah menjadi sebuah perputaran yang pasti akan terjadi pada setiap orang. Berat dan pasti teramat menyakitkan. Aku tak akan menyalahkanmu, Sayang. Sebagai sesama wanita yang pernah begitu mencintai seseorang ...." Mia kehilangan kata-katanya. Dia menyeka sudut mata yang basah.


"Beristirahatlah. Aku akan membawakanmu makan siang sebentar lagi." Seusai berkata demikian, wanita yang pernah menjalani tiga pernikahan itu pun berjalan menuju pintu.

__ADS_1


Namun, sebelum memutar pegangannya, Mia kembali menoleh. "Hampir saja aku lupa untuk menyampaikan pesan dari Adriano," ucap Mia lagi. Dia mengarahkan tatapan kepada Miabella yang tak menggubris semua perkataannya.


"Adriano tadi pagi menghubugiku. Dia mengatakan bahwa proposal kerja sama yang diajukan oleh Vlad Ignashevich telah diperiksa dan disetujui. Kau hanya tinggal meneruskan proses selanjutnya. Jalinlah hubungan yang baik, karena itu akan sangat menguntungkan dan juga memberikan banyak pengalaman serta pembelajaran baru bagimu. Aku hanya sekadar menyampaikan pesan." Setelah berkata demikian, Mia pun keluar dari sana.


Sementara Miabella masih termenung di dekat jendela. Sepasang matanya menerawang jauh pada jalan setapak perkebunan, yang biasa dia lalui menggunakan kuda kesayangannya, Uva.


Namun, sesaat kemudian kedua mata indah sang nona muda tampak menyipit. Dari jarak yang cukup jauh, dia melihat seorang pria yang tengah menunggang kuda bergerak semakin mendekat. Pria itu berhenti kemudian memandang ke arah jendela kamar Miabella sambil melambaikan tangan.


"Carlo ...." Tanpa berpikir panjang, Miabella bergegas keluar dari kamar. Dengan setengah berlari, gadis itu berusaha untuk segera tiba di lahan perkebunan. Saking tak sabarnya, Miabella bahkan sampai tersandung kaki sendiri dan hampir jatuh tersungkur andai tak ada seseorang yang menangkap tubuhnya.


Miabella segera menegakan tubuhnya. Dia bahkan menepuk-nepuk lengan yang tadi sempat dipegang oleh pria asal Rusia tersebut. Tanpa sepatah kata pun, Miabella membalikkan badan. Gadis itu hendak kembali ke kamar, andai tak terdengar suara Mia yang menahan langkahnya.


"Apa kabar, Tuan Ignashevich? Kupikir Anda sudah tidak berada di Italia," sapa Mia berbasa-basi dengan ramah.


"Aku sengaja tinggal lebih lama di sini, untuk menunggu jawaban dari nona de Luca," jawab Vlad sambil mengarahkan pandangan kepada Miabella yang masih berdiri membelakangi.

__ADS_1


"Oh, Anda membuatku sangat terkesan. Lihatlah, bahkan Miabella juga bersedia untuk keluar kamar setelah Anda berada di sini," ujar Mia ikut menatap sang putri, meskipun nyatanya Miabella tak menoleh sedikit pun. "Apakah suamiku sudah menghubungi Anda tentang urusan kerja sama itu?" tanya Mia.


"Karena itulah aku kemari, Nyonya D'Angelo," jawab Vlad dengan ekor mata yang kembali mengarah kepada Miabella.


Mia yang dapat menangkap gerakan kecil tersebut, hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman. "Kalau begitu, kebetulan sekali. Bergabunglah untuk makan siang bersama kami. Lagi pula, hanya ada aku dan Miabella di meja makan. Untuk bangunan sebesar ini, rasanya terlalu menyedihkan jika kami hanya makan berdua," undang Mia dengan ramah.


"Aku akan ke kamar," pamit Miabella.


"Tunggu, Bella," cegah Mia. "Kita akan makan siang sambil membahas kerja sama antara tuan Ignashevich denganmu. Jadi, sebaiknya kau bergabung bersama kami," saran Mia.


"Aku memang bukan pebisnis, Tuan Ignashevich. Namun, aku kerap mendampingi mendiang Matteo de Luca dalam mengelola segala hal yang berhubungan dengan urusan perkebunan. Karena itulah, sedikit banyak bisa memahami apa saja yang harus dilakukan dalam menjalin sebuah kerja sama. Itu juga jika Anda tidak merasa keberatan. Kebetulan, putriku belum terlalu pulih kondisinya." Mia tersenyum ramah kepada Vlad.


"Oh, tidak masalah. Suatu kehormatan bagiku, Nyonya. Kapan-kapan biar aku yang mengundang Anda dan juga nona de Luca untuk makan siang bersama. Kuharap Anda menyukai menu masakan Rusia," sahut Vlad seraya memamerkan senyum kalem. Pria berambut pirang itu juga terlihat sangat sopan di mata Mia.


"Tentu saja, Tuan. Aku dan Miabella akan dengan senang hati menerima undangan dari Anda," balas Mia. Dia lalu mengalihkan perhatiannya kepada sang putri yang masih berdiri mematung tanpa sepatah kata pun. Mia kemudian menghampiri gadis itu. "Ayo, Sayang," ajaknya.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu merengkuh lengan Miabella dengan penuh kasih. Dia membawa gadis cantik tersebut menuju ke ruang makan dengan diikuti oleh Vlad, yang segera membantu memundurkan kursi tanpa diminta. "Oh, manis sekali. Terima kasih," ujar Mia begitu terkesan dengan sikap pria asal Rusia tadi. Mia pun mendudukkan Miabella yang tak merespon sama sekali.


__ADS_2