The Bodyguard

The Bodyguard
Arrangement


__ADS_3

Carlo dan Adriano akhirnya dapat membawa Miabella kembali ke Italia. Di Istana de Luca, Mia dan Daniella sudah menantikan kedatangan mereka. Namun, ada satu hal yang membuat Miabella terkejut bukan main, yaitu kehadiran sang adik yang sekian lama tidak dia temui. Miabella belum pernah sebahagia itu saat berjumpa dengan Adriana.


“Apa kau merindukanku, Kak?” tanya Adriana setelah mereka berada di kamar. SIkapnya masih sama seperti dulu, meskipun dia sudah menjelma jadi gadis cantik yang pandai merawat diri.


“Biasa saja,” jawab Miabella. Dia memang tak suka menunjukkan perasaannya secara berlebihan di hadapan Adriana. “Bagaimana kuliahmu? Kuharap kau tak hanya tebar pesona di depan para pria,” ujar Miabella dengan nada mencibir.


“Tentu saja tidak. Aku belajar dengan rajin. Cita-citaku untuk menjadi seorang arsitek harus terwujud. Aku ingin membuat daddy merasa bangga dengan prestasi,” sahut Adriana dengan gaya bicaranya yang khas. “Omong-omong, bagaimana keadaan Kakak sekarang?” Adriana memperhatikan Miabella dari jarak yang sangat dekat. “Tidak ada yang berubah,” pikir gadis itu.


“Memangnya kau pikir aku kenapa?” tanya Miabella sinis.


“Bukannya selama ini Kakak ….” Adriana tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena kehadiran Mia di sana. Wanita paruh baya tersebut membawakan makanan untuk Miabella.


“Makan dulu, Sayang,” ucap Mia lembut. Dia meletakkan nampan berisi menu santap siang yang dibawanya di atas meja. Setelah itu, Mia mendekat ke ranjang. Wanita paruh baya tersebut duduk di dekat putri sulungnya.


“Aku sangat bahagia karena kau telah kembali dengan selamat. Kau tak tahu betapa khawatirnya diriku. Setiap malam aku tak bisa tidur memikirkan kondisimu yang tak diketahui seperti apa jelasnya.” Mia mengelus lembut pucuk kepala Miabella. Dia juga mengecup kening sang anak dengan penuh kasih.


“Aku juga sangat merindukanmu, Bu. Selama berada di Jerman, aku berpikir banyak hal tentang semua orang. Ibu, Daddy Zio, Adriana, semuanya. Aku menyesal karena selalu menjauh dari kalian dan lebih memilih menyendiri.” Miabella memeluk erat Mia. Rasa haru menyeruak dengan cepat. Memenuhi relung hati yang terdalam.


“Sudahlah. Sekarang, kita sudah berkumpul kembali. Aku berharap hal seperti ini tak pernah terulang lagi.” Mia menangkup paras cantik putri sulungnya. Dia kembali mengecup kening wanita muda itu. “Makanlah dulu. Setelah itu, kita akan membahas sesuatu yang serius,” ucapnya kemudian.

__ADS_1


“Tentang apa, Bu?” tanya Miabella penasaran.


“Nanti saja. Kau harus mengisi perut terlebih dulu. Baru aku akan memberitahumu,” sahut Mia seraya tersenyum lembut. “Ayo, Adriana. Biarkan kakakmu makan dengan tenang,” ajak Mia. Dia beranjak turun dari ranjang, kemudian mengambil nampan berisi menu makan siang untuk putri tercinta. Mia meletakkannya di hadapan Miabella.


“Habiskan. Aku tak mau jika sampai masih ada sisa di piringmu,” pesan Mia. Dia menarik pelan lengan Adriana agar turun dari ranjang.


“Kenapa aku harus pergi dari sini, Bu? Aku ingin menemani kakak,” protes Adriana.


“Kau hanya akan mengganggu kakakmu jika di sini terus,” sahut Mia. “Ayo, sebaiknya ikut aku. Ada banyak hal yang bisa kita kerjakan bersama,” ajak Mia memaksa putri bungsunya agar keluar dari kamar Miabella.


Bersamaan dengan itu, Carlo masuk ke sana. Dia menyapa Mia serta Adriana dengan senyuman khasnya yang menawan. Namun, Carlo tak banyak berbasa-basi, karena perhatian pria tampan tersebut sudah tertuju kepada sang istri yang sangat dia rindukan.


“Kau adalah ketua klan, Carlo. Kau harus menjaga harga diri dan wibawamu,” ucap Miabella lembut diiringi tatapan penuh cinta kepada pria tampan di hadapannya.


“Aku tak peduli dengan jabatan itu, Cara mia. Bagiku, yang terpenting adalah dirimu. Istriku tercinta,” balas Carlo kembali menyuapi Miabella. “Jika perlu, aku akan kembali menjadi pengawal pribadimu. Aku hanya ingin menjaga dan memastikan agar kau baik-baik saja.”


“Terima kasih, Carlo. Namun, kau juga memiliki tanggung jawab besar lain yang tak bisa dirimu abaikan begitu saja. Seperti halnya daddy zio, Paman Marco, dan juga mendiang ayahku dulu. Mereka menjalankan tugas ganda sebagai ketua klan sekaligus kepala keluarga. Aku yakin, kau juga pasti mampu mengemban tugas itu. Kau tak kalah luar biasa dibanding mereka bertiga.” Miabella tersenyum lembut.


“Kau semakin dewasa, Sayangku,” ucap Carlo bangga. Dia meletakkan sendok yang dipegangnya. Carlo mendekat, kemudian mengecup kening sang istri. “Apa Ibu Mia sudah memberitahumu tentang sesuatu?” tanyanya kemudian.

__ADS_1


“Tentang apa?” Miabella balik bertanya. “Ibu memaksaku makan. Katanya, setelah aku menghabiskan makanan ini, barulah dia akan membahas sesuatu yang penting denganku,” ujar Miabella menerangkan.


“Oh, baiklah. Kalau begitu, kau habiskan dulu makananmu.” Carlo tersenyum kalem. Dia kembali menyuapi sang istri hingga makanan di dalam piring habis tak tersisa. Carlo lalu mengambil air minum, menyodorkannya kepada Miabella. Setelah memindahkan nampan berisi piring kosong ke atas meja, pria itu kembali ke dekat sang istri. “Aku akan memanggil ibu mertua kemari,” ucap Carlo lagi. Dia beranjak ke dekat pintu.


“Memangnya kau tidak tahu apa yang akan ibuku katakan?” tanya Miabella menghentikan gerak Carlo.


Pria rupawan bermata biru itu tak menjawab. Dia malah tersenyum kalem sambil mengedipkan sebelah mata. Setelah itu, Carlo beranjak keluar kamar. Tak lama kemudian, pria itu masuk kembali bersama Mia. Mereka berdua tampak berbisik-bisik akan sesuatu yang tak bisa Miabella dengar.


“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Miabella curiga.


Lagi-lagi, Carlo tak menjawab. Dia lalu menggeser satu kursi di dekat ranjang untuk Mia. Setelah ibu mertuanya duduk dengan nyaman, barulah Carlo mengambil tempat di tepian pembaringan.


“Ada apa ini? Kenapa kalian semua terlihat begitu serius?” Untuk sejenak, rasa was-was menggelayuti di relung hati Miabella. Namun, perasaan tak nyaman itu langsung memudar, tatkala sang ibu menjelaskan serta menjawab segala rasa penasaran Miabella dengan pelan dan lemah lembut.


“Nyonya Fabiola sempat menghubungiku saat kau menghilang. Aku yang saat itu seperti tak memiliki kekuatan sama sekali, mendapat energi positif darinya. Nyonya Fabiola mengatakan dirinya sangat yakin bahwa kau masih hidup dan selamat, Nak,” tutur Mia.


“Nyonya Fabiola berulang-ulang mengatakan hal itu sampai aku terpengaruh olehnya. Dia pula yang mencetuskan ide untuk mengesahkan pernikahan kalian di mata hukum serta negara, sekaligus merayakannya dengan sebuah pesta resepsi yang meriah. Kami pikir, itu sudah menjadi hak kalian berdua," lanjut Mia terlihat sangat bersemangat.


“Pesta resepsi?” gumam Miabella. Dia mengarahkan pandangan kepada Carlo yang duduk di dekatnya.

__ADS_1


Carlo mengangguk pelan, sebagai isyarat bahwa apa yang Mia katakan memang benar adanya. Pria itu menggenggam erat jemari Miabella, lalu menciumnya lembut dan penuh cinta. “Ya. Kau tak perlu mencemaskan segala hal yang berhubungan dengan persiapan pestanya nanti, Cara mia. Karena itu merupakan acara kita berdua. Jadi, aku pasti akan terus membantu serta mendampingimu dalam mempersiapkan semua yang diperlukan,” jelas Carlo dengan senyuman kalem yang selalu terlihat manis di paras tampannya.


__ADS_2