
Setelah beberapa hari di Palermo, Miabella memutuskan kembali ke Casa de Luca. Begitu juga dengan Adriano dan Mia, yang berencana merawat luka bekas operasi Miabella hingga sembuh di sana. Hal itu dijadikan kesempatan bagi Miabella, untuk melihat kondisi perkebunan yang telah sekian lama dia tinggalkan.
Dante begitu senang saat melihat Miabella melintasi perkebunan dengan memakai kursi roda otomatisnya. “Di mana Nyonya Mia, Nona Muda?” tanyanya heran, saat melihat majikannya itu datang sendirian.
“Aku melarangnya untuk ikut. Aku tidak ingin bergantung pada siapa pun. Termasuk ibu,” jawab Miabella.
“Kau memang luar biasa, Nona Muda,” sanjung Dante yang hingga saat itu tak ingin mengubah panggilannya terhadap Miabella, meskipun dirinya tahu bahwa sang majikan kini sudah menjadi istri seorang ketua klan. “Seperti yang kudengar, para penjaga di Casa de Luca menceritakan bahwa karakter serta wajahmu begitu mirip dengan mendiang Tuan Matteo de Luca.”
“Begitukah?” Miabella tersenyum bangga. “Aku adalah putri dari dua pria yang sangat luar biasa. Mereka begitu berharga bagiku,” lanjutnya.
“Ah, aku jadi ingat kepada Carlo. Di mana dia sekarang?” Dante juga tak mengubah panggilannya terhadap pria yang kini menjadi penguasa organisasi mafia terbesar di Rusia. Dia masih memanggil Carlo dengan nama tanpa embel-embel ‘tuan’.
Namun, hal itu sepertinya tak masalah sama sekali bagi Miabella. Dia masih terlihat tenang dan tidak merasa terganggu. “Carlo pulang lebih dulu ke Rusia untuk mempersiapkan pengesahan sekaligus pesta pernikahan kami,” jawab Miabella.
Senyuman wanita muda itu tampak lebar, sebagai tanda bahwa dia sangat bahagia. Terlepas dari seperti apa kondisi kakinya saat ini. Miabella masih dapat bersyukur. Terlebih, ketika dia sudah melihat kondisi yang menimpa Vlad Ignashevich. Pria itu jauh lebih menyedihkan dari dirinya.
“Bagaimana keadaan perkebunan selama aku tidak ada?” tanya Miabella kembali pada niat awalnya datang ke lahan yang dipenuhi pohon anggur tersebut.
“Semua aman terkendali, Nona Muda. Aku selalu memastikan agar segalanya berjalan dengan lancar,” jawab Dante. “Namun, kemarin aku menerima email dari asisten Tuan Vlad Ignashevich,” lapor Dante dengan ekspresi yang terlihat ragu.
“Mykola?” Miabella menautkan alisnya.
“Ya. Tuan Mykola Vanko mengtakan bahwa Tuan Vlad ingin memutus kerja sama yang dia jalin dengan kita. Tuan Vlad tak akan menjadi distributor Du Fontaine lagi, terhitung dari awal bulan depan. Mereka akan mengurus segala hal yang berkaitan dengan pembatalan kerja sama, yang seharusnya masih tersisa hingga awal tahun depan,” jelas Dante. “Apa kau ingin melayangkan gugatan, Nona?”
“Tidak perlu. Ikuti saja apa yang menjadi keinginan mereka. Aku tak akan mempermasalahkan hal seperti itu.” Miabella mengembuskan napas pelan. Tak mungkin bagi dirinya memperkarakan hal sepele, jika dibandingkan dengan semua yang sudah dia lakukan terhadap Vlad. Miabella dapat memahami dengan baik. Pasti akan terasa berat bagi pria asal Rusia tersebut, jika terus berhubungan dengan dirinya, meskipun hanya sebatas kerja sama bisnis.
“Aku percayakan semuanya padamu, Dante. Saat ini, aku akan fokus pada penyembuhan kakiku.” Seusai berkata demikian, Miabella membalikkan kursi roda, meninggalkan Dante yang masih berdiri di tempatnya tadi.
Miabella akan memanfaatkan waktu yang tersisa hingga acara pengesahan dan resepsi pernikahannya tiba, untuk melakukan serangkaian perawatan demi kesembuhanya. Pemulihan itu memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Namun, semangat yang besar dari wanita muda tersebut, telah membuat hal yang diperkirakan akan memakan waktu lama menjadi terbilang singkat. Walaupun belum seratus persen kembali normal, tapi Miabella sudah siap untuk menghadapi moment istimewa yang sudah dirinya dan Carlo tunggu.
Sebuah gaun pengantin yang indah dan mewah, menjadi saksi penyatuan ikatan suci dua sejoli itu di hadapan Tuhan serta khalayak umum. Kali ini, Carlo dan Miabella mengucapkan janji sehidup-semati bukan hanya di depan pendeta dan tanpa adanya saksi.
__ADS_1
Raut penuh haru terpancar jelas dari wajah Mia dan Adriano, menyaksikan acara sakral putri sulung mereka. Begitu juga dengan Fabiola. Ini seperti mimpi bagi janda Nikolai Volkov tersebut, ketika satu-satunya putra yang berhasil terselamatkan dari pembantaian berdarah malam itu, sudah berdiri di altar dengan wanita pilihannya.
Ada banyak doa dan harapan yang dipanjatkan bagi kedua mempelai. Wajah-wajah bahagia dari semua yang menyaksikan acara itu, terlihat jelas menambah kemeriahan pesta megah dari dua pembesar organisasi hitam Eropa.
Namun, pesta mewah di malam itu, bukanlah akhir dari segalanya. Justru acara istimewa tersebut menjadi penanda dimulainya kehidupan baru dua anak manusia.
Miabella dan Carlo, menjalani hari-harinya dengan bahagia. Meskipun tak jarang ada kerikil kecil yang menjadi sandungan. Akan tetapi, itu tak masalah yang berarti.
Carlo dan Miabella bertekad untuk menghadapi semuanya berdua. Miabella belajar untuk bersikap jauh lebih dewasa.
Seperti halnya sore itu, ketika dia mematut dirinya di depan cermin.
Miabella mengembuskan napas pelan saat memperhatikan betisnya yang sudah tak bisa lagi terlihat mulus. Wanita muda itu membungkuk, lalu mengusap permukaan kulit kaki jenjangnya yang tak lagi seindah dulu. Sedikit rasa sesal dan kecewa menelusup masuk ke relung hati.
Akan tetapi, dengan cepat Miabella menepiskan segala perasaan negatif itu. Dia segera menegakkan tubuh, ketika pintu kamar tiba-tiba terbuka dan menampakkan wajah tampan Carlo di sana. “Kau sedang apa, Cara mia? Kenapa belum bersiap-siap? Bukankah kau tadi mengajakku untuk pergi ke dokter kandungan?”
“Ah, iya. Aku lupa.” Miabella setengah berlari menghampiri sang suami, lalu memeluknya erat. “Apa hasil testpack tadi harus kubawa juga?” tanyanya manja.
“Baiklah. Aku akan bersiap-siap sebentar.” Miabella melepaskan ciumannya, kemudian bergegas memasuki ruang ganti. Tak berapa lama, dia keluar lagi dalam balutan celana jeans dan atasan crop top berwarna cokelat.
“Sebelum perutku membesar, aku ingin memuaskan diri memakain pakaian seperti ini," ucapnya sambil tersenyum. "Ayo,” ajak Miabella seraya melingkarkan tangan di lengan sang suami. Keduanya tampak begitu mesra, menyusuri lorong menuju bagian depan Istana Serigala Merah.
Carlo tak keberatan sama sekali. Baginya, tak ada sesuatu yang perlu dipermasalahkan, selama sang istri merasa senang dan nyaman. Terlebih, karena Miabella memang terlihat cantik dengan penampilan seperti itu.
Mereka telah tiba di halaman depan. Di sana, sebuah mobil SUV bersama empat orang pengawal bersetelan hitam sudah siap menyambut suami istri tersebut. “Kenapa banyak sekali yang akan ikut dengan kita?” protes Miabella.
“Aku tak ingin kecolongan lagi. Terlebih karena testpack tadi pagi menunjukkan hasil positif,” sahut Carlo dengan enteng.
“Terserah kau saja.” Miabella berdecak kesal. Jika sudah begitu, dia tidak akan bisa berbuat apa-apa. Ucapan Carlo adalah mutlak. Walaupun Miabella terkenal keras kepala, tapi dia selalu menghormati apa yang menjadi keputusan sang suami.
Carlo tertawa lebar, memamerkan lesung pipinya yang selalu saja membuat Miabella tergila-gila. Wanita yang tengah hamil muda itu mencium suaminya dengan gemas, walaupun ada dua pengawal lain yang turut menumpang di mobil tersebut.
__ADS_1
Sore yang cerah itu ditutup dengan kabar bahagia yang mereka dapat dari dokter kandungan. Dari pemeriksaan, dapat dipastikan bahwa nyonya besar Klan Serigala Merah benar-benar hamil. Apalagi, saat dokter kandungan merekam detak jantung pada perut rata Miabella dan menunjukkan bahwa ada dua suara detakan di sana.
“Itu artinya, istri Anda mengandung bayi kembar,” jelas sang dokter, yang segera disambut dengan senyuman lebar pasangan itu.
"Ah, Cara mia. Kau dengar? Kita akan memiliki anak kembar." Senyuman lebar menghiasi wajah tampan Carlo. Tak puas-puas dia memamerkan lesung pipinya pada semua orang, demi melukiskan kebahagiaan yang mereka dapatkan.
"Ini akan sangat menyenangkan, Carlo," balas Miabella.
Mereka berdua melangkah keluar dari klinik, menyusuri jalanan kota St. Petersburg di sore hari. Sebuah kebahagiaan tak ternilai, ketika Carlo dapat menggenggam erat tangan Miabella. Menikmati indahnya matahari terbenam. Menyambut malam yang sunyi dan menenangkan.
Kali ini dan seterusnya, Carlo berjanji untuk selalu menjaga Miabella dengan baik. Seperti ketika dirinya menjadi pengawal pribadi wanita muda tersebut. Carlo tak akan membiarkan sesuatu yang buruk menimpa Miabella. Tak juga seekor nyamuk yang dibiarkan menyentuh kulit sang pujaan hati.
Senja turun, menghadirkan warna jingga di ufuk barat. Keindahan luar biasa untuk menjadi penutup hari bagi mereka berdua. Dalam dekapan Carlo, Miabella mendapatkan rasa aman dan nyaman. Begitu pula dengan Carlo. Saat memeluk Miabella, dia mendapatkan kebahagiaan hidup yang selama ini seakan jauh dari angannya.
"Ti amo, Cara mia."
...- End -...
Hai, readers setia novel karya Komalasari. Terima kasih, karena masih mengikuti cerita-cerita yang disuguhkan di sini. Semoga selalu terhibur. Mohon maaf untuk segala kekurangan dalam penyampaian. Terima kasih untuk semua dukungannya hingga detik ini.
Jangan lupa, mampir juga ke karya terbaru Komalasari. Dua novel bergenre romance, yaitu Casa del Castaneda dan Since I Found You. Salah satu novel itu bercerita tentang kelanjutan hidup dari Vlad Ignashevich, setelah kakinya diamputasi (Since I Found You).
🍒🍒🍒
Salam Sayang,
Komalasari.
Obat kangen, ini ceuceu kasih visual Carlo dan Miabella.
__ADS_1