The Bodyguard

The Bodyguard
Great Expectations


__ADS_3

Kurang lebih satu jam di perjalanan, mobil yang ditumpangi Miabella akhirnya tiba di kota tujuan. Kiel merupakan Ibukota Schleswig-Holstein. Kiel adalah kota otonom yang juga menjadi pusat galangan kapal berteknologi tinggi.


Pria tadi menghentikan mobilnya di pinggir jalan pusat kota. Sebelum membiarkan Miabella turun, dia menyempatkan diri untuk bertanya, “Kau akan ke mana setelah ini, Nona?”


“Aku ….” Miabella tidak tahu harus menjawab apa. Dia sama sekali tak memiliki rencana. Wanita cantik tersebut kembali berpikir sejenak. “Terima kasih atas tumpangannya, Tuan,” ucap Miabella kemudian. Dia melepas sabuk pengaman yang melintang di dada. Miabella bermaksud untuk keluar dari mobil.


“Tunggu, Nona,” cegah pria pemilik kendaraan.


Miabella mengurungkan niat. Dia menoleh. “Ada apa, Tuan?” tanyanya. Dia mulai bersikap waspada.


Pria itu tak segera menjawab. Dia merogoh ke saku belakang celana panjangnya. Si pria mengeluarkan beberapa lembar uang, lalu menyodorkan uang tadi kepada Miabella. “Belilah alas kaki,” ucapnya diiringi sebuah senyuman.


Lagi-lagi, Miabella tak tahu harus menjawab apa. Ada perasaan ragu dalam dirinya untuk menerima uang itu. Namun, Miabella sangat membutuhkannya. Dia harus mengisi perut untuk menambah energi.


“Tidak apa-apa, Nona. Ambilah.” Pria itu tetap menyodorkan uang tadi kepada Miabella yang terlihat ragu. Dia mengangguk pelan. “Kau membuat diriku teringat pada adik perempuanku yang berada di Norwegia,” ucapnya kemudian. “Sepertinya, usia kalian sama.”


Miabella tersenyum. Dia yang selama ini selalu membatasi diri terhadap orang asing, kali ini merasa begitu nyaman atas kebaikan pria itu. Dia menerima uang yang disodorkan padanya. “Siapa namamu, Tuan?” tanya istri Carlo tersebut.


“Gilbert Bachmeier.”


“Terima kasih untuk semua bantuanmu. Aku akan mengingat semua ini. Jika aku dapat kembali ke Italia dengan selamat, maka ….” Miabella terdiam. Ragu mulai menyelimuti hatinya. Segala keangkuhan yang selama ini menjadi ciri khas putri sulung Mia tersebut, luruh dalam telapak kaki tanpa alas. Miabella meninggalkan semuanya di Sieseby. “Semoga mereka segera menemukanku,” gumam wanita muda itu pelan dengan wajah tertunduk.


Namun, sayangnya pria bernama Gilbert tadi tak mendengar. Dia tengah menyalakan mesin mobil. Berniat untuk melanjutkan perjalanan. “Aku pergi dulu, Nona. Jaga dirimu baik-baik.” Gilbert berpamitan. Sepertinya, dia sedang terburu-buru.


Miabella mengangguk pelan. Selain terhadap Adriano, ini adalah kali kedua dirinya tersenyum pada orang asing yang baru dia temui. Wanita muda berambut panjang itu berdiri memandang kendaraan milik Gilbert yang semakin menjauh.


Miabella kemudian mengalihkan perhatian pada sekelilingnya. Lagi-lagi, dirinya berada di tempat yang teramat asing. Kali ini, dia merasa menyesal karena selalu menolak ajakan dari Adriano dan Mia, untuk berlibur ke berbagai negara.


Sebelum bertemu kembali dengan Carlo, Adriano pernah mengajak Miabella pergi ke Jerman. Namun, Miabella menolak. Dia lebih memilih menyibukkan diri di perkebunan.


“Ah ….” Sebuah keluhan pelan meluncur dari bibir Miabella. Dia melihat kedua kakinya untuk sesaat. Hal pertama yang harus dilakukan adalah membeli sepasang sandal. Miabella pun berjalan menyusuri trotoar. Dia tak menghiraukan pandangan aneh dari orang-orang yang berpapasan dengannya.

__ADS_1


Sementara itu, Carlo baru kembali ke kamar setelah melakukan perundingan dengan Adriano dan Marco. Niatnya untuk pergi ke Jerman sudah benar-benar bulat. Rencana pun telah disusun bersama para ketua dari organisasi besar di Eropa tadi.


Carlo mengeluarkan ransel berisi pakaian ganti, yang dikirimkan oleh anak buahnya dari Rusia beberapa waktu lalu. Dia meletakkan benda itu di atas Kasur. Setelah mengeluarkan beberapa dan hanya menyiapkan baju seperlunya, pria bermata biru tersebut duduk di tepian ranjang. Dia lalu meraih ponsel di atas meja dekat tempat tidur.


Saat membuka kunci layar, sepasang alis Carlo yang tebal seketika bertaut. Ada banyak sekali panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenal. Merasa penasaran, sang ketua Klan Serigala Merah memutuskan untuk menghubungi balik nomor tersebut.


Cukup lama Carlo menunggu hingga panggilannya tersambung. Terdengar suara seorang pria yang asing di telinga Carlo. Sapaan yang digunakan pria asing itu pun bukan menggunakan Bahasa Rusia atau Bahasa Italia. “Siapa ini?” tanya Carlo dalam Bahasa Inggris.


“Kau yang menghubungiku terlebih dulu, tuan,” sahut pria di seberang sana.


“Tidak. Justru nomor milikmu yang menghubungiku terlebih dulu,” bantah Carlo.


Si pria di seberang sana tak bicara lagi. Namun, Carlo masih menunggu. Dia belum memutus sambungan telepon. Carlo bahkan memastikan bahwa pria yang sedang berbicara dengannya masih dalam panggilan.


“Aku ingat sekarang,” ucap pria di ujung telepon itu setelah beberapa saat terdiam.


“Apa?” tanya Carlo. Entah mengapa dia masih berada dalam sambungan tersebut.


“Wanita muda?” sela Carlo dengan nada yang terdengar berbeda.


“Ya. Wanita muda berambut cokelat dan bermata abu-abu,” jelas pria yang tak lain adalah Gilbert.


“Bella …,” ucap Carlo pelan. “Bella. Istriku.” Dia beranjak dari duduknya. Carlo terlihat resah. Pria itu berjalan mondar-mandir. “Di mana? Ke mana?” racaunya tak karuan.


“Kiel,” jawab Gilbert.


“Kiel? Di mana itu?” tanya Carlo.


“Jerman,” jawab Gilbert lagi.


Carlo tersenyum lebar. Entah kebetulan atau apa namanya, tapi ini merupakan sebuah keajaiban. Niat Carlo untuk pergi ke Jerman semakin kuat. Dia tak akan mundur lagi.

__ADS_1


“Dengar, Tuan. Wanita bermata abu-abu yang kau sebutkan tadi adalah istriku. Dia sudah menghilang berminggu-minggu. Jika kau bersedia, bolehkah aku menyimpan nomormu? Aku akan pergi ke Jerman secepatnya. Kuharap kita bisa bertemu sesampainya di sana,” pinta Carlo.


“Jadi, wanita malang itu adalah istrimu?” tanya Gilbert setengah tak percaya.


“Kenapa kau berkata seperti itu? Tolong katakan. Apakah istriku terluka?” cecar Carlo.


“Ah, tidak. Bukan itu, tuan. Hanya saja, saat aku bertemu dengannya, dia terlihat begitu menyedihkan. Berjalan tanpa alas kaki,” jelas pria tersebut.


Perasaan Carlo semakin gundah dan tak menentu. Ingin rasanya dia cepat-cepat terbang ke Jerman saat itu juga. “Baiklah. Terima kasih atas informasi darimu. Akan kuhubungi kau lagi secepatnya.”


Setelah mengakhiri perbincangannya di telepon, Carlo segera berlari keluar kamar. Niat Carlo adalah untuk menemui sang ayah mertua. Dia ingin memberitahukan kabar baik yang baru saja diterimanya, meskipun Carlo belum mengetahui dengan pasti di mana tepatnya Miabella berada.


Dilihatnya, Adriano tengah terdiam di ruang tengah dengan mata menerawang. Tampak jelas raut duka dan gelisah, terpancar dari wajah rupawan pria itu.


“Ayah,” panggil Carlo, membuat Adriano seketika menoleh. “Anda tidak apa-apa?” tanyanya hati-hati.


“Menurutmu?” sahut Adriano sinis sambil berdiri dan berjalan mendekat ke arah Carlo.


“Putri yang sangat kusayangi dan selalu kujaga sepenuh hati dan jiwa, menghilang tak tahu rimbanya. Aku juga tak tahu apakah dia ... dia ....” Adriano tak sanggup melanjutkan kata-kata. “Sementara Mia, gangguan kecemasannya mulai kambuh,” imbuh Adriano. “Dia sangat takut seandainya ... seandainya ... Ya, Tuhan. Bella ....”


“Putri Anda masih hidup, Ayah mertua. Aku bisa memastikan bahwa Miabella masih hidup!” tegas Carlo penuh keyakinan. Dia pun menceritakan yang baru saja didengarnya pada Adriano.


“Apa kau yakin?” desis Adriano. Sorot mata birunya kembali menyala penuh harapan.


“Aku sangat yakin, Ayah!” sahut Carlo percaya diri.


“Kalau begitu, tunggu apa lagi! Kita berangkat ke Jerman sekarang juga!” putus Adriano antusias.


🍒🍒🍒


Satu lagi novel keren untuk semua.

__ADS_1



__ADS_2