The Bodyguard

The Bodyguard
Last Meeting


__ADS_3

Miabella telah dipindah ke ruang perawatan. Dia juga sudah boleh dikunjungi. Hal itu tak disia-siakan oleh Carlo. Sang ketua Klan Serigala Merah, langsung masuk ke kamar di mana sang istri berada. Dengan setia, dia menemani Miabella hingga wanita muda tersebut siuman dan dapat berkomunikasi dengan baik.


“Apa yang kau rasakan saat ini, Cara mia?” tanya Carlo. Tak sedetik pun dia melepaskan genggaman tangannya dari jemari lentik sang istri tercinta.


“Rasanya luar biasa dapat melihatmu lagi, Carlo,” jawab Miabella agak parau. Dia tersenyum, meskipun masih terlihat lemah.


“Ini adalah kebahagiaan yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Aku sangat bersyukur karena dapat menemukanmu kembali.” Carlo menciumi tangan Miabella dengan dalam. Terpancar jelas dari sorot matanya, bahwa dia memang benar-benar merasa bahagia saat itu. Terlepas dari semua luka yang diderita oleh Miabella, yang terpenting adalah putri sambung Adriano tersebut dapat terselamatkan nyawanya.


“Aku sudah memberitahu Mia bahwa kau telah ditemukan. Namun, aku tak mengatakan jika saat ini kita sedang berada di rumah sakit. Kau tahu sendiri seperti apa ibumu jika mendapat berita buruk.” Adriano yang baru masuk ke kamar perawatan, segera menyingkirkan tubuh tegap Carlo dari tempat duduk di dekat ranjang. Setelah sang menantu beranjak dari sana, Adriano segera menempati kursi tersebut.


Carlo yang tak suka dengan sikap Adriano, hanya dapat berdecak pelan. Dia lalu memutari ranjang dan duduk di tepian dengan posisi setengah berbaring. Dielusnya pucuk kepala Miabella, kemudian dicium lembut.


“Kapan kita akan pergi dari sini?” tanya Miabella.


“Sabarlah, Cara mia. Kau baru mendapat perawatan atas semua luka-luka yang dirimu alami. Tunggu hingga dokter mengizinkan kita pulang,” sahut Carlo.


“Ya. Suamimu memang benar, Principessa,” timpal Adriano. “Tunggu hingga kondisimu benar-benar stabil.” Pria paruh baya dengan kemeja putih itu mengembuskan napas pelan. “Bersyukurlah pada Tuhan, karena kau masih diberi keselamatan, Sayang.”


“Ya, Daddy Zio. Aku sangat bahagia karena kalian bisa menemukan keberadaanku ….” Miabella terdiam. Matanya bergerak dengan tidak beraturan. “Bagaimana caranya kalian bisa menemukan keberadaanku?” tanya wanita muda itu penasaran.


“Ceritanya sangat panjang, Cara mia,” jawab Carlo. “Kami bertemu dengan Vlad. Beruntung karena dia memasang alat pelacak, sehingga kami dapat mendeteksi lokasi keberadaanmu,” jelas pria tampan bermata biru tersebut.


Mendengar nama Vlad disebut, seketika Miabella jadi terdiam. Secara tiba-tiba, rasa bersalah menyeruak dalam dirinya. Wanita muda itu teringat dengan adegan ciuman yang dilakukan bersama pria asal Rusia tersebut. Miabella menatap Carlo yang sedang bercerita, tentang segala hal yang terjadi saat menghadapi Damien dan anak buahnya. “Aku mencintaimu, Carlo,” ucap wanita muda bermata abu-abu tersebut, membuat Carlo segera menghentikan penuturannya.


Putra bungsu Nikolai Volkov itu menatap balik Miabella. Dia merasa heran, tapi tak sedkit pun menyimpan sebuah perasaan curiga terhadap sang istri. Kepercayaan yang Carlo berikan terhadap wanita yang sangat dirinya cintai tersebut memang tak ada bandingannya. “Aku tahu itu, Cara mia,” balas Carlo diiringi senyuman lembut.


Miabella ikut tersenyum. Apa yang terjadi antara dirinya dengan Vlad, biarlah menjadi rahasia di antara mereka berdua. Itu juga, jika pria asal Rusia tersebut masih dapat bertahan hidup setelah mendapat beberapa luka tembak di tubuhnya.


“Lalu, sampai kapan aku akan berada di sini?” tanya Miabella. “Aku tak sabar untuk melihat kebun anggur sebelum kembali ke Rusia," ujarnya.


Mendengar ucapan Miabella, Carlo dan Adriano saling pandang. Mereka terdiam cukup lama, sampai akhirnya Adriano menyentuh lengan putri kesayangannya itu. Dia mengusap lembut dan penuh kasih. “Principessa, kita tunggu keputusan dari dokter. Aku yakin, sebentar lagi mereka akan kemari untuk memeriksa keadaanmu,” ucapnya.


Apa yang Adriano katakan memang benar adanya. Tak berselang lama, seorang dokter masuk ke ruangan itu dengan ditemani beberapa perawat. Salah seorang perawat membawa troli berisi peralatan kedokteran, lalu meletakkannya tepat di samping ranjang Miabella.


“Gutten morgen (Selamat pagi). Anda terlihat jauh lebih baik hari ini, Nyonya,” sapa dokter pria, dengan usia yang sama seserti Adriano. Dia berbicara menggunakan Bahasa Inggris, karena Carlo sempat mengatakan padanya bahwa mereka berasal dari Italia.


“Terima kasih, Dokter. Semua ini karena suami dan ayahku telah datang menjemput," jawab Miabella. Dia berusaha menunjukkan wajah ceria, meskipun seluruh tubuhnya terasa sakit. Miabella bahkan seperti mati rasa, dari bagian paha ke bawah.

__ADS_1


“Kenapa kakiku mati rasa, Dokter?” tanya Miabella ketika salah seorang perawat tengah memeriksa tekanan darahnya.


“Oh, itu karena efek obat bius yang mungkin masih tersisa,” jelas sang dokter dengan tenang.


“Obat bius?” ulang Miabella. “Apakah aku baru selesai dioperasi?” tanyanya lagi.


Dokter itu tak langsung menjawab. Dia memandang kepada Carlo dan Adriano terlebih dulu. Sang dokter seakan meminta persetujuan. Setelah Carlo mengangguk, barulah dokter tadi tersenyum. “Ya, Nyonya. Kami terpaksa harus mengambil tindakan operasi untuk menjahit luka-luka di kaki Anda. Jika tindakan itu tidak kami lakukan, maka Anda akan kehilangan banyak darah. Hal itu sangat berbahaya untuk keselamatan Anda,” jelasnya.


“Ah, ya. Aku ingat,” gumam Miabella lirih. Tergambar jelas dalam benaknya, detik-detik ketika Yelena menusukkan pisau berkali-kali pada kedua betis wanita cantik bermata abu-abu itu. “Katakan, apakah lukaku parah?” tanya Miabella penasaran.


“Itu ….” Dokter tadi sempat menggaruk pelipisnya, sambil memperhatikan para perawat yang memeriksa satu per satu dari puluhan jahitan di bagian kaki Miabella. Mereka lalu menempelkan plester khusus berwarna transparan.


“Sejauh ini, kondisi Anda sangat stabil, Nyonya. Tulang kaki Anda juga sama sekali tidak ada masalah. Anda bebas beraktivitas sesuai yang Anda kehendaki. Namun, tunggu hingga jahitannya mengering terlebih dulu,” terang sang dokter hati-hati.


“Apa kakiku akan terlihat seperti kaki Frankenstein?” Miabella tertawa pelan. Entah apa yang menurutnya lucu.


“Kita bisa menyamarkannya dengan bedah plastik, Bella. Jangan khawatirkan hal itu. Bagi kami, yang terpenting adalah keselamatanmu,” sela Adriano sebelum sang dokter sempat menjawab.


“Jadi benar bahwa kakiku terlihat seperti Frankenstein?” Senyuman yang tadi menghiasai wajah cantik Miabella, kini memudar seketika.


“Aku ingin melihatnya.” Tanpa diduga, wanita muda tersebut bangkit dari pembaringan. Apa yang Miabella lakukan, membuat semua orang di ruangan itu menjadi terkejut sekaligus panik.


Kedua betis Miabella tampak bengkak, dengan plester putih yang menutupi lukanya dalam bentuk tak beraturan. Plester itu menutupi hampir semua permukaan kulit kakinya.


Miabella terdiam tak percaya. Ingin rasanya dia menjerit sekeras mungkin, saat melihat kondisinya saat itu. Setetes air mata terjatuh di sudut bibir, yang akhirnya menjadi sebuah isakan pelan.


Dulu Miabella gemar memamerkan kaki jenjangnya yang mulus kepada Carlo. Dia sangat menyukai ketika belahan jiwanya itu memandang takjub seraya membelai kulit seputih susu. Kini, keindahan yang membuatnya merasa percaya diri tersebut sudah sirna. Tak ada lagi kaki indah kebanggaan Miabella. “Aku membenci ini,” isaknya seakan merutuki diri sendiri.


“Dengarkan aku, Cara mia.” Carlo paham betul akan kegundahan istrinya. Dengan segera, dia mendekat, kemudian merengkuh tubuh ramping Miabella dengan erat. Carlo berusaha untuk menenangkan wanita cantik tersebut


“Bagiku, bisa memeluk erat dirimu seperti ini dan melihat tawamu saja sudah jauh lebih dari cukup. Aku tak peduli dengan yang lain. Aku tetap dan akan selalu mencintaimu Miabella de Luca. Selamanya!” tegas Carlo.


“Di mataku, kau tetaplah gadis kecil yang kuselamatkan saat hampir tenggelam di kolam ikan taman belakang Casa de Luca. Kau tetaplah gadis remaja ceria yang selalu mencari keberadaanku di saat pesta ulang tahunmu. Kau tetaplah seseorang yang selalu memandang tulus dan penuh cinta hanya ke arahku, meskipun seluruh dunia menggodamu dengan keindahannya. Aku sangat menghargai dan tak akan pernah melupakan hal itu, Cara mia,” hibur Carlo dengan lembut.


Mendengar penuturan sang menantu, Adriano hanya diam terpaku di tempatnya. Adriano merasakan dadanya begitu sesak, seakan ada sesuatu yang menghimpit saluran pernapasan pria itu. Namun, Adriano terlalu tangguh untuk menangisi ucapan Carlo. Walaupun demikian, Adriano harus mengakui bahwa setiap kalimat indah yang diucapkan oleh menantunya tadi, merupakan wujud dari betapa besar rasa cinta Carlo terhadap Miabella.


“Aku merasa tidak pantas bersanding denganmu, Carlo. Aku sangatlah jelek. Bagaimana jika kau mengajakku ke pesta," rengek Miabella. Sisi manjanya terlihat jelas saat itu. Sesuatu yang jarang diketahui oleh siapa pun selain Carlo dan Adriano tentunya.

__ADS_1


Sang dokter yang menyaksikan adegan itu, terlihat canggung dan tak nyaman. Akhirnya, dia dan para perawat memutuskan untuk keluar dari sana. Lagi pula, pemeriksaan terhadap Miabella sudah selesai dilakukan.


“Kenapa tiba-tiba kau berbicara tentang pesta? Kau bahkan tak menyukai acara seperti itu, Cara mia,” ujar Carlo seraya tertawa. Tak lupa dia mencium kening sang istri. “Begini saja. Jika kesehatanmu sudah pulih seratus persen, kita akan menjadwalkan untuk operasi bedah plastik. Namun, itu semua terserah padamu, Sayang. Mana yang menurutmu paling nyaman. Aku sama sekali tak masalah, bagaimanapun keadaan dirimu.”


“Carlo sangat benar, Principessa. Kau harus bersyukur dengan keadaanmu. Kau juga harus mempercayai dia sepenuhnya. Seperti apapun dirimu, dia tak akan pernah berpaling dan tak akan berani berbuat demikian. Jika dia sampai berani melakukan hal itu, maka aku akan lebih dulu membunuhnya dengan tanganku sendiri. Kau sudah tahu di ruang bawah tanah ada tiga ekor peliharaanku yang siap menampung daging segar,” ujar Adriano dengan sorot tajam yang dia arahkan kepada Carlo.


Bukannya marah atau tersinggung, Carlo justru malah terbahak. Tawanya bahkan dapat memancing sedikit senyum dari bibir ranum Miabella.


“Aku tidak bisa lagi memakai hotpants,” gumam Miabella kemudian.


“Kau tahu, Cara mia? Kondisimu ini sangatlah jauh lebih baik dari Vlad. Tadi, aku mendengar dari tim dokter yang tengah berbicara pada keluarga pria itu. Dokter mengatakan bahwa mereka akan mengamputasi kaki kiri Vlad,” tutur Carlo yang membuat Miabella seketika membelalakkan mata.


“Benarkah itu?” tanyanya tak percaya.


“Ya. Aku melihatnya sendiri. Kaki Vlad hancur seperti terkena granat, akibat banyaknya peluru yang menembus. Satu-satunya jalan hanya dengan mengamputasi. Damien sepertinya marah besar karena Vlad berkhianat. Pria itu memilih untuk melindungi kita,” timpal Adriano.


“Ya, Tuhan,” desah Miabella pelan. Hanya dua kata itu yang dapat diucapkan oleh wanita cantik tersebut.. Hadir kembali dalam ingatannya, wajah tampan nan lembut khas seorang Vlad Ignashevich yang kini terbaring tak berdaya di ruang perawatan lain pada rumah sakit yang sama.


Vlad sendiri sudah menjalani serangkaian operasi. Seperti yang telah diketahui, pria itu mengalami sejumlah luka tembak di punggung belakang bagian atas. Terdapat juga luka di pinggang. Namun, beruntungnya karena itu tidak terlalu parah. Satu-satunya yang berdampak sangat fatal ialah luka di kaki. Tembakan yang dilesatkan Damien, tepat mengenai talus.


Talus merupakan tulang yang berada di bagian atas kaki, atau lebih sering disebut sebagai tulang pergelangan kaki. Tulang ini merupakan alas tulang tibia yang berfungsi sebagai penyangga tubuh.


Kondisi tulang talus Vlad setelah insiden berdarah itu hancur. Hal tersebut membuat tim dokter sepakat untuk mengamputasi kaki kiri pria asal Rusia tersebut. Dapat dibayangkan apa yang terjadi pada pria tampan itu setelah semua yang terjadi. Ya, Vlad mengalami cacat fisik. Dia harus duduk di kursi roda atau memakai kaki palsu.


“Aku bahagia dan sangat bersyukur karena kau baik-baik saja, Bella,” ucap Vlad ketika beberapa hari telah berlalu. Dia hanya bisa bersandar pada ranjang khusus yang dapat ditekuk di bagian atasnya, sehingga menyerupai kursi panjang.


Sementara Miabella sudah berada di kursi roda dengan Carlo yang mendorongnya. Pasangan suami istri tersebut sudah siap kembali pulang ke Italia hari itu.


“Aku sangat menyesal atas semua yang telah terjadi padamu,” ucap Vlad lagi tulus.


“Justru aku harus berterima kasih padamu, Vlad. Aku juga … ingin meminta maaf atas ….” Miabella mulai terbata. Segenap perasaan bersalah hadir dan memenuhi ruang hatinya, tatkala Miabella mengingat bahwa dia pernah menusuk dada kiri mantan kolega bisnisnya itu dengan pisau steak.


“Kau tak perlu meminta maaf untuk apapun, Bella. Aku sangat bangga dan bahagia dapat membantumu,” Vlad tersenyum. Tatap matanya terlihat begitu sendu. Dia seakan sudah mengetahui, bahwa detik itu adalah saat terakhir dirinya berjumpa dengan Miabella.


🍒🍒🍒


Rekomendasi novel keren. Cek.

__ADS_1



__ADS_2