The Bodyguard

The Bodyguard
Lavender Field


__ADS_3

Carlo segera menyimpan ponsel ke dalam saku jaket. Dia lalu meraih tangan Miabella. Pria itu kemudian menuntunnya dari jembatan kayu tadi. Dia melangkah cepat, bahkan setengah menyeret si gadis yang tampak kewalahan.


"Ada apa, Carlo?" tanya Miabella resah.


Namun, Carlo tak segera menjawab. Dia terus berjalan, hingga dirinya berada dekat pepohonan di mana dia melihat bayangan seseorang tadi. Carlo pun terpaku sembari mengedarkan pandangan. Akan tetapi, tak ada siapa pun di sana selain mereka berdua. Merasa ada yang tak beres, sang ketua Klan Serigala Merah pun segera mengajak Miabella untuk kembali ke pondok.


Setibanya di pondok kayu yang telah mereka sewa, Miabella kembali bertanya. "Katakan ada apa?" Sorot mata gadis itu diliputi rasa penasaran yang sangat besar. "Apakah kau melihat orang-orang yang kuceritakan?" tanya Miabella semakin penasaran.


"Kita akan menginap satu malam di sini. Besok pagi baru melanjutkan perjalanan," sahut Carlo tanpa menanggapi pertanyaan Miabella. Dia pun beranjak ke dekat jendela, kemudian mengawasi sekeliling. Carlo lalu mengempaskan napas pelan sembari membalikkan badan. "Segeralah mandi, lalu ganti pakaian dalammu," ucapnya mencoba menghalau rasa khawatir yang tergambar di wajah Miabella.


Gadis itu pun tersenyum kecil seraya meraih paper bag berisi perlengkapan pribadi yang tadi mereka beli. Setelah itu, Miabella berlalu ke bagian lain pondok yang ditutupi oleh pintu dari aluminium.


Sementara Carlo hanya berdiri memperhatikan sambil tersenyum. Setelah sosok Miabella tak terlihat, senyuman itu pun seketika memudar. Carlo kembali melihat keluar. Langit senja sebentar lagi akan turun, menggeser siang di awal musim semi. Carlo lalu merogoh ponselnya. Dia bermaksud hendak menghubungi seseorang, ketika pintu aluminium tiba-tiba terbuka.


Tampaklah wajah cantik Miabella dengan rambut panjang yang digulung ke atas. Dia keluar hanya mengenakan handuk yang menutupi dada dan sebagian paha. Namun, sepertinya gadis itu telah memakai pakaian dalam yang mereka beli tadi siang.


Tanpa ada rasa canggung sama sekali, Miabella melepas handuknya di depan Carlo. Dia memang sudah terbiasa melakukan hal demikian, semenjak dirinya tinggal bersama pria itu di Casa de Luca.

__ADS_1


Lekukan indah tubuh Miabella memang teramat sempurna. Kulit putih yang terlihat sangat halus nan lembut, membalut postur semampainya tanpa cela sedikit pun. Gerak tubuh si gadis juga begitu gemulai, saat membuka gulungan rambut yang agak basah. Ketika Miabella hendak meraih sisir, Carlo segera menghampiri dan mendahului gadis itu mengambil benda tadi.


"Biar aku yang merapikan rambutmu, Cara mia," ucap sang ketua Klan Serigala Merah seraya menyisir rambut cokelat nan panjang Miabella. "Rambutmu semakin panjang, tapi wanginya masih sama seperti dulu," ucap Carlo setengah berbisik.


Sementara Miabella hanya terdiam. Dia juga tak menolak. Hal seperti itu memang sesuatu yang juga sudah biasa bagi mereka. Gadis cantik bermata abu-abu tersebut masih membisu sambil memandangi dirinya, yang hanya mengenakan pakaian dalam berwarna merah.


Miabella juga membiarkan saja, ketika Carlo menyibakkan rambut panjangnya ke samping. Pria tampan tersebut mencium pundak serta belakang leher dengan penuh perasaan. Putri sulung Mia tadi kemudian memejamkan mata. Angannya seketika terbang menembus langit dan tiba di tempat yang sangat indah. Miabella tengah berlari di antara hamparan bunga lavender berwarna ungu, dalam balutan gaun putih yang panjang.


Sementara di belakangnya, terlihat Carlo yang mengejar seraya membawa senyum menawan dan selalu menjadi ciri khas pria itu.


"Bella!" panggil Carlo dengan mesra.


Lembut dan penuh perasaan, lengan kiri berbalut kulit putih Miabella melingkar di leher Carlo. Sementara tangan kanannya menelusuri bagian depan tuksedo yang pria itu kenakan. Makin lama, mereka pun semakin mendekat. Dalam naungan langit sore yang cerah berhiaskan cahaya mentari dengan sinar terang, kedua sejoli tadi saling menautkan diri dalam cinta yang sesungguhnya.


Alam bersenandung riang, diiringi tarian indah bunga-bunga lavender yang bergerak karena hembusan angin. Tak ada kenikmatan paling sempurna dari sebuah ciuman mesra orang terkasih yang sangat dirindukan. Miabella terbuai dan takluk dalam rayuan sang ketua Klan Serigala Merah. Dirinya kembali merasakan sebuah kemesraan di alam terbuka.


Namun, tidak seperti itu kenyataannya. Miabella segera tersadar. Ekor mata gadis itu melihat ke samping. Tak ada padang lavender atau hembusan angin menyejukkan, karena kini Miabella justru merasa begitu kepanasan. Tak kuasa dirinya melawan gejolak yang kian menggebu, dan ingin segera dilampiaskan dalam sebuah penyatuan yang telah lama tidak dia rasakan

__ADS_1


"Carlo ...." Desah pelan Miabella, ketika sentuhan bibir pria berusia tiga puluh tujuh tahun itu terus menjelajahi raga indah si gadis. Carlo tak melewatkan satu bagian pun dari tubuh gadis yang selalu menjadi pujaannya.


Sementara Miabella kembali memejamkan mata. Dia begitu meresapi setiap cumbuan mesra, dari pria yang telah begitu mengenal dirinya luar dan dalam. Walaupun dalam hati masih ada sedikit penolakan terhadap pria yang kini telah bertahta di atas dirinya, tetapi Miabella begitu kesulitan untuk menepiskan rasa bahwa dia menginginkan hal itu. Miabella teramat merindukan segala keindahan yang pernah direguknya bersama Carlo beberapa tahun silam.


"Serahkan dirimu padaku, Cara mia," bisik Carlo dengan suara berat yang begitu dalam. Helaan napas menderu dan menghangat di telinga gadis itu. "Biarkan aku kembali memilikimu." Carlo kembali membisikkan kata-kata rayuan yang menggetarkan sisi feminin seorang Miabella.


Akan tetapi, Miabella tak kuasa untuk berkata apapun. Gadis itu hanya menatap sayu pada sepasang mata biru milik Carlo, yang tampak begitu berhasrat dan ingin segera memilikinya. Debaran dalam dada si cantik berambut cokelat tadi kian menggila, ketika merasakan sesuatu yang siap menghujam dirinya. "Tidak, Carlo!" tolak Miabella terlihat cemas.


"Kenapa, Cara mia?" Carlo masih memperlakukan gadis itu dengan sangat lembut dan hati-hati.


"Tidak. Aku takut," jawab Miabella yang tiba-tiba begitu resah.


"Apa yang kau takutkan, Sayangku?" Carlo membelai pucuk kepala gadis itu penuh cinta.


"Darah itu ... rasa sakit itu ... tidak ...." Miabella menggeleng dengan kuat.


Sedangkan Carlo yang berada di atas tubuh gadis cantik tadi hanya tersenyum. Dia lalu mengecup kening Miabella. Carlo berusaha untuk menenangkan kekasih hatinya. "Jangan takut. Aku berjanji bahwa kali ini tak akan ada lagi darah atau rasa sakit, karena diriku akan selalu ada untuk menjagamu." Seusai berkata demikian, Carlo lalu mencium bibir Miabella dengan mesra. Dia tahu dan sangat mengenal gadis itu. Sebuah ciuman darinya, akan cukup untuk memberikan ketenangan kepada putri dari mendiang Matteo de Luca tersebut.

__ADS_1


"Peluk aku, Cara mia," bisik Carlo setelah puas melu•mat bibir polos Miabella.


Gadis itu pun menurut. Dia melingkarkan tangannya pada tubuh tegap Carlo. Miabella bahkan tampak mencengkeram erat punggung pria tersebut, ketika dia kembali mendapatkannya. Sebuah rasa yang telah lama terlupakan dan tertutupi oleh kemarahan yang besar. Kini, pintu itu terbuka lagi dengan sangat lebar untuk menerima setiap buaian penuh kemesraan, sang penguasa tahta yang telah kembali.


__ADS_2