The Bodyguard

The Bodyguard
Hidden Marbles


__ADS_3

Malam yang dinantikan telah tiba. Carlo berbaur bersama para pelayan lain dengan memakai seragam pelayan. Tak lupa, pria itu juga mengenakan topeng mata dari kain berwana hitam polos. Sebelum memasuki aula pesta, pria tampan bermata biru tersebut sempat merapikan dasi kupu-kupu yang menjadi pelengkap penampilannya malam itu.


Dengan langkah tegap penuh percaya diri, Carlo berjalan sambil membawa nampan kosong. Nampan itu kemudian diisi beberapa gelas minuman. Dari aromanya, Carlo sudah dapat menebak bahwa minuman dalam gelas kristal tersebut adalah Du Fontaine milik sang istri, yang juga akan hadir dalam pesta tersebut.


Tatap mata sang ketua Klan Serigala Merah, terus menyapu setiap wajah yang berada di dalam tempat luas nan megah itu. Pada akhirnya, iris berwarna biru suami Miabella tadi terkunci pada dua wajah yang baru memasuki aula. Dua orang pria yang tak lain merupakan sosok Vlad Ignashevich bersama ayah angkatnya, Roderyk Lenkov.


Untuk beberapa saat, Carlo tertegun memandang pria paruh baya dengan rambut cokelat tembaga yang tersisir rapi ke belakang. Pria yang meski sudah berumur, tapi masih terlihat gagah dengan postur tegap. Roderyk juga memiliki wajah yang terbilang sangar dan beringas, ditambah dengan sorot mata tajam serta janggut tebal yang menghiasinya. Ini seperti mimpi bagi seorang Karl Volkov alias Carlo, ketika dia dapat melihat seseorang dari masa lalu yang berkaitan dengan mendiang sang ayah.


Carlo bermaksud untuk menghampiri Roderyk yang saat itu sudah memisahkan diri dari Vlad. Pria paruh baya tersebut tampak sedang berbincang dengan beberapa tamu. Namun, langkah sang ketua Klan Serigala Merah tertahan, saat ekor matanya melihat sosok bergaun merah dengan rambut cokelat yang dibiarkan tergerai indah menutupi sebagian pundak mulus berbalut kulit putih. Walaupun mengenakan topeng, tapi Carlo dapat mengenali Miabella dengan baik. Putra bungsu mendiang Nikolai Volkov tersebut tampak menyunggingkan sebuah senyuman. Dia begitu mengagumi keindahan fisik sang istri. Namun, Carlo ingat dengan misi yang sedang dijalankannya saat itu. Dia pun harus menahan diri.


“Hey, Pelayan!” panggil salah seorang pria yang tengah berbincang dengan Roderyk.


Carlo pun segera mengalihkan perhatiannya dari sosok Miabella yang tengah bertegur sapa bersama Vlad. Dia menghampiri pria yang memanggilnya tadi. Carlo lalu menyodorkan nampan yang berisi beberapa gelas anggur kepada si pria.


“Terima kasih,” ucap pria yang entah siapa. “Anda tidak minum, Tuan Lenkov?” tanya pria itu kepada Roderyk dengan menggunakan Bahasa Italia.


“Tidak. Aku sudah berhenti minum sejak beberapa tahun yang lalu,” sahut Roderyk. Bahasa Italianya terdengar sangat fasih. Carlo ingin sekali mendengarkan perbincangan Roderyk bersama pria tadi, tapi dirinya harus kembali melayani tamu yang lain. Hal itu membuat jaraknya kepada Miabella menjadi cukup dekat. Namun, Carlo tak berani terlalu menampakkan diri, karena di dekat wanita cantik tersebut ada sosok Vlad yang seakan tak ingin kehilangan momen untuk tetap bersama Miabella.


“Brengsek!” gerutu Carlo pelan dalam Bahasa Rusia. Setidaknya tamu-tamu yang sebagian besar merupakan orang Italia, tak ada yang paham andai mereka mendengar. Namun, Carlo yakin bahwa tak ada yang mendengar umpatannya saat itu.


Posisi Carlo sendiri sedang membelakangi Miabelle dan Vlad. Sang ketua Klan Serigala Merah kemudian berbalik tanpa menghadap kepada rekan bisnis sang istri. Dia sengaja melintas tepat di sebelah Miabella, membuat putri dari Matteo de Luca tersebut segera menoleh padanya. Hal itu membuat Miabella segera tersenyum. Dia pun menahan langkah Carlo, lalu mengambil satu gelas minuman dari atas nampan. Carlo menoleh padanya, kemudian tersenyum sambil mengedipkan sebelah mata. Sesaat kemudian, pria tampan tadi langsung berlalu tanpa melihat lagi ke belakang.

__ADS_1


Merasa situasi aman, Carlo segera meletakkan nampan di atas counter (meja bar panjang) dengan begitu saja. Dia bergegas keluar dari aula pesta. Carlo berjalan cepat menyusuri koridor mansion yang entah mengarah ke mana. Saat itu, dia hanya mengandalkan insting. Namun, begitu banyak ruangan di dalam mansion megah tersebut, sehingga Carlo pun menjadi bingung.


Dalam keadaan seperti itu, dia melihat seorang pelayan wanita yang sedang berjalan dengan membawa keranjang berukuran cukup besar. Wanita itu bahkan terlihat kesulitan.


“Mari kubantu,” ucap Carlo menawarkan bantuan. Dia mengambil keranjang yang ternyata berisi pakaian dan lan-lain.


“Siapa kau?” tanya wanita muda berseragam pelayan tadi.


“Aku pelayan dari agency yang disewa tuan rumah penyelenggara pesta. Kebetulan diriku sedang mencari di mana letak toilet. Akan tetapi, bangunan ini terlalu luas,” jawab Carlo beralasan.


“Oh. Kau tinggal ikuti koridor ini sampai ujung. Setelah itu belok ke kanan, lalu belok lagi ke kiri,” jelas si wanita sembari mengarahkan tangannya.


“Sudahlah. Aku bisa menahannya hingga beberapa saat lagi. Aku paling tidak suka saat melihat seorang wanita dalam kondisi kesulitan seperti ini,” ujar Carlo dengan senyumnya menawan, tentunya tanpa melepas topeng yang dia kenakan.


“Jangan panggil aku tuan. Panggil saja, Bruno.” Carlo kembali tersenyum. “Jadi, harus kubawa ke mana benda ini?” tanyanya kemudian.


“Ke kamar tuan besar,” jawab si wanita sambil berjalan mendahului Carlo.


“Tuan besar?” ulang Carlo yang terus mengekor si wanita ke bagian lain mansion.


“Ya. Tuan Roderyk Lenkov. Beliau adalah pemilik mansion ini,” jelas si wanita sabil terus berjalan.

__ADS_1


"Oh. Lalu, siapa pria muda yang bersamanya? Kupikir dia pemilik mansion ini," tanya Carlo pura-pura tidak tahu.


"Apa maksudmu Tuan Vlad Ignashevich? Dia merupakan anak angkat Tuan Roderyk. Aku rasa, mungkin saja mansion ini akan diwariskan padanya andai tuan besar tiada," ujar si pelayan wanita sambil terus berjalan.


“Oh.” Hanya itu tanggapan dari Carlo. Itu artinya selama ini dia telah salah duga. Carlo mengira bahwa mansion itu merupakan milik Vlad. “Siapa namamu?” tanyanya berbasa-basi.


Pelayan wanita tadi tertegun, kemudian menoleh. “Namaku Adelaide,” jawabnya dengan diiringi sebuah senyuman. Setelah itu, pelayan bernama Adelaide tersebut kembali melanjutkan langkah, hingga mereka tiba di depan sebuah pintu dengan ukiran khas Eropa. Adelaide kemudian membuka pintu tadi, lalu mengambil keranjang yang Carlo bawa. “Terima kasih atas bantuanmu, Bruno. Maaf, kau tak boleh masuk kemari.” Wanita muda itu mengangguk pelan, sebelum masuk ke kamar milik Roderyk Lenkov.


Setelah pintu ruangan tadi tertutup rapat, Carlo segera membalikkan badan. Sambil berjalan tenang, ekor matanya mengawasi sepanjang koridor kamar yang dia lewati. Carlo sempat melihat ada sebuah kamera pengintai di sana. Dia harus lebih berhati-hati dalam bergerak.


Carlo pun memutuskan untuk berjalan menuju toilet, seperti yang dia katakan pada pelayan tadi. Setibanya di bilik kloset di mana tak ada kamera pengawas, Carlo segera melepas topeng dan seragam pelayannya. Dia membungkus benda-benda itu ke dalam kantong plastik hitam yang sudah dia sembunyikan di dalam saku celana.


Setelah itu, Carlo mendekat pada lubang ventilasi yang terletak di bagian bawah dinding toilet. Lubang itu berbentuk persegi dan dilengkapi oleh penutup ventilasi yang terbuat dari besi. Tanpa hambatan yang berarti, dia melepas penutup tersebut, lalu masuk ke dalamnya.


Carlo memindahkan kantong plastik hitam dari tangan kirinya ke mulut. Dia menggigit kantong itu kuat-kuat, lalu mulai merangkak. Sesekali, pria tampan berambut gelap tersebut melihat jam tangan khusus yang dia pakai di pergelangan kanan. Jam tangan berbentuk kotak berlapis layar datar itu berfungsi sebagai alat pelacak.


Beberapa saat yang lalu, Carlo sempat memasukkan bola-bola perak mirip kelereng berukuran sangat kecil ke dalam keranjang yang dibawa pelayan bernama Adelaide tadi. Bola-bola tersebut bertujuan untuk mengirimkan sinyal pada jam tangan canggih miliknya. Benda itu tentu saja buatan Coco.


Kini, melalui lubang ventilasi, Carlo dapat mengetahui dengan pasti ke mana arah yang dia tuju untuk mencapai kamar Roderyk Lenkov. Namun, dia harus bergerak cepat, sebelum Adelaide menemukan keberadaan benda-benda kecil tersebut di dalam keranjang.


🍒🍒🍒

__ADS_1


Hai semua. Mampir yuk ke novel keren di bawah ini.



__ADS_2