
“Vlad!” seru Adriano saat melihat kolega sang putri jatuh tertelungkup di atas permukaan tanah. Tampaklah darah yang merembes dari sela-sela kemeja dan celananya. Akan tetapi, Adriano tak memiliki waktu untuk menolong pria malang itu. Dia sibuk menghalau serangan yang datang bertubi-tubi dari arah depan.
Pistol Adriano kehabisan peluru, sementara masih ada dua orang yang memegang senapan laras panjang, berdiri tegak sambil membidikkan senjatanya pada sang ketua Tigre Nero tersebut.
Saat dua orang tadi menarik pelatuk, saat itu pula Adriano merunduk sambil melemparkan pistol kosongnya. Pistol itu mengenai kepala dari salah satu lawan yang tengah menembakkan senapannya, hingga senjata api itu terlepas dan jatuh ke tanah.
Sementara, salah seorang teman lainnya sigap mengarahkan moncong senjata pada Adriano. Namun, pria paruh baya itu sudah lebih dulu menerjang si pengawal. Sekuat tenaga, Adriano menumbuk perut pria itu dengan pucuk kepala sampai lawannya terjengkang. Senapan yang masih dalam posisi pelatuk yang tertekan oleh jari telunjuk, terus menyalak ke udara.
Dengan segera, Adriano merebut senapan tersebut dan menembakkannya pada dua pengawal tadi. Waktu itu, dia berpikir bahwa semua sudah selesai dan hanya tinggal menghabisi Damien yang sekarang tak terlihat di manapun.
“Gawat,” gumam Adriano. Dia bermaksud untuk mencari Miabella ke bagian dalam bangunan. Namun, Adriano lebih dulu melihat Carlo masuk ke sana. Dalam hati, Adriano merasa yakin bahwa sang menantu akan sanggup menghadapi semuanya. Adriano kemudian memutuskan untuk memeriksa keadaan Vlad dan memberikannya pertolongan pertama.
Sementara, Carlo yang kini sudah berada di dalam ruangan, mengepalkan tangannya erat-erat seraya mengumpat. Miabella tak terlihat di manapun. Hanya ada sebuah kursi kayu yang terguling dan tali tampar yang terpotong-potong menjadi beberapa bagian.
Selain itu, dia juga melihat mayat bergelimpangan.
Perlahan dan hati-hati, Carlo mengamati jasad yang masih hangat itu satu per satu. Dia lalu berhenti pada satu mayat wanita yang diyakini sebagai Yelena. Carlo masih mengenali wanita itu meskipun wajahnya terlihat hancur dan mengeluarkan darah.
“Kematiannya masih baru,” gumam Carlo pelan. Dia sempat tertegun ketika alas kakinya terasa lengket di atas lantai tempat dia berpijak. Ada genangan darah lain yang tak menyatu dengan darah Yelena. Darah itu membentuk tetesan jejak yang berhenti tepat di samping tubuh lain yang juga terbujur kaku.
Sosok itu membuat Carlo tercengang. “Stefan Romanov?” Pria tampan bermata biru tadi segera mendekati mayat yang berada dalam posisi telentang dengan mata terbuka. Dia lalu membungkuk di samping tubuh yang terbujur kaku tersebut.
“Jadi, kau yang berada di balik semua kekacauan ini?” geram Carlo, meskipun dirinya sadar bahwa pria tua itu tidak akan pernah bisa menjawab.
Carlo kemudian bangkit. Dia tak ingin membuang waktunya lebih banyak lagi. Pria itu mulai menyusuri setiap sudut bangunan yang ternyata berukuran cukup luas, dengan langkah waspada. Pintu demi pintu dia buka penuh kehati-hatian. Akhirnya, ekor mata Carlo melihat sebuah tangga yang menuju ke lantai dua.
Ragu antara menaiki tangga atau membuka pintu terakhir yang sepertinya mengarah ke halaman belakang. Dia memutuskan untuk meniti anak tangga hingga tiba di lantai atas yang lebih sesuai disebut dengan loteng. Tak ada apapun di tempat itu, hanya ruangan dengan langit-langit rendah dan lantai yang terbuat dari kayu. Ada pula satu jendela kecil yang memperlihatkan pemandangan indah berupa lapangan rumput luas.
Carlo kembali menuruni anak tangga sambil mengokang senjata. Dia memeriksa sekali lagi lantai bawah dengan teliti. Carlo memastikan agar tak melewatkan hal sekecil apapun. Akan tetapi, Miabella tetap tak terlihat di manapun. “Bella, jangan membuatku khawatir,” desahnya pelan sambil menyugar rambut.
Carlo lalu menunduk dalam-dalam dengan satu tangan berada di pinggang. Alisnya bertaut, menandakan bahwa dia sedang berpikir serius. Carlo menyadari sesuatu. Tetesan darah misterius tadi, entah milik siapa. Dia juga yakin, bahwa darah itu bukanlah milik Stefan ataupun Yelena. Tetesannya berhenti begitu saja di dekat jasad Stefan. Sementara darah Stefan mengalir ke sisi lain tubuhnya.
Carlo akhirnya berinisiatif untuk kembali ke tempat tadi. Dia menggeser jasad Stefan. Di sanalah dirinya menemukan pintu lain yang ada di lantai kayu itu. Pintu berbentuk persegi yang sudah basah oleh darah Stefan.
__ADS_1
Dengan leluasa, Carlo menariknya menggunakan tuas yang menempel di pinggiran pintu. Bau anyir seketika menguar, masuk ke indra penciuman Carlo. Namun, dia tahan demi menemukan Miabella. Carlo tak akan menyerah sebelum dapat memeluk istrinya.
Permukaan anak tangga yang licin dan berlumut, cukup menyulitkan langkah Carlo. Terlebih, keadaannya sangat gelap. Sang ketua Klan Serigala Merah itu memicingkan mata. Ditatapnya kegelapan sempurna di depan mata, sambil menajamkan pendengaran.
Telinganya menangkap bunyi berdecit yang sepertinya merupakan suara tikus. Benar dugaannya. Tikus-tikus berlari cepat dari arah depan, melintasi kakinya tanpa permisi. Refleks, Caro menembakkan pistolnya. Hampir saja dia melubangi jempol kakinya sendiri.
“Sialan!” maki Carlo. Belum juga bibirnya tertutup, terdengar satu letusan senjata yang berasal dari bawah. “Bella!” panggilnya. Akan tetapi, teriakan itu berbalas dengan sebuah peluru yang melesat dan hampir mengenai kepalanya, andai saja Carlo terlambat untuk menunduk.
Carlo menyadari bahwa sosoknya terlihat jelas akibat cahaya yang datang dari lubang pintu tadi, sehingga dia buru-buru berlari menuruni anak tangga yang berbentuk melingkar, sampai tubuhnya benar-benar tak terlihat.
“Bella!” seru Carlo lagi. Kali ini panggilannya berbalas.
“Datanglah kemari dan jemput istrimu. Dia ada di sini bersamaku,” jawab seseorang yang tak lain adalah Damien.
Ingin rasanya Carlo mengumpat habis-habisan. Akan tetapi, dia tak melakukan hal bodoh seperti itu. Damien akan dengan mudah menemukan arah suaranya. Carlo memilih diam dan berjalan mengendap hingga ke dasar.
Satu tangannya meraba dinding ruangan bawah tanah dan tangan lainnya mengokang senjata. Tiba-tiba berembus angin dari arah depan, pertanda ruangan itu tak sepenuhnya tertutup. Beberapa saat kemudian, barulah Carlo menyadari bahwa ruangan itu merupakan sebuah lorong yang menuju ke suatu tempat.
Carlo berhenti sejenak. Setelah mengembuskan napas panjang, dia memilih mengikuti arah datangnya angin hingga kaki kanannya menginjak sesuatu yang terasa keras seperti batu bata. Benda itu lalu bergerak ke bawah, seakan tenggelam ke dasar bersamaan dengan besi-besi panjang dan runcing yang tiba-tiba muncul dari permukaan dinding.
Setelah itu hening. Tak terdengar apapun. Hingga udara di sekitar Carlo bergerak, pertanda seseorang atau sesuatu tengah melaju ke arahnya. Tanpa ragu lagi, Carlo memuntahkan peluru. Padahal, itu merupakan sisa peluru terakhir.
Kini, Carlo tak memiliki senjata apapun selain belati warisan yang selalu terselip di balik pinggang. Dia membuang pistolnya dan terus bergerak maju.
Terdengar lagi suara letusan, meskipun tak sekencang bunyi tembakan yang pertama. Itu artinya, siapa pun penembak tersebut, dia berada semakin jauh dari dirinya.
“Bella! Di mana kau?” teriak Carlo bagaikan kesetanan. Namun, hanya keheningan yang menjawab.
“Bella!” teriaknya lagi. Kali ini, suara letusan pistol kembali terdengar. Entah mengapa, sang penembak seakan sengaja tak mengenai Carlo.
Merasa kesabarannya sudah habis, Carlo berlari secepat mungkin. Langkahnya terhenti, ketika tiba-tiba perutnya menjadi sansak oleh tangan misterius. Si pemilik tangan tadi berdiri menyeringai sambil berdiri gagah di hadapannya.
“Kau menghabiskan peluruku,” ujar pria yang tak lain adalah Damien.
__ADS_1
“Kau juga.” Tanpa aba-aba, Carlo membalas pukulan Damien, hingga bersarang tepat di area inti pria itu.
“Kurang ajar kau!” bentak Damien. Sekarang tak ada lagi waktu bermain-main, pikirnya. “Makin cepat membunuhmu, maka akan semakin baik. Tak ada yang boleh mengetahui rencana kudeta yang telah disusun oleh ayahku. Siapa pun yang mengetahuinya di luar organisasi, maka dia harus mati!”
“Kau membunuhku pun percuma. Aku sudah memberikan bukti-bukti keterlibatan Roderyk Lenkov pada Dewan Federasi milik pemerintah pusat di Moskow. Tuan Boris dan Fyodor Vasiliev lah yang menjembatani. Sekarang, agen pemerintah yang bekerja sama dengan militer telah menyisir dan menciduk setiap orang yang terlibat di dalamnya, termasuk kau dan anak buahmu. Pejabat-pejabat korup yang selalu menjadi penyokong utama Roderyk Lenkov juga berhasil dibekuk,” balas Carlo puas.
“Menyerahlah, Damien! Kau tidak punya teman lagi sekarang,” cibir Carlo sembari terkekeh.
“Brengsek! Ini semua gara-gara kau! Usaha ayahku menjadi sia-sia!” Teriakan putus asa Damien menggelegar, bersamaan dengan tubuh tegapnya yang menyerang Carlo secara membabi buta.
Awalnya, Carlo sempat kewalahan. Tubuh jangkungnya terdorong sampai menabrak bagian samping besi-besi runcing yang mencuat dari kedua sisi tembok lorong. Dia meringis kecil, sebelum memasang kuda-kuda untuk melesatkan satu tendangan kaki kanan yang tepat mengenai rahang Damien.
Pria itu terhuyung sejenak, lalu jatuh saat Carlo melesakkan tendangan kedua tepat di leher. Carlo sudah hendak mengarahkan pukulannya ke arah Damien, ketika tangan Damien mencengkeram erat paha Carlo yang terluka. Jemari Damien mencakar luka sobek pada kulit paha.
Carlo sempat mengerang, tapi tangannya tetap sigap menghunus belati dan menancapkannya ke punggung tangan Damien.
“Kau gila!” maki Damien setelah melepaskan cengkeramannya. Saat itu, mata Carlo mulai dapat beradaptasi dalam kegelapan. Terlebih, tak jauh dari tempatnya berdiri, sebuah cahaya masuk melalui lubang-lubang kecil pada dinding.
Tak berselang lama, Carlo baru tersadar bahwa yang berada di depannya itu bukanlah dinding lorong seperti yang dia raba sejak tadi, melainkan sebuah pintu keluar yang terbuat dari kayu yang dipaku dan direkatkan secara sembarangan.
“Katakan, di mana istriku!” Carlo menggenggam belati, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi.
“Bunuhlah aku sekarang, maka kupastikan kau tak akan bisa bertemu dengan istrimu selamanya.” Damien tertawa sinis, lalu meludah.
Dengan penuh kemarahan, Carlo menancapkan belati itu di pundak Damien. “Setidaknya katakan sesuatu, agar aku bisa membantumu supaya Dewan Federasi bersedia meringankan hukuman,” desisnya.
“Lebih baik aku mati,” tolak Damien.
“Baiklah. Jika memang itu yang kau inginkan.” Tanpa banyak bicara, Carlo menyeret tubuh Damien ke arah pintu kayu. Dia lalu menendang kuat-kuat pintu itu hingga jebol. Carlo dapat memahaminya sekarang. Lorong itu ternyata sebuah terowongan rahasia yang menembus ke padang rumput di seberang bangunan.
Akan tetapi, pemandangan di balik pintu tersebut telah membuat Carlo begitu terperanjat. Bagaimana tidak? Miabella tergeletak tak sadarkan diri di tanah berumput, dengan kaki yang penuh luka dan darah.
🍒🍒🍒
__ADS_1
Rekomendasi novel keren lagi nih. Jangan lupa dicek ya.