
Carlo keluar dari penginapan bersama Grigori, Igor, dan juga Ivan tepat saat matahari terbenam. Mereka menyewa sebuah taksi online yang akan mengantarkan keempat pria tadi menuju bandara.
Saat itu Carlo memakai topi baseball dan masker kain untuk menyembunyikan paras tampannya. Dia juga memasangkan penutup dari jaket hoodienya ke kepala, lalu menyandarkan punggung di kursi penumpang.
Sementara cuaca cukup dingin petang itu. Jauh lebih dingin daripada di Italia. Akan tetapi, bukan tentang hal tersebut yang tengah Carlo pikirkan dan sangat mengganggu dirinya, melainkan mimpi semalam. Sebuah gambaran teramat jelas bagi dia, bahwa Miabella meninggalkan dirinya dan memilih pergi bersama pria lain.
“Apakah mata-matamu di Casa de Luca sudah memberikan kabar?” tanyanya pelan kepada Grigori yang duduk di samping kanan.
“Belum ada, Tuan Muda. Baru juga kemarin dia memberi kabar,” sahut Grigori seraya terkekeh pelan. "Biasanya dia hanya akan memberikan kabar, jika ada sesuatu yang teramat penting dan menarik," jelas pria paruh baya itu.
“Ehm.” Carlo berdehem untuk menutupi rasa malunya sambil melirik Ivan yang ternyata asyik bermain ponsel, sehingga tidak mendengarkan percakapan antara sang tuan dengan Grigori.
Akan tetapi, lain halnya dengan Igor yang duduk di kursi samping pengemudi. Dia memperhatikan setiap gerak-gerik Carlo melalui kaca spion tengah, walaupun tidak dapat mendengarkan dan juga tak memahami apa yang sang tuan muda dan Grigori bicarakan. “Kita sudah sampai,” ujar Igor beberapa menit kemudian.
Keempat pria tersebut turun secara bersama-sama. Mereka kemudian berjalan dengan gagah ke area dalam bandara. Penerbangan terakhir menuju Moskow berangkat jam dua puluh kurang sepuluh menit.
Setelah melewati proses check in dan mendapatkan boarding pass, Igor mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dia harus memastikan bahwa kondisi aman dan tak ada yang mengikuti mereka. Sedangkan
Igor akhirnya dapat bernapas lega ketika pesawat mengudara dan tiba di Moskow dua jam kemudian.
Grigori melangkah lebih dulu untuk mengarahkan mereka ke titik pertemuan. Dari bandara, mereka menaiki taksi menuju stasiun kereta api. Akan tetapi, mereka tak hendak untuk naik kereta. Grigori membawa sang putra mahkota bersama Igor dan Ivan untuk menyusuri peron yang panjang, lalu berhenti di depan sebuah toilet umum.
“Untuk apa kita kemari? Apakah kau hendak buang air kecil dulu, Grigori?” tanya Carlo keheranan.
Grigori hanya menggeleng pelan seraya menempelkan telunjuknya di bibir. Dia memberi isyarat agar Carlo dan juga Igor serta Ivan untuk berdiri berjajar di dinding samping pintu masuk toilet.
Tak berselang lama, seorang pria tua keluar dari sana sambil membawa tongkat berjalan. Dia berhenti sejenak sambil mengamati Grigori. Setelah itu, pria tadi merogoh saku mantelnya kemudian memperhatikan sekitar. Dirasa tak ada seorang pun yang melihat, pria tua itu menyerahkan sesuatu yang baru saja dia ambil dari saku, lalu memberikannya kepada Grigori sambil berlalu begitu saja, seolah tak terjadi apapun sebelumnya.
__ADS_1
Grigori menerima benda yang ternyata adalah kertas kosong. Pria itu mere•mas kencang kertas tadi, kemudian berjalan kembali ke arah peron yang sudah dia lewati sebelumnya. Sementara Carlo, Igor, dan juga Ivan bergegas mengikuti Grigori meskipun terheran-heran atas sikap pria tersebut.
Grigori kemudian mengulurkan tangan ke arah bangku besi panjang yang tersedia di peron. Tak ada yang dilakukan oleh ketiga pria lainnya, kecuali mengikuti apa yang Grigori lakukan. Setelah itu, Grigori memposisikan diri. Dia duduk di antara mereka sembari membuka kertas yang sudah dirinya remas. Kertas itu kini tampak kusut. “Bolehkah aku meminta korek?” tanyanya.
Carlo buru-buru merogoh saku jaket hoodie, kemudian menyodorkan korek api otomatis kepada Grigori. “Terima kasih.” Pria itu menyalakan korek api milik Carlo dan meletakkannya di bawah kertas. Saat kertas kosong tadi terkena panas dari api yang menyala, muncullah serangkaian tulisan latin seiring dengan kertas yang mulai terbakar. Namun, Grigori sudah lebih dulu membaca tulisan tersebut. "Ayo, aku sudah mendapatkan koordinatnya." Grigori segera bangkit, lalu berjalan cepat ke luar stasiun.
"Hendak ke mana kita?" tanya Carlo sambil terus mengikuti Grigori dari belakang.
"Tidak jauh dari sini tempatnya, Tuan," jawaban Grigori terdengar begitu aneh di telinga Carlo. Namun, pria tampan itu tak hendak menanggapinya lagi. Begitu pula dengan Igor dan Ivan yang menampakkan raut tegang serta waspada. Mereka tak henti-hentinya mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Langkah keempat pria itu berhenti pada sebuah gedung tua yang terletak tak jauh dari stasiun kereta. Gedung itu sepertinya tak berpenghuni. Terlihat dari tak adanya pencahayaan sama sekali di sana. "Ayo." Grigori mengajak masuk ke dalam sana dengan yakin.
"Jangan!" seru Grigori ketika Carlo hendak menyalakan lampu senter pada ponselnya. "Tak boleh ada cahaya di sini," bisik pria paruh baya itu.
"Kenapa?" Carlo menautkan alis tak mengerti. Sedari tadi dia mengamati jika satu-satunya sumber cahaya adalah bulan purnama yang tertutup awan. Carlo dapat melihatnya dengan jelas, sebab gedung lima lantai tadi tak memiliki atap. Bangunan itu berlubang seperti bekas terkena ledakan.
"Memang begitu aturannya," jawab Grigori. Sesaat kemudian, dia menghentikan langkah sambil mengangkat satu tangannya sebagai isyarat bagi semuanya agar ikut berhenti.
"Suara angin?" sahut Igor.
"Arahnya dari atas," timpal Ivan.
Carlo mendongak sambil menajamkan penglihatan. "Ke mana tangga melingkar itu tertuju?" tanyanya.
"Ke atas," jawab Ivan. Dia lebih dulu menyusuri tangga berbentuk melingkar yang menempel menjadi satu dengan dinding gedung. Mereka semua meniti dengan sangat hati-hati. Ivan yang berada paling depan, langsung berhenti pada anak tangga paling akhir. "Tuan Vasiliev?" panggilnya pada seseorang yang berdiri di atas lantai atap yang masih tersisa.
"Ya. Perkenalkan siapa dirimu," titah seseorang bersuara berat di sana.
__ADS_1
Ivan tak segera menjawab, dia malah menoleh kepada Grigori untuk meminta saran.
"Terus naiklah dan jabat tangan pria itu," suruh Grigori.
Ivan pun menurut. Dia meneruskan langkahnya. Pria itu berjalan sangat hati-hati melewati lantai atap di tepian yang tersisa, hingga tiba di depan seorang pria yang ternyata tak sendirian. Di belakangnya berdiri pria lain yang tampak berusia jauh lebih muda. Ivan kemudian mundur dan mempersilakan Grigori yang maju, mengingat pria itu yang mengenal akrab Boris. "Aku membawakanmu sang putra mahkota, Tuan," ucap Grigori tanpa basa-basi.
Mendengar hal itu, Carlo langsung maju dan berdiri di samping Grigori. Dia menunjukkan kalung liontin beserta pisau lipat pada pria di hadapannya. "Namaku Karl Mikhailov," ucap Carlo penuh wibawa. Satu orang pria di belakang yang lebih tua bergerak maju dan mengambil pisau itu begitu saja, lalu menyerahkannya pada pria tua itu.
"Hei!" protes Carlo.
"Maafkan putraku. Dia memang terkadang sedikit kasar dan tak ramah. Akan tetapi, sebenarnya dia orang yang sangat teguh pendirian juga setia. Oh ya. Perkenalkan, namaku Boris dan ini putra sulungku Fyodor," terang pria tua tersebut.
"Jadi kau pangeran yang hilang itu?" tanya Fyodor sinis. "Apa yang ingin kau bicarakan dengan kami?"
"Aku ingin menawarkan kerja sama," jawab Carlo tenang.
"Aku adalah anggota parlemen. Aku tidak yakin apakah ini ide yang bagus. Akan tetapi, apabila ayahku sudah memaksa untuk ikut kemari, maka aku tidak bisa menolak," gerutu Fyodor. "Padahal aku cuma menyampaikan pesan dari Grigori Kostya. Kenapa diriku jadi diikutsertakan?" lanjutnya.
"Tuan Boris bersahabat dekat dengan tuan Nikolai. Apalagi tuan Nikolai sangat berjasa terhadap negara ini. Tentunya Anda sangat mengetahui akan hal itu. Betul bukan, Tuan Fyodor?" tanya Grigori setengah menyindir.
"Nikolai sudah mati. Sekarang pemerintah menganggap Klan Serigala Merah sebagai musuh. Segala sesuatu yang tidak memiliki keuntungan atau bahkan merugikan bagi pemerintahan, maka akan dianggap sebagai musuh dan harus diberantas. Itulah kenyataannya dan aku tak bisa berbuat apapun akan hal tersebut," sesal Boris.
"Itu semua karena ulah Viktor. Dia yang membuat klan ini menjadi beringas," jelas Grigori.
"Itulah sebabnya kami melakukan pengejaran terhadap Viktor. Dia menjadi orang yang paling diburu di negara ini. Namun, sayangnya akibat ulah para agen federal yang berkhianat, Viktor jadi begitu sulit untuk ditangkap," sahut Fyodor.
"Itulah yang hendak kutawarkan, Tuan. Beri aku kekuatan untuk menghancurkan Viktor dan akan kukembalikan keamanan negara ini dari ancaman dia beserta seluruh pengikutnya," tegas Carlo.
__ADS_1
"Lalu, imbalan apa yang kau minta?" tanya Fyodor lagi, masih dengan nada bicara yang sinis.
"Biarkan aku membangun ulang Klan Serigala Merah. Kupastikan kami akan menjadi salah satu sumber kekuatan pemerintah. Seperti dulu lagi," jawab Carlo penuh percaya diri.