The Bodyguard

The Bodyguard
Inside the Glass House


__ADS_3

"Astaga, Carlo ...." Miabella terbelalak melihat pemandangan mengerikan di depan matanya.


"Tulang belulang siapa ini?" Adriano mendekat pada lemari kaca berisi tulang belulang tadi. Dia mengamati dari jarak yang sangat dekat, tapi tak berani menyentuh apapun. "Sepertinya ini sudah tersimpan sejak lama," pikir sang ketua Tigre Nero tersebut.


"Aku rasa Grigori juga pasti tidak mengetahui keberadaan tempat ini, karena dia tak pernah mengatakannya sama sekali." Carlo meraih pegangan dari lemari kaca tadi. Pria itu bermaksud untuk membukanya.


“Tunggu!” cegah Adriano. “Tutupi dulu hidung dan mulut kalian. Benda organik yang mengalami pembusukan pada tempat tertutup rapat seperti ini, akan menghasilkan metana dan karbondioksida yang sangat berbahaya jika terhirup secara langsung." Adriano menoleh dengan tatapan serius kepada Carlo dan juga Miabella.


“Dari mana kau bisa mengetahui semua itu, Daddy Zio?” tanya Miabella takjub.


“Aku memang tidak melanjutkan sekolah sampai jenjang yang lebih tinggi, Principessa. Namun, aku terus belajar. Ilmu bisa didapat dari mana saja. Tidak selalu dari bangku sekolah,” jawab Adriano sambil mengeluarkan sebuah sapu tangan berwarna putih dari saku kemeja. Dia lalu menutupi separuh wajah dengan cara mengikatkan kedua ujung sapu tangan tersebut ke belakang kepalanya.


“Aku tidak pernah membawa sapu tangan.” Carlo menggeleng pelan. Namun, dia tidak kehabisan ide. Segera saja pria itu melepas T-shirt abu-abu yang dirinya kenakan, lalu menyobek benda tersebut menjadi dua bagian. Satu, dia ikatkan pada Miabella sehingga menutupi hidung dan mulut sang istri. Sedangkan yang lain dia ikatkan pada dirinya sendiri.


Melihat hal itu, Adriano hanya bisa berdecak pelan. “Jadi, kau nanti akan keluar dari sini dengan bertelanjang dada seperti itu?” Nada bicaranya terdengar sangat keberatan.


“Tidak apa-apa, Ayah. Aku sudah terbiasa dengan suhu dingin Rusia,” jawab Carlo tampak begitu polos. Dia pikir bahwa Adriano mengkhawatirkan dirinya.


“Bukan itu yang kumaksud. Aku … ah, sudahlah. Ayo kita buka lemari ini,” putus Adriano sambil menarik pintu lemari kaca.


Dengan satu kali hentakan yang cukup kuat, pintu kaca itu pun terbuka. Sayang, tenaga Adriano yang terlalu besar, membuat lemari kaca yang berusia tua tadi menjadi retak.


Retakannya menjalar ke seluruh bagian, sampai akhirnya lemari dengan kaca tebal itu tidak dapat menanggung beban dan dorongan, dari tulang belulang yang berjumlah cukup banyak di dalamnya. Benda tersebut pun pecah dan hancur berkeping-keping, mengeluarkan seluruh isi yang seketika jatuh berhamburan. Tulang belulang manusia bercampur dengan kertas-kertas, memenuhi lantai keramik berlumut yang masih basah.


“Aduh! Menjijikkan!” Miabella segera berjingkat, kemudian menghindar dan sedikit menjauh dari sana. Dia terus mundur hingga punggungnya menempel pada dinding ruang bawah tanah tersebut. Tanpa sengaja, tangannya menyenggol sesuatu yang mirip dengan tombol berukuran besar.


Tiba-tiba saja, dinding di belakang wanita muda itu bergerak dan bergeser ke samping. Miabella seketika terlonjak kaget dan berbalik. Mata abu-abunya yang indah langsung melotot sempurna, ketika mendapati satu ruangan lain di balik dinding yang bergerak tadi.


“Ruangan apa lagi itu?” Adriano segera mendekat dan berdiri di samping putri sambungnya.

__ADS_1


Begitu juga dengan Carlo yang berjalan melewati sang istri, lalu masuk ke dalam ruangan gelap tersebut. “Apakah kau membawa telepon genggam, Cara mia?” tanyanya dengan suara yang terdengar menggema dari dalam sana.


“Ah iya.” Miabella langsung merogoh saku celana jeans dan memberikan ponselnya pada sang suami.


Carlo pun kemudian menyalakan lampu senter pada bagian belakang ponsel, lalu mengarahkannya ke setiap sudut ruangan. Dia melihat kondisi dinding ruangan yang berongga. Masing-masing rongga terisi oleh beberapa kaset dan video tape. “Kaset apakah ini, Ayah mertua?” tanyanya setengah bergumam.


Adriano yang mengikuti langkah Carlo, segera mengambil sebuah kaset yang terlihat begitu kuno. “Kita bisa mencari tahu dengan memutar kaset ini pada alat pemutarnya,” ujar Adriano.


“Seperti apa bentuk alat pemutar kaset ini, Daddy Zio? Ya, Tuhan. Benda apa itu? Aku tidak pernah melihat hal semacam ini seumur hidupku,” celetuk Miabella.


“Apa di tempatmu ada alat pemutar kaset dan video, Carlo?” tanya Adriano tanpa memedulikan pertanyaan putri sambungnya.


“Entahlah, aku tidak tahu. Kurasa mungkin Grigori jauh lebih mengetahuinya. Dia gemar menyimpan banyak hal,” jawab Carlo yang masih terlihat tenang.


“Kalau begitu, kita bawa saja benda-benda ini,” putus Miabella. Tanpa menunggu persetujuan dari sang suami, wanita muda itu segera melepas jaket jeans yang dia kenakan, lalu membentangkannya di atas kedua tangan. “Letakkan kaset-kaset itu di sini, Carlo,” suruhnya.


Sang ketua Klan Seriga Merah pun segera menuruti apa yang sang istri katakan. Dengan cekatan, dia memindahkan seluruh kaset dan video ke atas jaket Miabella, lalu membungkusnya rapi. Setelah itu, mereka bergegas kembali menaiki tangga, hingga tiba ke permukaan rumah kaca yang menjadi jalan masuk tadi.


“Ada apa, Ayah mertua?” Carlo berbalik dengan sorot keheranan.


“Apakah menurutmu Grigori bisa dipercaya?” tanya Adriano pelan, tetapi penuh penekanan.


“Tentu saja. Dia adalah salah satu dari orang yang membantuku sejak awal. Grigori juga orang kepercayaan sekaligus penasihat mendiang ayahku dulu,” jawab Carlo meyakinkan.


“Baiklah jika memang dia dapat dipercaya. Bukan maksudku hendak mencurigai siapa pun. Namun, saat melihat betapa rumitnya cara ayahmu menyembunyikan benda-benda ini, aku yakin bahwa dia bermaksud agar benda-benda ini tidak bisa ditemukan oleh sembarang orang,” jelas Adriano sambil melepaskan cengkeramannya.


"Aku rasa mungkin sama saja dengan kau yang memiliki ruang bawah tanah di dalam mansion mewahmu, Daddy Zio. Aku yakin jika hingga saat ini ibu tak mengetahui, bahwa sekian lama dia telah hidup bersama beberapa ekor black panther di dalam bangunan megah itu," celetuk Miabella dengan enteng.


"Sekarang sudah bukan rahasia lagi, dari semenjak kau dan Adriana mengetahuinya," sahut Adriano seraya melirik sejenak kepada Miabella.

__ADS_1


"Adriana mengetahui hal itu terlebih dulu. Ada baiknya kau merekrut dia untuk menjadi mata-mata," celetuk Miabella lagi dengan tak acuh.


"Lupakan," balas Adriano seraya mengempaskan napas pelan.


Sementara Carlo, hanya tersenyum menyaksikan keakraban yang kembali terjalin antara Adriano dan juga Miabella. Sambil terus melangkah, sang ketua Klan Serigala Merah itu pun kembali berkata, “Percayalah padaku, Ayah mertua. Grigori, Ivan, dan Igor. Mereka adalah tiga serangkai yang tak bisa dilepaskan dari keberhasilanku dalam meraih tahta ini,” terangnya tanpa melepas senyuman yang selalu terlihat menawan. Hal itu tak luput dari perhatian Miabella, yang sesekali melirik ke arah sang suami.


“Baguslah kalau begitu.” Adriano mengangguk lalu mengulurkan tangan sebagai isyarat agar Carlo berjalan lebih dulu melewati pintu kecil itu. Setelah itu, dia mengarahkan Miabella. Sementara dirinya keluar paling akhir.


Akan tetapi, sebelum mereka benar-benar meninggalkan ruangan kaca yang luas tadi, Miabella tiba-tiba menahan langkah sang suami, hingga pria itu menoleh padanya. Tanpa berkata apapun, putri sulung Mia tersebut langsung saja mencium si pemilik mata biru pujaan hatinya.


Melihat hal itu, Adriano segera mengalihkan perhatian ke arah lain. "Tiba-tiba aku sangat merindukan ibumu, Bella," gumamnya seraya menggeleng dan berdecak pelan.


Sementara Miabella yang baru saja mengakhiri ciuman mesranya bersama Carlo, hanya tertawa manja. Dia tak memedulikan apa yang Adriano katakan tadi. Wanita muda itu terlalu fokus kepada Carlo, sambil mengagumi paras tampan sang suami. "Aku mencintaimu. Kau yang paling tampan dan luar biasa," sanjungnya pelan, tapi masih terdengar jelas oleh Adriano.


"Kata-kata itu dulu adalah milikku, Carlo. Apakah wajar jika aku ingin sekali menghajarmu?" Adriano kembali melangkahkan kakinya sedikit mendahului kedua sejoli yang tengah dimabuk asmara tadi.


Sementara Carlo tak menganggap serius ucapan Adriano terhadapnya. Dia menanggapi hal itu dengan sebuah tawa. Pria itu pun mengajak Miabella kembali melanjutkan langkah.


Setelah berada di dalam bangunan istana, Carlo kemudian mengajak istri dan ayah mertuanya menuju ke ruang kerja. Di sana, dia meletakkan seluruh temuannya tadi ke atas meja. “Lihatlah. Jaketmu jadi kotor. Nanti akan kuganti dengan yang lebih bagus, Cara mia,” ucapnya penuh sesal.


“Jangan pikirkan hal itu, Carlo. Bella sudah memiliki banyak koleksi jaket. Daripada membelikannya pakaiannya, lebih baik berikan dia ...." Adriano menjeda kata-katanya sejenak. Dia menatap Carlo dan Miabella secara bergantian. "Aku ingin menimang cucu sebelum usiaku semakin tua," lanjut sang ketua Tigre Nero, yang membuat pasangan suami istri tersebut saling pandang.


"Hal itu sedang kami usahakan, Ayah mertua," sahut Carlo sembari tersenyum nakal kepada Miabella yang justru tersipu malu. "Baiklah. Lalu akan kita apakan kaset-kaset ini?" tanya Carlo kembali pada inti permasalahan.


"Bukankah kau hendak bertanya kepada Grigori?" pikir Adriano seraya mengernyitkan kening.


"Ya, tapi dia sedang pergi ke luar kota bersama Ivan. Grigori harus menghadiri rapat di Moskow. Aku rasa, dia baru akan kembali nanti malam atau mungkin besok pagi. Sementara aku sudah tidak sabar untuk mengetahui isi dari kaset-kaset ini," ujar Carlo.


"Sebenarnya, aku punya saran yang jauh lebih aman," ucap Adriano tenang.

__ADS_1


"Apa itu, Ayah mertua?" tanya Carlo penasaran.


"Meminta bantuan Ricci. Dia ahli dalam hal seperti ini," jawab Adriano.


__ADS_2