
“Rahasia apa, Carlo?” Rasa penasaran dalam diri Miabella semakin besar. Dia segera merebut buku yang tengah dipegang oleh suaminya. Miabella kemudian melihat gambar batu nisan yang tadi sempat ditunjukkan oleh Carlo. “Bagaimana cara membaca tulisan ini?” tanya wanita muda berambut cokelat itu sambil mengernyitkan kening.
“Sepertinya ayahku yang menulisnya,” sahut Carlo. “Ini semacam curahan hati, ketika sahabat dia meninggal dunia demi melindungi dirinya," jelas pria itu.
“Astaga.” Miabella menutupi mulut dengan satu tangan. “Apa yang terjadi?” tanya wanita muda itu lagi semakin penasaran.
“Biar kuterjemahkan untukmu, Cara mia.” Carlo mengambil kembali buku yang ada di tangan sang istri. Dia mengempaskan napas pelan, sebelum mulai membaca tulisan itu untuk Miabella. “Musim dingin yang kelam ....” Carlo mulai membaca catatan harian sang ayah. “Dia tewas demi melindungiku. Aku sungguh merasa tak berguna sebagai manusia. Kedua tangan ini tak mampu melindungi sahabat yang teramat kusayangi. Piotr Rylov, jantungnya berlubang untuk menahan peluru yang ditembakkan oleh Roderyk Lenkov. Peluru yang seharusnya menembus dadaku.” Pria rupawan itu melirik ke arah sang istri yang mendengarkannya dengan saksama.
“Kenapa berhenti? Ayo lanjutkan,” desak Miabella.
Akan tetapi, Carlo justru hanya memandang paras cantik Miabella. Gemas, pria itu segera melu•mat bibir sang istri sebelum melanjutkan kembali bacaannya. “Aku harus menghadapi Roderyk, sahabat yang juga sangat kusayangi dengan tulus. Akan tetapi, dia telah merusak kepercayaanku ....” Carlo menghentikan ucapannya. Dia lalu mengernyitkan kening sambil membolak-balikkan buku itu.
“Kenapa lagi?” tanya Miabella yang semakin tak sabar.
“Catatan ayahku berhenti begitu saja,” gumam Carlo dengan keheranan. Dia membalik satu lembaran terakhir dan menemukan sesuatu di sana. “Menurutmu angka apakah ini, Sayang?” tanyanya.
Miabella yang teramat penasaran, segera saja mendekatkan wajah pada buku tadi. "Enam angka yang sama. Apakah maksudnya itu? Angka satu sebanyak enam kali?” Putri sambung Adriano D’Angelo tersebut menautkan alisnya.
“Hm.” Carlo mengusap-usap dagunya seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling. “Apakah angka yang tertera di masing-masing rak dalam lemari kaca itukah yang dimaksud oleh ayahku?” pikirnya ragu.
“Kita coba saja.” Dengan penuh semangat, Miabella berlari ke arah lemari buku yang terbentuk dari kotak-kotak kaca. Mereka bertumpuk dan menempel pada dinding serta menjadi satu dengan pilar-pilar besar tersebut. Masing-masing kotak itu memiliki nomor kode yang terdiri dari dua angka dan dimulai dari angka nol satu.
Telunjuk Miabella runut menyentuh kotak kaca satu per satu. Hal itu dia lakukan hingga menuntunnya pada angka satu-satu. “Lihatlah, hanya di rak ini yang tidak terisi dengan buku,” tunjuknya seraya kepada Carlo. Wanita muda itu sempat kebingungan saat berusaha membuka kotak yang terkunci oleh gembok kecil.
Carlo pun berniat untuk membantu. “Aneh sekali, Cara mia,” ujarnya. “Seluruh lemari dan kotak kaca tidak terkunci. Namun, mengapa hanya kotak bernomor satu-satu ini yang digembok rapat?”
__ADS_1
“Bagaimana cara membukanya?” Dengan sekuat tenaga, Miabella menarik gembok yang terbuat dari besi tersebut. Akan tetapi, tentu saja usahanya hanya sia-sia.
“Biar kucoba, Sayang.” Carlo merengkuh pinggang ramping Miabella dengan lembut, lalu menggeser tubuh sang istri ke samping. Mata birunya awas mengamati lubang gembok tadi. “Sepertinya aku pernah melihat bentuk lubang ini,” ujar Carlo tampak berpikir sejenak.
Carlo kemudian merogoh pisau lipat warisan yang selalu tersembunyi di saku celana. Dia memperhatikan ujung pisau, lalu membandingkannya dengan lubang gembok tadi. Ragu, dirinya memasukkan ujung pisau ke dalam gembok. Pria rupawan itu tersenyum lebar saat ujung pisaunya berhasil membuka kunci.
Miabella juga ikut bersorak seperti layaknya anak kecil. Dengan segera, dia membuka kotak kaca itu lebar-lebar dan mengeluarkan sesuatu di dalam sana, yang berupa sebuah benda yang terbungkus kain kusam berwarna putih. Dengan hati-hati, Miabella membuka kain tersebut, lalu mengambil apa yang ada di dalamnya.
“Sebuah kunci?” desis pasangan suami istri itu secara bersamaan.
“Kunci apa ini?” Miabella menyejajarkan kunci manual berbentuk antik dan penuh ukiran tadi hingga sejajar dengan mata abu-abunya.
“Ukiran kunci ini sama persis dengan jam dinding tua yang ada di kamarku,” sahut Carlo sambil menoleh pada sang istri. Demikian pula dengan Miabella yang turut menoleh. Dua sejoli itu saling pandang untuk beberapa saat, sampai akhirnya Carlo memutuskan untuk menuntun Miabella kembali ke lorong kecil yang mengarah langsung ke tungku perapian.
“Jangan meremehkanku, Carlo! Aku tidak suka!” jawab Miabella dengan nada yang sedikit ketus. Dengan penuh semangat, dia menunjukkan kelincahannya pada Carlo agar suaminya itu percaya.
Tak lama kemudian, Miabella sampai terlebih dulu di tungku. Dia lalu, membantu Carlo untuk keluar dari tempat sempit tersebut. “Ya ampun, wajahmu penuh dengan abu dan debu,” ledek wanita muda itu sambil terbahak melihat paras suaminya yang kotor.
“Ah lihatlah. Kau juga. Kau bahkan lebih parah.” Kali ini, Carlo ganti menertawakan Miabella sembari mengusap wajah, lalu mengoleskannya pada sang istri.
“Hei!” protes Miabella. Dia hendak membalas perbuatan Carlo, tetapi pria itu lebih dulu mencegahnya.
“Nanti kita lanjutkan, Cara mia. Sekarang kita cari tahu dulu tentang rahasia kunci ini,” ujar Carlo. “Ayo.” Tangan kekarnya langsung menuntun Miabella menuju kamar.
Di sana, Carlo segera menurunkan jam dinding antik, kemudian meletakkannya di atas pangkuan. Sementara Miabella mencoba memasukkan kunci kuno yang penuh ukiran tadu pada jendela jam yang terletak di bawah bulatan jarum jam.
__ADS_1
“Ternyata cocok, Carlo!” serunya antusias sambil membuka jendela jam yang berukuran kecil, seukuran kepalan tangannya.
“Coba lihat ada apa di dalam situ, Bella,” suruh Carlo. Tak ingin membuang waktu, Miabella segera memasukkan tangannya ke dalam sana.
“Astaga. Selembar kertas lagi,” keluh wanita muda bermata abu-abu itu. “Tulisan Rusia lagi, Carlo.” Miabella berdecak kesal. Dia menyerahkan kertas kecil itu pada suaminya.
“Aku akan mengajarimu bahasa dan tulisan Rusia dengan pelan, Cara mia.” Carlo tersenyum simpul sambil membuka kertas itu secara hati-hati agar tidak sobek. Dia sempat mengeja tulisan yang sudah memburam tersebut sebelum membacanya dengan lantang.
“Kau hanya akan dapat melihatnya melalui langit kaca saat matahari berada tepat di atas sarangnya. Kilauan emas yang dapat menguak segalanya, terpendam jauh di dalam tanah,” ujar Carlo pelan.
“Ya, ampun. Kepalaku pusing. Aku sama sekali tidak mengerti akan maksud tulisan itu meski kau sudah menerjemahkannya, Carlo,” dengus Miabella.
“Hanya dapat dilihat melalui langit kaca?” Carlo bergumam pelan tanpa memedulikan paras cantik di sampingnya yang tengah merengut.
“Kau hanya akan dapat melihatnya melalui langit kaca saat tengah hari. Entah apakah artinya langit kaca itu,” gerutu Miabella.
“Mungkin langit-langit yang terbuat dari kaca?” terka Carlo. Namun, yang kutahu tak ada langit-langit yang terbuat dari kaca di bangunan utama Istana Serigala Merah ini. Kecuali ….”
“Itu berarti kita harus menunggu sampai besok untuk mencari jawabannya,” potong Miabella, “yang paling baik dan bisa kita lakukan sekarang adalah ….”
Wanita muda itu sengaja tak melanjutkan kalimatnya. Dia tiba-tiba berlari, lalu melompat ke atas ranjang dan berbaring di sana dalam posisi tertelungkup. “Ini sudah terlalu malam. Selamat tidur, Carlo,” ucapnya begitu saja sambil memejamkan mata.
“Di taman belakang, ada sebuah pondok kaca. Seluruhnya terbuat dari kaca, begitu pula kubahnya,” gumam Carlo seraya ikut merangkak ke atas ranjang dan berbaring di sisi Miabella dalam posisi telentang, dengan kedua tangan terlipat ke belakang kepala.
“Mungkin itu yang dimaksud dengan langit-langit kaca, Cara mia.” Carlo menoleh pada Miabella yang ternyata sudah terlelap. Terdengar bunyi dengkuran halusnya bagaikan alunan musik merdu di telinga sang ketua klan. Carlo terkekeh pelan seraya mendekat dan melingkarkan tangannya ke pinggang ramping sang istri. “Buona notte, Cintaku. Mari kita lanjutkan petualangan ini esok pagi,” ucapnya sebelum mata biru itu terpejam sempurna.
__ADS_1