The Bodyguard

The Bodyguard
Top of the World


__ADS_3

Miabella terus memperhatikan kartu undangan yang tengah dia pegang. Gadis itu membolak-balik dan juga membaca alamat yang tertera di sana secara berulang. Makin lama, rasa penasarannya semakin bertambah besar. Bagaimana tidak, alamat yang tertera dalam kartu undangan tersebut, sama persis dengan alamat seseorang yang memesan Du Fontaine kemarin siang.


Dalam kegamangannya antara menghadiri undangan itu atau tidak, tiba-tiba sebuah email masuk padanya. Miabella yang saat itu kebetulan masih berada di meja kerja setelah menyelesaikan beberapa urusan, segera saja memeriksa pesan elektronik tersebut.


Rupanya, itu merupakan email yang dikirimkan oleh si pemesan anggur. Dalam isi pesannya yang tengah Miabella baca, dia mengatakan sangat mengharapkan kehadiran gadis cantik tersebut agar dapat menghadiri pesta yang mereka selenggarakan. Alasannya tak lain karena Miabella merupakan produsen dari anggur yang menjadi salah satu hidangan pengisi dalam pesta akbar besok malam.


"Aku mendapat undangan dari pemesan anggur yang kemarin," ucap Miabella ketika Vlad datang berkunjung ke Casa de Luca. Gadis itu duduk sambil bersandar dan juga menyilangkan kaki jenjangnya yang berbalut high knee boots.


"Pemesan yang mana? Kemarin kita mendapatkan lebih dari tiga konsumen baru." Vlad menanggapi. Tatap mata pria asal Rusia itu, lekat tertuju pada paras cantik pemilik mata abu-abu di hadapannya.


"St. Petersburg," sahut Miabella dengan raut wajah tak acuh. Selama ini, dia memang selalu menghindari kontak mata berlama-lama dengan Vlad yang telah menjadi rekan bisnis setia. Selama tiga tahun terakhir, pria itu juga menjadi satu-satunya orang yang paling sering berkomunikasi dengan si cantik penguasa Casa de Luca tersebut.


Mendengar jawaban dari Miabella, Vlad pun terdiam sejenak. Entah apa yang tengah pria itu pikirkan. Namun, dari bahasa tubuhnya terlihat jelas bahwa rekan bisnis dari gadis berambut cokelat tadi sedang tidak nyaman. Sepertinya ada sesuatu yang membuat pria dengan gaya rambut man bun tersebut merasa terganggu. "Kenapa mereka mengundangmu? Bukannya kau tidak mengenal siapa konsumen kita kali ini?" Vlad menaikkan sebelah alisnya.


"Mereka beralasan karena aku merupakan produsen dari Du Fontaine, yang menjadi salah satu hidangan pengisi dari pesta yang akan diadakan. Apa menurutmu itu tidak terlalu berlebihan?" Miabella pun terdengar ragu.


"Tidak ada yang berlebihan untuk seorang pengusaha muda dan cantik sepertimu, Bella," sahut Vlad seraya mengempaskan napas pendek. "Aku pikir, daripada kau terus merasa penasaran ... tak ada salahnya untuk memenuhi undangan mereka. Siapa tahu jika ternyata mereka berminat menjalin kerja sama dengan kita. Bukan sesuatu yang merugikan juga, kan?" Vlad tersenyum kalem.


"Ah ya. Kau benar. Namun, sayangnya aku bukanlah penyuka pesta. Aku tidak pernah merasa nyaman berada di antara orang-orang yang ...."


"Membosankan?" sela Vlad yang langsung berbalas sebuah tawa renyah dari Miabelle. Sesuatu yang sangat pria itu sukai, karena jarang sekali dia melihat Miabella melakukannya. Vlad pun kembali memperhatikan paras cantik yang tak terlihat membosankan, meskipun dia pandang dalam waktu yang lama.


"Baiklah. Aku akan mengikuti saranmu. Aku akan memaksakan diri untuk hadir di sana," ujar Miabella. Dia merasa risih karena Vlad lebih sering memandangnya dengan lekat saat itu.


"Apa perlu untuk kutemani?" tawarnya. Sebuah kesempatan emas bagi pria bermata biru tersebut untuk dapat pergi berdua dengan Miabella.


“Sebenarnya, kedua orang tuaku beserta keluarga paman Marco pun akan hadir di sana." Miabella mencari alasan untuk menolak tawaran Vlad secara halus.

__ADS_1


"Oh, baiklah." Vlad tak ingin memaksakan keinginan yang memang terasa sulit untuk dapat terwujud. Pria asal Rusia tersebut mengangguk sambil tersenyum. "Jangan lupa untuk mampir," pesannya seraya berdiri. Vlad bermaksud untuk berpamitan dari sana, berhubung waktu sudah menjelang sore.


Miabella pun tak berniat untuk mencegahnya. Lagi pula, dengan begitu maka dia tak harus mencari alasan-alasan tak jelas agar dapat mengusir pria tampan tersebut. Sepeninggal Vlad, Miabella segera kembali ke kamarnya. Gadis itu ingin segera membersihkan tubuh yang terasa begitu lengket.


Berendam dalam lautan busa pasti akan menjadi sesuatu yang mengasyikkan, pikir gadis cantik itu. Miabella pun menghabiskan beberapa saat lamanya untuk merelaksasi diri di dalam bathub, hingga dia merasa bosan.


Beberapa menit kemudian, gadis cantik tadi sudah selesai memanjakan diri. Dia terlihat sangat segar dengan singlet putih dan celana tidur polos berwarna cokelat muda.


Miabella memutuskan untuk tidak ke mana-mana lagi. Terlebih, karena sebuah panggilan video dari Mia semakin menahan dirinya untuk tak beranjak dari tempat tidur.


"Kami akan berangkat besok pagi, karena menurut yang tertera pada kartu undangan, bahwa acara pesta dilangsungkan malam hari," ucap Mia setelah mereka berbincang selama beberapa saat. Wanita paruh baya tersebut tampak sangat ceria, karena saat itu dia ditemani oleh Adriana yang sedang menajalani liburannya di Monaco.


"Bisakah kau singkirkan pengganggu di belakangmu, bu?" sahut Miabella menanggapi tingkah sang adik yang dirasa begitu menjengkelkan baginya.


"Apa kau tidak merindukanku, kak? Aku baru pulang lagi ke Monaco, kupikir kakak akan meluangkan waktu untuk menemuiku." Adriana tampak memasang ekspresi konyol yang dia tujukan kepada sang kakak.


"Aku sangat sibuk," sahut Miabella dengan enteng dan tak acuh.


"Untuk siapa?" sela Miabella dengan tatapan curiga.


Adriana terkikik geli saat mendengar pertanyaan sang kakak. "Tentu saja untuk teman-temanku. Salah satunya adalah Achiles. Aku harus berterima kasih padanya karena dia sering membantuku belajar," terang gadis bermata biru itu dengan ekor mata yang tertuju kepada Mia. Namun, sang ibu tak menanggapinya sama sekali.


“Ikutlah, nak,” pinta Mia. “Sudah lama kita tidak bepergian bersama dengan formasi lengkap." Sorot mata wanita itu terlihat begitu sendu. Tak lama kemudian, dia juga tampak berkaca-kaca.


“Entahlah, bu. Bukan maksudku untuk menolak keinginanmu. Akan tetapi, besok pagi aku harus mengawasi para pekerja untuk melakukan proses awal panen,” sahut Miabella. Dalam hati, dia menyesal telah membuat ibunya merasa kecewa.


“Baiklah. Jika besok kita tidak bisa bertemu, maka sepulang dari Rusia nanti aku, Adriano, dan juga Adriana akan datang mengunjungimu. Mungkin kita bisa berjalan-jalan berempat ke Pulau Sicilia,” cetus Mia.

__ADS_1


“Sepertinya itu ide yang bagus,” sahut Miabella tersenyum lembut pada sang ibu, lalu menjulurkan lidah pada Adriana. Adik kecilnya itu tentu terbelalak melihat sikap sang kakak, sehingga dia pun membalas dengan hal yang sama.


“Tunggu kedatanganku, kak!” Seruan Adriana masih sempat terdengar sebelum Miabella mengakhiri panggilan videonya. Gadis cantik itu tersenyum simpul, lalu mencoba untuk memejamkan mata sampai tertidur hingga pagi menjelang.


Miabella terbangun karena suara ketukan di pintu. Sambil bermalas-malasan, dia turun dari ranjang dan membuka pintu kamarnya. Tampaklah wajah Luciella di sana sambil membawa beberapa paper bag besar. “Apa itu?” tanya Miabella keheranan.


“Sekarang si pengirim bunga berinisial V tidak mengirimkan bunga lagi, Nona. Akan tetapi, dia mengirimkan barang-barang ini,” jelas Luciella.


Miabella yang tadinya merasa malas karena masih sedikit mengantuk, seketika membelalakan mata. Dengan segera, gadis itu meraih beberapa paper bag tadi, lalu membukanya satu per satu. Dalam setiap paper bag, berisi barang yang berbeda.


Sebuah gaun pesta, sepasang sepatu dengan warna senada dan aksesoris berupa kalung serta anting permata, dia dapati di dalam kantong belanja tadi. “Apa-apaan ini?” gumamnya terheran-heran.


Miabella semakin heran, terlebih saat dia mendapati bahwa ukuran sepatu yang benar-benar sesuai dengan kakinya. Si pengirim seolah tahu bahwa dia mendapat undangan pesta malam ini. Barang-barang mewah itu seakan menjadi isyarat bahwa dirinya harus datang.


“Siapa gerangan dirimu, V? Apakah kau yang mengundangku ke St. Petersburg? Kalian mempunyai inisial nama yang sama.” Miabella menengadah dengan mata menyorot langit-langit kamar. “Apakah mungkin ….” Gadis cantik bermata abu-abu itu tak melanjutkan kata-katanya. Dia memilih untuk mencari tahu identitas misterius si pengirim bunga dan hubungannya dengan pesta di St. Petersburg nanti malam.


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam tepat, ketika pesta besar-besaran yang digelar oleh Carlo dimulai. Banyak dari para tamu undangan yang masih merasa penasaran dengan sosok penyelenggara acara. Namun, mereka tetap menikmati segala hal yang ada di sana, baik hidangan maupun hiburannya.


"Apa dia datang Grigori?" tanya Carlo yang sudah terlihat gagah dengan penampilan berbeda malam itu. Demi pesta pengukuhan ebagai ketua dari Klan Serigala Merah yang sesungguhnya, Carlo rela melupakan t-shirt dan celana jeans sobek-sobek. Kali ini, dia mengenakan setelan tuksedo mahal yang telah disiapkan oleh Grigori.


"Dari daftar tamu yang hadir dan telah terisi, aku belum menemukan nama nona muda, Tuanku," lapor Grigori membuat Carlo terlihat semakin gelisah. Pria itu terus mondar-mandir tak karuan. Sesekali dia menyugar rambutnya yang telah tersisir rapi.


"Tenanglah, Tuan muda. Ini adalah malam bersejarah untuk Anda. Jadi, kusarankan agar jangan sampai membuat satu kebodohan sedikit pun. Ingat, Tuanku. Anda harus terlihat sempurna di mata semua orang. Para petinggi organisasi-organisasi besar di Eropa telah hadir dan ...." Grigori tak melanjutkan ucapannya, karena dia mendengar sesuatu lewat earpiece yang terpasang di telinga sebelah kanan. Grigori tampak mendengarkan apa yang lawan bicaranya katakan. Pria paruh baya itu mengangguk.


"Tuan Marco de Luca beserta keluarganya telah hadir di aula pesta. Begitu juga dengan tuan Adriano D'Angelo dengan istri dan ...."


"Apa Miabella juga datang?" sela Carlo tak sabar.

__ADS_1


"Nona muda tidak terlihat, Tuanku," sahut Grigori penuh sesal.


Carlo mendengus kesal untuk meluapkan emosinya. Namun, dengan segera dia kembali dapat menguasai diri, karena sudah waktunya untuk menyapa para tamu undangan, termasuk Adriano. Inilah saatnya untuk Carlo dapat memantaskan diri bagi Miabella di hadapan pria itu.


__ADS_2