
Malam kian larut. Entah telah seberapa jauh Miabella melangkahkan kakinya tanpa sandal ataupun sepatu. Makin lama, telapak kaki wanita itu terasa semakin sakit. Miabella pun memutuskan untuk berhenti sejenak. Dia yakin bahwa jarak yang telah ditempuhnya, tak akan dapat dikejar oleh Vlad. Terlebih, karena pria itu sedang dalam kondisi terluka.
"Seharusnya aku menusuk dia menggunakan pisau dapur. Dengan begitu, dia akan langsung mati. Jadi, aku tak harus merasa takut diikuti lagi," gumam Miabella sambil berdiri. Dia bingung harus ke mana saat itu.
Sepasang mata abu-abu Miabella memandang sekeliling. Menyisir setiap sudut daerah yang teramat asing. Miabella tak tahu di mana dirinya berada saat ini. Dia juga tidak bisa bertanya kepada siapa pun, karena malam sudah terlalu larut. Suasana desa teramat sepi.
Miabella memutuskan duduk di bawah sebatang pohon rindang tepi jalan. Siapa sangka bahwa sang pewaris dari perkebunan anggur terbesar di Italia, kini terlihat seperti seorang tunawisma. Namun, Miabella tak peduli. Dia merasa jauh lebih nyaman saat ini. Satu hal yang terasa mengganjal dalam hati wanita muda bermata abu-abu tersebut, ialah adegan ciuman bersama Vlad. Seharusnya, hal itu tidak pernah terjadi. Walaupun, dia melakukan itu demi membebaskan diri dari sekapan pria asal Rusia tersebut.
Putri sambung Adriano tadi mengembuskan napas pelan. Rasanya seperti mimpi, ketika dirinya berada di sebuah kawasan asing dengan bahasa yang tidak dimengerti. Namun, harus Miabella akui bahwa desa itu sangat indah. Teramat indah. Seperti sebuah surga dunia. "Seandainya aku datang kemari denganmu, Carlo. Ini pasti akan menjadi cerita yang jauh lebih menyenangkan." Miabella kembali bergumam sendiri sambil bersandar pada batang pohon. Tatapannya menerawang, menembus pekat malam dalam keremangan cahaya lampu berwarna kuning.
Beberapa saat kemudian, iris berwarna abu-abu Miabella kembali menyapu sekeliling. Dia merasa di sana hanya ada dirinya. Padahal, itu termasuk jalan besar. Akan tetapi, tak ada satu pun kendaraan yang lewat. Miabella akhirnya memilih untuk memejamkan mata. Tubuhnya membutuhkan istirahat untuk menyambut hari esok. Dia hanya berharap, tak ada hewan melata jenis apapun yang menghampirinya.
Cahaya matahari terasa begitu menyilaukan. Menerpa langsung ke wajah Miabella. Wanita muda tersebut seketika mengerjap. Miabella mencoba melawan rasa kantuk dengan membuka mata lebar-lebar. Terlebih, dia melihat beberapa orang yang berlalu-lalang di jalan. Rata-rata yang lewat di sana, pasti menoleh. Mereka bahkan memandang Miabella dengan sorot aneh.
Wanita muda itu segera bangkit. Dia membersihkan bagian bawah pakaiannya dari tanah di semak-semak dan beberapa dedaunan kering. Wanita berambut panjang tersebut kembali menyusuri jalanan tanpa alas kaki. Sambil melangkah, Miabella mengedarkan pandangannya. Dia ingin tahu di mana kini dirinya berada. Akan tetapi, itu bukanlah sebuah kota di mana terdapat plang petunjuk arah.
Lapar dan juga tak nyaman dengan telapak kaki yang terasa sakit. Miabella berhenti sejenak. Dia melihat ada sebuah mobil pick up yang melintas. Itu merupakan kendaraan pertama yang dirinya lihat sejak semalam. Ragu, putri sulung Mia tersebut mengulurkan tangan ke depan. Berharap agar si pemilik kendaraan berhenti.
Apa yang Miabella harapkan, rupanya terkabul. Mobil pick up tersebut berhenti tepat di hadapannya. Sesaat kemudian, jendela kaca turun dengan perlahan.
Tampaklah seraut wajah di baliknya. Seorang pria berambut pirang dengan iris mata berwana hijau. Pria itu menatap lekat kepada Miabella. Memperhatikannya dari atas hingga ke bawah. “Guten Morgen (Selamat pagi),” sapanya.
__ADS_1
Miabella tersenyum. Dia dapat memahami ucapan itu. Elke selalu mengatakannya setiap pagi, saat wanita paruh baya tersebut membawakan sarapan. Beruntungnya, Vlad sempat memberitahu cara membalas sapaan tersebut. “Ja. Guten Morgen auch (Ya. Selamat pagi juga),” balas Miabella meski terdengar kaku. “Can you help me?” Miabella segera bertanya menggunakan Bahasa Inggris.
“Sure,” balas pria itu, “apa yang bisa kulakukan untukmu?” tanyanya.
Tak terkira betapa bahagianya Miabella, saat bertemu dengan seseorang yang dapat berkomunikasi dengannya. “Boleh kutahu kau hendak ke mana, Tuan?” tanya Miabella.
“Aku hendak ke Kiel,” jawab si pria yang sepertinya berusia sama dengan Carlo.
“Memangnya kau hendak ke mana, Nona?” tanyanya kemudian.
“Ah, kebetulan. Aku juga ingin ke sana,” sahut Miabella tersenyum lebar, meskipun dia tak tahu Kiel ada di mana. Baginya, yang penting semakin menjauh dari tempat itu.
“Apa kau ingin menumpang mobilku, Nona?” tanya si pria lagi tanpa mengalihkan pandangan dari Miabella
“Tentu saja,” balas pria tadi, “masuklah. Kebetulan hari ini aku hanya sendirian.”
Dengan wajah sumringah, Miabella berjalan memutari mobil menuju pintu penumpang. Dia lalu masuk. Wanita berambut panjang tersebut duduk nyaman setelah memasang sabuk pengaman. Lega. Seperti itulah perasaan Miabella kali ini. Akhirnya, dia dapat semakin menjauh dari Vlad. Miabella mengucap syukur dalam hati, seiring dengan kendaraan yang bergerak meninggalkan desa tadi.
“Apa kau bukan orang Jerman, Nona?” tanya pria yang berada di belakang kemudi.
“Iya. Aku berasal dari Italia,” jawab Miabella. Istri ketua Klan Serigala Merah tersebut terdiam sejenak. Paras cantiknya menyiratkan keraguan. Dia seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi kembali dirinya urungkan.
__ADS_1
"Kalau boleh kutahu, ada keperluan apa kau pergi ke Kiel ...." Pria tadi menjeda kata-katanya. Dia mengamati Miabella dari atas sampai bawah. Pandangan pria itu terkunci pada sepasang kaki indah nan terawat Miabella yang tanpa alas sama sekali. "Bolehkah jika aku bertanya sesuatu?" Pria itu masih dengan tatapannya yang sulit diartikan.
"Ya. Tentu," jawab Miabella mencoba terlihat biasa saja.
"Apa yang terjadi padamu, Nona? Apa kau ...." Pria itu menaikkan sebelah alisnya.
"Ah, aku ....." Miabella tersenyum kelu. "Aku seorang turis," ucapnya berbohong. "Aku dirampok," ucap Miabella lagi.
"Dirampok?" Pria itu mengernyitkan kening seakan tak percaya.
"Um ... iya," jawab Miabella meyakinkan. Walaupun dari sorot matanya terlihat jelas jika dia merasa tak nyaman. "Bolehkah kupinjam teleponmu, Tuan?" Akhirnya, Miabella berani untuk mengatakan hal yang sejak tadi dipendam.
"Telepon?" ulang si pria. "Ya. Tentu." Dia merogoh ke dalam saku kemeja kotak-kotak yang dirinya kenakan. Pria itu mengambil telepon genggam yang tidak secanggih milik Miabella tentunya. Namun, benda kecil tersebut pasti akan sangat membantu.
Miabella segera menerima telepon genggam yang disodorkan oleh pria tadi. Dengan tangan gemetar, dia menekan deretan angka yang merupakan nomor kontak seseorang.
Cukup lama Miabella menunggu jawaban dari seberang sana. Dia bahkan mengulang panggilannya sampai beberapa kali. Akan tetapi, tetap tak ada jawaban. Hingga lebih dari lima kali, Miabella mencoba menghubungi nomor tersebut. Sayang sekali, dia tak mendapat apa-apa.
🍒🍒🍒
Novel ini seru dan kocak. Ada drama juga komedinya. Dijamin pasti ketagihan bacanya. Cocok buat nemenin acara santai teman-teman pembaca, di manapun berada.
__ADS_1