The Bodyguard

The Bodyguard
A Prophecy


__ADS_3

Miabella menatap sinis kepada pria yang saat itu sudah berdiri di sebelahnya. Dia tak mengalihkan perhatian sama sekali, hingga si pria melemparkan sebuah senyuman yang menawan. Namun, dengan segera sulung dua bersaudara tersebut membuang muka. Apalagi, setelah si gadis melihat sepasang mata biru yang menatap penuh kekaguman terhadap dirinya.


“Di dalam jauh lebih ramai dan menyenangkan. Kenapa kau malah memilih menyendiri di sini?” tanya pria dengan gaya rambut man bun itu. Dia menggunakan aksen bahasa Italia yang terdengar kaku. Sepertinya, pria tersebut bukanlah berasal dari negara pizza.


“Tidak apa-apa,” jawab Miabella singkat dan tanpa menoleh sama sekali.


“Tatapanku langsung tertuju padamu, dari semenjak kau datang ke aula pesta,” ucap pria berambut pirang itu lagi. “Gaun merah yang terlihat sangat cantik dan mencolok. Namun, sayangnya kau justru memilih bersembunyi dalam kegelapan malam.” Entah apa maksud pria dengan postur yang tak jauh berbeda dari Carlo tersebut.


“Maaf. Ibuku selalu berpesan agar aku tidak berbicara kepada orang asing,” tolak Miabella. Dia memegangi bagian pinggir gaun kemudian mengangkat sedikit, hingga ujung dari pakaian mahal tadi tak menghalangi langkahnya. Sepasang sepatu bertaburan kristal yang dikenakan Miabella pun tampak berkilau dalam keremangan. Gadis itu pergi begitu saja, tanpa ada basa-basi lagi.


Sambil terus melangkah masuk, pikiran Miabella tertuju kepada Luciella. Ini sama persis seperti apa yang gadis itu ramalkan kemarin malam. Entah hanya merupakan sebuah kebetulan atau memang sesuatu yang telah direncanakan.


Miabella menggeleng pelan. Dia terus melangkah masuk dan kembali ke aula pesta yang ramai. Gadis itu memutuskan untuk mengambil minuman, lalu berdiri di sudut tempat luas tersebut. Dia ingin segera pergi dari sana. Jika dulu ada sosok Carlo yang membuatnya bertahan untuk berlama-lama di dalam pesta membosankan, kini dia tak menemukan siapa pun yang dapat membuatnya tinggal lebih lama.


Niat hati ingin melarikan diri dari arena pesta, tapi harus segera dia urungkan. Suara Adriano telah berhasi menahan gadis cantik bergaun merah tersebut. Begitu juga dengan seseorang yang berada di dekat pria paruh baya itu. Sosok yang membuat Miabella kembali terpaku serta menatapnya dengan cukup tajam.


“Aku ingin memperkenalkanmu kepada putri sulungku,” ucap Adriano dengan senyuman hangat. Dia menoleh kepada pria di sebelahnya, lalu beralih pada Miabella. “Kuharap kau tidak sedang sibuk, Principessa.” Lembut, pria itu berbicara kepada putri sambungnya.


“Tidak, Daddy Zio,” sahut Miabella pelan.

__ADS_1


“Baguslah kalau begitu,” balas Adriano. “Ini adalah tuan Vlad Ignashevich. Dia berasal dari Rusia. Namun, saat ini sedang merintis usaha di Italia. Bukankah begitu, Tuan Ignashevich?” Adriano kembali menoleh kepada pria dengan postur yang sama dengan dirinya. “Dia adalah salah satu kolega Marco. Namun, tuan Ignasehevich ternyata sangat tertarik dengan bisnis anggur de Luca. Jadi, kupikir tak ada salahnya jika kuperkenalkan padamu,” jelas sang ketua Tigre Nero dengan penuh wibawa. Sekali lagi, pria itu melemparkan senyumannya kepada sang putri.


Sementara pria berambut pirang tadi, tak melepaskan tatapan sama sekali dari sosok Miabella. Dia tersenyum, kemudian mengulurkan tangan. “Apa kabar, Nona de Luca?” sapanya dengan sopan.


Miabella, gadis itu bukanlah Adriana yang akan bersikap ramah kepada orang yang baru dirinya temui. Dia tak segera membalas jabat tangan yang ditawarkan oleh Vlad. Miabella hanya memandang tajam ke arah pria tadi. Setelah beberapa saat, barulah si pemilik mata abu-abu tersebut mengulurkan tangannya.


Akan tetapi, rupanya Vlad bukan hendak mengajak Miabella bersalaman. Pria tersebut meraih kemudian mencium punggung tangan putri sambung Adriano. Apa yang dilakukan Vlad, tentu saja membuat Miabella merasa tak nyaman. Tak ingin membiarkan pria asing tadi terus menggenggam jemarinya, dengan segera Miabella menarik serta meletakkan tangan di samping tubuh. “Aku harus ke belakang. Permisi.” Miabella pun berlalu begitu saja, meninggalkan kedua pria lintas usia itu.


Adriano hanya dapat mengempaskan napas pelan saat menanggapi sikap dingin Miabella. “Maaf. Putriku merupakan seorang introvert,” ucap Adriano yang merasa tak enak terhadap Vlad.


“Tak masalah, Tuan D’Angelo. Aku dapat memahaminya. Kami bisa berkenalan di lain waktu dan kesempatan,” balas Vlad seraya menyunggingkan senyuman hangat.


“Miabella memang sudah seperti itu sejak dia masih kecil. Akan tetapi, pada dasarnya dia gadis yang sangat menyenangkan,” ucap Adriano lagi.


“Hei, kenapa kalian berada di sini” tegur Marco. “Mari bergabung di sana. Akan kuperkenalkan kalian pada kolegaku yang lain,” ajaknya kepada Adriano dan juga Vlad. Kedua pria tadi pun mengangguk setuju. Ketiganya lalu berjalan menuju ke tempat di mana terdapat beberapa pria bersetelan rapi yang tengah berbincang.


“Kalian pasti sudah tak asing lagi dengan tuan Adriano D’Angelo.” Marco memperkenalkan suami dari Mia tersebut pada teman-teman bisnisnya dengan penuh bangga.


“Siapa yang tidak mengenal tuan Adriano D'Angelo? Klan de Luca dan organisasi Tigre Nero sekarang seolah menjadi satu kesatuan. Kalian tak akan pernah terkalahkan jika begini caranya,” sabut salah seorang kolega Marco.

__ADS_1


“Kurasa tak akan ada yang berani untuk menantang kedua orang ini,” sahut Vlad yang sedari tadi hanya diam dan memperhatikan.


“Ah, aku sampai lupa." Marco bergegas mendekati Vlad dan merengkuh pundaknya dengan erat. “Ini adalah teman baruku dari Rusia. Vlad Ignashevich. Dia merupakan pria muda yang berotak sangat cemerlang dalam bisnis. Barangkali dari kalian ada yang tertarik dan ingin bekerja sama dengannya,” terang ayah dari dua pemuda tampan, yaitu Romeo dan Tobia.


“Ah, kau terlihat jauh lebih muda dibandingkan kami,” ujar kolega Marco yang lain. “Ceritakan lebih banyak tentang dirimu, Tuan Ignashevich.”


Pria Rusia berambut gondrong itu pun tersenyum dan mulai menghangatkan suasana dengan obrolan ringan. Dia juga menceritakan tentang beberapa sektor bisnis yang tengah digelutinya.


"Aku akan membuka pabrik penyulingan anggur di Italia. Kudengar, anggur dari perkebunan milik keluarga de Luca adalah yang terbaik. Aku salah satu penggemar Du Fontaine," tutur Vlad pada akhir ceritanya.


"Sudah kukatakan bahwa yang memegang kendali atas perkebunan saat ini adalah keponakanku, Miabella. Kau bisa mengajukan proposal kerja sama kepadanya," sahut Marco.


"Bukakan jalan untukku," pinta Vlad


Sementara itu, Miabella memilih untuk kembali ke kamarnya. Dia bergegas melepas heels, dan membiarkan sepatu dengan desain indah itu dengan sembarangan. Miabella bergegas menuju wastafel. Dia menuangkan sabun pencuci yang banyak, kemudian menggosok setiap bagian dari tangannya. Wajah gadis itu pun terlihat gelisah, terlebih ketika dirinya teringat akan kata-kata Luciella : “Pria berambut pirang itu juga akan selalu mengikuti langkah Anda, bahkan lebih setia jika dibandingkan dengan bayangan sendiri.”


“Tidak! Itu hanya kebetulan!” Miabella membasuh tangan cukup lama, hingga dia merasa jika yang dilakukannya merupakan sesuatu yang konyol. Setelah itu, gadis cantik bergaun merah tadi menatap diri sendiri pada pantulan cermin. Dia memandang wajah serta semua yang ada pada dirinya dengan sorot mata aneh.


“Carlo ....” desahnya perlahan. Selalu saja nama itu yang ada dalam hati gadis cantik tersebut.

__ADS_1


Tak berbeda dengan Carlo. Pria itu juga tengah melakukan hal yang sama. Dia baru saja selesai membasuh wajahnya. Dengan setengah membungkukkan badan, Carlo meletakkan kedua tangan di sisi kiri dan kanan sebagai tumpuan. “Miabella ....”


Rasa rindu yang teramat berat kian mendera seorang Carlo. Pengorbanan ini terlalu besar baginya. Jika dia tak bisa berhasil dalam misi merebut kembali kekuasaan peninggalan sang ayah, maka dirinya merasa semua itu hanya akan menjadi sesuatu yang sia-sia. “Aku harus tetap fokus,” ucap pria tampan tersebut. Dia kembali meyakinkan diri, agar tetap berada pada niat awal dari kedatangannya ke Rusia.


__ADS_2