
Carlo tersenyum puas. Mungkin di luar sana masih ada bahaya yang mengintai dan bisa saja memang membahayakan. Namun, dia tak ingin memedulikan hal itu untuk saat ini, karena dirinya harus kembali ke dalam pelukan Miabella sebelum sang kekasih terbangun dan mencari keberadaannya.
Dengan gesit, Carlo turun dari pohon lalu berlari secepat kilat menuju pondok tempatnya menginap. Agak tergesa-gesa Carlo membuka pintu. Dia pun dapat bernapas lega, ketika Miabella masih tertidur lelap dan tak menyadari bahwa Carlo sempat meninggalkan dirinya sendiri di dalam pondok untuk beberapa saat.
Sambil berjalan mengendap-endap, Carlo mendekati Miabella yang terlelap dalam kondisi tubuh polos. Disibakkannya rambut coklat yang harum dan indah itu. Dia mengusap pipi Miabella lembut, lalu mencium bibirnya. “Bangunlah, Cara mia. Kita harus segera pergi dari sini,” bisik Carlo.
Miabella menggeliat pelan dengan mata yang masih dalam keadaan terpejam. “Carlo, peluklah aku. Dingin sekali rasanya,” racau gadis cantik itu tanpa membuka mata indahnya.
“Astaga.” Carlo terkekeh pelan. Sungguh sebuah godaan yang luar biasa besar bagi dirinya, ketika Miabella berucap dengan suara yang terdengar parau dan amat seksi. Namun, apapun yang terjadi saat itu, dia harus cepat-cepat membawa gadis cantik tersebut pergi dari tempat itu.
“Kalau kau tidak bisa bangun sendiri, maka aku harus menggendongmu.” Carlo menyibakkan selimut yang menutupi tubuh molek sang kekasih. Beberapa noda merah keunguan tampak di bagian-bagian tertentu kulit mulus gadis itu. Ingin rasanya Carlo mengulang percintaan seperti tadi untuk yang ketiga kali.
Akan tetapi, akal sehatnya masih dapat bekerja dengan baik. Pria itu segera meraih pakaian Miabella. Tanpa rasa canggung sama sekali, Carlo sedikit mengangkat tubuh Miabella saat dirinya memasangkan bra. Setelah itu, berlanjut pada pakaian dalam dan celana jeans.
Miabella pun terbangun, saat Carlo memasang dan mengancingkan kemeja. “Apa-apaan ini, Carlo! Apa yang kau lakukan!” tolak Miabella.
“Kita harus segera pergi dari sini, Cara mia,” jawab Carlo dengan suara pelan tertahan.
“Kenapa? Ada apa?” Miabella mengucek-ucek matanya, lalu menguap panjang sebagai pertanda bahwa dia masih sangat mengantuk.
“Nanti saja kujelaskan dalam perjalanan. Satu yang pasti kita tak aman berlama-lama di sini. Seperti yang kau katakan kemarin malam. Ada orang asing yang mengikuti kita,” jelas Carlo.
“Apakah orang-orang itu memang yang kemarin kulihat?” tanya Miabella dengan mata terbelalak. Kesadaran gadis itu seketika terkumpul sepenuhnya.
__ADS_1
“Kurasa iya,” jawab Carlo. Mata birunya menatap lekat pada paras cantik Miabella.
“Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo kita segera pergi dari sini!" ajak putri dari Matteo de Luca tersebut. Gadis itu bergegas bangkit dari tempat tidur, kemudian memakai sepatunya.
Setelah semua siap, Carlo menuntun Miabella keluar dari pondok. Dia terlebih dulu mengembalikan kunci pada petugas reservasi sebelum berjalan ke area parkir. Di sana, dirinya membantu memasangkan perlengkapan berkendara pada sang kekasih. Barulah dia memasang peralatan untuk dirinya sendiri.
Carlo sudah hendak menyalakan mesin, ketika tak sengaja dia melihat sebuah kertas kecil terselip di bagian bawah stang. Dia mengambil kertas itu, kemudian mengernyitkan kening saat memperhatikan coretan dalam tulisan Rusia tadi.
“Apa itu?” Miabella mengangkat tubuh, lalu melihat kertas yang berada dalam genggaman Carlo.
“Bukan apa-apa, Cara mia. Nanti saja kubaca jika suasana sudah terang.” Carlo tersenyum kalem, kemudian memasukkan kertas tadi ke dalam saku jaket. Dia mulai menjalankan motornya dengan kecepatan sedang.
Sang ketua Klan Serigala Merah itu menepiskan rasa lelah dan kantuk yang mendera selama dalam perjalanan. Dia tak boleh berhenti meskipun mereka harus berkendara pada pagi buta seperti itu.
Berkali-kali, Carlo juga mengguncangkan paha Miabella agar tak tertidur saat motor tengah melaju, karena hal itu akan sangat berbahaya.
Miabella sudah mengeluh jika punggung dan pinggangnya terasa pegal-pegal, sehingga Carlo memutuskan untuk berhenti di sebuah tempat makan yang buka dua puluh empat jam.
Selagi Miabella pergi ke toilet, Carlo menunggu kekasihnya sambil bersandar pada dinding kamar kecil. Diam-diam, dia kembali membuka kertas dari saku jaket tadi dan mulai membaca isinya. Raut wajah Carlo tampak sangat serius, ketika membaca huruf demi huruf dalam bahasa Rusia tersebut.
Siapa pun yang memegang tampuk kekuasaan Serigala Merah, akan menemui ajalnya cepat atau lambat. Bersiaplah, Karl Volkov.
Begitu bunyi tulisan itu, membuat Carlo harus menarik napas panjang, kemudian mengembuskan perlahan. Pikirannya menerawang pada sang ayah dan saudara laki-lakinya yang tewas secara mengenaskan. Bayangan Viktor Drozdov yang juga telah tewas di tangannya pun ikut hadir.
__ADS_1
“Apakah setelah ini akan tiba giliranku?” pikirnya.
Belum sempat pertanyaan tadi terjawab, Miabella yang telah selesai dari kamar kecil, tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.
“Apa yang kau pikirkan?” tanya gadis cantik itu. Wajahnya berada cukup dekat dengan Carlo, sehingga pria itu tak tahan untuk tidak menciumnya.
“Kita sarapan dulu, kemudian kuajak kau ke suatu tempat,” ujar Carlo begitu saja sambil merengkuh tubuh sang kekasih, kemudian berjalan kembali ke restoran.
Setelah sarapan, dua sejoli itu melanjutkan perjalanan mereka. Namun, lagi-lagi Carlo harus menghentikan kendaraannya pada sebuah jalan raya yang melintasi padang rumput luas. “Kenapa lagi? Aku belum lelah,” tanya Miabella.
“Aku ingin mengajakmu ke sana,” telunjuk Carlo mengarah ke sebuah gereja kecil yang terbuat dari kayu dan terletak di tengah-tengah padang rumput. Atap gereja tersebut berhiaskan kubah kecil khas Rusia.
“Untuk apa?” tanya Miabella.
Namun, Carlo tak menanggapi. Dia malah mengarahkan motornya keluar dari jalan raya menuju bangunan kecil itu. Di depan halamannya, Carlo memarkirkan motor lalu menuntun Miabella masuk ke sana.
“Kenapa kita malah berhenti di gereja, Carlo? Bukankah kita harus buru-buru kembali ke markasmu?” tanya Miabella lagi dengan sorot tak mengerti.
“Sebentar saja, Bella.” Carlo menuntun sang kekasih berjalan mendekati altar. Dia lalu menghadapkan tubuh Miabella kepadanya. Sesaat kemudian, Carlo merogoh kantong celana jeans dan mengeluarkan sepasang cincin perak yang sudah dia simpan sejak tiga tahun lalu.
“Carlo.” Lirih suara Miabella terdengar bergetar.
“Aku ingin menikahimu di sini, di tempat ini,” sahut Carlo yakin. Tatap matanya sayu dia arahkan kepada sang pujaan hati.
__ADS_1
“Kenapa?” Miabella menggeleng pelan. Debaran jantungnya mulai menggila, sehingga gadis itu harus menarik napas berkali-kali.
“Aku ingin memanfaatkan waktu yang masih tersisa, Cara mia. Selama Tuhan masih memberikanku nyawa, aku ingin mengikatmu sekarang juga,” tegas Carlo.