
Adriano keluar dari kamar bertepatan dengan Mia yang hendak masuk. “Sayang? Kau sudah kembali?” tanya Mia lembut. Dua telapak tangannya menangkup wajah tampan sang suami.
“Iya, tapi sepertinya aku akan pergi lagi,” jawab Adriano penuh sesal.
“Memangnya kau mau ke mana?” tanya Mia lagi penasaran.
“Aku akan mengajak Carlo berburu barang antik,” jawab Adriano seraya memamerkan senyuman yang selalu terlihat menawan. “Apa kau mau ikut, Mia?” tawarnya kemudian.
“Tentu! Tunggu sebentar. Aku akan bersiap-siap,” sahut ibunda Miabella itu tampak sangat antusias.
“Santai saja, Sayang. Tidak usah terburu-buru. Aku yakin Carlo juga masih sibuk melakukan sesuatu,” celetuk Adriano sambil tersenyum penuh arti.
Namun, pada kenyatannya saat itu Carlo tengah berada di kamar Igor. Pria paruh baya yang baru saja menjalani perawatan di rumah sakit tersebut, tampak duduk di atas ranjang dengan punggung bersandar pada kepala ranjang.
“Apakah kau tahu di mana toko barang antik yang letaknya ada di sekitar sini?” tanya Carlo setelah sempat berbasa-basi sejenak dengan pria yang sudah dia anggap sebagai ayah sendiri.
Igor tak langsung menjawab. Dia sempat berpikir sejenak sebelum akhirnya menjentikkan jari. “Ada, Tuan. Sekitar dua puluh kilometer dari sini. Toko milik Damir Bykov,” jawabnya. “Dari gerbang utama istana, Anda cukup mengambil jalur ke kiri sampai tiba di pusat kota. Toko antik milik Bykov berada tepat di sebelah utara gedung pertemuan kota,” lanjut pria itu lagi. Sesaat kemudian dia meringis kecil saat merasakan lehernya yang terasa nyeri. Luka sayat di leher Igor memang belum sepenuhnya pulih.
“Baiklah, akan kuingat-ingat. Terima kasih atas informasinya. Selamat beristirahat.” Carlo menepuk pundak Igor pelan, lalu bergegas meninggalkan kamar Igor.
“Tuan!” panggil Igor pelan ketika Carlo hampir menutup pintu.
“Ada apa, Igor?” Sang ketua Klan Serigala Merah kembali menoleh.
“Aku hampir lupa untuk mengatakan sesuatu kepada Anda,” ujar Igor dengan raut serius. “Ketika di Palermo, saat terjadi insiden penculikan atas nyonya muda ...." Igor terdiam sejenak, membuat Carlo menaikkan sebelah alis saat menunggu kelanjutan dari ucapan pria itu.
"Ada apa?" tanya Carlo penasaran.
"Saat itu, aku melihat seseorang dari masa lalu,” lanjut Igor dengan sorot mata yang terlihat ragu.
“Seseorang dari masa lalu? Siapa maksudmu?” Calro yang merasa penasara, kemudian mengurungkan niat untuk keluar dari kamar. Dia kembali berjalan mendekat pada tempat tidur Igor.
“Roderyk Lenkov, sahabat dekat mendiang tuan Nikolai. Akan tetapi, sejak peristiwa runtuhnya Uni Soviet, mereka tak lagi terlihat bersama,” jawab Igor sedikit menjelaskan.
__ADS_1
Carlo terbelalak mendengar penuturan orang kepercayaannya tersebut. “Kau mengenal Roderyk Lenkov?” desisnya pelan.
“Ya, Tuan. Kami cukup akrab, karena tuan Lenkov sendiri sering bertamu ke Istana Serigala Merah. Dia bersahabat dengan tuan Nikolai sejak mereka berdua sama-sama menimba ilmu di sekolah militer Kota Moskow,” jelas Igor.
“Oh baiklah. Bagaimana dengan Piotr Rylov. Apakah kau mengenalnya juga?” tanya Carlo lagi.
“Kurasa aku pernah mendengar nama itu. Sepertinya, dia juga merupakan salah satu teman tuan Nikolai. Akan tetapi, aku belum pernah bertemu dengannya sekalipun,” terang Igor.
“Baiklah. Terima kasih, Igor. Beristirahatlah sekarang." Carlo mengangguk. Dia kembali berbalik dan melanjutkan niat untuk keluar. Namun, lagi-lagi langkahnya terhenti pada saat sudah mencapai pintu. “Untuk apa Roderyk Lenkov berada di pesta tuan Marco? Ada di sebelah mana dia?” Carlo kembali berbalik dan menghadap kepada Igor seraya mengernyitkan kening.
“Itulah yang membuatku heran. Dia berada di antara rombongan kolega nyonya muda Miabella. Kalau tidak salah, Roderyk berada di antara pengikut pria yang bernama Vlad Ignashevich,” jawab Igor ragu.
“Vlad Ignashevich,” gumam Carlo. Pikirannya langsung tertuju pada pria tampan berambut pirang, dan juga memiliki warna mata yang sama dengan dirinya. “Baiklah. Aku pergi dulu, Igor," pamit Carlo. Dia lalu menutup pintu kamar Igor dengan terburu-buru.
Tujuan Carlo saat itu adalah bertemu dengan Adriano. Namun, sebelum ke sana dia harus menyusul Miabella yang tengah berganti pakaian di dalam kamar. Bersamaan dengan Carlo yang hendak membuka pintu kamar, saat itu pula Miabella memegangi gagannya.
“Carlo.”
“Ayo ikut aku,” ajak Carlo. Tanpa banyak bicara, pria itu langsung menuntun tangan Miabella menuju kamar Adriano dan juga Mia. Akan tetapi, belum juga merek tiba di tempat yang dituju, Adriano sudah berjalan gagah sambil melingkarkan tangan di pinggang ibunda Miabella tersebut. Suami istri yang selalu terlihat mesra itu sedang berjalan ke arah pasngan muda tadi
“Ayah mertua! Kita harus cepat-cepat pergi ke toko antik. Aku sudah mengetahui alamatnya,” ucap Carlo sebelum Adriano sempat mengatakan sesuatu.
“Tadinya aku juga hendak mengajakmu ke sana,” sahut Adriano.
“Apakah kau juga akan ikut, Bu?” tanya Miabella kepada Mia.
“Ya. Adriano mengajakku. Kebetulan aku baru pertama kali berkunjung ke kota ini,” ujar Mia dengan riang.
“Baiklah kalau begitu. Kita berangkat sekarang,” ajak Carlo. Raut tampan pria itu terlihat sangat serius. Dia lalu mengarahkan Miabella dan keluarganya menuju halaman depan bangunan mewah tersebut. Di sana sudah menunggu satu kendaraan SUV berwarna hitam lengkap dengan sopirnya.
“Bawa kami ke toko Damir Bykov,” suruh Carlo tanpa basa-basi sambil memberitahukan rutenya pada sang sopir. Setelah itu, dia mempersilakan Adriano dan Mia untuk masuk ke dalam mobil. Sedangkan dirinya masuk ke dalam kendaraan paling akhir, setelah Miabella duduk dengan nyaman.
Tak sampai setengah jam, mereka tiba di toko antik yang dimaksud. Carlo mengira bahwa mereka akan langsung pulang setelah mendapatkan barang yang diinginkan. Namun, pada kenyataannya Miabella merengek untuk berjalan-jalan keliling kota dengan alasan ingin menyenangkan Mia. Carlo pun tak punya pilihan selain menuruti keinginan sang istri.
__ADS_1
Tanpa terasa, mereka berjalan-jalan hingga menjelang malam. Carlo memutuskan untuk mengajak istri dan mertuanya makan malam di sebuah restoran terkenal. Dia tak memerlukan reservasi khusus sebab restoran tersebut berada di bawah perlindungan Klan Serigala Merah. Beruntung suasana restoran tak terlalu ramai, sehingga tak sulit bagi Carlo untuk mendapatkan tempat bagi Miabella dan kedua orang tuanya.
“Ivan mengatakan bahwa pemilik restoran ini dulu pernah berutang pada mendiang ayahku. Namun, ayah membebaskan semua tunggakan tersebut,” jelas Carlo tanpa diminta.
“Hm. Aku menyukai suasananya,” ujar Adriano seraya mengedarkan pandangan ke setiap sudut restoran bergaya klasik tersebut.
“Makanan di sini terkenal sangat lezat, Ayah,” ucap Carlo, bersamaan dengan seorang pelayan yang datang sambil membawakan mereka buku menu.
Setelah memilih beberapa menu makanan, Carlo melanjutkan ceritanya tentang makanan khas Rusia. Tentu saja Mia sangat tertarik mendengarnya. Wanita paruh baya itu memiliki kesukaan lebih terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan kuliner dan masakan.
Mereka berempat terus berbincang seru sambil sesekali menyisipkan gurauan, hingga datangnya hidangan yang diletakkan di atas troli makanan dan terlihat sangat elegan. Makan malam pun dimulai, lalu diakhiri dengan suasana yang hangat.
Setelah Carlo membayar semua pesanan, dia mengajak semuanya untuk keluar dari restoran menuju mobil yang telah menunggu di area parkir. Namun, saat berada di pintu keluar, mereka dihadang oleh seorang pria tua yang belum pernah Carlo lihat sebelumnya.
Pria itu mendekatkan wajah dan mulai mengendus-endus badan Carlo.
“Hei!” hardik Miabella sambil menarik tubuh sang suami agar menjauh dari pria yang bersikap aneh tersebut. “Siapa kau!” tanyanya ketus.
“Baumu, Tuan. Kau berbau Kandang Serigala,” ujarnya pelan tanpa memedulikan pertanyaan Miabella.
“Apa maumu, Pak Tua? Tolong Menyingkirlah karena kami hendak lewat,” tolak Carlo dengan nada bicara yang sopan.
“Ah, kau ….” Pria itu menatap lekat Carlo dengan mata berkaca-kaca. “Kau adalah keturunan terakhir Nikolai Volkov.”
“Kau mengenal ayahku?” Carlo mengernyitkan kening.
“Tak ada yang tidak mengenal tuan Nikolai di seluruh penjuru kota ini,” jawab pria tua itu yakin. “Semua sudah pernah merasakan kebaikan dan kedermawanan ayah Anda, Tuan,” imbuhnya.
“Syukurlah,” balas Carlo melemparkan senyuman yang teramat menawan pada pria asing tadi. Dia bermaksud hendak melanjutkan langkahnya menuju area parkir, sambil terus mengarahkan kedua mertua serta Miabella agar segera masuk ke dalam kendaraan.
Akan tetapi, ketika gilirannya untuk masuk, pria tua tak dikenal tadi ternyata terus mengikuti. Dia menarik bagian belakang pakaian Carlo, sehingga Adriano refleks hendak mengeluarkan pistol. Beruntung, Mia segera mencegah hal itu.
“Mulai detik ini kau harus selalu waspada, Tuan," ujar pria tersebut. "Makhluk-makhluk yang selama ini bersembunyi dalam kegelapan itu tak akan berhenti, sampai Anda dan keturunan Volkov habis tak tersisa.”
__ADS_1