The Bodyguard

The Bodyguard
Finding Her


__ADS_3

“Apakah ada kemungkinan bahwa Miabella masih hidup?” tanya Carlo. Dia terus melawan keraguan dalam hati. Bagaimanapun juga, Carlo tak ingin berhenti, sebelum dirinya benar-benar melihat jasad sang istri secara langsung.


“Kemungkinan akan selalu ada. Namun, entah berapa persen,” sahut Ignazio. Kepala polisi tadi mengembuskan napas pelan. “Baiklah. Aku sudah terlalu lama di sini. Sebaiknya aku pamit saja.” Pria yang dulu sempat membantu Adriano dalam mengungkap kasus kematian Matteo de Luca tersebut, kemudian beranjak dari tempat duduknya. Ignazio menyalami Adriano, Marco, dan terakhir Carlo. Setelah itu, dia pun meninggalkan ruang tamu Istana de Luca, dengan diantar oleh Marco selaku tuan rumah.


Carlo terpekur untuk beberapa saat. Begitu juga dengan Mia. Ibunda Miabella tersebut tak tahu harus berkata apa. Mia berkali-kali menyeka air mata yang tak henti membasahi pipi dan sudut bibir. “Apa yang tersisa dari kenanganku bersama Matteo?” racau Mia pelan. Tak berselang lama, tangisnya pun pecah.


Melihat hal itu, Adriano segera merengkuh tubuh sang istri. Dia harus bertindak cepat, agar jangan sampai gangguan kecemasan yang pernah diderita Mia kambuh lagi. Lembut dan hati-hati, Adriano memperlakukan wanita yang sangat dicintainya tersebut. “Tenangkan dirimu, Sayang.” Ayah sambung Miabella itu terus mengelus rambut Mia. Sebisa mungkin, Adriano memberikan rasa nyaman bagi sang istri tercinta.


“Apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Marco yang baru kembali dari mengantar Kepala Polisi Ignazio. Saudara ipar Mia tersebut kembali duduk di kursi yang tadi sempat dia tinggalkan.


“Aku akan berangkt ke Jerman sekarang juga.” Carlo berdiri. Dia bermaksud untuk berlalu meninggalkan ibu serta ayah mertua, yang seketika memandang dengan heran padanya.


“Apa yang akan kau lakukan di Jerman?” tanya Adriano sinis.


Carlo tak segera menjawab. Dia yang tadinya sudah berdiri, kembali duduk. Putra bungsu Nikolai Volkov tersebut terlihat sedang memikirkan sesuatu.


“Jika ada sesuatu yang ingin kau lakukan, maka sebaiknya bicarakan dulu dengan kami. Mari kita berunding, Carlo,” ucap Marco. Dia terlihat sangat berhati-hati dalam berkata. Sang ketua Klan de Luca tersebut, menoleh sejenak kepada Adriano yang masih mendekap Mia. Marco kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Daniella yang sejak tadi hanya terdiam. Kakak pertama Mia itu tampak bingung harus berkata apa.

__ADS_1


Marco memberi isyarat agar Daniella membawa Mia masuk ke kamar. Tanpa harus diperintahkan lewat ucapan, Daniella sudah paham akan maksud sang suami. Wanita yang selalu terlihat bugar dengan riasan dan penampilan khas anak muda tersebut, segera berdiri dan beranjak dari tempat duduknya.


Daniella mendekat kepada Mia yang masih berada dalam dekapan Adriano. “Ayo, Mia. Sebaiknya kita beristirahat di kamar,” ajak ibu dari dua orang putra itu. Daniella membantu Mia berdiri, kemudian memapahnya berjalan menuju ke kamar yang ditempati oleh sang adik.


Sepeninggal Mia dan Daniella, di ruang tamu kini hanya ada tiga pria yang semuanya merupakan pemimpin dari organisasi masing-masing. Adriano sudah kembali pada sikap duduknya yang penuh wibawa. Begitu juga dengan Marco. Perhatiannya tak lepas dari sosok Carlo yang sejak tadi masih terdiam.


“Katakan, apa yang akan kau lakukan dengan pergi ke Jerman? Rencana konyol apa lagi yang sedang kau rancang tanpa sepengetahuan kami?” Pertanyaan Adriano terdengar begitu mengintimidasi di telinga Carlo.


“Ada baiknya kau bisa lebih terbuka kepada kami, Carlo. Siapa tahu, kami dapat memberikan masukan,” saran Marco dengan nada bicara yang terdengar jauh lebih bersahabat. Akan tetapi, Carlo masih terdiam. Dia tampak memijit pelipisnya.


“Ah, tentu saja. Bagi kita kaum pria, mana enak jika berbincang tanpa ditemani rokok.” Marco mengambil satu batang dari dalam kotak rokok dengan merk yang sudah mendunia. Dia menerima pemantik yang baru saja Adriano gunakan. Asap tipis pun mengepul dari mulut kedua pria paruh baya tersebut.


"Apa kau juga mau, Carlo?” tawar Adriano. Sudut kecil hati pria berambut gelap itu sebenarnya merasa tak tega, melihat seseorang yang telah menjadi anak angkatnya berada dalam situasi yang tak mengenakan seperti saat ini. Adriano kembali mengembuskan napas kasar.


“Bicaralah, Carlo.” Adriano menatap lekat sang menantu. “Aku tahu, rasa khawatirmu atas keselamatan Miabella pasti jauh lebih besar dari kami. Aku juga tidak meragukan hal itu.” Adriano mengisap rokok yang diapit oleh telunjuk dan jari tengah. Dia mengepulkan asapnya dengan teratur. “Aku dan Marco hanya tak ingin kau bertindak gegabah lagi,” ucap sang ketua Tigre Nero menambahkan.


“Apa yang Adriano katakan memang benar,” timpal Marco. “Kau tahu seberapa sulitnya mengungkap kasus pembunuhan yang terjadi pada sepupuku, Matteo. Ayah mertuamu yang sebenarnya.” Marco membuang abu rokok di dalam asbak, lalu kembali mengisap gulungan tembakau yang masih tersisa setengah. “Kami dapat memecahkannya. Hal sulit itu bisa berhasil karena adanya kerja sama.”

__ADS_1


“Aku dan Marco memang sudah tua, Carlo. Akan tetapi, itu bukan berarti kami telah kehilangan kemampuan berpikir. Untuk urusan tenaga, aku memang tak akan memaksakan diri. Walaupun sebenarnya aku masih sanggup bertarung denganmu secara normal.” Adriano akhirnya mematikkan sisa rokok yang tinggal sedikit di dalam asbak. Dia duduk sambil mencondongkan tubuh ke depan. Adriano menggosok-gosokkan kedua telapak tangan, tanpa mengalihkan perhatian dari sang menantu.


“Aku sama sekali tidak pernah meragukan kemampuan Anda ataupun Tuan Marco. Aku hanya merasa malu, dan berkewajiban untuk menyelesaikan kekacauan yang telah kutimbulkan. Sejujurnya, diriku tak ingin merepotkan Anda berdua.” Carlo yang sejak tadi terdiam, akhirnya bersuara.


Adriano menggeleng pelan. Dia kembali menegakkan tubuh. Pria itu duduk dengan posisi favorit, yaitu meletakkan kaki kanan di atas paha kiri. Dia sempat memeriksa ponselnya. Entah apa yang pria itu lihat di sana. Tak berselang lama, telepon genggam tadi kembali dirinya letakkan di atas meja.


“Aku mendapat telepon dari Grigori kemarin. Dia telah mendapatkan alamat tempat tinggal Roderyk Lenkov di Jerman. Entah mengapa, rasanya aku ingin pergi ke sana,” ujar Carlo menerangkan.


“Apa yang akan kau dapatkan di sana? Roderyk telah kau habisi di Italia.” Nada bicara Adriano terdengar sangat meragukan.


“Aku tidak peduli dengan yang akan didapat di sana, dan tak akan mengabaikan petunjuk sekecil apapun. Tekadku sudah bulat. Sebelum melihat jasadnya secara langsung, maka kuanggap dia masih hidup. Akan kubawa Miabella kembali.”


🍒🍒🍒


Rekomendasi novel keren. Mampir dan ramaikan, ya.


__ADS_1


__ADS_2