
Miabella dapat menangkap sorot penuh kekhawatiran, dari pelayan barunya itu saat dia dibaringkan di atas brankar oleh para perawat. “Jangan khawatir, Nona. Aku akan menemani Anda di sini. Nona tidak akan sendirian,” ucap Luciella yang bahkan masih memakai seragam pelayannya.
Seutas senyuman yang sangat dipaksakan, tersungging dari bibir indah Miabella. Entah sudah berapa lama, sejak gadis itu tak lagi melakukannya. “Tunggu aku di sini,” pesannya. Nada bicara Miabella terdengar lemah. Selain karena merasa panik, para petugas medis pun telah membawanya masuk ke dalam ruang tindakan. Mereka menutup pintunya rapat-rapat.
Putri Matteo de Luca itu tak pernah sekalipun masuk ke dalam rumah sakit seperti saat ini. Dia begitu tegang, ketika seorang perawat memasang alat pengukur tekanan darah dan detak jantung di lengan kirinya. Setelah itu, seorang perawat lainnya melepas piyama yang melekat di tubuh Miabella, lalu menggantinya dengan pakaian khusus pasien.
Tak berselang lama, seorang dokter jaga berseragam biru datang memeriksa keadaan Miabella sambil berbincang dengan perawat lainnya. “Seseorang yang mengantar dia tadi, mengatakan bahwa nona ini mengalami pendarahan di bagian vital tubuhnya,” jelas perawat itu dengan suara berbisik. Namun, Miabella dapat mendengar apa yang dia katakan dengan jelas.
“Kalau begitu, akan kupanggilkan dokter Dario,” sahut pria yang merupakan dokter jaga tadi, sambil berjalan ke luar ruangan. Beberapa menit kemudian, seorang dokter lain datang dan langsung memerintahkan para perawat untuk mengangkat kedua kaki Miabella dan meletakkannya pada satu pegangan besi yang berlapis busa.
Dokter yang belum Miabella ketahui namanya itu memeriksa dia dengan saksama, membuat Miabella merasa sangat risih. Seumur hidup, hanya Carlo yang baru melihat bagian paling pribadi dari dirinya. Akan tetapi, tentu saja Miabella tak bisa protes, sebab dokter itu hanya melakukan tugas profesinya.
“Apakah Anda dapat mengingat kapan terakhir kali datang bulan, Nyonya?” tanya sang dokter tiba-tiba. Dia juga mengalihkan perhatian sepenuhnya pada wajah Miabella.
“Sekitar lima hari yang lalu,” jawab gadis cantik itu singkat.
“Apakah Anda yakin?” tanya dokter itu lagi dengan intonasi dan raut wajah yang terdengar aneh.
“Tentu saja aku yakin. Pertanyaan bodoh macam apa itu?” gerutu Miabella pelan.
“Ini bukan pertanyaan bodoh, karena Anda sudah mengalami keguguran, Nyonya. Itulah kenapa aku bertanya demikian,” sahut sang dokter. Kalimat singkat yang mampu memporakporandakan hati dan pikiran Miabella saat itu juga.
“Apa? Ke-keguguran?” tanya gadis bermata abu-abu itu terbata. “A-apakah itu artinya aku sedang hamil?” tanya Miabella lagi dengan seluruh tubuh yang mulai gemetar. Miabella sama sekali tak menyangka jika dirinya tengah berbadan dua.
“Kami harus memberikan tindakan secepat mungkin untuk membersihkan rahim Anda,” putus dokter yang tak memedulikan pertanyaan Miabella.
“Bagaimana mungkin aku hamil? Selama ini menstruasiku lancar,” sanggah Miabella dengan nada bicara yang terdengar ragu.
“Semua mungkin saja terjadi, Nyonya. Datang bulan yang Anda alami selama beberapa hari terakhir, kemungkinan besar bukanlah darah menstruasi, melainkan pendarahan yang berasal dari rahim,” jelas dokter itu lagi dengan hati-hati.
__ADS_1
“Ja-jadi, aku benar-benar hamil?” Miabella mengulang kembali pertanyaannya, dengan sorot mata yang dipenuhi rasa tidak percaya.
“Izinkan kami melakukan tindakan untuk membersihkan rahim Anda. Semakin cepat, maka semakin baik,” ujar dokter itu setengah mendesak. Lagi-lagi, Miabella tak mempunyai pilihan.
Miabella mengangguk lemah. Dia membiarkan para petugas medis yang telah berganti personal, untuk melakukan serangkaian persiapan sebelum dilakukan tindakan kuret.
"Apa suami Anda tidak ikut mengantar, Nyonya?" tanya salah seorang perawat yang tengah memberikan obat untuk mengetes reaksi alergi.
Miabella pun meringis ketika merasakan tangannya yang terasa begitu sakit. Saat itulah, dia memiliki kesempatan untuk meneteskan air mata sambil menggeleng pelan. "Dia sedang berada di luar negeri," jawabnya lemah.
"Sayang sekali. Dukungan dari suami sangat dibutuhkan dalam hal seperti sekarang, apalagi jika ini merupakan kehamilan pertama Anda," ujar perawat itu lagi.
Miabella tak memberikan tanggapan lagi. Dia masih merasa terkejut atas kejadian yang terlalu tiba-tiba. Sesaat kemudian, seorang perawat lain memasangkan selang oksigen pada hidungnya. Makin lama, pandangan Miabella semakin berkunang. Tak lama kemudian, gadis itu tak sadarkan diri sepenuhnya.
Beberapa saat telah berlalu. Miabella mulai membuka matanya dengan perlahan. Akan tetapi, rasa kantuk yang begitu kuat masih mendera gadis cantik sang pemilik perkebunan anggur de Luca tersebut. Miabella pun kembali tertidur dengan pulas.
Setelah beberapa jam kemudian, dokter yang menanganinya tadi datang berkunjung ke dalam ruang rawat Miabella. Padahal dia bisa pulang pada hari itu juga setelah proses kuret selesai. Namun, Luciella tak tega melihat keadaan nona muda itu yang tampak lemah.
"Aku masih lemas, Dokter," jawab Miabella dengan suara parau.
"Tidak apa-apa. Itu sangat wajar setelah proses kuret," jelasnya. "Kami dapat memperkirakan janin Anda berusia kurang lebih delapan minggu, Nyonya,” jelas sang dokter lagi membuat Miabella yang masih terhanyut dalam rasa lemas dan kantuk, seketika memaksakan diri untuk membuka mata.
“Delapan minggu, ya?” Miabella menatap dokter itu untuk sesaat sebelum mengarahkan pandangannya pada langit-langit ruangan. Setitik air mata kembali menetes dan membasahi bantal berlapis kain putih yang menjadi penyangga tidurnya. 'Tepat bersamaan dengan perginya Carlo’, batin gadis cantik tersebut.
“Semua akan baik-baik saja, Nyonya. Beristirahatlah,” suruh dokter itu.
"Kapan aku bisa pulang, Dokter?" tanya Miabella dengan suara yang masih terdengar lemah.
“Sebenarnya Anda bisa langsung pulang. Akan tetapi, gadis yang tadi mengantar kemari meminta agar Anda menginap satu malam di sini. Apa Anda sedang menunggu suami untuk datang kemari?" tanya dokter itu memandang Miabella dengan sorot iba.
__ADS_1
"Tidak juga. Suamiku sedang tidak berada di Italia," jawab Miabella pelan.
"Baiklah. Aku akan meminta perawat untuk memanggilkan gadis yang mengantar Anda tadi," ucap sang dokter lagi sebelum dirinya pamit.
"Terima kasih, Dokter," balas Miabella. Dia lalu mengalihkan pandangan ke luar jendela kaca, di mana terlihat langit senja yang mendung. Musim gugur kali ini terasa begitu kelabu bagi dirinya.
Sesaat kemudian, Luciella masuk ke dalam ruangan. Namun, Miabella tak memedulikannya. Angan gadis itu tengah melayang entah ke mana.
“Nona?” panggil Luciella sambil menunggu sampai Miabella menoleh padanya.
“Apakah Anda baik-baik saja?" tanya gadis itu ragu.
Mendengar suara Luciella di sana, Miabella pun tersadar. Gadis itu menoleh dengan tatapannya yang masih sayu.
"Apa Anda baik-baik saja?" Luciella kembali menanyakan hal yang sama.
"Aku tidak apa-apa," sahut Miabella pelan.
“Syukurlah,” ucap gadis muda itu seraya mengembuskan napas lega. Dia lalu merogoh ponsel yang tersimpan di saku seragam pelayan, kemudian menghubungi seseorang. Luciella berjalan sedikit menjauh dari ranjang, ketika panggilannya sudah terjawab. “Tuan Grigori, anda harus mendengar berita ini,” bisiknya sambil berpindah ke sudut ruangan. “Nona Miabella ternyata hamil. Saat ini aku sedang menemaninya di rumah sakit. Dia baru saja mengalami keguguran."
Grigori yang saat itu baru saja melepas jas yang dia kenakan, menjadi sangat terkejut setelah mendengar laporan dari Luciella.
“Jelaskan secara mendetail,” pintanya dengan raut penuh rasa khawatir.
“Tadi pagi nona mengeluh sakit perut, tuan. Kulihat pakaian bagian bawahnya sudah basah oleh darah. Aku langsung membawanya ke rumah sakit dan ternyata dia dinyatakan keguguran. Dokter juga telah selesai melakukan tindakan pada nona muda,” papar Luciella panjang lebar.
Grigori mengembuskan napas panjang setelah mengakhiri panggilannya. Ini merupakan berita yang sangat buruk. Sebisa mungkin, Carlo tak boleh tahu jika kekasihnya hamil dan mengalami keguguran, sebab hal itu akan memengaruhi konsentrasi sang penerus tahta Klan Serigala Merah. Grigori terlalu takut jika rencana yang telah disusun dengan susah payah akan gagal, seandainya Carlo tak bisa fokus. Dia harus meminimalisir segala risiko, termasuk menyembunyikan berita buruk tentang kondisi Miabella.
Sementara itu, jauh di kota Moskow. Carlo tengah menikmati makan malam bersama Ivan dan juga Igor. Namun, sejak tadi pagi dirinya merasa ada sesuatu yang membuat dia tak nyaman. Akan tetapi, Carlo tak dapat menafsirkan secara jelas perasaan aneh tersebut. “Kenapa ini?” pikir Carlo. Dia meletakkan sendok, lalu menggeser piringnya jauh-jauh.
__ADS_1
“Ada apa, Tuan Muda? Kenapa Anda tidak melanjutkan santap malam? Apa makanannya kurang enak?” tanya Igor keheranan.
“Entahlah. Lidahku tiba-tiba terasa amat pahit. Padahal sebelumnya, tak ada masalah dengan masakan Isadora,” gumam Carlo ragu. "Seharian ini aku juga merasa seperti ...." Carlo tak melanjutkan kata-katanya. Dia pun berlalu dari meja makan.