The Bodyguard

The Bodyguard
Embattled


__ADS_3

Carlo terus mengikuti titik merah yang muncul di permukaan layar jam tangannya. Titik itu berhenti tepat di tempat dia merangkak saat ini. Pria rupawan bermata biru itu pun mendongak. Lewat sinyal yang diterima tadi, dia dapat memperkirakan bahwa kamar Roderyk berada di atas tempat dia berada.


Sambil terus menggigit kantong hitam berisi pakaiannya, Carlo bergerak mengikuti lorong lubang ventilasi menuju ke atas. Dia berhenti di ujung lorong yang tertutup oleh pintu besi berjeruji. Carlo kemudian mengambil posisi nyaman dengan duduk bersila. Sayup-sayup dari luar lubang ventilasi tadi, Carlo mendengar percakapan antara dua orang dalam Bahasa Italia.


“Dari mana kau dapatkan benda kecil itu?” tanya seorang pria yang Carlo perkirakan sebagai milik Roderyk Lenkov.


“Aku tidak tahu, Tuan. Aku hanya membawa kain-kain sprei bersih ini dari laundry,” jawab seorang wanita yang Carlo ingat merupakan suara milik Adelaide.


“Siapa saja yang bekerja di laundry pada jam sekarang?” Roderyk mengajukan satu pertanyaan lagi. Suaranya terdengar tak bersahabat sama sekali.


“A-aku tidak ingat, Tuan. Aku ….” Suara wanita itu terputus. Selanjutnya yang terdengar hanya erangan kesakitan dari si wanita.


“Aku paling membenci pengkhianat. Kau tahu bukan apa hukuman untuk seorang pengkhianat!” geram Roderyk, diiringi suara rintihan yang semakin kencang.


Merasa si wanita berada dalam bahaya, Carlo memutuskan untuk membuka kantong hitam tadi, kemudian mengeluarkan topeng. Pria itu segera memakainya, lalu menendang penutup ventilasi hingga terbuka. Pintu itu bahkan terlempar keras hingga mengenai punggung Roderyk yang tengah mencekik Adelaide.


Roderyk terkejut. Pria keji tadi segera berbalik dengan mata terbelalak. “Kau! Siapa kau?” sentaknya. Dia melepaskan cengkeraman dari leher wanita malang tadi. Roderyk membungkuk agar dapat melihat dengan jelas sosok yang berada di dalam lubang.


“Benda-benda kecil itu adalah milikku,” jawab Carlo sembari berusaha keluar dari lubang ventilasi. Topeng hitam yang dia kenakan telah berhasil menyembunyikan wajah tampannya, sehingga tak mudah dikenali.


Roderyk memicingkan mata. Dia memperhatikan Carlo yang telah berdiri tegak di hadapannya. Roderyk mengamati Carlo mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Sayang sekali, aku tak membawa senjata waktu masuk kemari. Seandainya aku menggenggam pistol kesayanganku, maka dapat kupastikan bahwa kepalamu pasti sudah berlubang dari sebelum kau berhasil keluar lewat lorong ventilasi itu!” ujarnya dengan sorot bengis.


“Itu artinya aku termasuk beruntung, Tuan Lenkov,” sahut Carlo masih terlihat tenang. Dia berjalan mendekat kepada pria paruh baya tersebut dengan tanpa beban sama sekali. Namun, Carlo masih tetap menjaga kewaspadaannya. Walaupun Roderyk mengatakan bahwa dirinya tak bersenjata, itu bukan berarti tak ada ancaman lain bagi sang ketua Klan Serigala Merah tersebut.

__ADS_1


Sementara Redoryk segera mengepalkan tangan sambil mengambil ancang-ancang untuk menyerang. “Katakan! Apa tujuanmu memasuki kamar pribadiku?” geramnya. Saat itu, Carlo melihat sorot yang teramat buas, bagaikan serigala kelaparan saat melihat mangsa empuk di depan mata. Akan tetapi, Carlo tak segera menjawab. Dia menatap sesaat kepada Adelaide, seolah memberikan isyarat agar pelayan muda itu keluar dari kamar.


“Keluarlah, Pelayan! Jangan sampai aku berubah pikiran!” sentak Roderyk yang langsung dapat menangkap arti bahasa tubuh Carlo dari balik topeng yang suami Miabella itu kenakan.


Adelaide pun bergegas membalikkan badan. Dia berlari secepat mungkin dari ruangan berpencahayaan temaram tadi. Dirinya tak ingin mendapat masalah lain, dengan menjadi pelanduk yang mati di antara pertempuran dua ekor gajah.


“Sekarang, katakan apa maumu!” Nada bicara Roderyk masih mencerminkan seberapa bengis karakter sahabat lama dari mendiang Nikolai Volkov tersebut. “Apa yang kau inginkan? Uang? Permata? Aku tak yakin jika kau hanyalah orang iseng yang sudah bosan hidup dan berharap mati di tanganku?” cecar Roderyk kecing.


“Aku tak ingin satu pun dari semua pilihan yang Anda sebutkan tadi, Tuan Lenkov,” jawab Carlo masih dengan sikap serta intonasi yang tenang.


“Jika bukan itu semua, lalu apa yang kau inginkan? Jangan membuang waktuku! Kau tahu bahwa di sini ada kamera pengawas! Dalam waktu kurang dari lima menit, para pengawalku akan mengetahui keberadaan penyusup. Mereka pasti menghabisimu tanpa ampun!” ancam Roderyk. Iris matanya berkilat tajam ke arah Carlo. Roderyk seperti tak tahan lagi untuk segera menghabisi pria muda di hadapannya.


“Baiklah. Namun, sebelum itu izinkan aku bertanya," ucap Carlo lagi yang terlihat tak gentar sama sekali. Dia membalas tatapan tajam Roderyk padanya. "Apa yang terjadi pada tanggal 19 Juni 1980 di Ruangan Hitam yang berada dalam Istana Serigala Merah, Tuan Roderyk Lenkov?” Satu pertanyaan dari Carlo yang membuat Roderyk seketika tersentak. Raut wajahnya pun berubah pias.


“Siapa pun aku, itu bukan ….” Belum sempat Carlo menyelesaikan kata-katanya. Pria itu segera menoleh ke pintu. Beberapa pengawal yang telah mengetahui ada sebuah kericuhan di kamar sang majikan, merangsak masuk dengan membawa senjata tajam, kemudian menodongkannya kepada Carlo.


Akan tetapi, sang ketua Klan Serigala Merah telah bersiap dalam sikap waspada. Dia mengambil sebuah lukisan dari dinding, lalu melemparkannya pada beberapa pengawal tadi. Setidaknya, benda itu dapat sedikit mengalihkan konsentrasi mereka yang tengah mengarahkan senjata.


Dalam situasi demikian, Carlo bergerak cepat menyerang salah seorang pengawal yang paling dekat dengannya. Bukan hal sulit bagi menantu Adriano tersebut untuk melumpuhkan pria bersenjata tadi. Kini, sebuah pisau belati telah berhasil dia rebut.


“Bodoh! Aku ingin penyusup itu hidup-hidup. Seret dia ke Ruang Kematian! Satu hal lagi, jangan sampai tamu-tamuku merasa terganggu karena ulah cecunguk tengik ini!” titah Roderyk. Setelah berpesan demikian, pria itu keluar dari kamar.


Roderyk sudah sangat percaya diri bahwa anak buahnya akan dapat menangkap Carlo dan membawa putra bungsu Nikolai Volkov itu ke Ruang Kematian. Ruang Kematian sendiri merupakan sebuah kamar khusus, di mana terdapat banyak peralatan untuk menyiksa orang-orang yang dianggap bersalah oleh Roderyk.

__ADS_1


Setelah Roderyk berlalu, sisa pengawal yang lain segera melancarkan serangan kepada Carlo secara bertubi-tubi. Carlo yang dulu terbiasa berkelahi mengandalkan ilmu bela diri, tak merasa kesulitan untuk menghadapi mereka yang berjumlah jauh lebih banyak darinya. Dia menggunakan apapun ornamen yang terdapat di dalam kamar sebagai senjata, selain pisau belati yang dirinya rebut tadi.


Beberapa pengawal telah berhasil ditaklukan oleh Carlo. Akan tetapi, jumlah mereka seakan tak habis-habis. Carlo harus segera keluar dari kamar itu. Ekor matanya tertuju pada pintu ventilasi udara. Namun, salah seorang pegawal dengan cerdik segera menutup lubang tersebut. Mau tak mau, Carlo pun memilih untuk melarikan diri melalui pintu utama.


Sambil terus menghadapi para pengawal Roderyk satu per satu, Carlo bergerak mendekat ke pintu. Dia menangkis setiap terjangan yang diarahkan padanya, dan tak jarang melakukan serangan balasan. Namun, beruntung karena Carlo akhirnya dapat keluar dari dalam kamar tadi meski dengan susah payah. Jumlah orang yang dia hadapi tak sebanding dengan dirinya yang hanya seorang diri.


Carlo telah berhasil keluar. Dia kini berada di koridor. Akan tetapi, ancaman belum juga selesai. Pengawal lain kembali berdatangan, sehingga menambah sisa dari yang telah Carlo kalahkan. Tak hanya itu, dari arah belakang pun sudah berdatangan beberapa pengawal lain yang siap menyerang. Namun, sesuai perintah Roderyk tadi. Para pengawal itu tak menggunakan senajata api, karena harus menangkap Carlo hidup-hidup.


“Ah, sial!” dengus Carlo. Sekuat apapun tenaga yang dia miliki, tetapi tetap saja pria itu merasa kewalahan. “Cara mia!”desis Carlo penuh penekanan. Rupanya ada sebuah benda kecil yang terpasang di pakaian yang dia kenakan. Benda itu terhubung langsung pada earpiece yang dikenakan Miabella dan tersembunyi di balik rambut yang menutupi telinga sebelah kiri wanita cantik tersebut


Miabella segera dapat menangkap suara sang suami. Dia yang tengah berbincang dengan Vlad, sudah bisa menyimpulkan bahwa Carlo sedang berada dalam masalah. Wanita muda itu pun membuat dirinya tetap terlihat tenang. “Maaf, Vlad. Aku permisi dulu,” ucap wanita cantik tersebut. Dia sudah membalikkan badan. Miabella bermaksud untuk pergi dari hadapan pria berambut pirang tadi.


Namun, ternyata tak semudah itu. Tiba-tiba, Vlad meraih tangan Miabella sehingga membuat langkah istri Carlo tersebut menjadi tertahan. “Boleh kutahu kau hendak ke mana, Bella?” tanya Vlad seraya menaikkan sebelah alis. Tatap mata pria bermata biru itu pun terlihat sangat aneh, membuat Miabella merasakan sesuatu yang tak biasa. Terlebih, saat Vlad menerima telepon dari seseorang. Pria tampan berambut gondrong itu semakin erat mencengkeram pergelangan tangan Miabella.


Roderyk sendiri kini sedang dalam perjalanan menuju ruangan rahasia, sambil menghubungi Vlad yang masih berada di aula pesta. “Tutup semua akses keluar masuk mansion, Vlad! Ada penyusup yang berhasil masuk kemari. Kemungkinan besar dia adalah anggota Serigala Merah!” titahnya.


“Benarkah itu, ayah?” Ekspresi Vlad yang awalnya ceria, berubah menegang. Erat dia menempelkan telepon genggam di telinga, sambil mengangguk sesekali. Sorot matanya tak lepas dari wajah cantik Miabella. “Nona de Luca, istri dari Karl Volkov juga masih berada di sini bersamaku,” lanjut Vlad.


“Tahan dia! Bawa dia ke ruang bawah tanah dan jangan sampai melarikan diri!” titah Roderyk sebelum mengakhiri panggilannya.


🍒🍒🍒


Hanya dua kata untuk novel yang satu ini. Rekomended sekali.

__ADS_1



__ADS_2