
Miabella masih terus mencoba melepaskan diri dari kungkungan Vlad. Akan tetapi, pria asal Rusia itu seperti sudah kerasukan setan. Vlad yang selama ini dapat menahan serta mengendalikan diri, kali ini tak memedulikan lagi segala wibawa yang selalu dia jaga. Pria tampan berambut pirang tersebut, justru mencium Miabella dengan semakin dalam.
Sementara Miabella yang sejak tadi tak menyerah untuk terus melepaskan diri, makin lama perlawanannya kian melemah. Dia tak memiliki tenaga lagi untuk melawan, karena Vlad kini semakin kuat menahan tubuhnya.
Vlad tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia terus melu•mat bibir wanita yang selama ini membuat dirinya merasa begitu penasaran, bahkan bisa dibilang sangat tergila-gila. Bagi pria dengan gaya rambut man bun tersebut, sebuah ciuman saja sudah lebih dari cukup. Vlad tak ingin mengambil kesempatan dalam situasi seperti itu.
Namun, Vlad juga seakan hendak memuaskan segala rasa penasarannya. Dia mencium Miabella cukup lama, meskipun wanita berambut cokelat tersebut tak membalas apa yang dilakukannya.
Beberapa saat berlalu. Vlad yang sudah merasa puas, akhirnya bangkit dari atas badan Miabella. Dia memandangi tubuh indah berbalut pakaian seadanya yang masih terbaring di ranjang. Pria asal Rusia tersebut melawan tatapan tajam Miabella dengan sorot yang sulit diartikan.
Tak lama kemudian, Vlad menyunggingkan senyuman samar seraya mengusap bibir bawahnya menggunakan ibu jari. Tanpa berkata apa-apa lagi, anak angkat Roderyk Lenkov tersebut berlalu dari sana. Meninggalkan Miabella yang masih dalam posisi telentang di kasur.
“Brengsek kau, Vlad!” geram Miabella pelan. Dia memalingkan wajah ke arah jendela, Wanita malang itu kembali menatap langit yang masih belum berubah warna.
Tak berselang lama, terdengar ketukan di pintu. Seorang wanita paruh baya masuk dengan tubuh sedikit membungkuk sebagai tanda hormat. Dia membawa peralatan kebersihan. “Permisi, Nona. Tuan Ignashevich menyuruhku untuk merapikan kamar ini,” ucapnya sopan dalam Bahasa Jerman.
Akan tetapi, Miabella tak menanggapi. Lagi pula, dia tak mengerti apa yang wanita itu katakan. Selang beberapa saat, Miabella kemudian bangkit. Dia berjalan mendekat kepada wanita tadi. Miabella menepuk punggung wanita yang tengah menyapu lantai tersebut. Karena dia tak bisa berbahasa Jerman, maka Miabella memutuskan untuk mencoba berkomunikasi dengan pelayan itu menggunakan Bahasa Inggris. Berharap wanita itu memahami ucapannya.
“Where is this place?” tanya Miabella pelan.
Pelayan itu terdiam sesaat, kemudian menggeleng. Entah karena dia tak mengerti, atau memang ada sesuatu yang dirinya tutupi.
Miabella sendiri tak ingin berputus asa. Dia menggerakkan tangannya, menggambarkan sebuah telepon genggam.
“Telefon? Möchten Sie das Telefon ausleihen? (Telepon? Apa kau ingin meminjam telepon?)” terka pelayan itu dalam bahasa Jerman.
“Yes. Phone.” Miabella menempelkan ibu jari di telinga dan kelingking di bibir, sebagai isyarat bahwa dirinya ingin menelepon.
Wanita itu menggeleng lagi sambil menjawab dalam Bahasa Jerman. Meskipun Miabella tak paham maksudnya, tapi dia dapat mengerti bahwa wanita itu menolak permintaannya.
“Jangan khawatir. Aku tak akan mengatakannya pada Vlad,” ujar Miabella sambil menggunakan isyarat tangan.
Pelayan itu mulai ragu. Berkali-kali dia menoleh ke arah pintu, kemudian menggeleng lagi.
Miabella pun mulai putus asa. Rasa lelah, sedih, lapar dan khawatir membuatnya mulai menangis. Dia lalu berjalan pelan menjauh dari si pelayan yang masih menyelesaikan tugasnya. Wanita muda berambut coklat itu menyandarkan lengan pada dinding sebelah jendela kaca tadi. Telunjuk lentiknya menyentuh kaca berhias kusen kayu, kemudian bergerak membentuk sebuah tulisan. Carlo. Tatapan Miabella kemudian menerawang pada air danau yang tenang.
__ADS_1
“Es gibt einen Weg, der um den See herumführt. Die Straße führt Sie zum nächsten Dorf (Ada jalan setapak yang memutari danau. Jalan itu akan membawamu ke desa terdekat),” ucap pelayan tadi.
Miabella segera menoleh, meskipun dia tak memahami artinya. Dia menggeleng dengan pipi yang basah oleh air mata.
“There … road …,” ucap wanita itu terbata, menggunakan bahasa Inggris. “Village,” telunjuknya mengarah pada ilalang yang memenuhi tepian danau.
“Apa ada jalan di balik ilalang itu?” tanya Miabella hati-hati dalam Bahasa Inggris.
“Yes,” jawab wanita itu mengangguk.
“Village?” tanya Miabella. “Apa nama desanya?”
Pelayan tersebut kembali terdiam. Mata birunya terus memandangi wajah cantik Miabella. Dia seakan tengah menimbang jawaban apa yang akan dirinya berikan kepada tawanan sang majikan.
“Rieseby,” jawab wanita itu pada akhirnya.
“Bolehkah aku meminjam telepon genggammu? Kumohon,” pinta Miabella setengah mengiba. Tangannya kembali membuat gerakan sebagai isyarat, menggambarkan seseorang yang sedang menelepon. Miabella berharap wanita itu mengerti apa yang dia katakan.
“Nein, tut mir leid (Tidak, maafkan saya).” Pelayan itu menggeleng dengan sorot penuh sesal. Dia meninggalkan kamar dengan terburu-buru. Pelayan itu juga menutup pintu kamar dan menguncinya rapat-rapat.
Sambil mengembuskan napas pelan, Miabella membaringkan tubuhnya yang kian lemah di ranjang kecil tadi. Ranjang yang menjadi saksi bisu ciuman paksa dari seorang Vlad Ignashevich padanya.
Istri sang ketua klan Serigala Merah itu kembali menangis. Miabella begitu marah pada diri sendiri yang terlalu lemah. Ini seperti bukan dirinya.
“Carlo, temukan aku. Kumohon,” bisiknya di sela isakan. “Apa yang harus kulakukan?” Miabella bertanya pada diri sendiri. Akan tetapi, pertanyaan itu kemudian memunculkan sebuah ide cemerlang di dalam benaknya.
Sejak pertama kali Vlad membawanya ke tempat terpencil itu, Miabella sudah menghitung banyaknya hari yang telah dilewati. Dua puluh tujuh hari dia habiskan berdiam diri. Selama itu pula, tiap malam Vlad memeriksa keadaannya sebelum beristirahat.
Miabella selalu memperhatikan Vlad yang selalu membawa kunci kamar berbentuk manual. Setiap kali pria itu selesai membuka kunci, Vlad menyimpan di saku celana sebelah kiri.
Seperti malam itu, ketika terangnya cahaya matahari sudah berganti dengan penerangan lampu bohlam. Vlad kembali masuk ke kamar untuk memeriksa keadaan Miabella, sambil membawa makan malam untuk wanita cantik tersebut.
“Untuk malam ini, aku terpaksa memaksamu makan, Bella. Aku tidak ingin kau mati sia-sia karena kelaparan di tempat ini. Tujuanku membawamu pergi adalah demi menyelamatkanmu. Namun, kau sendiri yang seolah ingin membunuh dirimu secara perlahan,” ucap Vlad terdengar kecewa.
Tanpa canggung, Vlad menarik satu kursi hingga duduk berhadapan dengan Miabella. Tangan kanannya memegang piring yang penuh dengan daging steak beraroma lezat, dan sangat menggugah selera. Vlad lalu meletakkan piring tadi di pangkuannya.
__ADS_1
Lihai jemarinya memotong daging tebal tersebut, lalu menusuknya dengan garpu. Perlahan dan hati-hati, Vlad mengarahkan potongan daging tersebut ke depan mulut Miabella yang masih tertutup rapat. “Kumohon. Makanlah. Satu suapan saja,” pintanya.
Miabella menatap tajam wajah tampan Vlad, pria yang telah mencuri ciuman darinya. Dia membuka sedikit mulut, lalu menerima suapan tadi. Saat itu, Miabella memilih untuk terus melahap makanan sampai habis. Dia juga tak menolak, ketika Vlad meminumkan segelas air. Miabella meneguknya sampai habis. “Terima kasih,” ucap wanita muda itu.
Vlad sedikit terkejut. Tak biasanya Miabella bersikap semanis itu. Akan tetapi, pria tersebut merasa begitu bahagia atas perubahan tersebut. “Seharusnya kau seperti ini sejak awal, Bella. Kau tidak harus kelaparan,” ucap Vlad sambil tersenyum.
“Kenapa kau ingin menolongku? Seharusnya kau mempermudah urusan ayah angkatmu dengan menembak mati diriku di mansion itu,” ujar Miabella datar.
“Kau pasti sudah tahu alasan kenapa aku tidak bisa membunuhmu,” jawab Vlad beberapa saat kemudian.
“Tidak! Aku tidak tahu jika kau tak mengatakan apapun,” sahut Miabella masih dengan nada bicara datar dan dingin.
“Itu karena … aku mencintaimu,” ungkap Vlad pada akhirnya. “Aku telah jatuh hati padamu sejak pertama kita bertemu.” Mata biru Vlad memandang teduh dan penuh cinta pada Miabella.
“Cinta?” Miabella tertawa sinis, lalu memalingkan muka.
“Aku memang bodoh dan gila. Aku sepenuhnya sadar bahwa diriku tidak akan pernah bisa memilikimu. Akan tetapi, aku benar-benar tak sanggup jika ada yang berusaha mencelakaimu, meskipun itu adalah ayahku sendiri,” tegas Vlad.
Suasana malam yang syahdu, penerangan yang temaram membuat pria itu sedikit terlena. Tanpa sadar, Vlad semakin mendekatkan dirinya pada Miabella. Bibir tipisnya bahkan sudah bersentuhan dengan bibir ranum wanita yang sudah berstatus sebagai seorang istri dari pria lain. Anehnya, Miabella juga terkesan tidak menolak. Dia seolah membiarkan, saat Vlad menciumnya dengan hangat.
Lama kelamaan, ciuman itu semakin memanas. Vlad bahkan kembali merebahkan tubuh indah Miabella di ranjang. Namun, dia sempat melepaskan ciumannya, dan terheran-heran melihat sikap Miabella yang cenderung pasrah. “Kenapa kau tak menolak?” tanyanya curiga.
“Lakukan apapun yang ingin kau lakukan. Aku sudah tak bisa lagi menghindar darimu.” Suara Miabella terdengar begitu lembut dan menggoda. Membuat hasrat Vlad semakin memuncak. Terlebih saat itu, tangan Miabella sudah bergerak melingkari leher dan memaksa pria itu untuk semakin mendekatkan dirinya.
Vlad kehilangan akal sehatnya. Dia melanjutkan luma•tan penuh gairah yang dibalas tak kalah panas oleh Miabella. Tangannya bergerak semakin liar. Begitu pula tangan Miabella.
Tanpa Vlad sadari, tangan Miabella bergerak hanya untuk satu tujuan, yaitu mengambil kunci kamar yang tersembunyi di saku celana sebelah kanan. Setelah Miabella berhasil mendapatkan kunci itu, dia segera menghentikan ciuman, lalu menendang area inti Vlad sekuat tenaga menggunakan lutut
Vlad memekik sambil mengerang kesakitan. Dia terguling dan terjatuh dari tepi ranjang sambil terus memegangi area intinya dengan kedua tangan.
Melihat kesempatan besar itu, Miabella tak tinggal diam. Dia meraih pisau steak dari atas piring yang kosong, lalu menancapkannya ke dada Vlad. Tak ingin membuang waktu, Miabella melompati tubuh tegap Vlad yang terkapar di atas lantai. Dia memutar kunci dengan terburu-buru, lalu membuka pintu lebar-lebar. Secepat kilat, Miabella berlari keluar dan menuruni tangga. Tak dipedulikannya suara rintihan Vlad yang memilukan.
🍒🍒🍒
Satu lagi rekomendasi novel keren.
__ADS_1