The Bodyguard

The Bodyguard
Bad Dream


__ADS_3

Carlo memaksakan diri untuk memejamkan mata pada malam itu. Dia harus cukup beristirahat, karena besok merupakan hari besar baginya. Carlo akan menemui Boris dan juga Fyodor Vasiliev. Jika pertemuan mereka berhasil dan dapat menemukan kata sepakat, maka akan menjadi jauh lebih mudah bagi dia untuk mendapat dukungan dari pemerintah. Selain itu, dirinya juga tak akan terlalu kesulitan dalam menghancurkan Viktor. Kekuasaan pun akan segera kembali ke tangannya.


Akan tetapi, saat matanya mulai terpejam, dalam benak pria itu kembali muncul bayangan sosok Miabella. Carlo pun kembali terjaga. “Astaga.” Pria itu mengusap wajahnya kasar, lalu berganti posisi. Pada awalnya dia tidur dalam posisi telentang. Kini, dia mengubahnya jadi miring ke kanan. Sebisa mungkin Carlo mengalihkan pikiran dari bayangan cantik Miabella yang terus menggoda, dan membuat dirinya menjadi gelisah.


Namun, makin pria itu berusaha, ternyata kilasan-kilasan tentang Miabella justru datang semakin banyak dalam benaknya. Tubuh molek serta wajah cantik yang pernah dia nikmati beberapa saat saja, dari gadis yang membuatnya tergila-gila tersebut sangat sulit untuk dia singkirkan. Aroma tubuh si gadis pun seakan jelas tercium olehnya. “Bella,” desah Carlo pelan.


Sesaat kemudian, pria tampan tersebut menarik napas dan mengembuskannya perlahan. Hal itu Carlo lakukan berulang kali, hingga akhirnya dia dapat kembali memejamkan mata dan tertidur.


Akan tetapi, dalam mimpi pun Carlo kembali bertemu dengan Miabella. Dia melihat putri kandung Matteo de Luca itu berlari melintasi padang rumput. Sedangkan putra mahkota Klan Serigala Merah itu mengejar sang kekasih. Sedikit lagi, tangan Carlo dapat menggapai tubuh ramping itu ketika sesosok pria lain tiba-tiba muncul. Pria itu menyambut serta mendekap Miabella dari depan. Si pria juga memiliki mata biru yang sama dengan dirinya. Dia merengkuh Miabella, mengecup bibir, lalu membawanya pergi.


Pada awalnya, Carlo hanya berdiri tertegun menyaksikan itu semua. “Bella!” Sekuat tenaga Carlo berusaha menggapai gadis itu, tapi tak berhasil. Miabella semakin menjauh, lalu menghilang ditelan kabut putih yang tiba-tiba muncul dan membuat gadis itu tak terlihat sama sekali.


“Bella!” Carlo berteriak lagi dengan tangan terulur dan berusaha menggapai sesuatu. Akan tetapi, bukannya berhasil menangkap sosok Miabella, dia justru malah terbangun. Dengan peluh bercucuran, pria rupawan tersebut segera duduk di atas ranjang. Carlo terpekur untuk beberapa saat, hingga terdengar ketukan di pintu kamar.


“Masuklah!” sahut Carlo sudah dapat menebak, bahwa yang datang dan mengetuk pintu tadi adalah Igor.


Apa yang Carlo duga pun benar adanya. Tak berselang lama, Igor muncul dengan membawa senyuman hangat di penghujung musim panas itu. Dia sudah terlihat rapi. Pria berambut cokelat tersebut kemudian masuk, lalu berjalan mendekat kepada Carlo. “Tuan muda, sudah saatnya Anda untuk bersiap-siap,” ucapnya dengan sopan.


“Jam berapa sekarang?” Carlo mengacak-acak rambutnya. Dia menopang kepala dengan kedua tangan yang bertumpu pada siku, dan diletakkan di atas lutut yang sengaja dilipat.


“Sekarang sudah hampir jam sepuluh pagi, Tuan. Kita harus bersiap-siap terlebih dahulu, sebelum berangkat ke Moskow. Anda tidak lupa bukan dengan jadwal pertemuan nanti malam bersama Boris dan Fyodor Vasiliev?" jelas Igor kembali mengingatkan.

__ADS_1


“Tentu saja tidak. Ini adalah saat-saat yang aku tunggu," sahut Carlo. "Baiklah. Aku akan bersiap-siap dulu sebentar.” Carlo bergegas turun dari ranjang. Seperti biasa, dia hanya mengenakan celana jeans dan bertelanjang dada. Tato di seluruh tubuhnya pun terekspos dengan sempurna.


Igor yang melihat hal itu hanya tersenyum. "Sejak kapan Anda mulai merajah tubuh dengan tato sebanyak itu, Tuan muda?" tanyanya.


Carlo yang baru mengenakan kaos hitam polos miliknya, segera menoleh. "Sejak usia dua puluh tahun. Ini adalah tato pertamaku," tunjuk Carlo pada sebuah tulisan berbahasa Italia yang ada di pinggang sebelah kanan. "Ini merupakan filosofi kuno. Miabella yang menyarankan agar aku ...." Pria itu pun terdiam.


"Miabella. Nama yang sangat indah," balas Igor.


"Ya. Seindah pemiliknya," sahut Carlo dengan sorot mata yang tampak sendu. Namun, sesaat kemudian dia segera menepiskan rasa itu. Tanpa banyak bicara, Carlo bergegas masuk ke kamar mandi untuk membasuh wajah agar dirinya menjadi semakin segar. Sementara Igor masih terpaku di tempat dia berdiri. Sebuah senyuman kecil terlukis di sudut bibir pria yang memilih untuk melajang, pada sepanjang usianya tersebut.


Tak berselang lama, Carlo sudah kembali dari kamar mandi. Dia tampak jauh lebih segar dan berseri. Dilihatnya Igor masih setia menunggu di sana. "Jam berapa kita akan bertemu dengan mereka?" tanya Carlo sambil duduk di ujung ranjang sambil mengenakan sepatunya.


"Walaupun Fyodor berani menjamin kemanan Anda, tapi Grigori memutuskan agar Anda bertemu dengan Boris dan Fyodor pada malam hari saja. Kita akan berangkat ke sana menggunakan jadwal penerbangan terakhir," jelas Igor terus mengikuti gerak sang tuan muda dengan tatap mata yang dipenuhi rasa kagum dan bangga.


"Penerbangan terakhir pada pukul dua puluh kurang sepuluh menit, Tuan. Masih ada beberapa jam lagi untuk mempersiapkan semuanya. Grigori akan memberikan sedikit arahan kepada Anda, sebelum melakukan pertemuan dengan mereka," jelas Igor lagi.


"Baiklah. Di mana dia sekarang?" Carlo melangkah ke dekat pintu. Sigap, Igor segera membukakan untuk dirinya. Hal itu membuat Carlo merasa tak nyaman. "Tidak perlu berlebihan. Aku bisa melakukannya sendiri," ujar Carlo dengan sikap yang terlihat sangat tenang.


"Senang bisa melayani Anda, Tuan," balas Igor sambil mengangguk sopan. Dia lalu mengikuti Carlo keluar kamar.


"Bukannya apa-apa. Aku hanya tidak terbiasa dengan perlakuan seperti ini. Seumur hidup, aku selalu melakukan segala hal sendirian. Kau pasti belum tahu bahwa aku pandai memasak," terang Carlo sambil terus melangkah dan mulai menuruni undakan anak tangga.

__ADS_1


"Benarkah itu?" Igor terdengar tak percaya.


"Kapan-kapan akan kubuatkan untukmu. Kuharap kau menyukai masakan Italia," sahut Carlo yang terlihat sangat gagah ketika dirinya berjalan.


"Makanan Italia sangat mendunia. Aku rasa, hampir setiap orang menyukainya," balas Igor. Mereka langsung menuju ke ruang makan. Di lantai bawah, Carlo berpapasan dengan beberapa orang yang merupakan penyewa kamar. Mereka sepertinya merupakan para turis asing. Igor sendiri sudah menyuruh salah seorang karyawan di sana untuk menggantikan tugasnya.


Di ruang makan yang berukuran tidak seberapa luas, Grigori dan Ivan sudah menunggu. Kedua pria itu tengah berbincang dengan menggunakan bahasa Rusia. Namun, mereka segera menghentikan obrolan, ketika melihat kehadiran Carlo beserta Igor.


"Buon giorno, Tuan," sapa Grigori hangat.


"Kau sudah sangat fasih berbahasa Italia, Grigori." Igor menanggapi sapaan sahabat lamanya kepada Carlo, meskipun dia tidak paham apa artinya.


"Italia menjadi rumah kedua bagiku. Rasanya sangat keterlaluan jika sampai tak bisa bicara dalam bahasa negara itu," balas Grigori. Dia mempersilakan Carlo untuk duduk. "Aku ingin berbicara dengan Anda," bisik Grigori.


"Kau tak perlu berbisik-bisik. Mereka tak memahami apa yang kita bicarakan," balas Carlo yang akan segera memulai sarapan. "Apa kalian tidak makan?" tanya Carlo heran. Dia lupa jika saat itu sudah pukul sepuluh lebih.


"Anda bangun terlalu siang, Tuan," sahut Ivan sambil mengulum senyumnya.


Carlo pun hanya tersenyum saat menanggapi apa yang Ivan ucapkan. Sambil menikmati makanan yang telah dihidangkan untuknya, pria itu kembali mengarahkan perhatian kepada Grigori. "Apa yang terjadi padanya?"


"Informanku mengatakan bahwa nona muda bersitegang dengan kedua orang tuanya, karena kepergian Anda. Namun, saat ini mereka tengah berada di Palermo untuk menghadiri pesta yang diadakan oleh Marco de Luca," tutur Grigori.

__ADS_1


"Apa dia baik-baik saja?" Carlo terdiam sejenak. Pria itu tampak khawatir. "Miabella bukan tipe orang yang merasa nyaman dalam keramaian," gumamnya, lalu kembali melanjutkan makan.


"Aku harap ini tidak memengaruhi konsentrasi Anda. Ingatlah untuk selalu fokus. Makin cepat masalah ini selesai, semakin cepat pula Anda bisa menemuinya."


__ADS_2