
Miabella sempat tertegun untuk sejenak. Akan tetapi, sesaat kemudian wanita muda itu segera dapat menguasai diri dengan baik. Miabella telah diajari oleh Adriano tentang bagaimana mengendalikan emosi, agar lawan tak mudah menelaah dan membaca apa yang tengah dirasakan atau dipikirkannya. Dia pun selalu mencoba untuk menerapkan hal itu meski lebih sering mengalami kegagalan.
Darah Matteo de Luca yang memiliki karakter keras dan berapi-api, mengalir deras dalam diri wanita muda itu. Namun, untuk kali ini Miabella akan berusaha sebisa mungkin agar Vlad tak dapat membaca bahasa tubuhnya yang tengah resah karena memikirkan nasib Carlo.
Putri sambung Adriano tersebut membalas senyum puas Vlad dengan tawa renyah. Miabella bahkan kembali duduk dengan tenang. Tak lupa, dia memundurkan sedikit kursi yang dirinya tempati. Wanita cantik bermata abu-abu itu kemudian menyilangkan kaki, sehingga bagian bawah gaun panjangnya sedikit terangkat. Tampaklah sepasang high heels bertabur kristal berkilauan. Miabella tampak menggerak-gerakkan ujung kakinya.
“Kenapa kau tidak membawa mayat penyusup itu ke hadapanku sekarang juga? Dengan begitu, aku dapat membuktikan bahwa diriku tidak berkata bohong padamu. Kau sudah mengetahui seperti apa wajah suamiku yang tampan.” Miabella menyunggingkan sebuah senyuman sinis. Padahal, dalam hati dia berharap agar Vlad tak melakukan apa yang dirinya katakan barusan.
Vlad tak segera menanggapi tantangan dari Miabella. Pria itu harus berpikir sedikit keras, untuk dapat memancing wanita cantik di hadapannya. Si pemilik rambut pirang tersebut kembali mendekat ke hadapan wanita yang selama ini membuatnya begitu tergila-gila. Dia sempat melirik sebelah tangan wanita bergaun merah itu terulur lurus dan masih dalam keadaan diborgol.
“Apa yang kau lakukan padaku, Vlad Ignashevich?” Nada bicara Miabella terdengar penuh penekanan. “Ini merupakan sebuah penghinaan besar bagi harga diriku. Apa kau tidak berpikir jauh? Tindakanmu ini bisa saja berakibat buruk bagi dirimu sendiri!” kecam Miabella dengan tegas. Namun, Vlad tak juga menanggapi semua ucapan putri sulung Mia tersebut.
“Aku berada dalam perlindungan tiga organisasi besar di Eropa. Klan de Luca, Tigre Nero, dan tentu saja Serigala Merah. Bayangkan jika mereka mengetahui perbuatan tidak hormat yang telah kau lakukan padaku. Sedikit saja kulitku tergores, maka seluruh pilar kokoh yang menjadi penyangga dari mansionmu ini akan roboh. Bayangkan jika sampai daddy zio, paman Marco, dan tentu saja suamiku … andai mereka mengetahui kau memborgol tanganku seperti ini ….”
“Bukankah suamimu tak mengetahui bahwa kau datang kemari?” sela Vlad tak ingin terlihat gentar di hadapan Miabella. Sebenarnya, dia pun tak suka melihat wanita cantik yang telah berhasil menarik hatinya, berada dalam keadaan seperti itu.
Miabella sempat terdiam. Sesaat kemudian, putri mendiang Matteo de Luca tersebut kembali menyunggingkan senyuman sinis. “Apa kau tak pernah jatuh cinta dan memiliki ikatan batin dengan seseorang?” tanyanya bernada penuh cibiran. “Cepat buka borgolnya!” titah Miabella. Nada bicara si pemilik rambut cokelat itu tiba-tiba meninggi, menandakan kesabaran yang telah melampaui ambang batas. Miabella tak tahan untuk tidak menendang pangkal paha pria di hadapannya.
Akan tetapi, sebelum hal itu sempat dia lakukan, Miabella terpaksa harus mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Suara pria lain terdengar di dalam ruangan tersebut. Berlomba dengan derap hak sepatu yang beradu di atas lantai. Roderyk Lenkov, muncul dari keremangan cahaya di sana, hingga akhirnya berdiri gagah di hadapan Miabella. Pria itu terlihat sangat buas dan arogan. Roderyk memperhatikan Miabella untuk sesaat, sebelum dia mengalihkan pandangan kepada Vlad. “Apa yang kau lakukan sejak tadi? Memandangi tubuh indah dan paras jelita wanita ini?” tanyanya penuh sindiran kepada Vlad.
“Aku sedang menginterogasinya, Ayah,” bantah Vlad dengan segera.
Sementara Miabella langsung memalingkan muka. Dia tahu bahwa Roderyk jauh lebih berpengalaman jika dibandingkan dengan Vlad. Setelah Carlo menceritakan semua tentang mantan sahabat dekat Nikolai Volkov tersebut, Miabella dapat mengetahui siapa dan seperti apa Roderyk yang sesungguhnya.
“Jadi, kau adalah istri Karl Volkov. Menantu dari sahabat lamaku, Nikolai Volkov.” Roderyk berkata dengan begitu tenang.
Miabella yang tadinya memalingkan muka, segera menoleh kepada Roderyk. Bahasa tubuh wanita muda itu masih terlihat sangat angkuh dan seakan hendak menantang kedua pria di hadapannya. “Apa masalahmu jika aku memang istri dari Karl Volkov? Aku datang ke pesta ini dengan baik-baik, tapi lihat apa yang kalian lakukan padaku.” Miabella terdengar begitu sinis. Dia kembali memalingkan muka.
“Apakah penyusup itu adalah suamimu?” tanya Roderyk tanpa berbasa-basi. "Pasangan yang luar biasa. Kalian datang kemari untuk membuat kekacauan di pestaku. Apakah kalian juga ingin mati bersama-sama seperti Romeo dan Juliet?" Roderyk menyeringai lebar.
“Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan ….”
Roderyk mencengkeramnya dengan erat dan menarik ke belakang, sehingga wajah Miabella sedikit mendongak. “Wanita yang sombong!”dengus pria paruh baya berjanggut tebal tadi. Tangannya semakin kencang menggenggam rambut panjang Miabella, hingga istri Carlo tersebut meringis kecil.
“Hentikan, Ayah. Biar aku saja yang mengurusnya,” cegah Vlad. Dia berusaha melarang sang ayah untuk berbuat lebih kasar lagi kepada Miabella.
Sementara Miabella sendiri masih menunjukkan sorot penuh perlawanan. Sepasang mata abu-abu miliknya menatap tajam kepada Roderyk yang terlihat bagai makhluk buas. “Aku akan selalu mengingat hal ini. Akan kuminta suamiku untuk mematahkan tanganmu yang telah berani menyentuh rambutku ….”
__ADS_1
“Sebelum itu terjadi, akan kukirimkan mayatmu ke hadapan Karl Volkov,” balas Roderyk penuh penekanan. Matanya mendelik tajam kepada Miabella. Dia terlihat sangat menakutkan.
“Tidak, Ayah!’ cegah Vlad lagi. “Kumohon jangan gegabah,” pintanya. “Jika kau salah dalam mengambil langkah, maka ini akan memicu peperangan antar organisasi. Ingatlah, ada tiga organisasi besar di belakang wanita ini. Jika mereka bersatu, maka ….”
Roderyk seketika menoleh kepada putra angkatnya. Masih dengan tatapan yang sama, pria berambut cokelat tembaga itu terlihat tak menyukai ucapan Vlad. Tanpa melepaskan genggaman tangannya dari rambut Miabella yang terlihat menahan sakit, Roderyk menyeringai kepada Vlad. “Kau sama pengecutnya dengan ayahmu!” dengus pria paruh baya tersebut seraya melepaskan cengkeramannya dari Miabella dengan kasar.
Sesaat kemudian, perhatian Roderyk kembali tertuju kepada Miabella. “Baiklah. Sepasang mayat suami-istri akan jauh lebih sedap dipandang mata,” seringai pria asal Rusia tersebut. Dia lalu menegakkan tubuh. “Segera temukan Karl Volkov! Dia pasti masih berada di sekitar mansion,” titah Roderyk yang langsung berbalas sebuah anggukan dari beberapa anak buahnya. Tanpa harus dikomando dua kali, mereka yang tadi menerima perintah segera bergerak meninggalkan ruangan itu.
Roderyk tertawa puas. Sambil terus melayangkan tatapan beringas kepada Miabella, mantan tentara Rusia tersebut kembali berkata, “Aku tidak takut pada siapa pun yang berada di belakangmu. Pemerintah pun akan kulawan, jika mereka mengecewakanku. Tak ada pantangan atau halangan yang berarti bagi seorang Roderyk Lenkov. Ingat itu bak-baik, Wanita muda.”
“Lepaskan saja dia, Ayah. Miabella adalah tamuku. Aku juga mengenal baik Adriano D’Angelo dan Marco D’Luca. Mereka bukanlah orang-orang sembarangan. Kau tidak perlu khawatir. Orang yang kau inginkan, akan segera berlutut di hadapanmu.” Setelah berkata demikian, Vlad mengalihkan pandangan kepada Miabella.
“Ingatlah siapa yang telah menghabisi ayahmu dengan keji, Vlad,” pesan Roderyk sambil berlalu dari hadapan Vlad dan juga Miabella. Derap langkah dari hak sepatunya terdengar semakin menjauh.
Sementara itu, Carlo masih berusaha mencari tahu tentang keberadaan sang istri yang hilang kontak. Dia yang telah melepas segala atribut pelayan dan mengenakan T-Shirt lengan pendek sebagai rangkapan, segera berlari sambil mengendap-endap menuju ke landasan helikopter. Di sana, Carlo melihat alat transportasi udara bertuliskan de Luca. Itu berarti Miabella belum pergi meninggalkan mansion. “Kau di mana, Cara mia?” gumamnya terdengar begitu resah.
Carlo pun mengedarkan pandangan. Dia mencari celah, agar dapat kembali masuk untuk menemukan keberadaan Miabella.
🍒🍒🍒
__ADS_1
Mampir lagi yuk di novel keren yang satu ini. Cek 😉