
Carlo terbangun ketika tubuhnya terasa berat, seakan ada beban yang menumpuk di dada dan perut. Dia memicingkan mata dan melihat Miabella tengah berbaring dalam posisi telungkup di atas badan atletis tanpa pakaian tersebut. Carlo memang terbiasa tidur dalam keadaan bertelanjang dada.
Miabella tertawa geli sambil memainkan ujung hidung Carlo. “Sampai kapan kau akan tertidur, Pria tampanku? Aku sudah tidak sabar untuk memulai petualangan kita kali ini. Rasanya sangat aneh karena tidur dalam suasana terang seperti semalam,” ujar Miabella seraya mengernyitkan kening. Namun, tak lama kemudian wanita muda itu tampak begitu antusias. Mata abu-abunya terlihat berkilat tertimpa cahaya matahari yang masuk melalui jendela kamar yang terbuka lebar. "Ayo bangun, Sayang."
“Astaga, Cara mia. Setidaknya isilah dulu perut mungilmu ini dengan makanan. Kita akan mulai semuanya setelah sarapan. Kau tahu bukan jika otak kita tak akan bisa berkonsentrasi dan juga fokus dalam keadaan lapar.” Carlo tertawa pelan seraya membalikkan tubuh ramping sang istri, sehingga kini Miabella menjadi berada di bawahnya. Kedua lengan kekar Carlo pun mengungkung badan ramping wanita cantik berambut cokelat itu. “Aku yakin ayah ibumu sudah siap di meja makan. Mereka pasti tengah berbincang dengan ibuku,” ujar Carlo seraya memamerkan senyumannya yang menawan.
“Astaga. Aku sampai melupakan keberadaan mereka berdua di tempat ini,” gurau Miabella sambil mendorong tubuh Carlo. Wanita muda itu beringsut turun dari ranjang dan bermaksud hendak ke kamar mandi. Melihat langkah gemulai sang istri, Carlo pun memutuskan untuk segera mengikutinya.
“Bella.” Sang ketua Klan Serigala Merah, melingkarkan tangan di perut ramping istrinya. “Kenapa kulihat jika akhir-akhir ini kau sedikit menjauh dari ayahmu?” tanya Carlo pelan dan hati-hati.
“Apa maksudmu?” Miabella yang sibuk melepas pakaiannya, segera menoleh kepada Carlo.
“Kulihat kau sedikit menjaga jarak darinya. Jangan katakan jika hubungan kalian merenggang gara-gara aku,” ujar Carlo pelan.
“Ah, itu hanya perasaanmu saja.” Miabella berjinjit seraya mengalungkan kedua tangan di leher suaminya. Dia lalu mencium bibir tipis Carlo dengan hangat dan penuh hasrat.
“Cara mia.” Carlo melepaskan ciuman itu dengan hati-hati. Dia juga mengurai tangan Miabella sambil mendorong tubuh itu agar sedikit menjauh dengan tubuhnya. “Aku sangat menghormati ayah mertua. Dia sudah memberikan banyak hal kepadaku. Kebaikannya tidak akan pernah bisa kubayar dengan apapun.”
“Daddy Zio tidak pernah mengharap imbalan apapun,” sahut Miabella dengan santai. Dia lalu berbalik dan menyalakan kran air hangat untuk mengisi bathub. Wanita muda berambut panjang itu kembali berbalik ke arah Carlo, kemudian membantu melepaskan T-shirt dan celana yang sang suami kenakan
“Aku masih mengingat dengan jelas, betapa ayah mertua sangat menyayangimu. Tatap matanya saat melihatmu sama sekali tak berubah sejak kau balita. Rasa sayangnya begitu besar untukmu, Cara mia. Jangan hanya karena diriku, kau mengendurkan ikatan istimewa dan teramat berharga itu." Carlo menatap lekat Miabella. “Ayah mertua bahkan tak akan pernah berpikir dua kali untuk menukar nyawanya dengan kenyamanan serta kebahagiaanmu.”
__ADS_1
Seketika Miabella terdiam. Dia menghentikan apa yang sedang dilakukannya, sambil termenung di hadapan Carlo yang sudah dalam keadaan polos. Sorot mata yang awalnya menghadap lantai keramik kamar mandi, kini sendu memandang ke wajah rupawan sang suami. “Entahlah, Carlo. Banyak hal yang terjadi di antara kami selama tiga tahun terakhir,” ungkap Miabella pelan. “Kuakui, diriku memang sempat tersesat saat kehilanganmu dulu.” Mata indah wanita muda itu mulai berkaca-kaca.
“Saat ini kau sudah berada di tempat yang seharusnya, Sayang.” Carlo merengkuh tubuh Miabella, lalu membawanya masuk dan berendam ke dalam bathub “Ayahmu sudah semakin tua, meskipun harus kuakui tenaganya tak berubah sama sekali. Dia semakin keren,” celotehnya sembari terbahak.
“Teman-teman perempuanku bahkan sangat mengidolakannya. Mata mereka berbinar tiap kali bertemu dengan daddy zio,” timpal Miabella seraya tergelak saat membayangkan sahabat-sahabatnya di London, yang tergila-gila kepada Adriano.
“Aku seringkali mendengar ungkapan bahwa cinta pertama seorang gadis adalah ayahnya. Kau patut berbangga, karena dirimu memiliki dua ayah yang sangat menyayangi serta melindungimu.” Carlo memandang wajah cantik sang istri dengan sayu, lalu menyentuh bibir Miabella lembut.
“Sudahlah. Kata-katamu membuatku semakin merasa bersalah terhadap daddy Zio,” ujar Miabella sesaat setelah melepaskan tautannya.
“Tidak ada kata terlambat untuk meminta maaf, Cara Mia." Carlo tersenyum nakal. Satu tangannya meraup air, lalu dia tuangkan ke atas kepala wanita muda itu.
“Hei!” protes Miabella. Dia membalas perlakuan Carlo. Pasangan pengantin baru itu bermain-main air untuk beberapa saat, hingga satu jam kemudian barulah keduanya selesai merapikan diri dan bergandengan mesra menuju ruang makan.
“Selamat pagi. Apakah kalian semua menungguku?” kelakar Carlo seraya menggeser satu kursi untuk Miabella. Namun, istrinya itu lebih memilih untuk duduk di samping Adriano. Mau tak mau, Carlo mengalah lalu mengambil posisi di samping sang ibu.
“Astaga, Nak. Kami hampir saja mati kelaparan,” balas Fabiola dengan gurauan juga.
“Kami sangat memaklumi hal itu, Nyonya,” timpal Mia. “Mereka pengantin baru. Apalagi keduanya sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Jadi ….” Mia mengulum senyum tanpa melanjutkan kalimatnya. Dia lalu menunduk sambil tertawa pelan.
“Anda tidak bisa membayangkan betapa galaunya tuan muda Carlo setiap malam, Nyonya D’Angelo. Dia bahkan pernah hampir mengira salah satu pelayan kami sebagai sosok nyonya muda Miabella,” sahut Ivan tak mau kalah, membuat semua orang di dalam ruangan tersebut tertawa terbahak-bahak, termasuk juga Miabella.
__ADS_1
“Ya ampun. Kalian ini,” gumam Carlo dengan wajah memerah. “Sudahlah, kita mulai saja acara sarapannya,” ucap pria itu mencoba tetap terlihat kalem.
“Selamat menikmati hidangan kami, Tuan dan Nyonya D'Angelo.” Fabiola mempersilakan Adriano dan Mia untuk menyantap menu yang sudah tersedia dan tertata indah di piring masing-masing.
“Terima kasih,” balas Adriano seraya menganggukkan kepala penuh hormat. Dia lalu menghamparkan serbet makan berwarna putih ke atas pangkuan. Akan tetapi, gerakan tangannya berhenti ketika tiba-tiba Miabella menggenggam jemarinya erat.
“Terima kasih untuk semuanya, Daddy Zio. Kau harus tahu bahwa aku sangat menyayangimu. Hal itu tak akan berubah sampai kapanpun,” bisik Miabella pelan sambil mendekatkan dirinya kepada sang ayah sambung.
Adriano tertegun sejenak. Dia lalu menoleh kepada Miabella dengan sorot penuh arti. “Principessa,” gumamnya pelan. Pria yang masih terlihat tampan dan memesona di usianya yang separuh abad itu tersenyum penuh arti. “Tanpa kau beritahu pun, aku sudah mengetahui akan hal itu,” lanjutnya.
Mendengar jawaban dari Adriano, Miabella segera merengkuh pundak kokoh Adriano lalu memeluknya erat Semua itu tak lepas dari perhatian Carlo.
“Nyonya Mia, aku akan mengajakmu melihat-lihat kebun mawar di area belakang istana,” ujar Fabiola di tengah-tengah perjamuan, beberapa saat kemudian.
“Terima kasih undangannya, Nyonya. Pasti akan sangat menyenangkan. Apa kau akan ikut dengan kami, Sayang,” tawar Mia sembari memusatkan perhatian pada putri sulungnya.
“Sayangnya aku dan Carlo sudah merencanakan sesuatu sejak tadi malam, Bu. Dia juga hendak mengajakku berjalan-jalan ke rumah kaca. Apakah kau mau ikut denganku, Daddy Zio?” tawar Miabella pada Adriano.
“Rumah kaca?” ulang Fabiola. “Sudah lama aku tidak datang ke sana. Sampai sekarang pun rasanya aku masih tak sanggup,” papar ibunda Carlo itu lirih.
“Kenapa, Bu?” tanya Carlo penasaran.
__ADS_1
“Karena rumah kaca adalah tempat favorit tuan Nikolai. Beliau selalu mengajak nyonya Fabiola ke sana tiap sore, untuk melihat matahari terbenam,” jawab Grigori sebelum Fabiola sempat menjawab.
"Oh begitu? Namun, aku dan Miabella sudah merencanakan ini sejak semalam. Dia akan marah jika sampai kubatalkan rencana ini"