The Bodyguard

The Bodyguard
Dark Side


__ADS_3

Malam kian merayap. Miabella yang kelelahan akibat harus melayani Carlo sebanyak dua kali pun, sudah tertidur lelap di bawah selimut dalam posisi membelakangi. Sedangkan Carlo saat itu tiba-tiba membuka mata, ketika dia merasakan adanya pergerakan dan suara tak wajar di luar pondok.


Carlo kemudian meraih ponsel. Saat itu baru sekitar pukul dua dini hari. Pria tampan tersebut semakin menajamkan indera pendengaran dan juga instingnya. Sesaat kemudian, Carlo pun menyibakkan selimut lalu turun dari tempat tidur dan segera berpakaian.


Sesaat kemudian, sang ketua Klan Serigala Merah berjalan ke dekat jendela. Dia hanya ingin sekadar memastikan bahwa di sana sudah terkunci rapat. Untuk beberapa saat, pria itu terpaku di tempatnya. Carlo tengah menguji seberapa kuat insting yang selama ini selalu dirinya asah untuk menganalisa sesuatu.


Carlo lalu menoleh kepada Miabella yang masih terlelap. Rautnya amat serius memandang si cantik berambut cokelat tersebut. Helaan napas berat pun meluncur dari bibirnya yang berhiaskan kumis tipis.


Dengan hati-hati, putra bungsu dari mendiang Nikolai Volkov itu melangkah ke dekat pintu. Perlahan, dia memutar pegangannya setelah membuka kunci terlebih dahulu. Pintu pun terbuka tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Carlo kemudian menguncinya dari luar, agar jangan sampai ada seseorang yang masuk saat dirinya tidak berada di pondok.


Sambil mengendap-endap, pria tampan berpostur tegap tadi keluar dari area sekitar tempat tadi. Saat itulah, dalam keremangan malam dia melihat siluet dua orang berpostur tak jauh berbeda dengannya. Sudah dipastikan jika kedua orang tersebut bukanlah perempuan.


Carlo pun kemudian berjalan cepat menyusul bayangan hitam tadi, yang segera melarikan diri saat menyadari kehadirannya di sana. Kedua orang asing itu berlari menuju ke dekat danau di antara pepohonan yang cukup rimbun.


Dengan segera, Carlo merogoh pistol yang terselip di balik pinggang. Dia juga mengeluarkan senter kecil dari saku celana, lalu meletakkan benda itu di dalam mulut. Carlo ikut berlari mengejar dua bayangan hitam tadi hingga tiba di tepian danau.


Sayang, pria rupawan bermata biru tersebut kehilangan jejak sosok-sosok misterius yang tengah dikejarnya. Dia lalu mengarahkan senter ke sekeliling dengan tetap memasang sikap waspada. Akan tetapi, tak ada tanda-tanda kehidupan sedikit pun di sekitarnya. Hal itu membuat dia memutuskan untuk kembali ke pondok.

__ADS_1


Carlo berpikir bahwa dirinya tak boleh meninggalkan Miabella sendirian dalam keadaan terlalu lama. Apalagi gadis itu tertidur dalam keadaan tak memakai pakaian sama sekali. Akan tetapi, baru saja beberapa langkah kakinya berjalan, Carlo merasakan hembusan angin pelan bergerak dari arah belakang tubuh.


Dengan spontan dia merunduk dan berbalik, sembari menarik pelatuk pistol yang masih dirinya genggam. Satu peluru terlontar dari selongsongnya. Timah panas tersebut mengarah tepat ke leher sesosok pria yang tengah mengayunkan tongkat baseball dan hendak memukul dari belakang.


Peluru tadi berhasil mengoyak otot dan menembus bagian belakang leher. Tongkat baseball pun terlepas dari genggaman pria yang kini sudah tak bernyawa lagi. Benda itu terjatuh ke dekat kaki Carlo, bersamaan dengan sosok tadi yang roboh ke atas tanah di mana terdapat banyak dedaunan kering.


Carlo segera membungkuk untuk meraih tongkat baseball tadi. Dia lalu menjadikannya sebagai senjata. Akan tetapi, ketika pria itu hendak bangkit, ekor matanya menangkap sesuatu yang berkilau saat terkena cahaya senter. Penuh kewaspadaan, sang ketua Klan Serigala Merah mendekat kepada mayat yang sudah tak bernyawa itu. Dilihatnya sebuah pin berbentuk lingkaran dengan gambar pistol dan pedang pada bagian tengah. Benda tadi tersemat pada dada kiri kemeja pria yang telah menjadi mayat.


Carlo kemudian menyelipkan senjata, lalu mengarahkan senter yang berada dalam gigitannya tepat pada pin yang ternyata terbuat dari perak tersebut. Dengan sangat hati-hati, dia melepas pin dan mengantonginya. Sang ketua Klan Serigala Merah kemudian berdiri. Tatap matanya menyapu sekeliling untuk sekali lagi. Carlo mencari kemungkinan bahwa ada orang lain yang masih mengawasinya dari suatu tempat.


“Halo! Di mana kau? Keluarlah dan katakan apa maumu sekarang juga!” seru Carlo dalam bahasa Rusia. Suaranya terdengar menggema, begitu lantang memecah kesunyian sekitar danau yang senyap.


Carlo menekan sisi samping pisau lipat tersebut sehingga bagian yang tajam keluar dari tempurungnya. Dia membuat gerak memutar sambil menghunus pisau. Gerakannya berhenti saat sebuah ranting kecil terjatuh dari bagian atas.


Carlo segera mendongak dan mendapati bayangan seseorang yang tengah bersembunyi pada salah satu dahan pohon, di antara rimbunnya dedaunan. Dia menggunakan insting yang bekerja kali ini dengan memejamkan mata. Sesaat kemudian, pria yang pernah menjadi anak asuh kesayangan Adriano tersebut melemparkan pisaunya ke atas dengan sekuat tenaga. Tak lama berselang lama, Carlo mendengar suara berdebum tak jauh dari tempatnya berdiri.


Sang ketua Klan Serigala Merah pun membuka mata, lalu melihat sesosok tubuh tergeletak sambil mengerang kesakitan di dekat pohon. Masih dengan sikap waspada, dia menghampiri sosok itu. Carlo melihat pisau lipat miliknya sudah tertancap di ulu hati sosok yang ternyata adalah seorang pria.

__ADS_1


“Siapa kau?” Dia mendekatkan wajah pada sosok misterius yang tengah meringis kesakitan tadi.


Bukannya menjawab, pria itu malah menyeringai dengan darah yang mulai menetes ke dagu, karena mulut si pria sudah dipenuhi oleh darah segar. “Kau sudah melakukan sebuah kesalahan, Karl Volkov,” ujarnya dengan suara yang begitu lemah. “Tak seharusnya kau membunuh Viktor Drozdov. Dia hanyalah seorang boneka, dan tuannya masih berkeliaran di luar sana. Orang itu sedang bersiap untuk membalas kekalahannya yang diakibatkan olehmu,” tutur pria asing tadi. Napasnya tersengal, seakan sulit baginya untuk menghirup oksigen.


“Aku sudah melubangi perutmu. Setidaknya katakan sesuatu yang berguna,” ledek Carlo.


“Se-lalu ada dua sisi dalam hidup, Tuan Vol-kov,” ujar si pria dengan terbata. “Gelap dan te-rang,” ucap pria itu lagi sambil menarik napas pelan, ketika darah mengucur semakin deras dari mulutnya. “Nikolai Volkov bisa saja mendapat dukungan kuat dari sisi terang pemerintahan Rusia. Namun, sisi gelap pemerintahan juga tak kalah kuat darinya,” sambung pria itu.


Sementara Carlo hanya mengernyitkan kening tanda tak mengerti. “Jangan banyak bicara! Cepat katakan siapa yang mengirimmu kemari!” geramnya.


“Kekuatan gelap pemerintah akan selalu mendukung Viktor Drozdov. Hal itu diperlukan untuk menjaga keseimbangan dan juga … menjaga agar … jangan sampai nama-nama para pejabat yang telah berbuat curang muncul ke permukaan, sebab … hal itu akan dapat menggoyahkan semuanya ….” Suara pria itu kian pelan dan bahkan hampir tak terdengar.


“Apakah itu berarti jika pejabat korup berada di balik kekuasaan Viktor?” Carlo menarik kerah jaket pria yang sudah tak berdaya tadi kuat-kuat, sampai tubuh si pria terangkat. Akan tetapi, pria itu sepertinya tak akan pernah bisa menjawab pertanyaan Carlo.


“Sialan! Dia sudah mati!” Carlo berdecak kesal. Diempaskannya tubuh tak bernyawa itu begitu saja. Dengan segera putra bungsu mendiang Nikolai Volkov tersebut berdiri dan berniat untuk kembali ke pondok. Namun, sebelum niat itu terlaksana, beberapa butir peluru ditembakkan ke arahnya.


Beruntung Carlo sigap menghindar, lalu bersembunyi di balik pohon. Tak ingin tinggal diam, dia membalas tembakan tadi. Sekilas, mata birunya yang seakan menyala dalam kegelapan dapat menangkap kilatan cahaya yang berasal dari moncong senjata. Kilatan itu berasal tak jauh dari tempat dia bersembunyi. Akan tetapi, sayang sekali karena para penembak itu berlindung di balik semak-semak rimbun.

__ADS_1


Sementara Carlo tak kehilangan akal. Dia menyimpan pistolnya ke dalam pinggang untuk sementara, lalu memanjat pohon yang tadi dirinya jadikan sebagai tempat persembunyian. Dari atas pohon, Carlo mengeluarkan kembali pistolnya dan mulai membidik seseorang di balik semak-semak.


Sambil menutup satu mata, Carlo menarik pelatuk hingga satu butir peluru melesat cepat melebih kecepatan suara. Peluru itu tepat mengenai kepala musuhnya. Dia membidik sekali lagi. Kali ini, Carlo arahkan pada jalan setapak yang sempat dia lalu tadi. Tampak seseorang memakai mantel sedang berlari menjauh keluar dari area danau. Dengan penuh konsentrasi, Carlo mengarahkan ujung senjata yang digenggamnya dari atas pohon. Sasaran pria itu kali ini dia tujukan tepat mengarah ke punggung sosok bermantel tadi. Carlo lalu memuntahkan pelurunya lebih dari sekali, hingga sosok itu ambruk tak bergerak dan tergeletak di atas tanah berbatu.


__ADS_2