
Senyuman kalem terlukis indah di bibir Carlo yang berhiaskan kumis tipis, ketika pria tampan tersebut menerima email dari Miabella. Bagaimana dirinya tak bahagia, gadis cantik tersebut setuju untuk menjalin kerja sama. Selain itu, Miabella juga mengajak Carlo melakukan pertemuan bisnis. Dia telah menentukan tempatnya, yaitu sebuah kedai kopi yang sudah ternama di pusat kota Brescia.
Dengan penuh percaya diri, Carlo mempersiapkan segala sesuatunya. Bayangan indah untuk bertatap muka dengan gadis pujaan hati yang selama ini dia rindukan, telah menari-nari di pelupuk mata. Seikat bunga lily putih pun dibawa serta, dalam perjalanannya menuju tempat yang sudah ditentukan.
Setibanya di tempat itu, Carlo segera memarkirkan kendaraan roda dua di area yang tersedia. Dengan langkah gagah, sang ketua dari Klan Serigala Merah tersebut memasuki area kedai kopi tersebut. Dia lalu mengedarkan pandangan. Sepasang mata birunya yang bercahaya, begitu cekatan mencari sosok sang nona muda di antara sekian banyak pengunjung. Akhirnya, tatapan Carlo terkunci pada seorang pria yang mengangkat tangan, sebagai tanda bahwa dia harus duduk di meja yang sama dengan seseorang yang tak lain adalah Vlad Ignashevich.
"Di mana nona de Luca?" tanya Carlo yang langsung menanyakan keberadaan Miabella. Dia meletakkan bunga lily yang dibawanya, kemudian duduk di hadapan pria asal Rusia berambut pirang itu.
"Nona de Luca ada di kediamannya, Tuan Volkov," sahut Vlad seraya tersenyum ramah.
"Lalu?" Carlo menautkan alis karena tak mengerti.
"Biar kujelaskan sebelumnya," ucap Vlad seraya membetulkan posisi duduk menjadi jauh lebih tegak. "Aku merupakan distributor resmi dari produk anggur milik de Luca, baik itu mentah maupun barang jadi yang telah diolah atau lebih kita kenal dengan nama Du Fontaine. Jadi, jika Anda atau siapa pun yang ingin mengajukan kerja sama dengan nona de Luca, maka tentu saja harus melalui perantara diriku," jelas Vlad tanpa mengubah intonasi bahasanya.
"Oh, jadi begitu," balas Carlo menanggapi.
__ADS_1
"Sesuai dengan yang telah nona de Luca katakan kemarin, bahwasannya Anda bermaksud untuk membuka sebuah restoran bintang lima dan juga pusat hiburan kelas atas di tiga kota besar Rusia sekaligus, maka Anda bisa berkoordinasi langsung denganku. Kita bisa membahas ini dengan lebih detail di St. Petersburg. Karena dari sanalah kami menyuplai anggur ke seluruh Rusia dan juga sekitarnya." Vlad kembali memberikan penjelasannya. Sedangkan Carlo masih menyimak.
"Selain itu, berbubung nona de Luca memegang kendali bisnis ini hanya seorang diri, maka sekalian saja dia menunjukku sebagai asisten dan penasihat dirinya. Anggap saja bahwa aku memiliki jabatan yang merangkap," ujar pria berambut pirang itu lagi tanpa melepas senyumannya.
"Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu, mari kita mulai membahas rencana kerja sama ini, karena kebetulan aku tak akan lama berada di Italia," balas Carlo menanggapi.
"Tentu saja, Tuan Volkov. Aku telah lama berkecimpung dalam jasa pendistribusian segala macam produk minuman berkelas. Salah satunya adalah Du Fontaine. Perusahaanku yang berpusat di St. Petersburg, bisa menjangkau banyak wilayah di Rusia bahkan antar negara sekitarnya. Akan sangat mudah bagi kita untuk melakukan kerja sama ini, berhubung Anda dan juga diriku berada di negara dan kota yang sama. Sedangkan nona de Luca adalah produsen. Dia berada jauh di Italia. Akan membutuhkan proses yang berliku jika Anda mengambil langsung padanya," terang Vlad. Pria itu sangat mahir dalam memengaruhi jalan pikiran orang lain.
"Aku rasa tak ada bedanya," bantah Carlo.
"Tentu saja berbeda, Tuan Volkov," sanggah Vlad. "Aku mengenal nona de Luca sudah lama. Di balik fisiknya yang terlihat sangat indah dan juga memesona, kenyataannya dia adalah pribadi yang sangat keras. Nona de Luca selalu berbicara apa adanya dan tak mudah terkesan dengan sebuah rayuan." Vlad mengarahkan ekor matanya pada bunga lily di atas meja yang Carlo bawa.
"Ya. Setidaknya itu yang bisa kutangkap selama ini," sahut Vlad dengan begitu percaya diri.
Sementara Carlo tampak manggut-manggut. Dia pun mengempaskan napas pelan sembari menyandarkan punggungnya. Sementara tangan kanan berada lurus di atas meja. Sesekali, putra dari mendiang Nikolai Volkov tersebut tampak mengetuk-ngetukkan jemarinya dengan beraturan. "Jadi, sudah berapa lama Anda mengenal nona de Luca?" tanya Carlo kemudian.
__ADS_1
"Aku memang baru mengenalnya selama kurang lebih tiga tahun terakhir ini. Akan tetapi, sedikit banyak, diriku sudah bisa menangkap karakter dari nona cantik itu," jawab Vlad masih terlihat percaya diri.
"Ya, Anda benar." Carlo mengangguk pelan. "Nona de Luca memang gadis yang sangat keras kepala, tak mengenal rasa takut, pembangkang, dan juga ... liar." Sebuah senyuman samar tersungging di sudut bibir Carlo.
Sementara Vlad seketika terdiam. Rasa percaya dirinya yang merasa seakan paling mengenal sosok Miabella, menguap begitu saja tanpa tersisa. Pria tampan asal Rusia tersebut kemudian memicingkan mata. Dia seperti tengah menelisik seorang Carlo yang dirinya kenal dengan nama Karl Volkov.
"Siapa Anda sebenarnya?" tanya Vlad penuh selidik.
"Aku?" Carlo mengubah sikap duduknya. "Aku adalah pengawal pribadi nona de Luca, dari semenjak dia berusia lima hingga dua puluh dua tahun." Sebuah jawaban telak dan sangat menohok bagi Vlad Ignashevich. Pria berambut pirang itu pun semakin tak dapat berkata-kata lagi. "Nona de Luca memang tidak menyukai sebuah rayuan. Akan tetapi, dia sangat mencintai bunga lily," ucap Carlo yang seketika membalikkan rasa percaya diri dalam diri lawan bicaranya.
Sesaat kemudian, sang ketua dari Klan Serigala Merah tersebut melihat arloji yang melingkar di pergelangan kiri. "Baiklah, Tuan Ignashevich. Aku sudah bisa mengambil kesimpulan dari pertemuan ini. Namun, sayangnya aku tidak bisa berlama-lama di sini. Masih ada urusan yang harus diselesaikan." Carlo pun berdiri dari duduknya dan segera diikuti oleh Vlad.
"Kita belum memesan apapun, Tuan Volkov," ujar Vlad mencoba untuk kembali bersikap biasa saja.
"Pesanlah apapun yang Anda inginkan. Aku yang akan membayarnya." Carlo kemudian memasang kembali kacamata hitam yang tadi dia lepas saat berbincang dengan Vlad. "Satu lagi, bawa juga bunga ini untuk Anda," ucapnya sambil tersenyum kalem. Dia lalu mengulurkan tangan, bermaksud untuk mengajak bersalaman.
__ADS_1
Setelah berpamitan, Carlo lalu menuju ke meja kasir. Pria tampan tersebut tampak berbicara kepada petugas di sana, sambil menunjuk ke arah Vlad berada. Setelahnya, barulah dia benar-benar pergi dari kedai kopi tersebut.
Dengan kecepatan yang tidak terlalu tinggi, Carlo mengarahkan motor besarnya menuju ke suatu tempat yang tak boleh dia lewatkan selagi berada di kota Brescia, yaitu Casa de Luca.