The Bodyguard

The Bodyguard
Perfect Plan


__ADS_3

“Katakan bagaimana caranya aku bisa masuk ke Rusia tanpa diketahui,” tanya Carlo dengan raut yang terlihat begitu serius.


“Anda ingin berangkat ke sana sekarang?” tanya Grigori terdengar ragu.


“Makin cepat, maka akan semakin baik,” sahut Carlo. Matanya menerawang ke arah anak buah Grigori yang sibuk memoles batu permata.


“Apakah ini ada hubungannya dengan nona Miabella de Luca?” Grigori bertanya lagi. Kali ini nada bicaranya terkesan lebih hati-hati.


Sedangkan Carlo tak segera menjawab. Dia hanya tersenyum nanar seraya mengalihkan pandangan kepada Grigori. “Tuan Adriano D’Angelo yang merupakan ayah sambung Miabella sekaligus orang yang sangat kuhormati, tidak menyetujui hubungan kami. Dia mengusirku sesaat setelah mengetahui bahwa aku dan nona muda itu tengah menjalin cinta,” terangnya. Carlo pun tertawa penuh kegetiran.


“Adriano D’Angelo memiliki nama besar yang sangat berpengaruh di daratan Eropa. Apalagi Tigre Nero sudah berafiliasi dengan klan de Luca. Mereka menjadi kekuatan yang tak terkalahkan. Kurasa akan sulit bagi Anda untuk mendapatkan nona Miabella,” ucap Grigori sambil mengusap-usap dagunya. Pria itu pun tampak berpikir.


“Katakan padaku.” Carlo mengulurkan tangan, lalu mencengkeram kedua lengan Grigori. “Seberapa kuat kondisi klan Serigala Merah saat ini?”


“Tuan.” Grigori memandang iba pada putra kandung Nikolai Volkov tersebut. “Kita lanjutkan pembicaraan di ruanganku saja,” ajak pria paruh baya itu seraya mengarahkan Carlo ke arah tangga. Dia kembali membawa putra dari sang majikan, menuju tempat di mana Carlo pertama masuk ke dalam ruangan rahasia tadi.


Dengan hati-hati, Grigori melindungi kepala Carlo agar tak terantuk pintu meja wastafel. Dia keluar pertama, kemudian membantu Carlo yang bertubuh lebih tinggi dan besar darinya. Setelah itu, barulah Feliks keluar paling akhir. Mereka bertiga berjalan gagah keluar dari kamar mandi, lalu menuju ruang kerja Grigori.


Pria paruh baya itu mempersilakan Carlo untuk duduk di sofa mewah berlapis beludru. Setelah sang putra mahkota terlihat nyaman, Grigori lalu duduk di sampingnya. Sedangkan Feliks memilih untuk undur diri dan berjaga di luar ruangan.


“Serigala Merah saat ini sudah jauh berubah jika dibandingkan dulu,” tutur Grigori memulai penjelasannya. “Dulu, pengaruh kekuasaan klan terasa sampai ke dalam pemerintahan. Di bawah kepemimpinan tuan Nikolai, mereka bahkan bisa mempengaruhi keputusan serta berbagai kebijakan yang dibuat oleh pemerintahan. Namun, saat ini Serigala Merah menjadi sekumpulan organisasi preman yang hanya bisa menakut-nakuti kalangan orang-orang biasa di jalanan. Polisi dan tentara rahasia bahkan malah memburu keberadaan mereka,” sambungnya.

__ADS_1


“Semua itu diperburuk oleh kerakusan Viktor Drozdov yang bermimpi untuk melebarkan wilayah ke luar Rusia. Sikap tamakmya membuat dia berambisi untuk menaklukkan organisasi-organisasi besar lain di Eropa, termasuk Italia. Viktor tak sadar bahwa dia kini sudah berusia semakin tua. Satu-satunya keuntungan yang dirinya miliki hanyalah para pengikut setia dengan jumlah tidak sedikit. Dia juga memiliki kekuatan fisik serta kebengisan yang jauh di atas rata-rata. Membuat semua orang tunduk dan takut padanya,” papar Grigori.


“Bagaimana dengan pengikut setia ayahku? Ada di mana saja mereka?” tanya Carlo seraya menghadapkan seluruh tubuhnya pada Grigori.


“Sebenarnya mereka jauh lebih banyak dari anak buah Viktor. Akan tetapi, mereka tak memiliki kekuatan apapun dan hidup berpencar. Sebagian dari mereka bahkan telah melarikan diri ke luar negeri. Salah satu contohnya adalah aku,” jelas Grigori.


“Apakah waktu itu kalian tidak ingin mencari keberadaan ibuku?” Carlo seakan berusaha memuaskan segala rasa ingin tahunya.


“Nyonya Fabiola sendiri yang tidak ingin ditemukan. Aku pikir wajar baginya untuk terus bersembunyi, setelah apa yang terjadi pada suami dan kedua putranya,” jawab Grigori penuh sesal.


“Puluhan tahun ibuku hidup dalam ketakutan, dan semua itu bersumber dari Viktor Drozdov." Carlo bangkit dari duduk, lalu berjalan ke dekat dinding kaca yang menampakkan landskap indah dan megah kota Milan. “Andai aku bisa menghabisinya, maka aku akan memiliki dua keuntungan,” gumam pria itu pelan. Namun, Grigori masih dapat mendengarnya.


“Tidak hanya dua, tapi ada banyak sekali keuntungan yang akan Anda dapatkan,” sahut Grigori meralat pernyataan Carlo.


“Meskipun itu artinya Anda harus berhadapan dengan tuan D’Angelo?”


Pertanyaan dari Grigori membuat Carlo terpaku. Akan tetapi, pada akhirnya dia dapat tersenyum, walaupun hanya sebuah senyuman kecil. “Ya. Jika suatu saat nanti aku ditakdirkan untuk berhadapan dengan tuan Adriano, bagiku itu tidak masalah. Karena hanya Miabella lah tujuan utamaku,” jawabnya dengan pasti.


“Dulu, sebelum bertemu dengan dirinya aku selalu merasa terombang-ambing. Diriku kebingungan menentukan di mana aku berdiri dan hendak ke mana seharusnya melangkah. Akan tetapi, di hari ketika Miabella berjalan ke arahku sambil membawakan kue lalu mencium lembut pipiku, ketika itulah aku menemukan rumah yang bisa kujadikan sebagai tempat tujuan untuk pulang. Aku rasa, semua itu akan tetap ada di hatiku hingga raga ini menua lalu mati,” sambung Carlo dengan sorot mata yang terlihat sendu.


“Tuan muda.” Grigori ikut beranjak dari duduknya, lalu berdiri di samping Carlo. “Kadang dalam kehidupan yang keras seperti yang kita jalani saat ini, cinta menjadi penghambat. Itulah kenapa aku memutuskan untuk tidak akan pernah jatuh cinta, apalagi menikah. Masih terbayang dalam ingatanku, ketika tuan Nikolai mengorbankan diri sendiri demi istri dan anak-anaknya,” tutur Grigori.

__ADS_1


Carlo menoleh pada Grigori sembari tertawa pelan. “Kau salah. Cinta bukanlah penghambat. Tergantung ke arah mana kau membawanya, dia bisa menjadi kekuatan ataupun kelemahan. Miabella membuatku kuat. Karena itulah aku bertekad untuk merebut semua yang menjadi hakku dan menjadikan diriku sebagai manusia yang berkuasa,” ujarnya dengan yakin.


“Ingat selalu kata-kataku ini, Grigori. Aku akan mengembalikan kekuasaan dan pengaruh klan Serigala Merah hingga kembali seperti dulu kala. Sama seperti saat ayahku masih berjaya atau bahkan mungkin lebih dari itu. Akan kukembalikan kekuatan klan hingga pada titik tertinggi, walaupun aku tahu bahwa hal itu tak mudah. Oleh karena itulah aku membutuhkan bantuanmu.” Carlo menepuk-nepuk pundak Grigori pelan.


“Apapun itu, Tuan. Aku siap mendukungmu meski harus kuserahkan nyawaku,” sahut Grigori dengan segera.


“Tak perlu sejauh itu.” Carlo tertawa pelan. “Aku ingin kau tetap di sini dan mengawasi nona Miabella. Laporkan seluruh kegiatannya padaku selama aku berada di Rusia. Selain itu, tolong perhatikan keamanan ibuku juga,” pesannya.


“Tentu, Tuan. Di mana aku bisa menemukan nyonya Fabiola?” tanyanya.


“Nanti akan kuberitahukan alamat tempat keberadaan ibuku. Tolong pastikan semuanya baik-baik saja," pesan Carlo lagi. "Seharusnya itu menjadi tugasku. Akan tetapi, tak mungkin jika aku membawa ibu pergi ke Rusia." Lagi-lagi mata biru Carlo menerawang ke pemandangan gedung-gedung bertingkat di depannya.


“Baiklah, Tuan. Sepertinya aku juga harus memikirkan cara agar dapat menyusupkan seseorang ke dalam Casa de Luca, sehingga dia bisa mengawasi nona muda dari jarak dekat,” pikir Grigori.


“Bagus. Kupercayakan semua padamu.” Carlo kembali menepuk pundak Grigori. “Sekarang beritahu aku bagaimana caranya agar bisa masuk ke Rusia tanpa terdeteksi oleh mereka, mengingat Czar sudah pernah bertemu denganku.”


“Itu mudah sekali. Anda harus masuk ke wilayah Rusia melalui Moskow. Di sana, Serigala merah kehilangan taringnya, sebab ibukota negara itu adalah pusat pemerintahan dan militer. Viktor Drozdov tak akan berani tinggal di sana, atau militer dan agen pemerintah akan membantai mereka habis-habisan,” saran Grigori.


“Di Moskow juga mungkin Anda dapat menemukan orang yang akan membantu perjuangan ini,” imbuhnya sedikit ragu.


“Oh, ya? Siapa?” Carlo menautkan alisnya.

__ADS_1


“Dia hanya memiliki satu panggilan. Puluhan tahun yang lalu, dia adalah orang yang paling kuat dan ditakuti di antara anak buah kepercayaan tuan Nikolai. Anda bisa memanggilnya dengan nama Igor,” jawab Grigori.


__ADS_2