
Carlo mengamati lampu sorot yang menyala terang di gedung aula kota St. Petersburg. Saat itu, tengah diadakan pesta pada tempat tersebut, yaitu acara peluncuran perdana produk anggur mahal milik seorang pengusaha muda.
Beberapa orang artis ibukota juga turut menghadiri pesta mewah tersebut. “Bella,” desah Carlo. Berdasarkan informasi dari anak buah Grigori, kekasih hati yang sudah tiga tahun tak ditemuinya dipastikan hadir dalam acara megah tersebut.
Akan tetapi, sayang sekali karena Carlo harus melewatkan pesta itu. Alasan utama ialah karena dalam beberapa saat lagi, dia akan mengeksekusi rencana yang sudah dirinya dan yang lain susun selama hampir tiga tahun.
“Tuan muda.” Panggilan seseorang membuyarkan lamunan Carlo. Pria tampan itu menoleh dan tersenyum pada sosok seorang pria paruh baya yang menunduk hormat padanya. “Apakah Anda sudah siap?” tanya pria yang tak lain adalah Igor.
“Lebih dari apapun,” sahut Carlo mengangguk yakin. Tak lupa dia meraih jaket kulit hitam yang digantungkan pada sandaran kursi, lalu memakainya. Belati peninggalan Yuri Volkov pun dirinya selipkan di pinggang.
“Pavel sudah menyiapkan senjata untuk Anda di terowongan rahasia,” ujar Igor lagi. Sedangkan Carlo hanya menjawabnya dengan senyuman kalem. Mereka berdua pun meninggalkan penginapan yang sudah disewa oleh Grigori selama beberapa hari.
Perhatian penduduk kota pada malam itu, teralihkan pada gedung mewah yang terus menerus menyalakan lampu sorot dan mengarahkannya ke angkasa. Hal tersebut tentu saja akan menjadi sebuah keuntungan bagi Carlo. Dia tak memerlukan pengecoh lagi untuk melancarkan serangan ke pinggiran kota, tempat di mana Viktor bersantai di dalam istana megahnya.
Sambil memakai slayer hitam yang dia tutupkan ke wajah dan hanya menyisakan mata birunya yang indah, Carlo berjalan gagah menyeberangi jalan raya. Pria itu kemudian berhenti di tepi jembatan.
Di sana sudah menunggu seorang gadis yang tak lain adalah Oxana. “Aku akan menari di istana Serigala Merah dari pukul delapan malam. Akan kupastikan Viktor, Czar, serta anak buah kepercayaannya berkumpul di sana,” ujar Oxana dengan suara yang begitu pelan.
“Bagus, Oxana. Pasukan Pavel akan melakukan pengepungan sesaat setelah aku masuk ke sana. Akan kupastikan bahwa tak ada yang bisa masuk ataupun keluar dari tempat itu,” sahut Carlo dengan suara tak kalah pelan.
“Oh ya. Ambilah ini.” Gadis cantik itu kemudian merogoh sesuatu dari dalam tasnya. Selembar kertas putih berukuran besar dia serahkan kepada Carlo. “Ini adalah gambar terowongan terakhir yang sudah berhasil kupetakan untukmu. Letaknya tepat di bawah kamar utama milik Viktor.”
“Terima kasih banyak, Oxana. Ini sungguh informasi yang sangat penting.” Carlo berdecak kagum atas kehebatan Oxana dalam mencari informasi, tentang segala yang berhubungan dengan Viktor Drozdov. Oxana bahkan berhasil mengetahui jadwal keseharian Viktor dan Czar, sehingga Carlo dapat menentukan waktu yang tepat untuk melakukan penyerangan.
Seperti malam itu yang menjadi jadwal rutin bagi Viktor, untuk melangsungkan pesta pribadi di mansionnya. Pria tersebut mengundang Oxana dan teman-temannya untuk tampil di ruang rahasia istana Serigala Merah.
__ADS_1
Pesta liar dan vulgar selalu diselenggarakan oleh Viktor secara rutin dalam setiap tahunnya. Dia menyewa ratusan wanita panggilan untuk memuaskan nafsu bejat dirinya beserta orang-orang kepercayaan yang lain. Minuman keras dan obat-obatan terlarang akan turut mengiringi acara penuh dosa pada malam tersebut.
Sebuah keuntungan berlipat bagi Carlo. Akan lebih mudah baginya untuk menghabisi sekumpulan orang-orang mabuk. Sementara anak buah lain yang tak ikut berpesta, akan berjaga ketat di sekeliling istana dan di jalan-jalan sekitarnya.
“Berhati-hatilah, Carlo,” pesan Oxana seraya merapatkan mantel, lalu berjalan ke arah yang berlawanan.
“Kita bertemu di istana,” sahut Igor sambil meneruskan langkah bersama Carlo, hingga kedua pria itu berhenti di depan sebuah jalan beraspal yang tak begitu besar. Mereka tetap diam sampai terlihat cahaya kecil kemerahan yang berkelip di antara pepohonan, dan berada di kiri serta kanan jalan.
“Anak buah Pavel sudah berhasil menguasai gerbang dan benteng,” desis Carlo.
“Mari, Tuan Muda,” ajak Igor yang begitu tak sabar untuk segera menjalankan aksi penyerangan. Dia seakan lupa bahwa usianya sudah melewati angka enam puluh tahun.
Jiwanya sebagai petarung sekaligus penembak jitu, tak dapat dihapus meskipun kekuatan fisik sudah jauh berkurang.
Sama halnya dengan Ivan yang bekerja sama dengan pasukan rahasia. Dia membantu menanam rangkaian bom, pada setiap ujung terowongan yang jumlahnya mencapai puluhan. Hal itu dilakukan sebagai tindakan pencegahan saat anak buah Viktor atau bahkan Viktor sendiri berusaha melarikan diri.
“Sistem keamanan mereka asal-asalan. Aku tak habis pikir, bagaimana bisa benteng mereka tak bisa ditembus sampai bertahun-tahun lamanya,” ujar Pavel saat menyambut Carlo di balik gerbang.
“Mungkin karena anak buah mereka yang terlalu banyak,” sahut Igor.
“Bukan karena itu. Seberapapun banyaknya anak buah Viktor, jika tak ada pihak yang jauh lebih berkuasa untuk melindungi mereka, maka sudah dari dulu kami akan menghabisinya dengan sangat mudah!” dengus Pavel yang seakan tak terima karena merasa diremehkan.
“Hingga sekarang kita belum berhasil mengungkap siapa sosok berkuasa itu. Namun, aku tetap akan mengambil risiko. Akan kuhabisi Viktor malam ini juga!” tegas Carlo tanpa ada keraguan sedikit pun dari sorot mata birunya serta nada bicaranya.
“Anak buahku dan anak buahmu sudah berjaga di setiap titik di ujung terowongan. Mereka tak akan bisa lolos lagi,” seringai Pavel seraya berjalan mendahului tanpa mengucap sepatah kata pun. Namun, meski demikian Carlo sudah paham dengan apa yang diinginkan oleh ketua dari pasukan tentara rahasia pemerintah tersebut.
__ADS_1
Igor dan Carlo berdiri gagah di sisi kiri dan kanan Pavel, ketika kepala pasukan khusus itu membuka pintu masuk lebar-lebar. Untuk sesaat, Carlo memalingkan muka tatkala menyaksikan pemandangan erotis yang tersaji di depan mata. Ratusan pria dan wanita bercinta di tempat terbuka tanpa malu-malu.
Para pria itu sepertinya dalam pengaruh minuman keras. Tampak pula Czar yang bermain dengan tiga orang wanita sekaligus. Sedangkan Viktor Drozdov sama sekali tak terlihat di ruangan luas tersebut.
Dari kejauhan, Oxana bersama beberapa orang temannya tengah menari meliuk-liuk di atas panggung. Puluhan orang mengerubunginya sembari melemparkan berlembar-lembar uang.
Lagi-lagi, mata elang Carlo memindai satu per satu pengikut Viktor yang asyik menikmati tarian indah Oxana dan gadis-gadis lain.
“Bagaimana caranya kita menghabisi mereka, tanpa melukai satu pun dari wanita-wanita itu?” tanya Igor kepada Pavel.
“Cukup dengan kalian mendengar teriakanku sebentar lagi,” sahut Pavel sambil memandang ke arah arloji militernya.
Sementara Carlo malah terpaku pada sesosok wanita berambut coklat yang tengah melayani salah seorang anak buah Viktor. Angannya seketika melayang pada setiap adegan panas yang pernah dia lakukan bersama Miabella.
Bagi Carlo, hal itu adalah sebuah moment terbaik yang pernah dia rasakan seumur hidupnya. Miabella merupakan satu-satunya gadis yang telah berhasil membuat hasrat pria tampan tersebut bangkit, dan hanya dengan gadis itulah dia melampiaskan semuanya.
“Ah.” Carlo mengusap rambutnya kasar. Dia harus berusaha keras agar kembali fokus. Sedikit lagi, jika Tuhan mengizinkan maka seluruh kekayaan dan kekuasaan akan jatuh ke tangannya.
“Hei!” Pavel berteriak sekencang-kencangnya di dalam ruangan itu, sambil mengacungkan senjata laras panjang ke atas.
Melihat hal itu, para wanita bayaran berteriak histeris, lalu lari keluar meninggalkan aula. Para wanita pemuas pria-pria hidung belang tadi tak peduli, meskipun sebagian besar dari mereka dalam kondisi tak berbusana. Begitu pula dengan Oxana dan beberapa rekan penari lain yang segera melompat turun dari panggung. Mereka berlari ke luar ruangan pesta, lalu bersembunyi.
Kini, ruangan luas tadi mendadak lengang dan menyisakan Carlo, Igor, serta Pavel yang saat itu gagah berdiri melihat semua anggota Serigala Merah mengeluarkan tatapan membunuh pada mereka.
Namun, hal itu menjadi sesuatu yang tidak berarti, berhubung mereka semua sedang dalam kondisi yang tak siap. Jangankan senjata, para anak buah Viktor yang berada dalam kondisi mabuk tampak sibuk mencari pakaian dalam yang entah mereka lempar ke mana sebelum melakukan pesta liar tadi.
__ADS_1
Dalam kondisi kacau seperti itu, pasukan rahasia yang bersenjata lengkap pun merangsak masuk. Mereka langsung memberondong pria-pria laknat tadi dengan membabi buta. Pembantaian besar-besaran pun terjadi di sana. Sementara Carlo, sigap mengejar Czar yang melarikan diri.