
Dengan cepat, berita kemenangan Carlo tersebar di kalangan para pengikut setia Nikolai Volkov. Mereka yang bahkan sudah berada di luar negeri, menyambut dengan suka cita kabar tewasnya Viktor beserta seluruh anak buah yang lain. Pesta penobatan pun akan segera dilangsungkan, di mansion empat lantai yang menjadi markas besar Klan Serigala Merah.
Sebelumnya, Grigori yang telah tiba di Rusia sudah memerintahkan beberapa orang untuk membersihkan bangunan luas tersebut. Dia menghabiskan banyak biaya demi menjadikan istana yang merupakan tempat bersejarah tersebut agar kembali terlihat indah dan juga resik seperti dulu. Segala jenis tanaman liar beserta lumut yang menjadikan tempat itu terlihat layaknya rumah hantu, sudah dibabat habis hingga tak tersisa. Kini, markas besar Serigala Merah kembali memperlihatkan keindahan serta kemegahannya.
"Bagaimana persiapannya?" tanya Carlo ketika sedang berkumpul bersama Grigori, Igor, dan juga Ivan.
"Persiapan sudah sembilan puluh sembilan persen dirampungkan. Kita hanya perlu mengecek urusan yang kecil-kecil saja," sahut Igor yang bertugas menjadi seksi sibuk dalam perhelatan besar nanti. Dia juga dibantu oleh Ivan yang selalu setia menjadi penyambung langkahnya.
"Aku sudah memesan menu yang terbaik untuk acara perjamuan. Begitu juga dengan minumannya ...."
"Aku ingin Du Fontaine," sela Carlo dengan segera sambil menatap penuh arti kepada Grigori.
"Du Fontaine?" ulang Grigori. Pria paruh baya tersebut manggut-manggut. "Baiklah," ucapnya kemudian. "Apa Anda juga akan mengundang tuan Marco de Luca serta tuan Adriano D'Angelo dalam acara ini?" tanya pria itu lagi yang seakan memberikan sebuah penawaran kepada Carlo.
"Akan kupikirkan itu nanti," jawab Carlo seraya beranjak dari duduknya. Dia bermaksud untuk berlalu dari sana, tetapi tak lama kemudian segera menghentikan langkah dan kembali menoleh. "Kapan kau akan membawa ibuku untuk datang kemari, Grigori?" tanyanya.
"Sebelum pesta diadakan, nyonya Fabiola kupastikan sudah berada di istana ini, Tuan muda," jawab Grigori dengan yakin.
"Baiklah." Carlo mengangguk. "Jangan lupa, aku ingin Du Fontaine. Berikan juga undangan bagi pemilik merk tersebut. Kuharap dia bersedia untuk datang, karena dia tidak menyukai pesta." Seusai berkata demikian, Carlo melanjutkan langkah keluar dari ruang pertemuan itu. Dia meninggalkan ketiga seniornya yang hanya saling pandang.
"Du Fontaine?" Ivan mengernyitkan kening.
"Ya. Itu merupakan salah satu merk anggur terkenal di Italia dan beberapa negara Eropa. Namun, kurasa bukan hanya karena kenikmatan minuman serta merk terkenal yang menjadi pilihan tuan muda," ujar Grigori menerangkan.
__ADS_1
"Lalu?" tanya Igor dan Ivan secara bersamaan.
"Nanti juga kalian berdua akan mengetahuinya," jawab Grigori yang membuat rasa penasaran dalam diri kedua rekannya menjadi kian besar.
Sementara Miabella tengah sibuk di depan layar komputer. Gadis itu sedang memeriksa email yang masuk. Selama ini, Miabella memang tak memiliki asisten atau semacamnya. Dia memegang kendali penuh atas segala hal yang berkaitan dengan perkebunan, termasuk penawaran kerja sama atau pesanan anggur. Baik itu bahan mentah atau hasil olahan, yaitu Du Fontaine.
Siang yang cerah di musim semi, ketika Miabella mendapat pesanan anggur dalam jumlah yang terbilang besar dari wilayah St. Petersburg, Rusia. Miabella kemudian segera menghubungi rekan bisnisnya Vlad Ignashevich. Dia mengkonfirmasi pesanan yang masuk padanya, dan meminta agar Vlad dapat segera mengirimkan anggur-anggur itu ke tempat si pemesan, berhubung konsumen itu telah melunasi seluruh pembayaran.
"Aku akan segera mengemasnya. Kau tidak perlu khawatir. Kualitas dan keamanan merupakan yang utama dari produk ini, hingga dapat sampai ke tangan pemesan," ujar Vlad sesaat setelah dia mendengarkan penjelasan Miabella.
"Baguslah. Aku percayakan semuanya padamu, Vlad," sahut Miabella, "nanti akan kukirimkan alamat lengkapnya," ucap gadis itu lagi sebelum menutup sambungan telepon dengan sang rekan bisnis.
Tiga tahun telah berlalu. Miabella sudah berhasil mengatasi kegundahan hatinya. Gadis itu menyalurkan segala energi negatif yang selama ini memenjarakan dirinya pada pekerjaan. Makin dia merasa sibuk, maka semakin terlupa dirinya atas segala rasa sakit yang mendera. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa bayangan Carlo tetap tak bisa sepenuhnya lepas dari dalam ingatan.
Miabella masih kerap termenung sendiri, meresapi segala kenangan indah yang pernah dia dan si pemilik mata biru itu lewati bersama. Seperti halnya siang itu. Tatapan mata gadis cantik tersebut selalu saja tertuju pada jalan setapak perkebunan, pada rerumputan hijau yang entah telah berapa kali tumbuh dan dipangkas hingga berganti dengan yang baru. Tak ada yang tahu bahwa di sanalah dia dan Carlo untuk pertama kalinya, menyatukan diri dalam ikatan yang membuat mereka semakin dekat dan tak terpisahkan.
Seketika, lamunan Miabella pun berakhir. Dia segera mengalihkan pandangan dari area perkebunan. "Masuk," sahutnya.
Luciella yang hingga kini masih menjadi pelayan di Casa de Luca, masuk dengan membawa seikat besar bunga lily putih ke dalam kamar. "Ada kiriman lagi untuk Anda. Ini sangat luar biasa. Orang yang mengirimkan bunga ini pasti sedang berbahagia," ujar gadis itu seraya meletakkan bunga tadi di atas meja.
"Aku sudah bosan menerima kiriman bunga yang sama setiap hari," sahut Miabella yang kini terlihat jauh lebih dewasa dalam penampilannya. Gadis itu mulai merawat diri dan juga sangat memperhatikan penampilan. Rambut panjangnya tergerai indah. Berwarna cokelat dan tampak sangat berkilau.
"Apa kali ini aku harus membuangnya juga, Nona?" tanya Luciella yang terlihat ragu, mengingat bunga yang baru dia terima dari penjaga pintu gerbang itu sangat cantik dan juga dalam jumlah banyak.
__ADS_1
"Terserah kau saja," sahut Miabella tak acuh. "Jika kau mau, silakan ambil."
"Lebih baik kusimpan sebagai penghias kamar, daripada harus dibuang," sahut Luciella lagi. Dia lalu merogoh ke dalam saku depannya yang besar. Dari sana, gadis itu mengambil kertas berwarna merah. Kertas tadi mirip dengan sebuah kartu undangan. "Ini untuk Anda, Nona." Luciella menyodorkan benda tersebut kepada Miabella yang tak segera menerimanya.
"Apa itu?" tanya Miabella sembari memperhatikan kartu berwarna merah tadi.
"Aku rasa ini kartu undangan untuk Anda," sahut Luciella.
"Letakkan saja di atas meja. Akan kubuka nanti," suruh Miabella.
Tanpa banyak bicara, Luciella pun menuruti perintah sang nona. Setelah itu, dia segera berpamitan keluar dari dalam kamar.
Sedangkan Miabella kembali berdiri di dekat jendela kaca. Namun, gadis itu tak bisa merenung berlama-lama di sana, karena suara dering ponsel yang membuatnya merasa terusik. Adalah sebuah panggilan masuk dari Mia. Mau tak mau Miabella harus segera menjawabnya. Jika sampai dia mengabaikan hal itu, maka Mia pasti akan langsung terbang ke Italia untuk memeriksa keadaannya.
"Pronto," sapa Miabella.
"Hai, sayang. Bagaimana kabarmu? Ini musim semi yang sangat indah. Apakah Vlad sudah datang ke Casa de Luca?" Mia langsung memberondong putrinya dengan serentetan pertanyaan.
"Vlad sedang sibuk di St. Petersburg. Kami mendapat pesanan di sana," sahut Miabella. Dia tahu jika sang ibu berharap lebih dari kedekatannya dengan sang rekan bisnis asal Rusia tersebut.
"Ah, kebetulan sekali kalau begitu," ujar Mia sumringah.
"Apanya yang kebetulan, bu?" tanya Miabella seraya menautkan alisnya.
__ADS_1
"Adriano mendapatkan sebuah undangan dari seseorang di Rusia. Kami tidak tahu siapa itu. Namun, setelah berkoordinasi dengan Marco, ternyata dia pun mendapatkannya juga. Adriano berpikir mungkin pengirimnya seorang pengusaha atau ... entahlah. Satu yang pasti, akhir pekan ini kami akan berangkat ke St. Petersburg. Adriana pun akan ikut. Jadi, kuharap kau turut serta. Anggap ini sebagai liburan keluarga. Sudah lama kita tidak pergi bersama." Mia mengakhiri penuturannya dengan nada penuh harap.
"Entahlah, bu," sahut Miabella ragu. Sepasang matanya kemudian tertuju pada kartu undangan di atas meja. "Aku juga mendapat kiriman kartu undangan, tapi entah dari siapa karena belum kuperiksa." Miabella kemudian beranjak ke dekat meja sebelah tempat tidur, lalu duduk di tepian ranjang. Tanpa menghentikan panggilannya, dia membuka kartu tadi. Tampaklah tulisan St. Petersburg di dalamnya.