The Bodyguard

The Bodyguard
Longing Hug


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam. Akan tetapi, Miabella belum juga dapat memejamkan mata. Masih terus berputar dalam benaknya, raut wajah terluka dari sang ibu dan ekspresi sedih Adriano. “Daddy zio,” gumam gadis itu lirih. Dulu pria itu adalah idola nomor satu bagi dirinya. Namun, betapa cepat perasaan berubah. Kini jarak yang membentang di antara mereka berdua semakin membesar.


Merasa gelisah, Miabella memutuskan untuk turun dari ranjang. Dia bergegas membuka pintu dan berjalan menuju kamar yang ditempati oleh Adriano. Ragu-ragu tangan gadis itu terulur, hingga akhirnya Miabella mengetuk pintu tempat peristirahatan orang tuanya dengan pelan.


Tak berselang lama, Adriano muncul dari dalam kamar dengan rambut yang sedikit acak-acakan. Pria itu cukup terkejut, ketika dirinya mendapati Miabella dengan mata sembap berdiri di hadapannya. “Principessa? Kau belum tidur?” tanyanya heran.


“Apakah ibu sudah tertidur?” Miabella malah balik bertanya.


“Ya, dia merasa kurang enak badan sejak sore tadi. Aku menyuruhnya untuk beristirahat,” jawab Adriano, membuat Miabella semakin didera perasaan bersalah. Tak seharusnya dia menyakiti perasaan wanita yang teramat dia sayangi.


“A-aku … aku ….” Miabella tergagap. Begitu banyak yang ingin dia ungkapkan. Namun, tak satu pun kata yang bisa keluar dari bibirnya. “Ma’afkan aku, Daddy Zio,” ucap gadis cantik itu setelah beberapa saat berlalu.


Adriano kembali tertegun atas sikap putri sambungnya tersebut. “Aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kau memintanya,” jawab pria paruh baya tersebut sambil mengusap lembut pipi sang putri kesayangan.


“Daddy Zio,” ucap Miabella lagi masih dengan suaranya yang terdengar begitu lirih. Sejuta penyesalan kembali hadir tatkala mengingat sikapnya yang kasar kepada Adriano.


“Sudahlah. Lupakan saja semuanya. Anggap tak pernah terjadi apapun juga,” ujar Adriano. Dia mendekat pada Miabella, lalu memeluk putri sambungnya erat-erat. “Tidurlah. Paksakan untuk beristirahat. Aku tak ingin kau jatuh sakit.”


Miabella menggeleng lemah dalam dekapan Adriano. Untuk sejenak, dia merasakan hangatnya kasih sayang sang ayah yang mengalir ke seluruh tubuh. “Jam berapa kita berangkat ke Palermo besok?” tanya gadis itu kemudian.


Sedangkan Adriano menyunggingkan senyum samar sambil menepuk-nepuk punggung Miabella. “Kau akan berangkat bersama kami, kan?” Miabella menanggapi pertanyaan ayahnya dengan sebuah anggukan.


“Sebenarnya kami akan berangkat tadi sore, tapi karena kondisi ibumu tidak memungkinkan, maka besok kita akan berangkat sepagi mungkin. Ibumu ingin membantu bibi Daniella untuk menyiapkan semuanya. Karena itu, segeralah pergi tidur." Adriano mengecup lembut kening Miabella

__ADS_1


Miabella mengangguk lagi, lalu melepaskan pelukan Adriano. “Buonanotte, Daddy Zio,” ucapnya sebelum berlalu.


“Buonanotte, Principessa.” Sebuah senyuman manis tersungging dari bibir tipis Adriano. Bayangan pria yang masih tetap terlihat menawan di usianya yang hampir separuh abad itu melayang pada puluhan tahun yang lalu, ketika dirinya bertemu pertama kali dengan Miabella yang masih balita. Rasa pelukan yang tetap sama meskipun sudah puluhan tahun telah berlalu. “Aku menyayangimu, tuan putri kecilku,” bisik Adriano sebelum masuk ke kamar. Sesaat kemudian, pria itu beranjak ke dalam lalu menutup pintu rapat-rapat.


Sementara waktu berjalan demikian cepat. Dari tengah malam berubah ke pagi tanpa terasa. Miabella yang seperti baru saja tertidur, dengan terpaksa harus membuka matanya lebar-lebar saat alarm yang dia pasang di ponsel telah berbunyi nyaring.


Sambil bermalas-malasan, dia turun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ketika air shower mengalir membasahi tubuhnya, lagi-lagi dia teringat akan sosok Carlo yang kini menghilang entah ke mana. “Hh,” desah Miabella pelan. Sesegera mungkin dia menepis sosok tampan itu dari dalam pikirannya.


Dua jam berlalu, Miabella beserta seluruh keluarganya telah selesai sarapan dan bersiap untuk menuju ke landasan helikopter di atap bangunan Casa de Luca. Namun, gadis itu belum berani menyapa sang ibu yang lebih banyak diam. Tak jauh berbeda dengan Adriana yang selalu menundukkan kepala tiap kali bersitatap dengan sang kakak.


Pada akhirnya, Miabella membiarkan ibu dan adiknya untuk berjalan lebih dulu. Sedangkan dia menyempatkan diri terlebih dulu, menemui mandor perkebunan untuk mengambil alih semua pekerjaannya. Miabella juga berbicara dengan Dante, sekaligus berpesan agar pria itu mengawasi para pekerja.


Setelah semuanya beres, barulah Miabella menyusul ke landasan. Dengan hanya berbekal satu koper kecil, gadis cantik itu terburu-buru menaiki tangga. Tanpa diduga, ternyata Adriana sudah menunggu di sana. Dia menyunggingkan senyum yang teramat manis pada sang kakak sambil mengepalkan tangan ke arah Miabella.


“Apa kau sudah merasa lebih baik?” tanya Adriana sambil berjalan menyejajari langkah sang kakak.


“Tidak, tapi aku berusaha agar tidak peduli. Aku akan belajar untuk terus melangkah ke depan,” jawab Miabella diplomatis.


“Nah, itu baru kakak yang kukenal.” Adriana tertawa lebar sambil menepuk punggung Miabella kuat-kuat, lalu berlari masuk ke dalam helikopter.


“Hei!” protes Miabella. Tepukan adiknya begitu kuat sampai-sampai punggungnya terasa nyeri. “Lihat saja pembalasanku nanti!” dengusnya kesal.


Dalam kabin helikopter, Adriano meminta Miabella untuk duduk di sampingnya, berhadapan dengan Mia dan Adriana. Pria bermata biru itu juga membantu memasangkan headphone aviator pada putri sambungnya tersebut. Setelah itu, dia beralih lepada Adriana, barulah Mia. “Apa kau baik-baik saja, Sayang? Kita mundurkan jadwal ke Palermo jika badanmu masih terasa kurang nyaman,” ujar Adriano yang melihat wajah Mia tampak sedikit pucat.

__ADS_1


“Aku tidak apa-apa. Jalankan helikopternya sekarang,” sahut Mia memaksakan untuk tersenyum, tapi tak sekalipun dia menoleh kepada Miabella.


Setelah kurang lebih setengah jam perjalanan, mereka akhirnya tiba di Palazzo de Luca. Tempat itu terletak di pusat kota Palermo. Tampak Romeo dan Tobia sudah siap menyambut mereka di ujung landasan.


Seperti biasa, Adriana selalu turun lebih dulu sesaat setelah baling-baling berhenti bergerak. Setelah itu, barulah disusul oleh Mia dan Miabella. Sedangkan Adriano turun paling akhir, sebab harus memberikan arahan pada pilot helikopternya.


Miabella yang merasa sang ibu tidak menghiraukannya, segera menyusul langkah cepat Mia. Tanpa permisi, dia memegang pundak wanita itu. Sedikit memaksa, Miabella membuat Mia membalikkan badan jadi menghadap ke arahnya. “Kuakui bahwa aku memang keterlaluan, Bu. Maafkan sikapku yang tak pantas selama ini. Tolong jangan mengacuhkanku. Aku sangat menyayangimu,” ucap Miabella dengan sorot sendu.


Tanpa permisi, dia memeluk erat-erat tubuh ramping sang ibu hingga bisa merasakan detak jantung wanita yang telah melahirkannya tersebut. “Tolong jangan acuhkan aku,” pintanya sekali lagi. “Jangan membuatku merasa ditinggalkan lagi olehmu,” lanjut Miabella.


Mendengar hal itu, Mia segera membalas pelukan putri sulungnya. “Aku tidak pernah dan tidak akan pernah meninggalkanmu, Bella. Semarah apapun pada dirimu, sejauh apapun jarak yang memisahkan kita nantinya, aku akan tetap dan selalu menyayangimu,” tegas Mia.


“Terima kasih, Bu. Terima kasih.” Miabella dapat bernapas lega. Setidaknya saat Carlo pergi entah ke mana, dia masih mempunyai kedua orang tua dan adik yang akan terus mendukung dirinya.


Dari kejauhan, Romeo dan Tobia terus mengawasi ibu dan anak yang masih setia berpelukan. Adriano yang turun paling akhir dari helikopter, justru tiba lebih dulu ke lantai di bawahnya. “Apa yang sedang mereka lakukan?” tanya Tobia pada Adriana.


“Tidak apa-apa. Ibu dan kakakku hanya sedang melepas rindu. Kalian tahu bukan bahwa kami baru saja datang dari Yunani,” jelas Adriana.


“Bukankah kalian sudah tiba beberapa hari yang lalu dan langsung ke Casa de Luca?” Romeo mengernyitkan kening tanda tak mengerti.


“Rindu bisa saja terjadi setiap hari,” sahut Adriana asal, seraya menyusul ayahnya untu segera turun ke lantai bawah. Ucapannya membuat Romeo dan Tobia saling pandang.


“Apa kau mengerti maksud perkataannya?” tanya Romeo.

__ADS_1


“Tidak sama sekali,” jawab Tobia seraya menggeleng pelan.


__ADS_2