
Sampai detik itu, Carlo masih belum mempercayai bahwa Miabella sudah tewas di tangan Vlad. Selama Carlo tidak melihat secara langsung jasad sang istri, dia tidak akan menyerah mencari belahan jiwanya tersebut.
“Jangan sentuh apapun yang ada di dalam ruangan ini. Kalian tetaplah berjaga di sini sampai aku kembali,” titah Carlo seraya meninggalkan ruangan tersebut. Dengan langkah tergesa, Carlo mencari lift, kemudian menekan tombol lantai teratas.
Tak berselang lama, pintu lift terbuka. Wajah yang dilihat Carlo pertama kali saat melangkah keluar dari lift adalah Marco. Pria paruh baya tersebut tampak gusar. Ketua Klan de Luca tersebut terlihat jauh lebih gelisah, saat melihat bahwa Carlo datang sendiri tanpa membawa Miabella. “Di mana keponakanku?” tanya Marco was-was.
“Tuan.” Carlo tak segera menjawab. Dia memegangi pundak paman dari Miabella tersebut, lalu mencengkeramnya erat. “Apakah Anda mempunyai kenalan petugas forensik atau siapa pun yang dapat memberi akses untuk melakukan tes DNA?” tanya pria tampan bermata biru itu.
“Apa maksudmu? Untuk apa?” Marco balik bertanya. Perasaannya semakin tak karuan, ketika wajah Carlo menunjukkan ekspresi yang teramat tegang.
“Mari ikut aku ke ruangan bawah tanah mansion ini, Tuan,” ajak Carlo dengan bahasa tubuh yang setengah memaksa.
Marco tak banyak bicara lagi. Dia mengikuti langkah cepat Carlo menuju ruangan bawah tanah. Di sana, sang ketua Klan de Luca menemukan sesuatu yang membuatnya terbelalak sempurna. Dia melihat betapa kacaunya tempat itu, dengan genangan darah yang menutupi lantai. “Darah siapa ini?” desisnya.
“Sebelah sini, Tuan.” Carlo mengarahkan Marco ke sebuah ruangan khusus yang berdampingan dengan ruangan eksekusi tadi. Di tempat itu, Carlo kembali memutar rekaman video yang memperlihatkan Vlad ketika sedang menghabisi seorang wanita yang diduga sebagai Miabella.
“Apa?” geram Marco saat memperhatikan adegan demi adegan sadis tersebut. “Brengsek!” bentaknya sambil menggebrak meja. Dia lalu menoleh kepada Carlo yang berada sampingnya. Marco langsung menarik kerahT-shirt yang dikenakan sang ketua Klan Serigala Merah. “Ini semua salahmu! Kau sudah membahayakan keponakanku! Kurang ajar kau, Carlo!” Marco mendorong tubuh tegap Carlo dengan kencang, hingga si empunya terhuyung dan bahkan sampai terjatuh.
Sedangkan Carlo tak berniat membalas. Jangankan melawan, untuk berdiri pun terasa begitu sulit baginya. Akan tetapi, dia kembali pada keyakinan bahwa Miabella masih hidup. Hal itulah yang membuatnya memiliki sedikit kekuatan dan harapan untuk bangkit kembali.
“Tuan. Aku tidak yakin jika Vlad membunuh Miabella. Instingku mengatakan bahwa Bella masih hidup. Oleh karena itu, aku ingin meminta bantuanmu,” pinta Carlo hati-hati.
“Cih! Kau masih punya malu untuk meminta pertolongan padaku, Carlo!” geram Marco sambil melayangkan satu pukulan keras ke rahang pria rupawan tersebut.
Carlo kembali terhuyung. Dia segera berpegangan pada pinggiran meja agar tak terjatuh. “Ini demi Miabella, Tuan. Aku ingin membuktikan sesuatu,” ujarnya berusaha meyakinkan Marco.
__ADS_1
“Apa yang ingin kau buktikan, hah?” Saat itu Marco seperti sudah kehilangan akal sehat. Matanya memerah dengan raut wajah berubah bengis. Bukan tidak mungkin paman Miabella tersebut akan segera membunuh Carlo, jika saja Carlo tidak segera mencegah dengan cara menahan dan memegang erat tangan Marco.
“Dengarkan aku, Tuan. Anda bisa membunuhku nanti. Namun, aku ingin Anda memeriksa lebih dahulu, darah milik siapa yang ada di lantai. Apakah sama dengan bercak darah di atas ranjang,” ujar Carlo.
Seketika, Marco terdiam. Dia mulai memikirkan dan mencerna kalimat Carlo dalam-dalam. “Menurutmu, apakah kemungkinan wanita di dalam video itu bukan Bella?” tanyanya ragu. Nada bicaranya pun tak sekeras tadi.
“Kemungkinan itu akan tetap ada, Tuan. Lagi pula Vlad tidak menunjukkan wajah Miabella secara jelas. Mukanya tertutup rambut yang kebetulan memiliki warna sama dengan rambut istriku,” jelas Carlo pelan-pelan.
“Hm.” Marco mengangguk tanda mengerti. “Kurasa, aku tahu aku akan meminta bantuan pada siapa,” gumamnya. Tanpa membuang waktu, Marco merogoh ponsel dari dalam saku jaketnya, kemudian memilih satu nomor kontak.
Tak berselang lama, panggilan itu tersambung. Marco berbincang serius pada seseorang dalam telepon sambil sesekali melirik ke arah Carlo. “Temanku akan datang sebentar lagi. Kebetulan dia sekarang telah menjadi kepala polisi di wilayah Catania,” terang Marco tanpa diminta.
“Kepala polisi?” ulang Carlo.
“Ya. Aku sudah memintanya untuk segera datang kemari,” jawab Marco, kemudian berjalan menjauh dari Carlo. Pria paruh baya yang selalu terlihat rapi itu lalu memberi arahan kepada salah satu anak buahnya.
Saat itu, Carlo memperhatikan mereka dari jauh, sambil sesekali melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiri. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari.
“Apa kabar, Ignazio? Maaf aku sudah merepotkanmu sepagi ini,” sambut Marco.
“Tidak masalah. Ada kejadian apa sampai kau memanggilku kemari, Marco? Apa sudah terjadi peperangan di tempat ini?” tanya pria bernama Ignazio tersebut seraya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan dengan terheran-heran.
“Aku sangat membutuhkan bantuanmu. Seperti yang telah kukatakan di telepon tadi.” Marco lalu memutarkan rekaman kamera pengawas pada sang polisi dan ajudannya sampai selesai. “Aku tidak yakin jika sosok yang ada di dalam video itu adalah keponakanku, Miabella de Luca. Jadi, aku ingin kau memeriksa setiap barang bukti yang ada di tempat ini. Termasuk darah yang terdapat di lantai, dan juga di atas bantal,” tunjuk Marco ke arah ranjang kecil yang sudah hancur terbelah dua akibat ulah Carlo beberapa saat yang lalu.
“Barang bukti di tempat ini tidak tercemar, kan?” Ignazio kembali mengamati sekitarnya sebelum kembali memusatkan perhatian pada Marco.
__ADS_1
“Tidak, Tuan,” sahut Carlo. “Aku sudah memerintahkan semua orang untuk menjauh dari area itu.” Telunjuk sang ketua klan Serigala Merah, lurus mengarah pada genangan darah dan ranjang yang berantakan.
“Bagus,” sahut Kepala Polisi Ignazio Ranieri menatap seraya menatap lekat kepada Carlo.
"Aku pernah melihatmu sebelumnya,” gumam pria itu pelan.
“Dulu, Carlo adalah pengawal Bella. Sekarang dia sudah menjadi suaminya,” terang Marco sebelum Carlo sempat menjawab.
“Oh, begitu rupanya. Aku selalu mengingat sosok Miabella sebagai gadis kecil yang lucu dan sangat menggemaskan. Dulu, dia tidak pernah lepas dari ayah tirinya, Adriano D’Angelo. Semoga anak cantik itu baik-baik saja.” Ignazio mengembuskan napas pelan.
Pria itu menyuruh anak buahnya untuk memeriksa tempat kejadian.
Sambil mengenakan sarung tangan karet, ajudan polisi tersebut sigap mengambil semua benda yang dapat dijadikan sampel dan petunjuk. Sang ajudan kemudian memasukkan sampel-sampel tadi ke dalam kantong plastik berukuran sedang. Setelah itu, dia menyerahkannya kepada Ignazio.
“Baiklah. Kuterima benda-benda ini dan akan kuperiksa secepatnya. Namun, aku juga membutuhkan sampel lain sebagai pembanding,” ujar Ignazio.
“Maksudnya?” tanya Marco dan Carlo secara bersamaan.
“Aku akan mempercepat proses identifikasi DNA. Hasil akhirnya nanti harus kubandingkan dengan sampel DNA dari anggota keluarga terdekat,” jawab Ignazio. “Tidak masalah jika sampel pembanding dikirimkan lebih lambat, asalkan tidak lebih dari seminggu,” imbuhnya.
“Itu berarti kita harus menghubungi Mia. Bagaimanapun juga, Adriano harus tahu mengetahui hal ini," putus Marco.
🍒🍒🍒
Rekomendasi novel keren untuk hari ini.
__ADS_1