The Bodyguard

The Bodyguard
Sadness in the Last of Summer


__ADS_3

"Apa yang telah terjadi padamu, Principessa?" Adriano bertanya seperti pada dirinya sendiri. Dia mengangkat lalu membopong tubuh ramping Miabella ke dalam kamar. Pria paruh baya itu membaringkannya di atas ranjang.


"Aku lelah sekali, Daddy Zio," sahut Miabella dengan mata terpejam.


"Apakah kau sakit?" Sekilas, Adriano melihat pergelangan tangan putri sambungnya yang ditempeli plester. "Apa ini?" Dia meraih tangan Miabella, kemudian mengamatinya dengan saksama. Adriano meletakkan tangan lemah itu dan bergegas keluar kamar. Tujuan dia saat itu adalah mencari Luciella.


Setelah bertanya pada beberapa pelayan, akhirnya Adriano dapat menemukan gadis muda tersebut di halaman belakang. "Katakan apa yang terjadi pada putriku? Kenapa wajahnya tampak pucat? Sakit apa yang dideritanya?" cecar suami dari Mia tersebut.


"Itu ...." Luciella kebingungan untuk menjawab. Teringat oleh gadis itu, pesan dari sang nona muda agar dia tak mengatakan tentang keadaan yang dialami oleh dirinya kepada siapa pun. Namun, di sisi lain Luciella juga tidak mungkin untuk tidak menjawab pertanyaan sang ketua Tigre Nero tersebut.


"Aku ayah dari Miabella. Diriku berhak tahu meskipun dia melarangmu!" tegas Adriano dengan sorot mata tajam, seakan menusuk ke dalam jantung Luciella.


"No-nona muda mengalami keguguran, Tuan," jawab Luciella terbata. Entah apa yang akan dia dapati, setelah mengatakan kebenaran itu kepada Adriano.


"Keguguran?" Adriano terbelalak tak percaya. “Putriku … hamil?” suaranya terdengar bergetar karena menahan rasa terkejut yang luar biasa.


“Iya, Tuan. Janin dalam kandungan nona muda sudah berusia sekitar dua bulan,” jelas Luciella sembari tertunduk dalam-dalam. Dia sama sekali tak berani menatap Adriano yang tampak gusar. "Tolong jangan katakan pada nona muda, bahwa akulah yang telah memberitahu Anda. Dia pasti akan marah besar dan mungkin saja memecatku dari sini," pinta Luciella setengah memohon.


"Kau tidak perlu khawatir. Terima kasih karena telah memberitahuku." Sesekali pria yang hampir berusia separuh abad itu menyugar rambut gelapnya dengan kasar. Adriano tak pernah merasa sebingung ini. Rasa gelisah, kalut, dan juga amarah bercampur menjadi satu dalam dada.


“Bisa-bisanya kau melakukan hal ini pada Bella-ku, Carlo!” gumam Adriano dengan suara yang teramat pelan. Namun, kedua tangannya sudah terkepal dengan sempurna.

__ADS_1


“Apakah sudah tidak ada yang hendak Anda tanyakan lagi, Tuan?” Luciella yang kebingungan melihat sikap sang ketua Tigre Nero, pada akhirnya memberanikan diri untuk meminta izin. “Aku harus segera menyelesaikan pekerjaan.”


Adriano segera menoleh dan menatap Luciella tajam. “Pergilah,” ucapnya.


“Baik, Tuan. Permisi.” Luciella mengangguk dengan setengah membungkuk, sebelum membalikkan badan dan meninggalkan ayahanda dari nona mudanya tersebut. Sementara Adriano masih terdiam beberapa saat sebelum memutuskan untuk kembali ke kamar Miabella.


Dilihatnya sang putri yang teramat dia sayangi tengah terlelap dengan posisi menyamping. “Astaga, Bella. Kenapa hubungan kalian bisa sampai sejauh ini?” Adriano tak peduli meskipun Miabella tak dapat mendengar pertanyaannya. Dia hanya ingin mengungkapkan salah satu dari sekian banyak hal yang mengganjal di hati.


Adriano mengusap rambut coklat panjang Miabella dengan lembut dan penuh perasaan. Salah satu dari tiga permata dalam hidupnya yang sangat dia jaga dengan sepenuh jiwa, ternyata harus mengalami kejadian pahit seperti saat ini. Pikirannya kembali melayang pada Carlo, anak asuh yang juga sangat dia sayangi.


Kini, tiap kali Adriano membayangkan wajah tampan pria bermata biru itu, yang ada di dalam hatinya hanyalah rasa marah serta kecewa. Dia terus larut dalam angan-angan sampai ponselnya berdering. Adriano membaca nama Vlad pada layar telepon genggamnya. “Astaga!” Pria itu segera berdiri. Dengan langkah terburu-buru, dia meninggalkan kamar Miabella setelah menyelimuti putri kesayangannya hingga sebatas dada.


Adriano bergegas menuju ruang tamu di mana Vlad tengah menunggunya sejak tadi. Sebisa mungkin dia menyembunyikan wajah gusar yang tengah dirasakan lewat senyuman kalem. “Maafkan aku karena telah membuat Anda menunggu terlalu lama,” ucapnya merasa tak enak.


“Ya, semua baik-baik saja. Miabella hanya merasa sedikit pusing. Aku menyuruhnya untuk beristirahat. Biarlah aku yang mewakilinya di sini,” jelas Adriano.


“Oh, tentu. Itu sama sekali bukan masalah, Tuan.” Vlad membalasnya dengan senyuman lebar.


“Aku akan mempelajari proposal yang telah Anda kirimkan secepatnya. Jawaban akan kuberikan paling lambat nanti malam. Lebih cepat kerja sama ini dilakukan, maka itu akan jauh lebih baik,” putus Adriano dengan yakin.


"Terima kasih, Tuan. Lagi pula, aku sudah terlalu lama menunggu jawaban dari putri Anda. Menurutku tak ada salahnya untuk menjalin kerja sama. Harus kuakui jika diriku memang belum memiliki nama besar di Italia. Namun, untuk kawasan Rusia dan sekitarnya, Anda bisa memeriksa dan membuktikan sendiri. Aku bukan pengusaha nakal yang akan berbuat curang dalam hal kerja sama apapun," tutur Vlad meyakinkan Adriano

__ADS_1


"Ya aku rasa itu tidak perlu. Marco sudah banyak bercerita tentang Anda, dan aku menyukainya. Usia muda tapi sudah berkecimpung dalam dunia bisnis. Marco mengatakan bahwa Anda juga memiliki bengkel pengolahan batu permata. Apakah itu benar?" Adriano membetulkan sikap duduk dan membuat dirinya agar terlihat jauh lebih nyaman.


"Ya, Tuan. Aku sudah menggeluti bisnis batu permata dari dulu. Kebetulan, ayahku juga pernah berkecimpung dalam hal yang sama. Bisa dikatakan bahwa ini merupakan bisnis turun-temurun," jelas Vlad penuh percaya diri. Ada kebanggaan yang tersirat dalam sorot mata pria asal Rusia tersebut, meski kemudian tiba-tiba memudar. Dia menyentuh telinganya yang dihiasi tindik kecil.


"Jika Anda akan berada lama di Italia, maka kerja sama ini akan jauh lebih mudah," ujar Adriano lagi.


"Tenang saja, Tuan. Hal itu bisa kuatur dengan baik," sahut Vlad seraya merapikan blazer yang dia kenakan. Pria itu tampak bersiap akan pergi. "Aku sudah terlalu lama di sini. Lagi pula, nona de Luca juga sepertinya sedang tidak bisa diganggu. Lebih baik aku pergi saja," pamit si rambut pirang tersebut seraya berdiri.


Adriano pun mengikutinya. Dia membalas jabat tangan dari Vlad dengan sopan. Adriano juga mengantar calon rekan bisnis Miabella itu hingga ke halaman depan. Pria paruh baya tersebut masih berdiri di teras, bahkan hingga kendaraan milik Vlad Ignashevich melaju keluar dari gerbang kedua.


Sepeninggal pria muda asal Rusia tadi, Adriano tak segera masuk. Pandangannya tertuju pada buket bunga lily di dalam tong sampah yang berada tak jauh dari tempat dia berdiri. Adriano berjalan mendekat, kemudian memungut kembali bunga cantik tersebut. Dilihatnya kartu bertuliskan nama pengirim dengan inisial V.


Gerak mata biru sang ketua Tigre Nero menyiratkan bahwa dirinya sedang berpikir. Sesaat kemudian, pria itu kembali membuang bunga tadi. Sambil berjalan, dia masih terus berpikir. Si pengirim itu mengetahui bahwa Miabella menyukai bunga lily. Lalu, siapakah kira-kira pemilik inisial V tersebut?


Adriano menyempatkan diri mencuci tangan terlebih dahulu, sebelum dia beranjak ke ruang kerja. Untuk beberapa saat, pria yang masih setia dengan tampilan necis itu berdiri sambil menghadap pada foto Matteo de Luca yang terpajang di dinding, bersanding dengan foto kedua orang tuanya.


"Matteo, maaf karena aku telah gagal menjaga putrimu," ucapnya pelan. Setelah itu, dia merogoh ponsel dari saku kemeja putihnya. Adriano tampak menghubungi seseorang. Sambil menunggu panggilan yang dirinya lakukan dapat tersambung, pria itu berjalan menuju ke dekat jendela dan berdiri di sana. Pandangannya nanar tertuju pada hamparan luas perkebunan anggur yang baru selesai dipanen.


"Pronto." Terdengar suara sapaan lembut seorang wanita yang tak lain adalah Mia. "Sayang, apa kau sudah berada di Casa de Luca?" tanyanya.


"Ya, Mia. Saat ini aku sedang di ruang kerja," jawab Adriano.

__ADS_1


"Di mana Miabella. Bagaimana keadaannya? Aku rindu dan ingin berbincang sebentar." Beberapa hari dia tak mendengar kabar dari putri sulungnya tersebut.


"Bella sedang tidur. Dia baru saja mengalami keguguran," jawab Adriano dengan lugas.


__ADS_2