
"Oxana?" Nama itu meluncur dari bibir berkumis tipis milik Carlo. Dia lalu berdiri tanpa mengalihkan perhatiannya dari gadis cantik berambut pirang tadi.
"Senang sekali bisa melihatmu di Rusia. Jika boleh kutahu, angin apa yang membawamu terbang hingga kemari?" tanya gadis berpenampilan seksi yang tak lain merupakan Oxana Miroslava. Gadis yang dulu pernah diselamatkan oleh Romeo, putra sulung Marco de Luca.
"Aku memiliki sedikit urusan di sini," jawab Carlo. Dia melirik Igor dan juga Ivan. Kedua seniornya tersebut telah menikmati minuman yang mereka pesan.
"Baiklah, Carlo. Nikmati malammu. Aku harus melakukan pekerjaanku sebentar lagi. Kuharap itu bisa menghibur kau dan kedua paman ini," ujar Oxana seraya menoleh kepada Igor serta Ivan. Gadis cantik berambut pirang itu tersenyum manis, kemudian segera berlalu sebelum kedua pria paruh baya tadi sempat melakukan protes terhadapnya.
Sepeninggal Oxana, Carlo memilih untuk kembali duduk. Dia yakin bahwa duo senior itu pasti akan bertanya macam-macam terhadap dirinya. Apa yang pria tampan bermata biru itu duga memang benar adanya.
Namun, belum sempat Carlo menjawab siapakah gadis yang baru saja berbincang singkat dengan dia, sebuah lampu sorot lebih dulu menampilkan sesosok gadis cantik yang hanya mengenakan pakaian dalam di atas panggung. Oxana rupanya masih menekuni pekerjaannya menjadi seorang penari. Akan tetapi, kali ini penampilannya jauh lebih berani.
"Wow!" Ivan berdecak kagum. Dia tersenyum lebar sembari menoleh kepada Igor yang juga tengah asyik menatap ke depan. Sedangkan Carlo lebih memilih menikmati minuman yang sudah tersaji di atas meja.
"Gadis muda yang sangat energik. Bukankah begitu, Sobat?" Ivan menyenggol lengan sahabat lamanya yang tengah asyik menikmati pertunjukkan. Tak disangka, ternyata pria seperti Igor yang terlihat kalem pun menyukai tontonan seperti yang sedang Oxana sajikan, bagi para pengunjung bar tersebut.
"Seberapa cantik kekasih Anda sehingga rela melewatkan pertunjukkan seperti ini, Tuan muda?" tanya Ivan sembari meneguk minumannya.
"Tak ada yang dapat menandingi kecantikan Miabella-ku," jawab Carlo yang juga tengah menikmati minumannya.
__ADS_1
"Dari namanya saja sudah mencerminkan paras cantiknya. Kuharap, suatu hari nanti Anda bersedia untuk membawa dia kemari dan memperkenalkannya kepada kami," sahut Ivan lagi. Dia kembali menoleh kepada Igor yang tak sedetik pun mengalihkan perhatian dari pertunjukkan di atas panggung.
Setelah menghabiskan satu gelas minuman, Carlo menyempatkan diri untuk melihat ke arah panggung. Pikirannya terpusat pada satu hal, yaitu sebuah strategi yang akan dia gunakan untuk melakukan penyerangan. Sesaat kemudian, si pemilik kumis tipis itu pun tersenyum kecil. Secercah solusi jitu serta ide muncul dalam benaknya.
"Setelah ini, tunggulah aku sebentar sebelum kita pulang," pesan pria tampan tersebut. Carlo kemudian beranjak dari kursi kayu yang dia duduki.
"Anda akan ke mana, Tuan muda?" tanya Igor. Dia baru mengalihkan perhatian, setelah pertunjukkan dari Oxana berakhir.
"Ada sedikit urusan. Jangan ke mana-mana," sahut Carlo kembali berpesan. Tanpa banyak bicara lagi, dia bergegas menuju ke bagian lain bar itu. Carlo berjalan menuju ke belakang panggung dengan tenang, tanpa menimbulkan kecurigaan dari pengunjung yang lain.
"Apa yang akan dia lakukan?" bisik Ivan.
"Entahlah. Mungkin menuntaskan urusan pribadi," sahut Igor tak acuh. Dia kembali meneguk minumannya.
Setelah Oxana berada di hadapannya, Carlo tampak membisikkan sesuatu kepada gadis bermata biru tadi. Entah apa yang dia katakan, karena tak lama kemudian Carlo bergegas meninggalkan tempat yang menjadi ruang ganti ganti tersebut.
"Bagaimana, Tuan? Apakah urusan Anda telah selesai?" tanya Igor. Dia menyambut Carlo yang telah kembali ke meja tadi.
"Sudah," sahut Carlo, "bagaimana jika kita pulang saja. Rasanya sangat melelahkan. Aku yakin Isadora pasti sudah menyajikan makanan lezat untuk kita," ajak pria itu yang tak sempat duduk lagi di sana.
__ADS_1
"Ah ya. Kita memang belum makan malam. Jam berapa sekarang?" Ivan menoleh kepada Igor yang segera melihat arloji di pergelangan kirinya.
"Sudah hampir jam sembilan," jawab Igor. "Ya sudah, kita pulang saja sebelum udara menjadi semakin dingin," putusnya setuju.
"Jadi, orang Rusia juga masih merasakan kedinginan?" celetuk Carlo.
"Tentu saja, Tuan. Kami adalah manusia normal," sahut Igor seraya berdiri dan segera diikuti oleh Ivan. Ketiga pria itu pun berjalan keluar dari dalam bar tadi. Seperti biasa, mereka menyusuri jalanan kota Moskow dalam hembusan udara dingin musim gugur pada malam itu.
Selama dalam perjalanan pulang, Ivan dan Igor asyik berbincang dengan menggunakan bahasa negara mereka. Sementara Carlo hanya terdiam. Dia terus melangkah dengan kedua tangan di dalam saku jaket. Pikiran calon putra mahkota tersebut tak tentu arah. Segala hal muncul dalam benaknya saat itu. Namun, satu yang paling kuat ialah bayangan tentang sang kekasih tercinta yaitu Miabella.
Carlo mengempaskan napas pelan, terlebih ketika dia berpapasan dengan dua orang gadis yang tengah berjalan berlawanan arah. Salah seorang dari gadis tersebut menoleh dan memandang ke arahnya. Entah mengapa, Carlo yang semula berjalan sambil menunduk, balas menoleh kepada gadis yang tengah menyunggingkan senyuman manis terhadapnya. Saat itu, halusinasi mulai merajai akal sehat.
Dalam buaian udara dingin kota Moskow, dia melihat paras cantik Miabella yang tengah memandang lembut penuh godaan. Gadis berambut cokelat itu melambaikan tangan. Miabella terlihat begitu memesona, dengan mahkota indahnya yang tergerai lurus menutupi pundak sebelah kiri.
Seketika, Carlo pun tertegun. Dia berdiri mematung sambil terus memandang gadis yang berjalan mundur dan kian menjauh darinya. "Bella ...." desah pria itu teramat lirih. Dia sudah hendak melangkah untuk menyusul gadis cantik tadi, andai Igor tak segera meraih lengannya.
"Tuan! Anda hendak ke mana?" cegah Igor yang merasa heran atas sikap Carlo.
Seketika, pria berambut gelap itu pun tersadar. Dia kembali mengempaskan napas dalam-dalam. Sekilas, Carlo menoleh kepada Igor dan Ivan yang menatap dengan sorot penuh keheranan. Akan tetapi, mantan anak asuh Adriano tersebut tak memberikan jawaban apapun. Dia memilih untuk kembali melanjutkan langkah dan mendahului kedua seniornya.
__ADS_1
'Bagaimana kabarmu saat ini, Bella? Apakah kau baik-baik saja? Kenapa perasaanku begitu tak karuan? Katakan apa yang harus kulakukan untuk bisa menepiskan segala kegundahan ini.'
Carlo terus melangkahkan kakinya. Dia juga kembali larut dalam bayangan indah sang kekasih tercinta, yaitu Miabella.