The Bodyguard

The Bodyguard
Eventually


__ADS_3

Tanpa beristirahat terlebih dulu, Adriano dan Carlo memutuskan untuk kembali mencari Miabella. Berdasarkan koordinat yang muncul di layar ponsel milik Vlad, wanita muda tersebut berada beberapa kilometer dari Sieseby. Entah apa maksud Damien membawa Miabella ke sana, kecuali jika pria itu memang sengaja melakukan hal tersebut agar dapat ditemukan.


“Jika menunggu mobil sewaan yang sudah kembali ke Kiel, maka akan butuh waktu kurang lebih satu jam hingga tiba di sini,” ujar Vlad.


“Lalu, bagaimana? Apa tetanggamu ada yang bisa menyewakan mobilnya untuk kita?” tanya Adriano.


“Memangnya kalian hendak ke mana?” tanya Elke yang sejak tadi menguping dari balik tembok penyekat ruangan. Wanita paruh baya itu menghampiri ketiga pria tadi.


“Kami hendak mencari istriku,” jawab Carlo tanpa ekspresi.


“Jadi, wanita muda itu adalah istrimu?” tanya Elke lagi. Dia mengarahkan perhatian sepenuhnya kepada Carlo.


“Ya, Nyonya. Miabella adalah istriku yang telah dibawa lari oleh pria kurang ajar ini!” Carlo menoleh kepada Vlad. Sorot matanya penuh dengan kebencian. “Jika bukan karena membutuhkannya sebagai petunjuk jalan, aku pasti sudah menghabisi bajingan ini sejak tadi.”


“Kami memperlakukan wanita muda itu dengan baik selama berada di sini. Justru dialah yang tak pernah bersikap baik. Terlebih, setelah istrimu melukai putraku dengan pisau steak ….”


“Hentikan!” cegah Vlad tegas. “Sebaiknya kita segera pergi,” ajak pria itu. Dia mengabaikan rasa sakit di dadanya. Vlad juga tak ingin jika Elke terlalu banyak bicara di hadapan kedua tamunya. Pria asal Rusia itu melangkah keluar diikuti oleh Carlo dan Adriano.


Namun, dengan segera Elke menghadang langkah ketiga pria tadi. “Katakan dulu kau hendak ke mana, Vlad? Kumohon. Jangan mencari masalah dengan Damien. Sikapnya sangat mengerikan.” Elke terlihat sangat cemas.


“Putramu harus bertanggung jawab, Nyonya. Entah bagaimana nasib putriku saat ini. Sebagai seorang ayah, kekhawatiranku sama besarnya dengan Anda.” Adriano mengarahkan tangannya ke samping. Mempersilakan Elke agar bergeser dan tak menghalangi jalan mereka.


Elke terdiam beberapa saat. Dia menatap ketiga pria di hadapannya satu per satu. Wanita paruh baya tersebut terlihat ragu. Namun, pada akhirnya dia bergeser. “Tunggu sebentar,” ucapnya seraya berlalu ke kamar. Dia membuat ketiga pria tadi berdiri mematung di tempatnya masing-masing.

__ADS_1


Selang beberapa saat, Elke kembali dari kamarnya. Dia menyodorkan kunci mobil kepada Vlad. “Pergilah ke garasi. Kau boleh mengendarainya,” ucap wanita paruh baya tersebut.


“Bukankah mobil itu sudah lama tidak keluar dari garasi?” Vlad terlihat heran dan ragu.


“Kau tak perlu khawatir. Aku merawatnya dengan baik, karena itu adalah mobil peninggalan ibuku. Nenekmu, Vlad.” Elke berlalu keluar mendahului ketiga pria yang masih tampak kebingungan. Tak lama kemudian, mereka bergegas mengikuti ibunda Vlad tersebut.


Garasi yang dimaksud Elke berada beberapa meter di samping rumah. Bangunan itu tidak terlalu besar. Elke lalu membuka rolling door di bagian depan, sehingga menampakkan sebuah mobil antik di dalamnya.


Di sana, terparkir sebuah Mercedes-Benz S-Class W126 berwarna cokelat metalik. Mobil tersebut merupakan milik ibunda Elke. Dia sendiri hampir tak pernah memakainya, karena Elke jarang sekali bepergian. Namun, jika dilihat dari kondisi kendaraan yang tampak sangat mulus, dapat ditebak bahwa Elke pasti merawat mobil tadi dengan baik.


“Wow,” decak Adriano. Sebagai pecinta otomotif yang gemar mengoleksi mobil mewah, jiwanya merasa tergelitik. “Ini adalah mobil yang luar biasa pada zamannya,” ucap pria dengan kemeja putih dan selalu terlihat rapi itu.


“Kuharap kau mengembalikan lagi mobil ini ke garasi. Tanpa cacat sedikit pun. Dengan kau sebagai pengendaranya,” ucap Elke pelan kepada Vlad. Wanita itu tertunduk.


Tanpa berkata apa-apa, Elke segera merangkul tubuh tegap putra semata wayangnya. Wanita paruh baya tersebut begitu terharu. Pada akhirnya, Vlad bersedia mengucapkan kata keramat itu.


Elke menangis. Dia tak mampu mengungkapkan perasaannya. Untuk pertama kali setelah sekian puluh tahun, dia dapat memeluk putra yang selama ini selalu menjaga jarak dengannya. “Izinkan aku mencium keningmu, Vlad,” pinta wanita paruh baya tersebut.


Vlad tidak menjawab. Pria tampan berambut pirang itu hanya mengangguk pelan. Dia sedikit menurunkan tubuh agar Elke dapat meraih kepala dan mengecup keningnya dengan lembut.


“Doaku selalu bersamamu. Bersama kalian juga. Semoga dia segera ditemukan dan dapat kembali dalam kondisi baik-baik saja,” harap Elke tulus. “Maafkan putraku. Dia sama sekali tak berbuat jahat terhadap istri dan putri Anda, Tuan-tuan.” Elke menatap Carlo serta Adriano secara bergantian.


Lain halnya dengan Vlad yang hanya menggaruk kening. Tak akan pernah dia lupakan adegan ciuman panasnya bersama Miabella. Walaupun hal itu Miabella lakukan dengan alasan hendak mencuri kunci kamar darinya, tapi pertautan manis itu pernah terjadi dan sangat Vlad nikmati. Diam-diam, pria tampan dengan gaya rambut man bun tersebut mengulum bibirnya. Akan tetapi, dia tak ingin terbuai dalam kenangan manis yang sepertinya tak akan terulang lagi, andai Miabella kembali ke dalam pelukan Carlo.

__ADS_1


Tak ingin lebih banyak membuang waktu, ketiga pria tadi segera masuk ke mobil. Vlad bertugas menjadi sopir. Di sebelahnya ada Adriano. Ayah sambung Miabella tersebut sesekali melihat pada titik koordinat yang muncul di ponsel. Sementara, Carlo memilih jok belakang. Entah akan ke mana Vlad mengendarai Mercedes-Benz tadi. Dia hanya mengikuti arah yang ditunjukkan oleh map, di mana terdapat titik merah.


“Apa kau yakin Miabella berada di sana?” tanya Adriano.


“Aku memasang alat pelacak yang tidak dia ketahui di mana diriku meletakkannya,” jawab Vlad tenang.


Namun, ucapan pria asal Rusia tersebut justru memicu emosi dalam diri Carlo. “Brengsek! Jangan katakan jika kau berani menyentuh tubuh istriku!” geramnya. Carlo sudah maju dan bermaksud hendak menyerang Vlad.


Akan tetapi, dengan segera Adriano menahannya. Dia memberi isyarat kepada Carlo agar dapat bersikap lebih tenang. “Aku tahu kau cemburu. Namun, kendalikan dulu dirimu. Kita membutuhkan Vlad sampai Miabella dapat ditemukan” tegurnya.


Dengan terpaksa, Carlo harus berusaha menahan diri untuk menghajar pria di belakang kemudi yang tak menggubris amarahnya. Sang ketua Klan Serigala Merah hanya dapat mendengus kesal. Setelah itu, mereka bertiga kembali terdiam. Larut dalam pikiran masing-masing.


Beberapa saat kemudian, Vlad yang sesekali melihat ke ponsel kembali bersuara. “Kita semakin mendekat ke lokasi,” ucapnya.


Mobil yang Vlad kemudikan telah memasuki sebuah wilayah asri, sejauh mata memandang. Kendaraan antik tersebut melewati jalanan tanah berumput dengan lahan luas di kiri dan kanannya. Jauh beberapa meter di depan, tampak sebuah bangunan berdinding merah.


Adriano memerintahkan Vlad agar menghentikan mobil itu dalam jarak yang tidak terlalu dekat. “Kita harus waspada. Aku dulu pernah diculik dan disekap di tempat seperti ini. Dari luar memang terlihat begitu tenang, tapi di dalam ….” Belum sempat Adriano menyelesaikan kalimatnya, terdengar tembakan beruntun yang berasal dari dalam bangunan, dan langsung mengejutkan mereka.


Sontak, ketiganya bergerak keluar dari mobil dengan tergesa-gesa. “Bella.” Hanya kata itu yang sempat terucap pelan dari bibir Carlo.


🍒🍒🍒


Hai, ceuceu bawakan lagi novel keren pengusir kegalauan. Cek ya 😉

__ADS_1



__ADS_2