
Mendengar ancaman tegas dari Adriano, Carlo tentu saja tak tinggal diam. Dia melangkah gagah lalu berdiri tepat di hadapan sang ayah mertua, yang beberapa hari lalu telah menghajarnya tanpa ampun andai tak segera dicegah oleh Miabella. Sepasang mata biru milik sang ketua Klan Serigala Merah pun, beradu dengan sorot tajam berwarna biru milik ketua Tigre Nero tersebut.
“Seandainya Anda memberikan dua pilihan, maka diriku akan lebih memilih Miabella daripada jabatan yang sedang kududuki saat ini. Namun, aku juga memiliki tanggung jawab lain untuk warisan besar dari kakek buyut serta mendiang ayah. Jadi, sebisa mungkin akan kupertahankan keduanya. Apapun yang terjadi atau siapa pun yang harus kuhadapi ... termasuk Anda,” ucap Carlo dengan berani.
“Termasuk aku?” tantang Adriano dengan tenang.
“Ya, Anda. Aku tak akan tinggal diam dan hanya pasrah, andai kali ini Anda mencoba untuk kembali memisahkanku dari Miabella. Tolong jangan buat diriku menjadi anak yang berdosa dan tak tahu terima kasih.” Carlo menatap penuh arti kepada sang ayah mertua, yang masih memandang ke arahnya dengan sorot tajam.
Namun, tak lama kemudian tatap mata Adriano berubah seketika. Seutas senyuman pun muncul di sudut bibirnya yang dihiasi kumis tipis. Pria paruh baya tersebut kemudian membalikkan badan. “Rasanya membosankan jika harus memarahimu setiap hari. Aku bukan ayahmu, tapi kau membuat kepalaku pusing bukan main,” keluh Adriano sambil berjalan meninggalkan Carlo begitu saja.
Sementara suami dari Miabella tadi juga tak hanya berdiri menatap kepergian ayah mertuanya. Dia segera menyusul serta menyejajari langkah tegap Adriano, menuju ke bagian dalam Istana de Luca.
Di ruang tamu, tampaklah Miabella yang sudah selesai mendapat perawatan. Dokter yang menangani wanita muda itu juga telah kembali, setelah mengobati Igor yang sama-sama terluka. Akan tetapi, wajah cemas Mia masih tampak jelas, saat melihat lengan anak gadisnya yang dibalut perban. Padahal, putri sulungnya tersebut sudah mendapatkan perawatan yang baik dari dokter tadi.
Dengan segera, Carlo menghampiri sang istri yang tengah duduk di atas sofa mewah berlapis kulit. Ekor mata sang ketua Klan Serigala Merah pun sempat menangkap sosok Vlad ada di antara mereka, meski dia tak tahu apa urusan pria itu di sana. Namun, Carlo tak mau ambil pusing dengan keberadaan rekan bisnis Miabella asal Rusia tadi. Pria tampan berambut gelap tersebut lebih memusatkan perhatian kepada sang istri tercinta. “Bagaimana keadaanmu, Cara mia?” tanyanya.
“Aku tidak apa-apa. Seperti yang kau katakan tadi bahwa ini hanya luka gores,” jawab Miabella menunjukkan sikap yang biasa saja.
“Tetap saja itu namanya luka, Principessa,” ujar Adriano berkomentar.
“Aku tidak akan mati hanya karena luka seperti ini, Daddy Zio,” sahut Miabella tanpa menoleh kepada sang ayah sambung, yang hanya tertawa renyah saat menanggapi ucapan putrinya tadi.
Perhatian Adriano kemudian tertuju kepada Vlad yang berdiri sambil memperhatikan Miabella dan juga Carlo. “Anda masih di sini, Tuan Ignashevich? Kupikir Marco sudah mengevakuasi para tamu ke tempat lain dari Istana de Luca.” Adriano mengernyitkan kening seraya menoleh kepada saudara ipar Mia tersebut.
“Aku memang sudah melakukan hal itu. Akan tetapi, tuan Ignashevich meminta agar tetap di sini karena dia sangat mengkhawatirkan keadaan Miabella,” sahut Marco dengan gerak bola mata yang sulit untuk diartikan.
__ADS_1
Ucapan Marco barusan, seketika menimbulkan perhatian lebih dari Carlo. Dia segera mengalihkan perhatiannya kepada Vlad yang masih berdiri dengan tenang. “Terima kasih atas kepedulianmu, Tuan Ignashevich. Akan tetapi, Miabella memiliki suami. Akan jauh lebih etis jika Anda tidak bersikap terlalu berlebihan.” Usai berkata demikian, Carlo segera mengajak Miabella ke kamar. “Mari, Cara mia. Sebaiknya kau segera beristirahat.”
“Aku ingin bicara serius denganmu, Karl,” ucap Adriano menghentikan langkah Carlo dan Miabella yang baru beberapa langkah meninggalkan mereka.
Carlo pun kemudian menoleh. “Aku akan mengantar Miabella untuk beristirahat ke kamar. Setelah itu, aku hendak melihat kondisi Igor terlebih dulu. Bisakah Anda menunggu sebentar, Ayah mertua?” sahut sang ketua Klan Serigala Merah dengan tenang. Sepertinya, Carlo mulai terbiasa dengan sikap keras Adriano setelah dia menjadi menantu pria paruh baya tersebut.
“Tentu,” jawab Adriano dengan kalem.
Sementara Vlad tak bicara sepatah kata pun. Dia tampak sangat terkejut dengan apa yang terjadi kepada Miabella malam itu. Sulit dipercaya bahwa Istana de Luca bisa disusupi oleh orang asing yang telah berhasil mengacaukan pesta.
Seusai memastikan bahwa Miabella sudah beristirahat dengan nyaman di atas tempat tidur, Carlo bergegas menuju kamar yang disediakan untuk Igor. Pria paruh baya itu juga sudah mendapatkan perawatan dari dokter. Untungnya, Grigori cukup mengerti dengan apa yang harus dia lakukan, sehingga tak terjadi pendarahan yang terlalu parah terhadap sang rekan.
“Beristirahatlah,” ucap Carlo setelah melihat kondisi seniornya tersebut.
“Aku akan mengaturnya. Untuk sementara biarkan dia di sini dulu,” balas Carlo pelan. “Bagaimana lukanya? Apa kata dokter?”
“Luka sayatan itu mengenai kulit leher. Untungnya tak terlalu dalam dan tidak mengenai pembuluh darah yang penting,” jelas Grigori.
“Syukurlah.” Carlo menepuk pundak pria paruh baya tersebut dengan pelan. “Kalian beristirahatlah untuk sementara di sini."
“Oh ya. Aku mendapat pesan dari Luciella, Tuan,” lapor Grigori saat Carlo hampir melintasi ambang pintu.
Pria rupawan itu pun berbalik dan kembali menghadap Grigori. “Apa katanya?” tanya Carlo.
“Luciella mengatakan bahwa dalam beberapa hari terakhir, dia menangkap setidaknya puluhan drone tak dikenal yang melintasi langit perkebunan,” jawab Grigori.
__ADS_1
“Drone?” ulang Carlo seraya mengernyitkan kening.
“Ya, Tuan. Sepertinya itu drone khusus yang digunakan untuk pemetaan wilayah. Ketika mereka membongkar bagian dalam drone, terdapat kamera pengawas yang sengaja ditambahkan di sana,” terang Grigori.
“Apakah itu berarti ....” Carlo sengaja menggantungkan kalimatnya.
“Ada pihak yang sengaja memata-matai Casa de Luca,” ucap Grigori dengan yakin, “mereka sepertinya tengah mencari titik lemah dari kediaman nona muda Miabella,” imbuhnya.
“Baik. Tunggulah di sini. Aku akan membicarakannya dengan ayah mertua.” Tanpa menunggu jawaban dari Grigori, Carlo melangkah cepat menuju ke ruang tamu.
Di sana, Adriano masih berbincang serius dengan Marco dan juga Romeo. Vlad Ignashevich pun masih tampak dan turut mendengarkan percakapan itu.
“Ayah,” panggil Carlo pelan, tetapi membuat semua orang menoleh kepadanya. “Aku mendapat informasi dari salah seorang pelayan Miabella, bahwa dirinya tak sengaja menemukan beberapa drone di atas langit perkebunan Casa de Luca,” jelas Carlo.
“Drone?” sahut Adriano.
“Kenapa tidak ada yang melaporkannya padaku?” Marco tampak keheranan.
“Sepertinya pelayan itu belum memberitahukannya pada para pengawal maupun Dante. Mungkin saja dia takut untuk melaporkan hal itu,” dalih Carlo.
“Ini gawat! Aku harus menghubungi Dante dan Benigno! Sepertinya orang-orang misterius itu bergerak lebih cepat dari yang kita bayangkan!” geram Adriano.
“Pertanyaannya adalah kenapa harus memata-matai Casa de Luca? Tak ada apapun di sana selain buah anggur,” celetuk Romeo yang sedari tadi hanya memperhatikan.
“Mereka mengetahui dengan jelas bahwa di sana merupakan tempat tinggal Miabella. Instingku mengatakan bahwa sekarang mereka menggeserkan target kepadanya,” geram Adriano seraya mengepalkan tangan dengan kuat.
__ADS_1