The Bodyguard

The Bodyguard
Crystal Night


__ADS_3

Sementara itu pada ribuan kilometer jauhnya jarak dari Italia, Carlo telah berhasil mengumpulkan beberapa pengikut lama sang ayah. Mereka yang memiliki loyalitas tinggi, memiliki tujuan sama yakni membangkitkan kembali kejayaan Klan Serigala Merah yang telah lama redup dan bahkan menjadi hilang pamornya.


Sedangkan Grigori juga telah tiba di Rusia. Atas bantuan dari rekan Feliks yaitu Irina, dia akhirnya dapat kembali bertemu muka dengan kenalan lamanya Boris Vasiliev. Kebetulan Fyodor pun ikut serta dalam perundingan itu, sehingga dia yang tak tahu-menahu tentang sejarah Klan Serigala Merah, akhirnya dapat memahami seperti apa organisasi tersebut.


"Keturunan langsung dari tuan Nikolai Volkov telah kembali. Dia bahkan sudah berada di Rusia. Akan tetapi, kami masih merahasiakan keberadaan putra mahkota, karena anak buah Viktor tengah memburu dia saat ini. Bagaimanapun juga, keturunan asli dari keluarga Volkov adalah satu-satunya yang berhak atas tahta Klan Serigala Merah," terang Grigori dengan serius. Pria itu tampak sangat berwibawa saat berbicara di hadapan Boris dan juga Fyodor.


"Kenapa kau tak mengajaknya langsung kemari? Aku juga begitu penasaran dengan sosok keturunan langsung dari tuan Volkov. Kau tahu sendiri seberapa dekat kami berdua saat itu," kenang Boris yang kini telah berusia senja. Umur mantan anggota legislatif dalam pemerintahan tersebut memang jauh di atas Nikolai dan juga Grigori.


"Seperti yang telah kusampaikan tadi, Tuan Vasiliev. Kami sengaja menyembunyikan keberadaan putra mahkota, demi keamanannya," sahut Grigori dengan yakin.


"Bagaimana aku bisa membahas masalah strategi yang baik jika dia tak ada di sini, Tuan Kostya? Kupastikan keamanan dari putra mahkota Klan Serigala Merah akan terjamin. Namun, tolong bawa di ke hadapanku agar kami dapat berbincang secara langsung," pinta Fyodor sambil menatap serius kepada Grigori.


Pembicaraan itu pun terus berlangsung, hingga tiba saatnya bagi Grigori untuk pamit. Dari kota Moskow, dia segera terbang menuju Sochi tempat di mana Carlo berada saat ini. Tak terkira betapa senang pria itu saat kembali bertemu dengan Igor dan juga Ivan, yang merupakan sahabat lamanya.


Grigori pun membahas hasil pertemuannya tadi bersama ayah dan anak Vasiliev, yang berlangsung di ibukota Rusia. "Bagaimana, Tuan muda? Apakah Anda siap untuk bertemu secara langsung dengan Fyodor serta ayahnya Boris Vasiliev?" tanya pria itu sopan kepada Carlo yang sejak tadi terdiam, sambil mendengarkan dengan saksama.


Sementara Carlo tak segera menjawab. Tampaknya dia sedang mempertimbangkan keputusan yang akan diambil. Namun, segala risiko harus dirinya hadapi, demi melanjutkan tekad yang sudah kian membara dalam dada. "Sepertinya aku memang harus menemui mereka secara langsung," ujar Carlo seraya mengarahkan pandangan pada ketiga pria senior tadi.


"Kuharap kau bisa menemaniku untuk bertemu dengan mereka," pintanya kepada Grigori.


"Oh tentu saja, Tuan. Aku tak akan kembali dulu ke Italia, sebelum Anda bisa menyelesaikan urusan dengan pemerintah. Menurutku ini adalah jalan yang sangat bagus untuk kita ambil, berhubung saat ini kita tak memiliki pengikut. Setelah sokongan dari pemerintah kita dapatkan, maka secepatnya Anda harus menyusun strategi untuk rencana penyerangan. Kusarankan agar dibuat dengan sangat matang, dan tentu saja harus mempertimbangkan segala kemungkinan lain yang bisa saja muncul tanpa diduga," saran Grigori.

__ADS_1


"Kalian bertiga yang lebih mengenal markas besar Klan Serigala Merah dengan segala seluk-beluknya," ujar Carlo.


"Ya. Namun, itu juga jika Viktor tak melakukan perubahan apapun. Sekian lama waktu berlalu. Bukan tidak mungkin jika dia telah mendesain ulang markas yang lama. Satu-satunya jalan adalah ...." Grigori tak melanjutkan kata-katanya. Dia menatap penuh arti kepada Carlo, yang juga tengah melakukan hal sama terhadap dirinya.


"Kau mahir dalam menyusupkan orang," ucap sang pewaris tahta, yang hanya ditanggapi sebuah senyuman simpul oleh Grigori.


................


Selagi Carlo tengah sibuk dalam merancang berbagai rencana dan strategi, lain halnya dengan keadaan di Palazzo de Luca. Semua orang tengah sibuk menyiapkan acara untuk pesta yang akan dilaksanakan nanti malam. Persiapan dibuat dengan sedetail mungkin, karena Marco serta Daniella akan mengundang banyak orang penting ke sana.


"Semoga ayah dan ibu tidak mengundang rektor di kampusmu," goda Romeo yang hanya dibalas dengan sebuah dengusan pendek dari Tobia.


"Memangnya kenapa, Tobia?" tanya Adriana terlihat antusias.


"Tidak mungkin dianggap tak penting, jika Romeo sudah berkomentar tentang hal itu," bantah Adriana lagi.


"Bisakah agar kau tak ikut campur dengan urusan orang lain?" Tobia mengarahkan perhatiannya kepada gadis berambut hitam dengan mata biru tadi.


"Tidak bisa. Rasa penasaranku di atas rata-rata. Kau tak akan memahaminya," sahut Adriana yang selalu terlihat ceria. Namun, sesaat kemudian gadis remaja itu segera merogoh ke dalam tas selempang kecil, saat merasakan ponsel yang dia simpan di sana begetar cukup lama. Adriana pun segera memeriksanya.


Adalah sebuah panggilan masuk dari Achiles. Pemuda tujuh belas tahun tersebut memang kerap menghubunginya akhir-akhir ini. Sedangkan Adriana merasa tak ada masalah dengan sikap dan segala perhatian yang ditunjukkan pemuda itu. Gadis manis berambut gelap tadi segera berlalu dari hadapan Tobia dan Romeo. Dia memilih tempat dengan jarak yang cukup jauh dari kakak beradik tersebut.

__ADS_1


Sedangkan Miabella memilih untuk menyendiri di dalam kamar. Gadis itu bahkan tertidur dengan lelap, dan baru terbangun ketika sudah hampir senja. Dia langsung bersiap-siap untuk acara pesta nanti malam.


Sebuah gaun malam sleeveless dari bahan satin telah siap untuk dia kenakan. Gaun dengan bagian bawah yang lebar dan beraksen V pada bagian depan. Sesaat kemudian, terdengar keluhan pendek dari bibirnya yang masih polos. Miabella tak terbiasa memakai pakaian semacam itu. Namun, dia tak mungkin membawa singlet putih serta celana cargo ke dalam pesta.


Setelah memoleskan riasan tipis-tipis, Miabella pun meraih gaun tadi kemudian mengenakannya. Untuk beberapa saat, gadis cantik tersebut memandangi penampilan dirinya malam itu lewat pantulan cermin. Walaupun kini dia hadir dalam pakaian yang berbeda, tapi gadis cantik tersebut tetap mengikat rambut meski tak memakai gaya ekor kuda. Rambut panjang berwarna cokelat Miabella, dia ikat sederhana di bawah, sehingga ujungnya sedikit menutupi punggung yang terbuka lebar.


Beberapa saat kemudian, terdengar sebuah ketukan di pintu. "Kakak, apa kau sudah siap?" Suara Adriana begitu nyaring meski terhalang dinding kamar. "Ibu ingin agar kau segera bergabung di aula pesta," seru gadis itu lagi.


"Aku akan segera ke sana," sahut Miabella singkat. Berat rasanya untuk melangkah keluar dari dalam kamar. Miabella saat ini sedang ingin menyendiri. Lagi pula, dia bukan seorang penyuka pesta, apalagi sebuah acara formal seperti yang akan dia hadiri sesaat lagi.


Akan tetapi, Miabella juga tak ingin kembali membuat masalah dan mengecewakan kedua orang tuanya. Dengan kaki berbalut heels setinggi hampir sebelas senti, gadis itu berjalan keluar. Dia menyusuri koridor yang cukup panjang, dalam keremangan cahaya berwarna kuning temaram. Tatapan mata abu-abunya tertuju lurus ke depan. Selain itu, dia harus berhati-hati dengan langkahnya, agar tidak terantuk bagian bawah gaun.


Setelah tiba di aula pesta, Miabella segera menghampiri Mia yang sedang berbincang santai bersama Daniella dan juga Francesca. Sementara para pria pun asyik dengan pembahasan mereka. Lain halnya dengan Adriana yang ikut bergabung bersama Romeo serta Tobia.


"Kau cantik sekali, Bella," sanjung Francesca dengan mata berbinar.


"Dia putriku," sahut Mia bangga dan segera disambut gelak tawa dari kedua saudarinya. Sesuatu yang tak dipahami oleh seorang Miabella, karena baginya tak ada yang lucu sama sekali.


Pesta terus berlangsung dengan meriah. Makin lama, tamu undangan semakin banyak. Mereka datang dari seluruh penjuru Italia, bahkan ada pula yang berasal dari luar negeri. Jabatan sebagai ketua organisasi besar seperti Klan de Luca, telah memaksa Marco untuk pandai-pandai bersosialisai dalam menjalin kerja sama.


Semua wajah yang hadir dalam pesta itu, terlihat bahagia dan berseri. Mereka sangat menikmati segala hal yang ada di sana. Dari mulai jamuan, musik, hingga suasana hangat yang terjalin. Namun, apa yang menjadi kesenangan para tamu undangan, nyatanya tak ada dalam diri Miabella. Gadis itu tetap merasakan sebuah kekosongan yang besar. Dia merasa kesepian di dalam keramaian.

__ADS_1


Diam-diam, Miabella melangkah keluar aula di mana pesta berlangsung. Dia memilih untuk menyendiri sambil menatap pekatnya malam.


"Apakah langit malam jauh lebih indah jika dibanding gemerlap lampu kristal di dalam sana?" Suara seorang pria telah membuyarkan lamunan Miabella. Gadis itu seketika menoleh. Pria berambut pirang dengan sepasang mata biru, datang menghampirinya.


__ADS_2