The Bodyguard

The Bodyguard
Taken


__ADS_3

Pada satu sudut taman kota St. Petersburg, seorang pria tua duduk di atas bangku minimalis sambil memangku sebuah buku tebal. Tangan kanannya asyik membuka lembaran buku tadi, hingga datanglah seorang pria bermantel panjang yang berdiri di hadapannya.


“Selamat siang, Tuan Romanov,” sapa pria bermantel tadi.


Pria tua yang tak lain adalah Stefan Romanov, segera mendongak lalu memicingkan mata. “Siapa kau?” tanya pria paruh baya itu angkuh. Ekor matanya menangkap pin berbentuk bulat yang memantulkan cahaya matahari. Stefan semakin menajamkan penglihatan, sehingga dia dapat melihat dengan jelas benda yang terbuat dari perak dan berbentuk lingkaran. Pada benda itu, terdapat gambar pistol dan pedang di bagian tengahnya. Pin tadi tersemat di ujung kerah mantel si pria asing.


“Anda bisa memanggilku Damien,” jawab pria asing tersebut. Matanya tersembunyi di balik topi fedora yang dia pakai.


“Damien? Seperti bukan nama Rusia,” pikir Stefan seraya tertawa mengejek. “Aku tidak memiliki waktu untuk berbicara dengan orang asing tak penting sepertimu!” Pria tua itu menutup buku yang tengah dia baca tadi, lalu bangkit dari duduknya. Dia bermaksud untuk meninggalkan seseorang yang mengaku bernama Damien begitu saja.


Namun, baru saja satu langkahnya melewati tubuh tegap Damien, lengan Stefan sudah dicekal demikian erat. “Setidaknya dengarkan apa yang akan kukatakan, sebelum kau memberikan penilaian tentang seberapa tidak pentingnya aku,” geram pria dengan topi fedora tersebut. Damien sedikit mendongakkan wajah, sehingga tampaklah bola mata coklat tua yang menatap tajam ke arah Stefan.


“Ka-kau! Lepaskan!” Stefan mulai panik. Dia berusaha melepaskan jemari Damien yang mencengkeram erat di lengannya. Akan tetapi, tenaga pria muda itu sangatlah kuat, membuat Stefan memilih untuk menyerah. “Kau jelas tak tahu siapa diriku sebenarnya,” desis pria tua itu tetap dengan keangkuhannya.


“Oh, itu sangat keliru. Aku justru sangat mengetahui siapa Anda. Oleh karena itulah aku berdiri di hadapanmu saat ini,” ujar Damien seraya menghadapkan diri sepenuhnya pada Stefan, sambil melepaskan cengkeramannya.


“Oh ya?” Nada bicara Stefan bergetar. Dia menatap sekali lagi pria jangkung di hadapannya dengan saksama. “Katakan, apa yang kau ketahui tentangku?” tantangnya.


“Itu pertanyaan yang sangat mudah. Anda merupakan salah satu sahabat tuan Nikolai Volkov. Sepertinya Anda juga berambisi mendapatkan sesuatu yang berharga dari klan Serigala Merah,” jawab Damien sembari menyeringai lebar.


“Apa maksudmu!” sentak Stefan yang mulai tak sabar.


“Ada apa di balik perjodohan putri Anda dengan keturunan Volkov? Aku tahu alasan yang sebenarnya adalah supaya Anda dapat mencicipi sedikit kekuasaan dan juga kekayaan klan itu. Sayang sekali karena tuan muda Volkov sudah menentukan pilihannya sendiri. Segala harapan indah Anda pun berakhir sia-sia,” terang Damien dengan intonasi yang teramat tenang.


“Kau!” Stefan mengarahkan telunjuknya tepat ke wajah pria itu.

__ADS_1


“Jangan marah, Tuan. Anda cukup mengakui bahwa apa yang aku katakan memang benar adanya.” Damien tertawa lebar. “Namun, Anda tidak perlu khawatir, karena aku di sini untuk membantu. Yelena Romanov masih mempunyai kesempatan besar untuk menjadi pendamping Karl Volkov, sang tuan muda yang tampan itu,” lanjut pria tadi dengan senyuman puas.


“Bagaimana caranya?” Stefan mulai tertarik dengan pancingan yang diberikan oleh Damien.


“Mudah sekali, Tuan. Cukup dengan melenyapkan gadis yang menjadi pasangan Karl Volkov. Jika gadis itu tiada, maka secara otimatis tak ada alasan bagi Karl Volkov untuk mengelak lagi dari perjodohan yang sudah dirancang selama puluhan tahun lalu,” jawab Damien menjelaskan dengan tenang.


“Kau berkata seolah-olah membunuh istri Karl Volkov adalah hal yang mudah,” cibir Stefan seraya menggelengkan kepala pelan. "Gadis itu merupakan keturunan dari Klan de Luca. Aku yakin kau pasti tahu dan sudah mendengar seberapa kuat organisasi yang menguasai daratan Italia tersebut. Jadi, jangan meremehkannya, karena dia pasti memiliki pengamanan berlapis." Kini, giliran Stefan yang menyeringai puas.


"Sesuai dengan informasi yang kudengar, dia juga berada dalam pengawasan Adriano D'Angelo sang ketua Tigre Nero. Kuharap kau juga mengetahui seberapa kuat organisasi itu," ujar Stefan lagi seraya membalikkan badan. Dia hendak melanjutkan niatnya yang sempat terjeda.


"Anda tidak perlu memberitahukan tentang itu semua, karena aku sudah lebih dulu mengetahuinya. Aku sudah mengantisipasi segala kemungkinan yang bisa saja terjadi. Persiapan yang matang dan sempurna, akan menjadikan rencana ini berakhir dengan hasil baik juga memuaskan," balas Damien yang berhasil membuat Stefan kembali menghentikan langkah. Pria paruh baya itu terpaku di tempatnya berdiri, tanpa menghadapkan tubuh kepada Damien.


“Karena itulah, aku menawarkan diri untuk membantu Anda, Tuan. Bagiku, membunuh perempuan muda yang merupakan istri Karl Volkov adalah hal yang tidak sulit sama sekali. Sangat mudah, semudah membalikkan telapak tangan.” Damien menyeringai sambil menepuk pundak Stefan pelan, membuat pria tua tadi memikirkan dalam-dalam penawaran menarik yang diberikan padanya.


......................


Satu lagi yang menjadi alasan pria tampan bermata biru itu dengan tinggal lebih lama di Italia, yaitu rencana sayembara yang kini berubah menjadi acara pesta pengukuhan dirinya sebagai suami dari Miabella. Namun, acara tersebut tidak diadakan di Casa de Luca, melainkan di Istana de Luca Palermo, Pulau Sisilia.


"Apa kau gugup, Carlo?" tanya Miabella sambil merapikan dasi kupu-kupu yang melengkapi penampilan berbeda sang suami. Malam itu, Carlo tampak lain dalam setelan tuksedo mahal yang dipesan secara khusus.


"Ayah mertua pasti akan menghajarku habis-babisan, andai diriku tiba-tiba menjadi seperti pecundang karena gugup," sahut Carlo yang tak puas-puas memandang paras cantik Miabella. Malam itu, putri sulung Mia tersebut mengenakan gaun model one shoulder sash long dress berwarna merah, dengan belahan sebatas paha. "Kau sangat cantik. Kuharap pesta ini akan membuatmu merasa nyaman, Cara mia," ucap Carlo dengan suaranya yang terdengar begitu dalam.


"Ada kau di dekatku, Carlo," balas Miabella seraya mengecup lembut bibir sang suami. "Mari," ajaknya. Mereka berdua pun berjalan keluar kamar dengan langkah gagah dan anggun.


Di dalam aula luas yang memang dikhususkan untuk mengadkan acara-acara besar, sudah tampak banyak orang dengan setelan rapi. Miabella seakan menjadi wanita satu-satunya di tempat tersebut, selain para pelayan yang sibuk hilir-mudik membawa nampan berisi minuman untuk para tamu.

__ADS_1


Undangan yang telah disebar dulu, memang diberikan kepada para tetua klan, dan juga orang-orang yang memegang kekuasaan di organisasi masing-masing beserta putra-putra mereka yang tadinya akan berjuang untuk memperebutkan Miabella. Namun, karena ternyata dalam kenyataannya gadis itu melarikan diri bersama Carlo, maka semua rencana konyol Marco pun berubah total.


Melihat kehadiran Miabella dan Carlo di sana, Vlad Ignashevich yang tengah asyik berbincang pun segera menghampiri mereka. Pria berambut pirang asal Rusia tersebut menatap aneh, tapi berusaha dia sembunyikan lewat raut wajah yang ramah. "Nona de Luca," sapanya seraya meraih kemudian mengecup punggung tangan istri Carlo tersebut.


"Hai, Vlad," balas Miabella. "Jangan terlalu formal," ucapya lagi tanpa senyum yang berarti.


Sedangkan Vlad hanya tersenyum, kemudian mengarahkan pandangan kepada Carlo. "Tuan," sapanya seraya menjabat tangan sang ketua Klan Serigala Merah dengan erat. Sebuah ketegasan yang dirasakan oleh Carlo. Akan tetapi, putra bungsu mendiang Nikolai Volkov tersebut hanya membalas dengan sebuah senyuman simpul.


Tak berselang lama, Igor dan Grigori yang juga sengaja diundang ke sana segera mengampiri. Mereka berdiri di sisi kiri Carlo dan kanan Miabella. Melihat kehadiran dua senior tadi, Vlad pun memilih untuk tak banyak bicara. Dia segera pamit dari hadapan mereka.


"Selalu bersikap waspada, Tuan," bisik Grigori.


"Kau tenang saja," sahut Carlo yang segera menuntun Miabella mendekat kepada Adriano dan juga Marco. Dalam satu kesempatan, Marco segera berdiri di atas podium yang telah disiapkan. Walaupun pikirannya agak kacau, karena merasa malu dengan tema pesta yang tiba-tiba berubah. Akan tetapi, sebagai seorang ketua klan dari organisasi besar Eropa, dia harus tetap terlihat tenang serta berwibawa.


"Selamat malam para hadirin semua," sapa Marco. "Terima kasih atas kesediaannya untuk menghadiri acara yang telah kami rancang sejak lama. Namun, aku selaku penanggung jawab, benar-benar meminta maaf karena telah terjadi perubahan rencana yang sangat mendadak," ucapnya sebagai kata pembuka.


"Keponakanku, putri dari Matteo de Luca ...." Marco mengarahkan tangan kanan kepada Miabella yang tampil sangat cantik dengan rambut panjang terurai, tapi terlihat risih saat semua mata memandang padanya. Dia pun mencengkeram erat lengan Carlo yang berbalut tuksedo.


"Tenanglah, Cara mia," bisik Carlo tanpa gerakan berarti. Pria itu hanya mengelus punggung tangan sang istri yang masih berada di lengannya.


"Keponakanku ternyata telah menemukan tambatan hati sebelum acara sayembara kami langsungkan. Atas nama besar Klan de Luca, aku mewakili untuk meminta maaf karena hal tersebut dan sekali lagi mengucapkan terima kasih. Sebagai penutup, dengan bangga kuperkenalkan menantu dari keluarga de Luca yaitu Karl Volkov. Ketua dari Klan Serigala Merah yang berasal dari Rusia. Kemarilah, Karl." Marco mengisyaratkan agar Carlo menghampirinya.


Dengan terpaksa, dia harus meninggalkan Miabella yang berdiri beberapa langkah dari podium. Carlo pun melangkah gagah untuk mendekat kepada Marco.


Akan tetapi, baru saja pria itu akan memberikan kata sambutan, tiba-tiba seorang pria yang berpakaian sebagai pengawal mengeluarkan pistolnya, lalu menembak lampu gantung kristal berukuran besar hingga terjatuh. Sontak semua orang bergerak secara refleks untuk menghindar. Namun, hal itu tentu menimbulkan sebuah kericuhan di dalam aula pesta, yang kini menjadi dalam suasana temaram.

__ADS_1


"Bella!" seru Carlo yang menyadari bahwa Miabella tak lagi berada di tempatnya.


__ADS_2