The Bodyguard

The Bodyguard
Yes, Sir!


__ADS_3

"Kau sungguh keterlaluan, Adriano! Ada cara lain untuk mengekspresikan kemarahanmu atas sikap Carlo," protes Mia dengan tegas.


"Itu sesuatu yang sederhana, Mia. Carlo tak akan mati hanya karena pukulan ringan seperti tadi," sanggah Adriano dengan enteng.


"Carlo putraku juga! Aku sangat menyayanginya! Apalagi karena kini dia telah menikahi Bella, meskipun tak tahu pernikahan seperti apa yang telah mereka jalani." Mia tampak begitu marah dengan apa yang telah Adriano lakukan tadi.


"Sudah kukatakan bahwa posisi Carlo saat ini sedang dalam masa transisi. Dia baru saja diangkat menjadi ketua klan dari sebuah organisasi besar. Namun, organisasi tersebut dirinya dapatkan dengan cara menggulingkan kekuasaan dari seseorang, yang sudah lama mendapat sebuah perlindungan istimewa dari beberapa oknum pihak pemerintah Rusia. Asal kau tahu, Mia. Ada banyak pihak yang tak ingin agar Klan Serigala Merah kembali pada masa kejayaannya. Itulah mengapa seakan terjadi pembiaran selama puluhan tahun terakhir," jelas Adriano yang entah dipahami atau tidak oleh Mia.


"Kau pemilik Tigre Nero, Adriano. Kekuasaanmu sangat besar. Kau bisa melakukan sesuatu," ujar Mia menanggapi.


"Kau bahkan mengetahui apa yang tidak Carlo pahami. Sebagai seseorang yang jauh lebih berpengalaman, seharusnya kau membantunya, Sayang."


"Mia, Sayangku ...." Adriano menjeda ucapannya. Pria itu memejamkan mata untuk sejenak, kemudian menghela dan mengempaskan napas dalam-dalam. Dia tak akan pernah bisa berkata dengan nada tegas, kepada ibu dari kedua putri yang teramat dirinya sayangi.


"Semenjak kedatangan nyonya Fabiola yang merupakan ibunda Carlo waktu itu ke kediaman paman Alessandro, pamanku segera mencari tahu tentang pemberontakan terhadap Nikolai Volkov. Dari sana, paman Alessandro menemukan banyak kejanggalan. Dia berpikir bahwa ada campur tangan pemegang kekuasaan di tubuh pemerintahan, yang seakan menjadi perisai bagi para pemberontak itu," tutur Adriano menjelaskan, meski lagi-lagi dirinya tak merasa yakin bahwa Mia akan dapat memahaminya dengan baik.


"Lalu?" tanya Mia yang menyimak dengan saksama. Wanita paruh baya dengan sanggul rapi tersebut mencoba mencerna setiap kata yang meluncur dalam bentuk sebuah penjelasan dari sang suami.


"Aku tidak tahu apa yang menyebabkan mereka tak menghendaki keberadaan organisasi itu. Padahal Klan Serigala Merah sudah terbentuk sejak lama. Aku rasa mungkin berusia sama dengan Klan de Luca atau Klan Moriarty." Adriano mengeluarkan kotak rokok dari saku kemejanya. Dia sedikit menjauh dari Mia, saat mulai menyulut benda itu hingga mengeluarkan asap tipis.


"Aku sudah tua, Sayang. Tenagaku tak seperti dulu lagi. Saat ini, aku hanya ingin mengurus Tigre Nero yang bahkan entah akan kuturunkan kepada siapa nantinya." Pria bermata biru dengan helaian uban di antara rambut hitamnya tadi, mengarahkan pandangan kepada Mia untuk beberapa saat.


Mia pun berdiri sambil melipat kedua tangan di dada. Perhatiannya tertuju penuh kepada sang suami yang memang sudah semakin menua, meski sebenarnya Adriano masih tampak begitu sehat dengan postur tubuh tak pernah berubah sama sekali.


"Kau masih sanggup menghajar Carlo," sindir ibunda Miabella tersebut.

__ADS_1


Adriano pun tertawa renyah. "Sudah lama aku tidak melakukan hal itu," ujarnya seraya mengamati kepalan tangan yang tadi dia gunakan untuk menghajar Carlo.


“Kau benar-benar menyebalkan, Adriano!” Mia bersungut-sungut, lalu meninggalkan suaminya di dalam kamar dengan begitu saja.


“Kau mau ke mana, Sayang?” tanya Adriano saat tubuh ramping istrinya sudah menghilang di balik pintu. Dengan segera, dia mengikuti langkah cepat Mia menyusuri koridor kamar.


“Aku ingin melihat keadaan Carlo. Menantuku!” jawab Mia dengan penekanan pada kata ‘menantu’.


“Astaga.” Adriano berdecak pelan. "Apa perhatianmu sekarang menjadi teralihkan padanya? Aku sadar jika diriku semakin tua," pikir Adriano sambil bergumam pelan. Dengan terpaksa, dia berjalan di belakang sang istri sambil terus mengisap sisa rokok tadi. Sementara tangan kiri dia sembunyikan ke dalam saku celana. Hal itu dia lakukan hingga mereka tiba di depan kamar Miabella.


Ketika Mia hendak mengetuk pintu, Adriano lebih dulu mengetuknya dengan gerakan yang cukup kencang. Berhubung saat itu sudah tengah malam, maka suaranya menggema cukup keras. “Adriano!” sergah Mia sambil melotot ke arah sang suami yang malah terkekeh pelan.


Tak berselang lama, pintu itu pun terbuka pelan. Wajah sembab Miabella muncul dari sana. “Mau apa lagi, Daddy Zio? Jangan katakan kau hendak menambahi pukulanmu pada wajah suamiku,” tukas gadis yang baru saja melepas masa lajangnya itu.


“Tidak, Sayang. Kami hanya ingin melihat keadaan Carlo. Bolehkah kami masuk?” sahut Mia sebelum Adriano sempat menanggapi perkataan putri kesayangannya.


“Carlo, Anakku.” Mia bergegas mendekat kepada Carlo sambil mengamati setiap inci wajah tampan yang babak belur tadi. “Suamiku memang keterlaluan,” sesalnya lirih. Sedangkan Adriano masih betah berdiri di ambang pintu. Dia menyandarkan lengan sebelah kanan sambil memperhatikan setiap detial gerak-gerik menantunya. Sesekali, pria itu mengisap rokoknya yang tinggal sedikit.


“Tidak apa-apa, Nyonya. Um ... maksudku, Bu. Bolehkah Anda kupanggil dengan sebutan ‘ibu’?” tanya Carlo meminta izin.


“Tentu saja, Nak. Kau boleh memanggilku dengan sebutan apapun yang kau inginkan,” jawab Mia lembut seraya mengusap bagian pipi Carlo yang tak lebam.


“Kurasa sebaiknya kau tanyakan dulu pada daddy zio, Bu. Siapa tahu dia tak terima jika suamiku memanggilmu demikian. Aku tidak ingin sikap over protective tuan D'Angelo yang sangat besar terhadap keluarganya, sampai membuat suamiku harus babak belur lagi,” sindir Miabella yang berdiri tak jauh dari ranjang. Sesekali dia melirik sang ayah yang tersenyum samar.


“Sudahlah, Cara mia ” tegur Carlo. “Aku sangat memahami apa yang tuan Adriano lakukan. Seandainya aku menjadi seorang ayah, maka aku juga pasti akan berbuat demikian.”

__ADS_1


“Lihatlah wajahmu sampai kacau beginj dan kau masih membela ayahku,” gerutu Miabella.


Sementara Mia seketika terpaku, mendengar sebutan Carlo untuk putrinya. Hal itu telah membangkitkan kenangan berpuluh tahun silam akan sosok Matteo. Namun, Mia berusaha untuk menepiskan segala perasaan tersebut. Dia kembali mengamati wajah sang menantu.


Memang benar, paras tampan Carlo saat itu dihiasi oleh beberapa luka lecet pada bagian pelipis. Luka lebam di bawah mata dan hidung, serta robek pada bibir. Belum lagi rahang yang bengkak, sehingga Miabella harus mengompresnya dengan kantong es.


“Itu baru permulaan, Carlo. Aku akan berbuat lebih dari ini jika sampai putriku berada dalam bahaya akibat ulahmu,” celetuk Adriano yang kini berjalan mendekat ke arah tempat tidur. Dia lalu berdiri gagah di sisi ranjang, dengan mata biru tajam menghujam Carlo.


“Katakan padaku. Apakah belum ada tanda-tanda seseorang mengancammu atau berusaha melukaimu?” tanya Adriano dengan nada datar dan dingin.


Mendengar hal tersebut, Miabella seketika membeku. Diam-diam dia melirik pada sang suami yang ternyata juga memandang ke arah dirinya. Perlahan, gadis cantik bermata abu-abu itu menggelengkan kepala.


“Ya, Tuan. Aku menerima ancaman saat kami berada dalam perjalanan menuju Rusia,” jawab Carlo tanpa melepaskan tatapannya dari Miabella.


“Ya ampun.” Putri sambung Adriano itu mende•sah kesal. Dia sungguh berharap jika suaminya bersedia untuk berbohong. Namun, sepertinya Carlo lebih suka berbicara jujur.


“Apakah kau sudah mencari tahu siapa pelakunya?” Adriano mengangkat satu alisnya yang tebal dan berwarna gelap.


“Belum, Tuan. Ada urusan lain yang harus kutangani terlebih dahulu, sebelum menyelidiki hal itu,” jelas Carlo.


“Dasar!” gerutu Adriano. Dia menggeser tubuh sang istri yang masih duduk di tepian ranjang dengan lembut, lalu mencondongkan badannya pada sang menantu. Tanpa ragu, Adriano mencengkeram bagian depan T-shirt yang Carlo kenakan, lalu menariknya kuat-kuat.


“Daddy Zio, hentikan!” cegah Miabella. Namun Carlo segera mengangkat satu tangannya pada sang istri sebagai isyarat agar dia tak ikut campur.


“Satu hal yang harus kau pahami, Karl Volkov! Menjadi seorang ketua klan, tidak hanya tentang memperbesar wilayah kekuasaan dan pundi-pundi kekayaan saja. Akan tetapi, kau juga harus sanggup mencegah datangnya bahaya yang bisa saja hadir dari berbagai sisi. Keselamatan keluarga besarmu adalah tanggung jawab paling utama! Apa kau bisa memahami itu, hah!” sentak Adriano. Suaranya menggelegar memecah heningnya malam di Casa de Luca.

__ADS_1


“Ya, Tuan. Aku dapat memahaminya dengan baik,” jawab Carlo dengan tenang.


“Bagus.” Adriano melepaskan tangannya, lalu berbalik begitu saja. “Oh ya. Satu lagi. Jangan panggil aku ‘Tuan’! Rasanya tak pantas saat menantu sendiri menyebutku demikian,” ujarnya sambil berlalu dan tak menoleh lagi.


__ADS_2