
"Siapa yang kau maksud, Pak Tua?" tanya Carlo memastikan.
"Mereka," jawab pria tua tadi. "Mereka yang selama ini menikmati kemunduran dari Klan Serigala Merah, dan terusik setelah Anda kembali menghidupkannya lagi, Tuan." Si pria asing itu menatap lekat kepada Carlo yang tampak memicingkan mata.
Sementara Adriano memperhatikan setiap gerak-gerik serta bahasa tubuh pria tadi dengan detail. Dia melihat ada sedikit kejanggalan yang mengganggu dan membuat insting ayah dua anak tersebut bekerja, tapi Adriano tak dapat memastikan apa itu.
Baru saja ketua Tigre Nero tersebut akan memperingatkan menantunya, tiba-tiba pria tua tadi menghunuskan sebuah pisau yang segera dia arahkan tepat ke perut Carlo. "Hey!" sergah Adriano bersamaan dengan Miabella dan juga Mia yang menjerit karena rasa terkejut.
Carlo yang memang sedari tadi sudah berada dalam sikap waspada, dengan mudah menangkis pisau tajam yang diarahkan padanya. Secepat kilat dia menangkap serta menggenggam kencang, pergelangan pria tadi yang ternyata masih memiliki tenaga sangat kuat.
"Siapa kau?" tanya Carlo sembari memutar tubuh si pria sehingga jadi menghadap ke depan. Dia menahan leher pria itu dengan menggunakan lengannya. "Tenagamu masih sangat kuat, Pak Tua," ucap Carlo penuh penekanan. "Siapa yang mengirimmu, Tua Bangka?" geram Carlo kemudian.
Akan tetapi, Carlo tak segera mendapat jawaban yang dia inginkan. Pria tua itu malah tertawa puas. Sementara Adriano, dia baru saja hendak keluar dari dalam mobil. Namun, tiba-tiba sebuah tembakan muncul dari arah yang tidak terduga. Ayah sambung Miabella itu pun kembali berlindung di dalam kendaraan. Sementara pria tua tadi tampak membelalakkan kedua mata, saat merasakan timah panas itu langsung menembus jantungnya.
"Sialan!" Carlo melepaskan tubuh yang sudah tak bernyawa tersebut. Darah segar pun mulai menetes di atas paving block yang mereka pijak. Carlo kemudian mengedarkan pandangan. Suasana di sekitar sana terbilang sepi.
Namun, tak berselang lama ada dua petugas keamanan restoran yang datang menghampiri. Mereka begitu terkejut saat melihat mayat pria yang tadi tertembak.
"Apa yang terjadi, Tuan?" tanya salah seorang dari mereka.
"Pria ini menyerangku dengan pisau, tapi tiba-tiba ada yang menembaknya dari suatu tempat ...." Carlo kembali mengedarkan pandangan. Begitu juga dengan Adriano yang saat itu telah berdiri di sebelah sang menantu. Sementara Miabella beserta Mia, masih berada di dalam mobil dengan ekspresi yang penuh rasa khawatir.
"Suruh mereka membereskan kekacauan ini," bisik Adriano.
__ADS_1
Carlo pun mengalihkan perhatian pada dua petugas tadi. "Tolong singkirkan mayat pria asing Ini. Apa yang baru saja berlangsung, akan menjadi rahasia kalian berdua," ucap Carlo dengan nada bicara serta sorot mata yang terlihat sangat serius.
Kedua petugas keamanan tadi pun mengetahui risiko yang akan mereka hadapi andai banyak bicara. Tak ada pilihan selain mengangguk. Salah satu dari mereka kemudian masuk ke dalam restoran yang sepi, karena saat itu telah menunjukkan lebih dari pukul sembilan malam.
Tak berselang lama, pria yang tadi masuk telah kembali dengan membawa kantong sampah berwarna hitam. Dengan cepat, mereka memasukkan jasad pria tak bernyawa yang tergeletak di atas paving block ke dalam kantong sampah tersebut. Setelah itu, salah seorang lagi membersihkan noda darah dan menyikatnya dengan cairan khusus.
Setelah semuanya kembali rapi, dua petugas keamanan tersebut menatap Carlo penuh arti, seakan hendak menanyakan tentang apa yang harus mereka lakukan selanjutnya.
“Masukkan mayat itu ke dalam bagasiku,” titahnya seolah paham dengan apa yang dua orang itu pikirkan.
“Baik, Tuan,” sahut dua orang pria bertubuh tinggi besar tadi. Mereka lalu memasukkan kantong hitam berisi mayat pria asing itu. Gerak keduanya tampak begitu cekatan.
Setelah itu, Carlo kembali menghampiri kedua petugas keamanan yang telah membantunya. "Amankan kamera CCTV di halaman parkir ini. Aku tidak ingin jika sampai ada yang mengetahui tentang apa yang terjadi," titah Carlo lagi dengan tegas.
"Tidak apa-apa, Sayang. Orang yang sudah mati tak akan bisa menyakitimu," sahut Adriano tenang sambil merangkul bahu sang istri. Dia sedang mencoba untuk menenangkan wanita itu.
“Akan kau bawa ke mana mayat ini, Carlo?” tanya Miabella yang juga tak kalah panik.
“Kita harus membuangnya, Cara mia. Aku tidak ingin para pejabat parlemen yang mendukung Serigala Merah sampai mengetahui tentang hal ini, sebab akan memberikan penilaian yang buruk pada mereka,” jelas Carlo yang duduk di kursi depan, tepat di samping kemudi.
“Ke mana kita harus membuangnya, Tuan?” Sang sopir yang sedari tadi terdiam, kini memberanikan diri untuk bertanya.
“Buanglah ke aliran Sungai Nova. Biar arusnya yang akan membawa mayat tak dikenal ini ke muara Laut Baltik. Kuharap hiu-hiu di sana akan memakannya,” jawab Carlo datar.
__ADS_1
Adriano sendiri memilih untuk tidak banyak bicara. Pria itu terdiam sambil tetap menggenggam pistol, bahkan moncongnya dia gunakan untuk menggaruk kening.
“Sayang, bisakah kau masukkan benda itu ke balik pinggangmu? Kau membuatku semakin takut,” bisik Mia.
“Tidak apa-apa, Sayangku. Aku sedang berjaga-jaga. Siapa tahu ada seseorang di luar sana yang berusaha mengikuti kita,” sahut Adriano kalem.
“Mungkinkah ada yang mengikuti kita, Daddy Zio?” tanya Miabella dengan raut wajah panik.
“Aku sudah menghubungi anak buahku untuk menyusul kita kemari, Cara mia. Jangan khawatir,” sahut Carlo sebelum Adriano sempat menjawab.
“Kuharap anak buahmu bisa menyusul tepat waktu,” ujar Adriano. Instingnya saat itu mengatakan bahwa ada bahaya yang tengah mengintai mereka. Apa yang Adriano pikirkan memang benar adanya. Segala perasaan tak nyaman sejak muncul, akhirnya terjawab dengan sebuah tembakan yang mengenai kaca belakang mobil Carlo. Beruntung mobil SUV tersebut telah dilengkapi dengan lapisan anti peluru.
Namun, tetap saja hal tersebut membuat Mia sangat terkejut dan seketika menjerit. Spontan, Adriano segera memeluk sang istri. Begitu juga Miabella yang turut merengkuh tubuh ibunya. “Menunduklah, Bu!” suruh wanita muda itu, menyusul beberapa tembakan dari arah yang sama dan lagi-lagi mengenai bagian belakang mobil.
Adriano menoleh ke belakang. Dilihatnya sebuah mobil bertipe sama dengan milik Carlo, tampak mengejar kendaraan yang dia tumpangi. Mata biru sang ketua Tigre Nero juga menangkap dua orang mengeluarkan anggota tubuhnya dari dalam mobil misterius tadi sambil mengokang senjata.
“Bisa gawat jika peluru mereka mengenai ban mobilmu, Carlo!” seru Adriano gusar.
“Tidak akan, Ayah!” balas Carlo yang berusaha untuk tetap bersikap tenang. “Erik! Tidak bisakah kau menambah kecepatannya?” Sang ketua Klan Serigala Merah itu beralih pada sang sopir yang terlihat tegang.
“Baik, Tuan!” Pria bernama Erik tersebut menginjak pedal gas dengan kencang sambil memindah posisi persneling, lalu memutar kemudi secara tiba-tiba ke arah kiri.
Pada saat itulah, Adriano berinisiatif untuk membuka jendela mobil yang berada di sebelahnya. Dengan jemari yang siap pada pelatuk, Adriano mengarahkan pistol kesayangannya ke arah mobil pengejar tadi. Mereka tampaknya tak menyangka sama sekali, bahwa kendaraan milik Carlo akan berbelok. Cukup satu peluru yang dibutuhkan Adriano untuk meletuskan ban depan sebelah kanan, sehingga mobil tak dikenal itu hilang keseimbangan, lalu terbalik dan terguling berkali-kali.
__ADS_1