
Miabella tertegun. Perlahan dia menoleh kepada Carlo, pada lengan kanannya yang mengalami luka sayat memanjang ke samping dan mulai mengeluarkan darah segar. "Carlo ...." Miabella menatap sang suami dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ini adalah pengalaman pertama bagi putri sulung Mia tersebut, merasakan sebuah peluru mengenai kulitnya yang mulus.
"Cara mia!" Carlo bergegas menghampiri sang istri tercinta. Dia juga melihat luka gores yang dialami wanita muda bergaun merah tadi. "Syukurlah, ini hanya luka gores. Ayo. Kita harus segera mengobati lukamu," ajak pria bermata biru itu seraya memapah Miabella yang sebenarnya masih sangat kuat untuk berjalan sendiri, meskipun merasakan sakit di bagian lengan.
Namun, baru saja berjalan beberapa langkah, sosok tegap Adriano sudah berdiri menghadang dengan tatapan dan sorot mata teramat tajam. Kedua hal itu tentu saja ditujukan khusus kepada Carlo, yang dianggap paling bertanggung jawab dalam insiden tadi. Di sebelahnya berdiri Marco dan juga Romeo.
"Jangan sampai kau memukuli Carlo lagi Daddy Zio. Dia sudah berusha menyelamatkan nyawaku," ujar Miabella. Wanita muda itu seakan telah mengetahui makna dari sikap garang yang Adriano layangkan kepada suaminya. Sementara darah segar terus menetes, mengaliri lengan hingga ke ujung jemari lentik putri dari Matteo de Luca tersebut.
"Segera obati lukamu." Adriano tak menanggapi ucapan Miabella. Tatapannya masih terfokus kepada Carlo. Pria itu juga sudah tahu apa yang akan dihadapi setelah ini. "Bawa dan obati putriku, Marco," titah Adriano. Dia menyuruh sang ketua Klan de Luca dengan begitu enteng, seolah bahwa Marco merupakan salah satu dari anak buahnya, "dan kau tetap di sini, Carlo," lanjut Adriano dengan dingin.
Tanpa banyak bicara, Marco segera mengajak Miabella untuk masuk. Romeo pun mengikuti mereka. Sementara Carlo menuruti perintah sang ayah mertua. Walaupun saat ini dia telah menjadi seorang ketua klan dari organisasi besar, tapi hal itu tak membuat Carlo menjadi kehilangan rasa hormat kepada pria yang dulu dan hingga saat ini masih menjadi panutannya.
"Aku tak akan memaafkanmu, jika kau melakukan hal yang gila terhadap suamiku!" ancam Miabella dengan cukup lantang.
"Sudah, Bella. Sebaiknya kau obati dulu lukamu." Marco segera membalikkan tubuh Miabella dan menggiring dia agar segera masuk.
"Apa kau mendengarku, Daddy Zio?" seru Miabella lagi sambil terus berjalan, sementara kepalanya masih saja menoleh ke belakang.
"Sudah, Bella." Marco terus menuntun keponakannya untuk masuk. Dia juga segera memanggil dokter pribadi yang menjadi langganan keluarganya. Kediaman dokter tersebut tak begitu jauh dari Istana de Luca, sehingga dia bisa tiba dengan cepat ke sana.
__ADS_1
Selagi Miabella mendapatkan perawatan, Adriano dan Carlo masih berada di dekat taman labirin tadi. Carlo pun tak banyak bicara. Dia bahkan masih memegangi pistol di tangan kanannya.
"Kau tak akan menyimpan senjatamu, Carlo? Apa kau takut jika aku akan menghajar dirimu lagi?" tukas Adriano sinis. Tanpa banyak membantah, Carlo segera menyelipkan pistolnya di balik pinggang.
"Sekarang kau paham apa yang kumaksud? Apa saat ini otakmu sudah bisa kau gunakan dengan baik Karl Volkov?" Nada bicara Adriano tiba-tiba meninggi. "Sekian lama aku menjaga Miabella dengan sangat hati-hati. Tak pernah kubiarkan kulitnya tergores sedikit pun. Lalu, apa yang terjadi sekarang? Dia hampir saja diculik dan mungkin bisa lebih ...." Adriano menjeda kata-katanya yang penuh penekanan dan amarah tertahan. Kedua tangannya sudah kembali terkepal dengan sempurna serta siap untuk dilayangkan kepada seseorang yang ada di hadapannya.
"Periksa mayat itu! Siapa tahu kau menemukan sebuah petunjuk," titah sang ketua Tigre Nero kemudian.
Carlo segera menggangguk, kemudian melakukan apa yang Adriano perintahkan. Dia memeriksa dengan detail. Carlo bahkan sampai merobek paksa seragam khusus untuk pengawal Klan de Luca, demi mencari informasi seperti tato atau sebagainya.
Di bagian dalam, ternyata pria yang telah terbujur kaku tadi masih mengenakan pakaian rangkapan. Adalah sebuah t-shirt hitam dengan sablon sebuah gambar yang tidak terlalu besar pada bagian kerah belakang. Carlo pun terdiam untuk beberapa saat. Dia mengingat-ingat gambar yang tertera di sana. Pria itu merasa pernah melihatnya tapi entah di mana.
"Simbol ini," tunjuk Carlo pada bagian belakang kerah pakaian yang dikenakan pria asing tadi. "Aku pernah melihat simbol ini saat ...." Carlo terdiam sejenak. Kini, dia dapat mengingat dengan baik di mana dirinya melihat simbol tersebut.
"Orang-orang yang menguntit kami saat melakukan perjalanan menuju Rusia. Dia memiliki pin dengan gambar yang sama," terang Carlo, membuat Adriano segera mendekat. Pria paruh baya tersebut kemudian menurunkan tubuh di dekat sang menantu.
Adriano pun mengamati gambar tadi dengan begitu lekat.
"Mereka mengatakan tentang sisi gelap di dalam pemerintahan Rusia, yang menentang berdirinya kembali Klan Serigala Merah. Aku sama sekali tidak tahu ada rahasia penting apa yang diketahui oleh organisasi peninggalan kakek buyutku, sehingga ada beberapa oknum yang tak menghendaki keberadaan kami." Carlo berdiri, lalu menyugar rambutnya yang sedikit acak-acakan.
__ADS_1
"Apakah para seniormu tidak memberitahukan apapun?" tanya Adriano dengan wajah serius.
"Aku belum sempat membicarakan hal ini dengan siapa pun, Ayah mertua," ujar Carlo.
"Astaga! Kenapa kau jadi bodoh begini, Carlo? Apakah pesona Miabella begitu kuat, sampai-sampai hal itu membuat otakmu jadi membeku dan tidak bisa bekerja dengan maksimal?" cerca Adriano seraya mendengus kesal.
"Aku ... aku ... aku sangat mengkhawatirkan Miabella. Sebaiknya kulihat dulu keadaannya." Carlo bermaksud untuk berlalu dari hadapan Adriano.
Akan tetapi, dengan segera ayah sambung Miabella tersebut menahan langkahnya. "Dengarkan aku, Carlo. Apa motivasimu menjadi seorang ketua klan?" Adriano menatap tajam kepada menantu pertama di keluarganya.
"Miabella. Aku ingin memantaskan diri demi dia," jawab Carlo dengan yakin.
"Lalu? Kau pikir setelah menjabat sebagai ketua dari sebuah organisasi besar, maka pekerjaanmu akan semudah itu?" cecar Adriano tanpa mengubah nada bicaranya yang terdengar tegas dan penuh penekanan.
"Pada kenyataannya ini bukanlah akhir, melainkan awal dari segalanya! Kau sudah membawa putriku masuk ke dalam bahaya besar, bukan tidak mungkin hal yang jauh lebih mengerikan dari ini tengah mengintai kalian! Kau, putriku yang begitu tergila-gila padamu, dan juga nasib Klan Serigala Merah yang tengah berusaha kalian bangun kembali." Sepasang mata biru Adriano berkilat tajam.
"Mulai sekarang, sebaiknya kau mempersiapkan diri dengan jauh lebih matang. Kenali bangunan megah tempat di mana dirimu tinggal. Gali informasi yang tersembunyi di sana. Setelah kau mengetahui penyebab dari semua ini, maka dirimu bisa membidikkan moncong senjata pada satu target utama sambil menyusun rencana. Ingat, kenali musuhmu dengan baik. Jangan gegabah. Barulah kau bisa bertindak." Suara Adriano terdengar sangat menakutkan serta penuh dengan intimidasi.
Carlo berdiri terpaku di hadapan Adriano. Sementara tatap mata biru suami Miabella tersebut masih tertuju kepada sang ayah mertua, yang tak menunjukkan ekspresi ramah dan hangat seperti ciri khas dari sang ketua Tigre Nero yang dia kenal.
__ADS_1
"Jika kau tidak bisa melakukan tugasmu dengan baik dan sekiranya hanya akan membahayakan nyawa putriku, maka ...." Adriano menjeda sejenak kata-kata yang hendak dilontarkan kepada anak asuhnya. "Maka akan kuambil Miabella secara paksa darimu!"