
Adriano tersenyum puas ketika mobil tak dikenal tadi terus terguling, dan baru berhenti saat bodinya menabrak bebatuan besar di sisi jalan. Dengan santai dia menutup kembali kaca jendela rapat-rapat. Tak ayal, tindakan yang dia lakukan tadi telah menarik perhatian semua orang di dalam mobil. Tak terkecuali Erik yang tengah mengemudi. “Perhatikan depanmu, Sopir!” titah Adriano dalam bahasa Rusia.
Sementara Mia dan Miabella memandang tanpa berkedip kepada pria tampan yang berstatus sebagai seorang suami sekaligus ayah sambung tersebut. “Kenapa kalian melihatku seperti itu?” tanya Adriano keheranan.
“Kupikir kau sudah tidak sanggup melakukan hal seperti tadi, Daddy Zio,” celetuk Miabella dengan tatapan tak percaya.
“Jangan meremehkanku, Principessa. Aku masih sanggup menghajar Carlo sekali lagi,” balas Adriano sembari menyeringai.
“Aku memang tak berniat membalasmu, Ayah mertua,” balas Carlo seraya berdecak pelan. Harus dia akui bahwa saat ini, Adriano lebih unggul darinya. Dalam hati, suami dari Miabella tersebut cukup menyesal karena seharusnya dialah yang melakukan adegan heroik tadi.
“Akan ada giliran untukmu nanti, Nak. Tenang saja,” ujar Adriano yang duduk tepat di belakang menantunya. Dia menepuk pelan pundak Carlo sambil tersenyum lebar. Adriano seakan tahu apa yang tengah dipikirkan oleh Carlo saat itu.
“Ah! Aku tidak ingin makan malam bersama kalian lagi.” Mia menutup telinganya rapat-rapat. Masih terbayang jelas kejadian beberapa menit lalu saat mobil mereka tengah ditembaki.
“Jangan khawatir, ibu. Lihatlah di belakang kita,” tunjuk Carlo ke belakang, membuat Mia menoleh. Dia melihat beberapa mobil yang berwarna hitam yang tengah mengikuti mereka.
“Siapa lagi itu, Carlo?” tanya Mia panik.
“Mereka adalah anak buahku, Bu. Sebenarnya mereka langsung bergerak saat pria tua tadi muncul. Erik lah yang menghubungi. Sopirku ini memang sangat bisa diandalkan,” sanjung Carlo sembari tersenyum ke arah sopir pribadinya.
“Senang jika Anda puas dengan pekerjaanku, Tuan,” balas sang sopir dalam bahasa Rusia.
“Aku juga senang melihat pengawal-pengawalmu yang sebagian besar berusia muda, Carlo. Aku sempat khawatir jika orang-orang di dalam organisasimu berusia sama dengan Grigori ataupun Ivan dan Igor,” sahut Adriano.
“Tentu saja tidak, Ayah mertua. Sejak tiga tahun yang lalu, aku bersama Grigori, Ivan, dan juga Igor terus berjuang untuk merekrut orang-orang baru yang sudah teruji kesetiannya. Mereka juga orang-orang terlatih dengan kemampuan bela diri yang cukup tinggi. Kami bergerak dalam diam, mencari sosok-sosok baru ke seluruh penjuru Rusia,” jelas Carlo.
__ADS_1
“Itulah kenapa selama tiga tahun aku menghilang darimu, Cara mia. Aku tengah berjuang untuk mengembalikan kekuasaan ayahku, dan akhirnya semua terbayarkan. Setelah kekuasaan Viktor Drozdov runtuh, kami langsung mengganti seluruh anggota dengan personil baru,” lanjut Carlo.
“Terhitung ada puluhan ribu anggota baru yang sukarela bergabung ke dalam klan. Mereka umumnya adalah orang-orang yang pernah merasakan kekejaman Viktor Drozdov,” imbuh pria itu lagi.
“Luar biasa.” Adriano bertepuk tangan mendengar cerita menantunya tersebut. “Setidaknya aku bisa lebih tenang memercayakan putriku padamu.”
“Aku akan melakukan yang terbaik untuk putri Anda, Ayah mertua. Aku akan selalu memastikan bahwa dia aman dan nyaman,” ucap Carlo dengan sorot mata penuh ketulusan.
“Grazie, Carlo. Dari awal aku sudah memercayakan putriku padamu. Sikapmu juga teramat manis,” timpal Mia tak henti-hentinya menyanjung sang menantu.
“Tidak perlu terlalu berlebihan, Mia. Aku menjadi sedikit cemburu,” bisik Adriano tepat di telinga sang istri.
Sontak Mia melotot ke arah sang suami sambil mencubit perutnya. “Apa-apaan kau ini, Adriano? Bagaimana bisa kau cemburu pada putramu sendiri? Carlo bukanlah anak asuh, melainkan anak kita,” tegur ibunda Miabella itu dengan berbisik pula.
“Kita sudah tiba, Ayah mertua,” ujar Carlo sambil membuka pintu. Dia juga sempat menoleh, ke tempat di mana terdapat beberapa mobil sedan hitam yang berhenti dalam posisi berjajar ke belakang.
Carlo mengangkat satu tangan sambil menjentikkan jari sebagai isyarat bagi anak buahnya untuk mendekat. “Keluarkan kantong hitam dari dalam bagasi, lalu segera buang ke sungai,” titahnya dalam bahasa Rusia, ketika beberapa orang anak buah bersetelan hitam datang menghadap.
Orang-orang itu segera mengangguk, lalu melaksanakan perintah Carlo dengan cekatan. Sekuat tenaga, mereka melemparkan kantong berisi mayat pria tadi jauh ke tengah sungai yang berarus deras. Mereka tetap berada di tempat tersebut, sampai merasa benar-benar yakin bahwa kantong itu tenggelam dan tak terlihat lagi.
“Segeralah sisir pinggiran sungai dan pastikan bahwa kantong tadi terbawa arus hingga ke muara,” suruh Carlo kemudian.
“Baik, Tuan,” jawab salah seorang di antara mereka sebelum undur diri dan kembali ke dalam kendaraan masing-masing. Sementara Carlo tetap berdiri di tempatnya, hingga mobil-mobil itu menghilang dari pandangan.
“Bagaimana selanjutnya?” tanya Adriano yang ternyata sudah berdiri di samping kiri Carlo.
__ADS_1
“Kita kembali ke istana, Ayah Mertua. Besok kita lanjutkan rencana untuk mendengarkan kaset-kaset kuno itu,” jawab Carlo kalem.
“Astaga! Apakah alat perekamnya tidak rusak? Kulihat benda itu bertumpukan dengan jasad tak dikenal tadi,” celetuk Miabella yang juga tiba-tiba sudah berdiri di sisi kanan suaminya.
“Kau tidak apa-apa, Cara mia?” Carlo malah balik bertanya seraya merengkuh tubuh ramping Miabella.
“Aku baik-baik saja, Carlo. Jangan khawatir. Hari ini aku senang sekali. Ini adalah pengalaman paling keren dan seru yang pernah kualami dalam seumur hidup!” celoteh Miabella sambil berjalan ke arah bagasi mobil, membuat Adriano dan Carlo saling pandang penuh arti.
“Harap maklum, Carlo. Dia adalah putri Matteo de Luca ... sekaligus putriku juga.” Adriano tersenyum lebar, hingga menampakkan deretan giginya yang putih dan rapi.
Sementara itu di depan bagasi mobil yang sudah terbuka, Miabella memperhatikan alat pemutar kaset dan video yang tampak tak berubah kondisinya dari sejak mereka membeli di toko barang antik tadi siang. “Kurasa aman. Sepertinya tidak ada yang rusak ataupun komponen yang pecah,” ucap wanita muda tersebut sambil mengusap dagu.
“Sedang apa kau di situ, Sayang? Masuklah kemari dan temani ibumu ini. Apa kau tidak melihat aku yang masih gemetaran?” Walaupun sudah sering mengalami kejadian seperti tadi, tapi Mia tetap saja merasa was-was tiap kali harus menghadapinya secara langsung. Dua kali bersuamikan seorang mafia, tak membuat perasaan serta karakternya yang lembut menjadi seketika berubah
“Kita sudah selesai, Ibu. Jangan khawatir, karena kita akan pulang sekarang,” ujar Carlo menenangkan ibu mertuanya. Dia lalu memberi perintah kepada Erik hanya dengan satu kali anggukan kepala. Sopir pribadi itu pun mengerti dan segera duduk di balik kemudi.
“Aku tak sabar menunggu besok,” gumam Miabella sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.
“Memangnya ada apa dengan besok?” tanya Mia heran.
“Apakah daddy Zio belum memberitahukan padamu? Besok paman Ricci akan datang dan membantu kami untuk mengungkapkan misteri,” jawab Miabella antusias.
"Sungguh? Ricci akan datang? Apakah Francy juga ikut?" tanya Mia sumringah.
"Ini bukan liburan, Sayang," sahut Adriano.
__ADS_1