The Bodyguard

The Bodyguard
New Couple


__ADS_3

“Apa-apaan ini, Carlo?” Miabella seolah tak percaya ketika tiba-tiba pria rupawan itu berlutut di hadapannya


“Aku ingin menikahimu sekarang juga, Bella,” jawab Carlo dengan sorot mata penuh harap


“Kenapa begitu tiba-tiba ....” Belum selesai Miabella melanjutkan kalimatnya, seorang pria tua berkemeja hitam dengan sebagian kerah berwarna putih, muncul dari bagian belakang altar.


“Apakah ada yang bisa kubantu?” tanya pria tua itu dalam bahasa Rusia.


“Apakah Anda seorang pendeta?” Carlo balik bertanya.


“Iya, gereja ini berada dalam tanggung jawabku,” jawabnya.


“Bisakah Anda menikahkan kami berdua?” tanya Carlo lagi sembari merengkuh Miabella sehingga mendekat padanya.


Sementara wajah Miabella sudah merah merona. “Apa kau yakin, Carlo?” bisiknya tak percaya.


“Aku tidak pernah merasa seyakin sekarang. Kaulah yang kutunggu selama ini, Cara mia. Aku tak ingin kau terlepas lagi dari genggamanku,” jawab Carlo penuh keyakinan.


“Apakah Anda mempunyai teman atau saksi?” tanya pendeta itu tampak kebingungan, sebab hanya ada mereka bertiga di dalam gereja kecil tersebut.


“Tidak ada, hanya kami berdua. Kuharap hal itu tidak masalah,” sahut Carlo. Raut wajahnya menampakkan ekspresi yang sedikit was-was.


Pendeta tadi tampak berpikir untuk sesaat, sebelum akhirnya mengangguk dan tersenyum. “Baiklah. Suatu kehormatan bagiku untuk menikahkan kalian berdua. Ini adalah salah satu dari banyak hal baik," sahut sang pendeta seraya tersenyum hangat


Dia lalu mengarahkan dua sejoli tadi untuk berdiri di altar. Sebuah prosesi pernikahan sederhana mulai berlangsung. Upacara pemberkatan yang dilakukan tanpa adanya gaun mewah, hidangan lezat, ataupun tamu-tamu yang berdatangan untuk memberi ucapan selamat. Namun, hal itu berlangsung dengan sangat khidmat, meski Carlo dan Miabella hanya memakai busana kasual yang belum mereka ganti semenjak melakukan perjalanan dari Italia.


Pada akhirnya, Carlo menyematkan cincin perak yang telah dia simpan sekian lama pada jari manis Miabella. Demikian pula putri dari Matteo de Luca tersebut. Dia juga ganti memasangkan cincin berbentuk sama. Dua anak manusia tadi saling berpandangan dengan raut tak percaya, ketika sang pendeta mengesahkan ikatan suci di antara mereka.


“Jadi … sekarang kita ….” Miabella tak melanjutkan kata-katanya. Dia masih tak percaya jika dirinya dan Carlo sekarang sudah sah menjadi sepasang suami istri. Sedangkan sang pendeta tersenyum melihat kemesraan pasangan baru tersebut. Dia lalu mundur perlahan meninggalkan mereka berdua.


“Kau istriku, dan aku suamimu.” Carlo mendekat, lalu mencium bibir Miabella lembut dan penuh perasaan. “Mulai detik ini, kita tak akan lagi terpisahkan,” ucapnya lagi setelah melepaskan tautan sejenak, sebelum kemudian melanjutkan lagi ciuman hangatnya.


“Lalu, bagaimana setelah ini, Carlo? Bagaimana dengan daddy zio dan juga ibuku?” Mata abu-abu Miabella membulat, ketika teringat akan ayah sambungnya. “Dia pasti akan marah karena kita menikah dengan diam-diam,” lanjutnya gugup.


“Kenapa tuan Adriano dan ibumu harus marah? Seharusnya mereka bersyukur karena melihatmu bahagia.” Carlo menyentuh dagu gadis yang kini telah sah menjadi istrinya. “Kecuali kalau kau tak menyukai pernikahan ini,” ujarnya kemudian. Mata biru yang begitu indah itu perlahan berubah sayu.

__ADS_1


“Tentu saja aku sangat bahagia,” sahut Miabella dengan segera. “Selama bertahun-tahun ini aku sangat tersiksa. Ditinggalkan olehmu benar-benar memukul mentalku. Aku seakan berjalan tak tentu arah dan berubah membencimu. Namun, sekarang .”


Carlo menghentikan kalimat Miabella dengan sebuah ciuman lagi. Cukup lama mereka larut dalam pertautan yang mesra pada awalnya dan berakhir semakin panas. Carlo mere•mas pinggul gadis yang baru saja sah menjadi istrinya dengan gemas.


“Kita masih di gereja, Carlo,” tegur Miabella.


“Apa kita harus mencari tempat untuk … ah, sialan!” Carlo menggerutu pelan, saat ponsel yang dia letakkan di saku celana bergetar. “Aku harus menjawab panggilan ini, Cara mia," ucapnya.


“Angkat saja,” ucap Miabella dengan tatap mata yang tak lepas dari wajah tampan sang suami. “Suami?” desisnya sambil mengulum senyum. Hingga detik itu, Miabella masih juga merasa tak percaya akan hal yang baru saja dia lakukan bersama sang kekasih hati.


“Ada apa, Igor? Apa tuan Adriano masih berada di sana?” tanya Carlo pelan.


“Tidak, tuan. Tuan D’Angelo bersama rombongan sudah kembali ke Italia sejak kemarin,” jawab orang kepercayaan Carlo dari seberang sana.


“Oh, sayang sekali. Padahal jika sesuai dengan perkiraan, maka aku akan tiba di markas sekitar petang nanti,” sahut Carlo. “Aku akan mengabarkan sesuatu yang penting padanya.”


“Sesuatu yang penting apakah itu, tuan?” tanya Igor penasaran.


Carlo tak segera menjawab. Dia malah tersenyum simpul sambil menatap lembut ke arah Miabella. “Apa kau tahu, Igor? Aku baru saja mengucapkan sumpah setia bersama Miabella,” jawabnya kemudian.


“Apakah itu maksudnya, tuan?” Igor terdengar kebingungan.


“Menikah, tuan?” ulang Igor. Tampaknya pria itu tak dapat menyembunyikan rasa terkejut atas berita yang baru saja diberikan oleh Carlo.


“Iya. Aku sudah menjadi seorang suami sekarang. Suami dari nyonya Miabella de Luca,” ucap Carlo memandang penuh arti pada gadis di hadapannya, membuat wajah cantik itu tersipu malu.


“Tuan ….” Ucapan Igor terdengar mengambang. “Sepertinya anda harus segera kembali ke istana,” ujarnya kemudian.


“Ada masalah apa lagi?” Carlo mengempaskan napas pelan.


“Ini terkait dengan anda dan status pernikahan anda yang baru,” terang Igor penuh teka-teki.


“Kenapa memangnya?” nada bicara Carlo seolah tak suka.


“Kuharap anda bisa secepatnya pulang. Apalagi tuan Stefan Romanov sudah menunggu kedatangan anda di istana Serigala Merah,” jawab Igor.

__ADS_1


“Siapa lagi dia?” Carlo menautkan alisnya yang tegas dan sedikit tebal.


“Aku hanya bisa menjelaskan semuanya jika anda sudah berada di sini, tuan,” pungkas igor, kemudian mengakhiri panggilannya setelah berbasa-basi sejenak.


“Apakah ada masalah, Carlo?” tanya Miabella sembari menyandarkan kepala di bahu lebar Carlo.


“Sepertinya kita harus segera pulang, Sayang,” jawab Carlo lembut.


“Tak masalah bagiku. Aku ikut ke manapun kau pergi.” Miabella mengerling nakal, lalu mengecup bibir suaminya.


“Baiklah.” Carlo mengacak-acak rambut Miabella sebelum mereka melangkah keluar dari bangunan gereja. Mereka bergandengan tangan menuju motor yang terparkir di halaman gereja.


Setelah memasang semua peralatan berkendara dan Miabella duduk dengan nyaman di belakang, Carlo mulai menjalankan motornya dengan kecepatan sedang. Selama kurang lebih lima jam perjalanan, pasangan pengantin baru itu tiba di St. Petersburg. Mereka memasuki istana Serigala Merah tepat pada pukul delapan malam.


Suasana saat itu terlihat berbeda. Semuanya terasa jauh lebih lengang dan tertata rapi. Para pelayan tampak berbaris rapi mengelilingi aula. “Ada apa ini, Carlo? Apa aku boleh masuk kemari?” Miabella ragu-ragu berjalan di sisi suaminya seraya mencengkeram lengan kekar Carlo.


“Tak ada yang boleh melarangmu, karena kau sekarang telah menjadi istriku,” tegas Carlo penuh penekanan. Dia lalu menggandeng tangan Miabella dan menyibak barisan para pelayan.


Carlo terus melangkah ke tengah aula. Dilihatnya sosok Igor berdiri di samping sang ibu. Dia pun berjalan mendekat ke arah mereka. Sekilas Carlo menangkap seorang pria tua dan seorang wanita muda yang berdiri di dekat sang ibu. Carlo tak pernah melihat orang-orang itu sebelumnya. “Bu, lihatlah siapa yang kubawa?” Carlo memamerkan senyumnya yang menawan.


“Selamat datang, Nak.” Fabiola merentangkan tangan sambil merengkuh tubuh putra bungsunya. Dia kemudian beralih pada Miabella. Senyumannya terlihat begitu ramah dan lembut. “Kau pasti gadis yang telah berhasil merebut hati putraku, Miabella de Luca. Benar, ‘kan?”


“Iya, Nyonya.” Miabella membungkuk penuh hormat, lalu memeluk ibunda Carlo ketika wanita itu merengkuh tubuhnya.


“Kenapa memanggil ibuku dengan sebutan ‘Nyonya’, Cara mia? Kau sudah menjadi istriku. Seharusnya kau memanggilnya ‘ibu’,” protes Carlo yang sontak membuat semua orang di ruangan itu terkejut, terutama Fabiola.


“Jangan bercanda, Nak,” tegur Fabiola.


“Tuan tidak sedang bercanda, Nyonya,” sahut Igor yang sedari tadi terdiam.


“Benarkah itu, Nak?” Perhatian Fabiola teralihkan pada Miabella. Wanita paruh baya itu tampak terharu. Dia lalu kembali memeluk putri sambung dari Adriano tersebut. Hal itu membuat Miabella merasa begitu diterima. Rasa lega memenuhi dadanya.


Akan tetapi, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Pria asing yang sedari tadi hanya diam memperhatikan, kini mulai angkat bicara.


“Jangan bersikap seenaknya, Tuan Volkov. Ada tradisi yang harus Anda ketahui dan ikuti di dalam organisasi besar ini!” tegas pria itu.

__ADS_1


“Anda siapa?” tanya Carlo datar.


“Kau bertanya aku siapa?” kata pria itu sinis. “Aku adalah Stefan Romanov dan ini putriku, Yelena Romanov. Dialah yang seharusnya bersanding dengan Anda di pelaminan. Bukan yang lain!” jawabnya.


__ADS_2