
"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Carlo. Dia menatap satu per satu orang yang ada di sana, tak terkecuali Vlad Ignashevich yang bahkan tak ada sangkut pautnya dengan masalah itu.
"Aku tidak tahu manakah yang lebih aman antara Casa de Luca dengan ...."
"Bisakah jika kita berdiskusi tanpa melibatkan orang luar yang tidak berkepentingan?" sela Carlo sebelum Adriano sempat melanjutkan ucapannya tadi. Kata-kata dari sang ketua Klan Serigala Merah, tentu saja ditujukan kepada pria asal Rusia yang merupakan rekan bisnis Miabella.
Vlad pun tahu diri. Meski dengan raut dan bahasa tubuh yang terlihat sedikit keberatan, tetapi akhirnya dia memilih untuk beranjak dari duduknya. "Baiklah. Aku tak ingin menjadi penghambat perbincangan anda semua. Permisi," pamit pria itu seraya berlalu, ke arah di mana Marco mengevakuasi serta mengumpulkan para tamu yang berasal dari luar Italia. Rencananya, mereka akan menginap untuk semalam di sana
Sementara Carlo sempat menatap kepergian pria berambut pirang tadi dengan tatapan aneh, sebelum dirinya kembali mengalihkan perhatian kepada Adriano dan juga Marco. "Aku merasa jika sikap pria itu terlalu berlebihan," pikirnya dengan setengah bergumam.
"Vlad telah lama mengenal Miabella. Wajar saja jika dia sangat mengkhawatirkan putriku, meski memang seperti yang kau katakan tadi. Berlebihan," ujar Adriano menimpali.
"Seperti itulah seorang pria. Pantang menyerah meskipun sudah mengetahui bahwa wanita yang disukainya telah bersuami." Marco ikut berkomentar dengan begitu tenang.
"Kau sedang menyindirku?" protes Adriano dengan segera.
"Hey, Tuan D'Angelo ...." Marco tergelak. "Aku lupa jika dulu kau pun seperti itu ketika sedang mengejar-ngejar Mia," celetuknya enteng.
"Apa?" Carlo yang tak mengetahui kisah masa lalu Adriano, segera saja menoleh pada sang ayah mertua sambil menautkan alisnya yang tebal. Dia menatap aneh pada pria yang tampak memasang wajah merah padam karena menahan emosi bercampur malu atas celetukan Marco. "Jadi ... ayah mertua ...."
"Tidak! Itu sama sekali tak seperti yang kau pikirkan. Aku mendapatkan Mia setelah Matteo tiada." Adriano meluruskan jari telunjuknya ke atas, sebagai pertanda bahwa dia begitu yakin dengan apa yang diucapkannya tadi. "Sudahlah. Kita di sini bukan untuk membahas masalah itu." Adriano segera menutup pembahasan tentang masa lalunya bersama sang istri tercinta.
"Begitulah sikap dari setiap orang yang sedang jatuh cinta. Apapun akan dilakukan untuk dapat memiliki kekasih hatinya," ucap Carlo setengah menyindir.
__ADS_1
"Terserah kau!" Adriano menanggapi dengan sikap yang tak acuh. Sesaat kemudian, wajah tampan sang ketua Tigre Nero kembali tampak biasa. Namun, sorot matanya menyiratkan sesuatu yang dirasa cukup pelik. "Menurutku, sebaiknya kau bawa saja putriku kembali ke Rusia. Masalah perkebunan akan kupikirkan bersama Mia," saran Adriano.
Untuk beberapa saat, Carlo ataupun Marco tak segera menanggapi. Sama halnya dengan Romeo yang memang sebenarnya tidak begitu tertarik akan pembahasan itu. Namun, setelah sang ayah mengeluarkan pendapat, barulah pemuda tampan tersebut bereaksi. Hal tersebut dia lakukan setelah Marco mengusulkan namanya untuk mengurus perkebunan. "Kenapa harus aku?" protes putra sulung dari dua bersaudara tersebut.
"Karena aku tidak memiliki kandidat lain yang jauh lebih tepat," jawab Marco. "Aku bisa saja memberikan tugas ini kepada Tobia. Akan tetapi, seperti yang kau ketahui bahwa adikmu itu belum memiliki rasa tanggung jawab yang cukup dalam dirinya. Akan terlalu berbahaya jika melimpahkan tugas besar seperti ini kepada dia," jelas Marco.
"Ya, tapi aku adalah seorang arsitek, Yah," protes Romeo lagi tetap menolak.
"Aku juga mencintai dunia balapan, tapi nyatanya saat ini harus menduduki kursi kepemimpinan organisasi de Luca. Kau tidak tahu betapa diriku sangat bekerja keras untuk dapat menyesuaikan diri. Lagi pula, kau masih tetap bisa mengembangkan kariermu. Mengurus perkebunan tak akan menjadi penghambat untuk bidangmu yang lain." Marco menoleh kepada Adriano, berharap agar suami Mia tersebut membantu dirinya dalam membujuk sang putra. Namun, Adriano justru menunjukkan raut tak peduli. Sikapnya yang demikian, membuat Marco berdecak kesal.
"Kurasa untuk sementara memang itu keputusan tepat. Lagi pula, akan terlalu berbahaya jika membiarkan Casa de Luca dalam keadaan kosong, tanpa adanya kehadiran satu pun dari pemilik tempat tersebut. Walaupun perkebunan sudah menjadi hak Miabella sepenuhnya, tapi karena kondisi saat ini yang tak memungkinkan, maka aku setuju dengan usulan darimu, Marco. " Adriano meraih kotak rokok yang berada di atas meja, kemudian mengeluarkan satu batang. Dia pun segera menyulutnya hingga mengeluarkan asap tipis.
"Aku juga tak mungkin terlalu lama meninggalkan Rusia. Ada banyak sekali urusan yang harus ditangani. Sebagai ketua dari organisasi yang sudah jauh lebih berpengalaman dariku, anda berdua pasti lebih tahu akan hal itu. Namun, aku juga tentunya tak ingin terpisah jarak dari Miabella. Apalagi setelah insiden seperti ini. Jika perlu, maka aku akan kembali menjadi pengawal pribadi untuk istriku tercinta," tegas Carlo pada akhir dari ucapannya.
Suasana hening kembali hadir di antara mereka berempat. Para pria itu seperti tengah larut dalam pikiran masing-masing. Hingga beberapa saat lamanya kebisuan terus menggelayuti. Merasa tak ada yang perlu dibahas lagi, Carlo pun beranjak dari tempat duduknya. Dia bermaksud hendak berlalu dari sana.
Keesokan harinya. Walaupun kondisi Igor belum pulih seratus persen, tapi pria itu tetap terlihat bersemangat ketika akan kembali ke Rusia. Begitu juga dengan Miabella yang menutupi perban di lengannya menggunakan jaket.
Berhubung Adriano ikut dalam perjalanan tersebut, maka Mia pun tentu tak akan melewatkannya begitu saja. Dia juga ingin berkenalan dengan Fabiola, ibunda Carlo yang saat ini telah menjadi menantunya.
Perjalanan dari Palermo menuju St. Petersburg di Rusia, tak memakan waktu lama dengan menggunakan jet pribadi milik Adriano yang sengaja didatangkan dari Monaco. Hal itu dilakukan karena Adriano dan Mia akan langsung berangkat ke Inggris, untuk mengunjungi Adriana yang tengah kuliah di sana.
Kedatangan rombongan pun segera disambut oleh Ivan beserta Fabiola tentunya. Ini adalah pertama kali bagi ibunda Carlo tersebut bertatap muka secara langsung dengan Mia. Fabiola pun segera mengajak Mia dan juga Miabella untuk menikmati jamuan teh di taman belakang Istana Serigala Merah.
__ADS_1
Sedangkan Igor segera dibawa ke kamar oleh Ivan untuk beristirahat. Setelah itu, Ivan kembali bergabung dengan Carlo, Adriano, dan Grigori di ruang kerja. Tampaknya ada sesuatu yang ingin mereka bahas.
Adriano yang memang cukup menguasai bahasa Rusia tak mengalami kesulitan untuk berkomunikasi di sana. Setidaknya, perkenalan dia dengan Sergei Redomir telah memberikan manfaat saat ini. Siapa sangka bahwa Adriano akan kembali berurusan dengan orang Rusia.
"Apakah Anda memang tidak mengetahui apapun, Tuan Kostya?" tanya Adriano yang seakan tengah menginterogasi Grigori, pria dengan rentang usia tak jauh berbeda dengannya.
"Aku sama sekali tidak mempunyai bayangan apapun tentang orang di pemerintahan," jawab Grigori. Walaupun dia telah fasih berbahasa Italia, tapi dirinya memilih untuk berbicara dalam bahasa Rusia agar Ivan dapat memahami apa yang mereka perbincangkan.
"Aku hanya mengetahui bahwa mendiang tuan Nikolai menjalin hubungan baik dengan Boris Vasiliev. Selain itu aku tidak ... tuan Vasiliev sudah banyak membantu kami dalam menggulingkan kekuasaan Viktor. Aku juga masih ingat dengan baik, seperti apa kedekatan antara tuan Nikolai dengannya," tutur Grigori yang tampak ragu.
"Nikolai Volkov adalah ketua dari sebuah organisasi besar. Tak mungkin jika dia tak memiliki kenalan orang penting lainnnya di pemerintahan," bantah Adriano.
"Aku tidak berani memastikannya, Tuan D'Angelo. Namun, selama diriku bekerja dan mengabdi kepada mendiang tuan Nikolai Volkov, hanya Boris Vasiliev saja yang kerap datang dan berbincang hangat dengannya. Selain dari itu, selebihnya adalah orang-orang yang berasal dari dunia mafia juga. Sama seperti kami," terang Grigori lagi.
Akan tetapi, Adriano tampaknya tidak begitu yakin dengan apa yang Grigori tuturkan barusan. Sang ketua Tigre Nero tampak memicingkan mata, kemudian menoleh kepada Carlo yang segera membalas tatapannya. Walaupun tanpa sebuah ungkapan yang jelas, tapi sorot mata putra bungsu dari Nikolai Volkov tersebut tampak menyiratkan sesuatu.
"Baiklah. Kurasa kita sudahi saja dulu pembahasan ini. Lagi pula, kita sama-sama lelah. Beristirahat sejenak akan dapat sedikit menyegarkan otak," ucap Carlo. Dia mempersilakan Grigori dan Ivan untuk keluar dari ruang kerjanya. Begitu juga dengan Adriano. "Anda juga sebaiknya beristirahat, Ayah mertua."
Setelah Adriano juga berlalu dari sana, Carlo kemudian beranjak dari tempat duduknya. Pria itu termenung untuk beberapa saat memandangi fenomena alam unik yang terjadi di kota St. Petersburg.
White Night. Adalah sebuah keadaan di mana matahari tidak terbenam di kota St. Petersburg, sehingga meskipun malam sudah tiba tetapi keadaan tetap terang benderang layaknya siang hari. Hal itu disebabkan karena letak geografis kota St. Petersburg berada sangat jauh di ujung Utara bumi.
Carlo pun menghela napas pelan, kemudian mengempaskannya. Dia lalu memutuskan untuk keluar dari ruang kerja tadi. Namun, langkah sang ketua Klan Serigala Merah sempat terhenti, ketika ekor matanya tiba-tiba tertarik pada foto keluarga yang terpajang di dinding. Carlo pun mengurungkan niat. Dia lalu berjalan mendekat dan berdiri di depan foto yang memperlihatkan wajah tampan sang ayah. Paras cantik Fabiola pun terlihat jelas, beserta kedua saudara kembarnya Alexei dan Liev. Sang ibu juga tampak menggendong seorang bayi yang pastinya adalah Carlo.
__ADS_1
Perlahan Carlo mendekat, lalu mengusap permukaan foto tadi. Tak berselang lama, terdengar suara berdecit entah dari mana. Pria bermata biru itu pun seketika mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang kerja yang sepi. Namun, Carlo tak melihat ada pintu atau apapun yang terbuka di sana. Sesaat kemudian, Carlo kembali mengusap permukaan foto tadi dengan lebih kuat. Suara berdecit itu pun terdengar semakin keras.
Dengan cepat Carlo menyapukan pandangan pada sekeliling. Tak ada apapun yang terbuka atau berpindah, selain sebuah debu yang tampak berterbangan dari dalam tungku perapian mewah tak jauh dari foto tadi berada. Carlo pun beranjak ke sana, kemudian menurunkan tubuh. Saat itu, dia melihat ada sebuah pintu terbuka di dalamnya.