
Setelah Carlo berkata demikian, tiba-tiba beberapa pengawal dengan postur jauh lebih tegap dari yang dia habisi tadi datang menghampirinya. Mereka membawa senjata laras panjang yang langsung diarahkan kepada sang ketua Klan Serigala Merah. Mereka yang berjumlah sekitar enam orang, mengelilingi Carlo dengan posisi sudah siap menembak. “Apa-apaan ini?” cibir Carlo menoleh pada mereka satu per satu.
“Tuan Roderyk menginginkn kau dalam keadaan hidup. Jika bukan karena dia yang berpesan begitu, nyawamu sudah tak tertolong sejak tadi, Penyusup!” ujar salah seorang dari enam pengawal berperawakan tegap, mirip anggota militer. Mereka lalu melucuti seluruh senjata yang Carlo bawa, kemudian membuangnya ke dalam lift.
Sedangkan Carlo hanya menyunggingkan senyuman sinis. “Tunjukkan di mana ‘kakek’ kalian berada,”pinta Carlo dengan nada mengejek. Dia menggunakan kata ‘kakek’ untuk menyebut Roderyk Lenkov.
“Kau akan menyesal dengan kesombonganmu, Penyusup!” Pria yang tadi bicara kepada Carlo, kembali mengeluarkan suara. Dia mendorong punggung suami Miabella tersebut menggunakan moncong senapan. Carlo pun tak melawan. Dia melangkah maju dengan tenang, mengikuti arahan pria tadi.
Sesaat kemudian, Carlo tiba di depan sebuah ruangan berpintu besi. Salah seorang dari keenam pengawal tadi maju. Dia lalu menekan tombol yang berada di sisi pintu. Kelihatannya, ruangan yang mereka tuju bukanlah sebuah tempat rahasia yang hanya dapat diakses oleh orang tertentu, karena tak ada kode khusus untuk dapat membuka pintunya.
Setelah pintu besi tadi bergeser, tampaklah ruangan yang tidak terlalu luas. Di dalam sana, terdapat meja kayu dengan satu buah kursi yang juga terbuat dari kayu. Tepat di atas meja tadi, ada sebuah lampu yang menggantung cukup rendah. Di balik meja kayu itu, telah duduk sosok Roderyk Lenkov dengan tatapannya yang terlihat sangat angkuh. “Jadi kau adalah putra Nikolai Volkov? Sahabat lamaku.” Suara berat Roderyk memecah kesunyian di sana.
“Apa kau ingin kupanggil ‘paman’?” Carlo menyunggingkan sebuah senyuman sinis di sudut bibirnya yang dihiasi kumis tipis.
“Jika kau bermanfaat bagiku, maka itu tak masalah sama sekali,” sahut Roderyk yang saat itu duduk sambil mengangkat kedua kakinya dengan lurus ke atas meja, layaknya seorang bos besar.
“Bermanfaat dalam hal apa? Bukankah kau ingin menghabisi semua keturunan Volkov? Kau bahkan merusak nama baik Klan Serigala Merah. Lalu, kenapa saat ini kau tak segera menghabisiku?” Carlo menaikkan sebelah alis. Dia masih berdiri gagah di hadapan Roderyk, yang belum mengubah posisi duduknya.
Roderyk tak segera menjawab. Pria paruh baya tersebut kemudian menarik turun kakinya. Setelah itu, dia beranjak dari kursi. Roderyk berjalan ke hadapan Carlo. “Aku pasti akan membunuhmu, Anak Muda. Kau datang kemari dengan sukarela, itu artinya dirimu telah siap kehilangan nyawa. Namun, ada satu hal yang kuinginkan sebelum menghabisimu dengan tanganku sendiri.” Roderyk menyandarkan sebagian tubuhnya pada tepian meja.
“Aku tahu apa yang kau inginkan, Pak Tua” ujar Carlo.
“Oh ya?” Sorot mata tua Roderyk seakan menantang Carlo.
“Biadab!” geram Carlo.
Roderyk tak segera menanggapi ucapan Carlo. Ayah angkat Vlad Ignashevich tersebut justru tertawa lepas. Dia tampak sangat arogan. “Kau sudah menemukan rekaman yang selama ini kucari. Kau juga telah melihat isinya. Jadi, menurutku akan sangat adil jika dirimu menyerahkan benda itu padaku,” ujar Roderyk setelah menghentikan tawanya tadi.
“Apa yang akan kau lakukan seandainya diriku menolak?” tantang Carlo masih terlihat tenang.
Namun, Roderyk terlihat jauh lebih tenang. Dia bahkan tampak merasa sudah berada di atas angin, ketika dirinya memperlihatkan rekaman Miabella yang tengah berada di kamar penyekapan. Putri sambung Adriano tersebut sedang duduk termenung di tepian tempat tidur.
Seketika, raut tenang Carlo sirna dan berganti amarah yang sangat besar. “Tua bangka sialan!” geramnya. Sang ketua Klan Serigala Merah tersebut bermaksud untuk menyerang Roderyk. Namun, sigap para pengawal yang berada di belakang Carlo segera mencegahnya.
Sementara Roderyk tergelak semakin nyaring. Dia tampak sangat puas, ketika melihat musuhnya tengah diliputi amarah. Itu berarti pria muda berwajah teramat tampan di hadapannya itu sudah kalah beberapa langkah darinya. “Kau pasti memahami sepak terjangku di dunia perpolitikan Rusia. Aku memiliki nama besar di tanah kelahiranku," ujar Roderyk kemudian.
__ADS_1
“Nama besar itu kau dapatkan dengan cara yang sangat menjijikkan!” cibir Carlo sembari berusaha menahan amarah yang sudah sangat menggebu, berbaur dengan deru napas memburu.
Mendengar hal itu, Roderyk seketika terdiam. Dia menatap tajam kepada putra mendiang sahabatnya. “Apakah kau tidak pernah mendengar tentang istilah prinsip yang dibawa mati, Anak Muda?” geram Roderyk.
“Aku merupakan seorang negarawan sejati. Aku mencintai negara yang dulunya terkenal dengan nama Uni Soviet. Berpuluh tahun yang lalu, Uni Soviet adalah negara adikuasa terbesar di dunia. Itu semua berkat ideologi komunis yang kupegang dan kupercayai. Akan tetapi, datanglah pemimpin baru yang berniat mengganti ideologi tersebut. Tentunya aku tak ingin pasrah begitu saja. Aku harus membela prinsipku sekuat tenaga!” Roderyk terlihat berapi-api.
“Itulah mengapa aku mengajak Nikolai untuk melakukan kudeta. Namun, sayangnya dia menolak. Bagiku dia sama saja dengan para pengkhianat yang mengacak-acak Uni Soviet hingga hancur. Banyak wilayah yang melepaskan diri dan mendirikan negara sendiri. Sejarah akhirnya mencatat bahwa Uni Soviet telah kalah. Uni Soviet hancur lebur akibat reformasi!” geram Roderyk begitu emosional.
“Aku sangat marah pada Nikolai. Dia tidak menunjukkan bahwa dirinya adalah sahabat yang akan selalu mendukungku. Bagiku dia tidak lagi berguna, sehingga aku merencanakan kehancuran Nikolai sejak bertahun-tahun lamanya,” lanjut Roderyk yang membuat Carlo mengepalkan tangan.
“Akan tetapi, di sisi lain Nikolai memegang bukti kuat tentang niat makarku. Jika pemerintahan yang sah mengetahui hal itu, tentunya akan sangat berbahaya bagiku. Hal terburuk adalah aku pasti akan dijatuhi hukuman mati, atau yang paling ringan berupa hukuman seumur hidup,” terang Roderyk dengan intonasi berbeda.
“Sekali lagi, Nikolai menunjukkan bahwa dia bukan teman yang baik. Ayahmu menolak menyerahkan bukti-bukti itu padaku. Tak peduli sekeras apapun aku mencari, tapi aku selalu saja gagal. Sampai aku menemukan Viktor Drozdov si anak haram. Melalui tangannya, aku membantai Nikolai. Aku membantu Viktor agar dapat menguasai Istana Serigala Merah. Aku membuat pecundang itu bertahan selama bertahun-tahun, hingga pasukan Rusia pun tak dapat mengalahkannya. Selama rentang waktu tersebut, aku menyuruh Viktor untuk mencari dan menghancurkan bukti-bukti yang berisi tentang keterlibatan diriku dalam kasus makar,” lanjut Roderyk. “Sekarang aku harus berterima kasih padamu, karena kau yang telah menemukannya,” Roderyk menyeringai.
“Bukti-bukti itu tidak gratis. Ada harga yang harus kau bayar untuk menebusnya, Pak Tua,” ujar Carlo yang membalas tatapan Roderyk dengan tajam.
Roderyk kembali tertawa nyaring. “Kau tidak akan mendapatkan apa-apa, Bocah Ingusan. Jangan bermain-main denganku, karena kita bukan sedang bertransaksi,” ujarnya sesaat setelah menghentikan tawa yang mengerikan.
“Kalau begitu, kau juga tidak akan mendapatkan apa-apa dariku,” balas Carlo dengan tenang.
Bagaikan banteng yang diusik kenyamanannya, Carlo sekuat tenaga melepaskan diri dari cengkeraman para pengawal. Dia menghambur ke arah Roderyk. Namun, para pengawal itu kembali menahan geraknya.
Akan tetapi, kekuatan Carlo jauh di atas para pengawal tadi. Dengan disertai amarah luar biasa, Carlo berhasil melepaskan diri dari cengkeraman pria-pria bertubuh besar di belakangnya itu. Carlo bergerak secepat kilat memutar tubuh, lalu menanduk satu pria di samping kanan menggunakan kepala. Tandukan itu tepat mengenai hidung mancung pria tersebut hingga patah.
Tak rela rekannya roboh, lima pria lain berusaha menyerang Carlo. Akan tetapi, dia sudah lebih dulu mengarahkan tendangannya pada area inti salah seorang pengawal. Ketika pria itu meringis kesakitan, saat itulah Carlo merebut senjatanya. Dia menembakkan senapan laras panjang kepada pengawal lain yang sudah bersiap menyerang.
Keenam perut para pengawal tadi sudah dalam kondisi berlubang. Tinggal satu orang pengawal yang tampaknya berusia paling muda. Pria itu tampak sangat ketakutan menghadapi Carlo, sehingga sang ketua Klan Serigala Merah sengaja membiarkan pria tersebut melarikan diri.
Kini, tinggal Carlo dan Roderyk yang berada di ruangan itu. “Wah, lihatlah. Anak buahmu sudah berhasil habis,” ejek Carlo tersenyum puas.
“Kau bodoh jika menganggap pengawalku sudah habis. Sebentar lagi, mereka akan menyusul kemari dan mencincangmu sampai tak tersisa,” balas Roderyk. Raut angkuh masih jelas tergambar di wajahnya.
“Oh, ya? Sebelum itu terjadi, aku yang akan lebih dulu mencincangmu.” Dalam sepersekian detik, Carlo mengarahkan moncong senjatanya pada Roderyk, lalu memuntahkan beberapa butir peluru.
Sayang, Roderyk sudah bergerak menghindar terlebih dulu. Pria tua itu berlindung di balik meja sambil berusaha mencari pistolnya yang tersimpan di salah satu laci.
__ADS_1
Namun, Carlo juga tak tinggal diam. Sebelum Roderyk menemukan apa yang dia cari, Carlo lebih dulu membalik meja tadi sehingga sosok tubuh pembunuh sang ayah tersebut tak terhalang oleh apapun. “Wah, kenapa anakmu tak juga datang?” ejek Carlo lagi.
Sebelum Roderyk sempat menjawab, terdengar alarm tanda bahaya yang berbunyi nyaring, menggema di setiap sudut ruangan.
“Oh, itu rupanya yang membuat mereka tidak menyusulmu kemari. Ada sesuatu yang terjadi di atas sana.” Carlo terbahak. Tanpa disangka, suami Miabella itu melepas dan membuang jauh-jauh senapan laras panjang yang sempat dipegangnya tadi. “Mari kita gunakan tangan kosong. Kau tak membawa senjata, maka aku juga tak boleh memakai senjata.”
Roderyk yang awalnya berjongkok, kini langsung berdiri sambil mengambil ancang-ancang. Lain halnya dengan Carlo yang hanya diam berdiri sambil menyunggingkan senyum penuh arti.
Roderyk kemudian berteriak nyaring sambil berlari ke arah Carlo. Satu tangannya yang sudah terkepal, dia layangkan tepat ke paras rupawan putra kandung Nikolai Volkov.
Sementara Carlo sudah menagntisipasi sejak awal. Dia hanya menggeser tubuh ke samping, sehingga Roderyk hanya memukul angin. Melihat posisi Roderyk yang rentan dan memiliki banyak celah, tanpa ragu Carlo langsung meraih tangan pria tua tersebut, lalu memelintirnya. Tak hanya itu, dia juga menendang ulu hati Roderyk dengan kuat menggunakan lutut kanan.
Roderyk seketika batuk-batuk, kemudian membungkuk. Namun, hal tersebut tak membuat Carlo berhenti. Dia semakin kuat memelintir tangan pria tua tadi sampai terdengar bunyi tulang bergeser.
“Ah, brengsek!” Roderyk memekik kesakitan. Dia mundur beberapa langkah sesaat setelah Carlo melepaskan tangannya. “Kau membuat sikuku terkilir. Sialan!” geram Roderyk.
“Itu masih kurang.” Selesai berkata demikian, Carlo menyarangkan pukulan ke wajah dan dada Roderyk, hingga pria itu terhuyung dan jatuh terjengkang. Dengan langkah tenang, Carlo kemudian mendekat pada Roderyk yang berusaha untuk bangkit.
Sekilas ekor mata Carlo menangkap bahwa tangan kiri Roderyk tengah meraih sesuatu yang mirip dengan telepon genggam keluaran lama. “Oh, kau akan mengadu kepada siapa, Pak Tua?”
“Aku bukanlah pria lemah,” geram Roderyk sambil meludah tepat ke wajah tampan Carlo.
Namun, Carlo lebih dulu menghindar sehingga ludah itu hanya mengenai udara di sebelahnya. “Seharusnya kau tak membuatku marah,” ujarnya seraya berdecak pelan. “Sekarang katakan padaku, bagaimana caranya aku bisa menuju lantai bawah tanah?” tanya Carlo.
“Kau pikir aku akan mengatakannya padamu?” Roderyk tergelak puas.
Namun, tawa pria itu tak berlangsung lama. Tanpa diduga, Carlo menginjak-injak tangan kanan Roderyk yang tulangnya sudah bergeser sampai patah di beberapa bagian.
“Kau benar-benar terkutuk, Karl Volkov!” kecam Roderyk nyaring, bersamaan dengan dirinya yang berhasil menghubungi seseorang, yang tak lain adalah Vlad. Melalui telepon genggam berbentuk antik itu, Roderyk memberi perintah pada anak angkatnya sambil berseru nyaring. “Habisi perempuan jal•ang itu sekarang juga, Vlad!”
Belum sempat Roderyk melanjutkan kalimatnya, Carlo. lebih dulu menghantam wajah pria tua itu dengan kepalan tangannya. Dia memukul wajah dan dada Roderyk berkali-kali sampai pria itu tak bernyawa.
🍒🍒🍒
Satu rekomendasi novel keren untuk semua.
__ADS_1